Renat melangkahkan kakinya dengan semangat menuju parkiran karena mobilnya sudah sejak pagi berada di sana. Sekarang sudah pukul empat sore dan ia sudah bebas dari pekerjaannya. Cukup melelahkan, namun Renat menikmati setiap waktu yang ia lewati di rumah sakit tersebut bersama dengan karyawan-karyawan lainnya. Setidaknya, keramah-tamahan mereka mampu membuat Renat betah dan nyaman selama bekerja. Pergi dari pagi kemudian pulang di sore hari tak pelak membuat Renat lupa diri hingga hanyut, sehingga Abi yang kembali menjadi korban dari kesibukannya. Toh, pria itu sendiri juga sibuk. Dua bulan berlalu semenjak Renat dihadiahi apartemen, dan Abi entah sudah berapa kali terbang ke luar kota hingga negeri karena urusan pekerjaan dalam kurun waktu tersebut.
Walau begitu, Abi dan Renat tetap mengusakan yang terbaik untuk kelancaran pernikahan mereka, tentu saja tetap dibantu oleh Nadine dan Gita. Seperti sekarang halnya, Renat mengeluarkan ponsel setelah duduk manis di balik kemudi, hendak mengabarkan kepada Abi bahwa ia akan segera menuju gedung pernikahan mereka untuk bertemu lagi bersama pihak wedding organizer. Awalnya, Renat merasa berat untuk membuat pesta yang terlalu besar. Dia lebih ingin sebuah pesta pernikahan sederhana namun berarti. Tidak harus diadakan di dalam gedung megah namun dapat dilakukan di ruang terbuka dan Renat sudah berencana memilih Bali---karena Seoul akan terlalu jauh untuk didatangi oleh para undangannya. Atau paling tidak, taman belakang rumahnya juga dapat dijadikan tempat untuk menyelenggarakan pernikahan. Toh undangan yang akan ia sebar kepada teman-temannya sendiri tidaklah banyak. Memiliki pesta pernikahan meriah bak ratu mungkin keinginan hampir semua wanita, tapi tidak untuk Renat.
Ketika Nadine memutuskan bahwa banyak undangan akan lebih bagus, maka Renat memilih diam saja setelah itu. Dia sudah terlalu banyak merepotkan Nadine yang banyak sekali membantu, membuat wanita itu kecewa tentulah bukan hal yang pantas. Alasan Nadine pun cukup terdengar masuk akal di telinganya. Menurut calon ibu mertuanya itu, akan lebih bagus apabila satu kantor dapat mengetahui bahwa boss mereka tidak lagi sendiri dan mereka dapat melihat secantik apa Renat sebenarnya sebagai istri Abi. Siapapun mengakui, kalau Nadine memang terlalu berlebihan terhadap calon menantunya tersebut.
Belajar menerima hal yang bisa dikatakan sebagai hadiah tersebut bukanlah sesuatu yang sulit ternyata, dan Renat merasakannya sekarang. Bagaimana ia bersama Abi begitu antusias ketika membahas dekorasi dan segala t***k bengek pernikahan. Belum lagi membahas perihal adat, Renat gemas sendiri dibuatnya. Abi seorang Sunda dan Renat Jawa, menyenangkan sekali karena dapat membahas bagaimana tata cara pernikahan setiap adat. Renat terbiasa melihat bagaimana Korea Selatan dan menganggap cara mereka menikah dibalut adat sangat indah. Padahal, adatnya sendiri juga tidak kalah indah.
Renat tersentak, ketika tahu bahwa panggilannya sudah dijawab.
"Halo," sapanya lebih dulu pada Abi di seberang telepon.
"Halo, Re," balas Abi dari tempatnya. "Udah mau jalan?"
"Udah." Renat mulai menjalankan mobilnya perlahan, hati-hati sekali. "Kamu udah dimana?"
"Sebentar lagi sampai," jawab Abi dan Renat malah melotot tidak percaya. Wanita itu mengira bahwa dirinya sudah paling cepat, nyatanya Abi mencuri start.
"Katanya capek karna tiga jam di pesawat, terus kok bisa langsung nyetir?" Renat bertanya sebab tidak habis pikir. Abi memang baru pulang dari luar kota setelah kemarin berangkat kesana. Hanya satu malam, dan itu yang semakin membuat Renat kasihan pada Abi.
"Kan aku duduk doang, Re, Bara yang nyetir."
"Kirain kamu yang nyetir." Helaan napas Renat keluar lega, dia lupa bahwa sekretaris Abi yang satu itu sudah sangat berjasa sekali dalam satu bulan ini kepada Abi. Renat awalnya tidak percaya ketika Abi memberitahu bahwa dirinya kini memiliki sekretaris laki-laki. Namun kala Bara memperkenalkan dirinya kepada Renat, wanita itu tentu langsung percaya. Rasanya senang sebab Abi ternyata menyanggupi keinginan Renat untuk mencari sekretaris laki-laki dibanding perempuan. Bersama Bara, Abi sendiri memang terlihat lebih manusiawi di lingkungan kantor. Pegawai-pegawainya pun tampak lebih sering melihat Abi tersenyum dan tertawa, caranya bercengkerama bersama Bara sebagai sesama pria pun membuat banyak pegawai jumpalitan. Sebab sejak pertama kali Abi datang dan menjabat, tidak sekalipun mereka melihat pria itu tersenyum layaknya manusia.
"Yaudah hati-hati nyetirnya ya, kalau udah di sana kabarin aku." Abi mengingatkan Renat lagi sebelum memutuskan sambungan karena dirinya sendiri memang sedang tidak sanggup berbicara banyak lagi. Tulangnya sudah hampir remuk menghabiskan waktu dalam perjalanan panjang yang tidak ada henti-hentinya.
"Abi bentar," Renat menginterupsi sebelum panggilan mereka terputus.
"Apa?"
"Kamu nggak lupakan kalau malam ini kita bakal ketemuan bareng Raskal?"
Renat tidak mendengar jawaban Abi untuk beberapa saat. Renat tidak tahu saja, bahwa di tempatnya, Abi sedang berusaha untuk tidak menghela napas panjang. Dirinya yang ingin sekali beristirahat setelah pertemuan dengan wedding organizer tampaknya tidak akan tercapai dalam waktu dekat. Namun membuat semangat Renat patah karena pertemuan mereka dengan Raskal malam ini akan lebih istimewa tidak bisa Abi lakukan. "Iya. Tapi nanti kita pulang dulu, aku mau mandi."
"Iya, yaudah aku tutup, ya! Dah, A!"
Renat memutuskan panggilan, kini tatapannya fokus menatap jalanan di depan. Alunan musik dari salah satu saluran radio menemani sore Renat menuju tujuannya. Walaupun sudah jarang menggunakan mobil, beruntungnya keahlian Renat dalam mengendarai kendaraan roda empat tersebut tidak hilang. Dia hanya kaku sedikit dan setelahnya dapat normal kembali. Terbiasa kemana-mana berjalan kaki, tentulah akan terasa repot kala tergantikan dengan mobil.
Mobil yang Renat bawa berhenti sebab lampu lalu lintas berubah merah. Bertepatan dengan itu, ponselnya berdering sekali pertanda satu pesan baru saja masuk. Renat menoleh sesaat, melihat dari jauh layar ponsel yang tergeletak di jok sebelahnya. Dahi wanita itu mengernyit, mendapati nomor asing mengiriminya pesan. Diraihnya benda pipih itu sebelum membaca, bukannya semakin merasa jelas, Renat malah semakin janggal.
From: Unknown number.
Hai, Renata. Bisa kita ketemu besok? Aku tunggu kamu jam 4 sore di Coffee Cafe. Ya, kalau kamu nggak dateng, aku takut kamu yang bakalan nyesel. Aku punya sesuatu tentang Abi yang mungkin kamu masih nggak tau. Jadi, sampai ketemu besok.
"Siapa, sih?" gumam Renat seorang diri dengan raut tidak jelas. Awalnya Renat ingin mengabaikan, tapi ketika si pengirim membawa nama Abi, rasanya aneh bila itu hanya dikirim iseng oleh orang asing. Jelas saja dia kenal Renat, terlebih Abi. "Mantannya apa, ya? Masa Haruka? Tapikan dia lagi di Tokyo."
Pikiran Renat buyar karena suara klackson mobil lain yang ribut bersahutan, wanita itu segera sadar dan buru-buru mengumpulkan fokusnya. Walau perasaannya tengah tidak baik, setidaknya dia harus tetap selamat sampai di tempat.
♦ r e t u r n ♦
Abi tersenyum ketika dilihatnya mobil Renat bergerak mendekat. Abi sudah masuk lebih dulu tadi ke dalam gedung, tapi karena Renat mengabarkan bahwa dia sudah sampai, pria itu buru-buru keluar lagi. Mobil Renat berhenti di dekat Abi, sembari menurunkan kaca mobil, tangan Renat melambai.
"Hai," ujar Renat dengan wajah pias dan perasaan campur aduk. Jujur saja, dia rindu Abi. Namun melihat penampilan Abi yang kusut nyatanya sanggup menampar Renat. Renat ingin sekali memiliki waktu dimana dirinya bisa mengurusi segala hal yang Abi perlukan walau statusnya sekarang masih sebagai seorang calon istri bagi Abi. Paling tidak untuk urusan sarapan walau keahlian masak Renat belum bisa diakui---masih jauh sekali dari kata sempurna. Tapi bukan berarti dia tidak memiliki kesempatan untuk belajar. Toh masih ada mamanya, Nadine, web dengan raturan resep makanan, pun toko buku dengan berbagai buku resep.
Abi tersenyum dengan wajah lelahnya, lantas membuka pintu sebelah kemudi dan langsung duduk rapi. Kepalanya disandarkan pada punggung jok dengan mata terpejam. "Kangen aku, ya?"
Renat tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Abi yang kini tengah menutup mata. Jelas sekali bahwa keluarnya Abi dari gedung tersebut tidak hanya ingin bertemu Renat, tapi karena ia ingin kembali beristirahat sejenak.Tangan kanan Renat terulur untuk mengusap dahi Abi sembari memberikan pijitan kecil. "Capek, ya?"
Abi bergumam, walau tidak membuka mata sama sekali karena terlalu menikmati gerakan jemari Renat pada dahinya. Renat menambah lagi kekuatannya, membuat Abi jadi membuka mata dan melirik Renat. Diambilnya tangan lembut Renat dan memilih mengenggamnya dengan erat.
"Nanti kita pulang ke apartemen aja, ya?"
Raut wajah Renat terlihat kaget, "Loh? Kenapa?"
Abi memberikan gelengan, sebenarnya juga tidak ingin memberikan opsi tersebut jika tidak didesak keadaan. "Mama lagi marah ke aku, katanya kesibukan terus nggak bisa ngurusin kamu sama persiapan pernikahan."
"Oh gitu." Renat berubah angguk kepala seperti tampak menyetujui alasan kemarahan Nadine kepada Abi.
"Kok respon kamu gitu?" Abi terlihat tidak suka, gagal sudah usahanya untuk mendapatkan pembelaan dari Renat. Nyatanya sama saja, mamanya dan Renat memang tengah bersekongkol untuk memojokkannya. "Lagipula aku selalu usahain yang terbaik buat nikahan kita."
Renat mengernyit, merasa tidak paham kenapa Abi jadi marah-marah padanya. "Apa? Kan aku cuma bilang oh doang. Kamukan emang sibuk! Aneh dong kalau aku malah salahin Tante Nadine, yang mama kamu bilang juga bener."
"Tapikan aku juga usaha, Re, gimana caranya dateng kalau jadwal diskusi sama wedding organizernya. Aku nggak pernah nggak dateng."
"Ya iya tau, tapi sebel aja minggu kemarin kamu harus meeting padahal libur. Terus cuma aku, mama, bareng Tante Nadine yang cari bahan baju."
"Kalau gituan kan nggak perlu aku, pilih yang paling bagus aja."
Renat melotot, rasa ibanya untuk Abi menguap begitu saja. Tangannya yang masih berada dalam genggaman Abi dilepas begitu saja dan langsung diarahkan untuk memukul bahu Abi.
"Aduh!" ringis Abi sembari mengusap bahunya. Ekspresi Renat yang tidak bersahabat membuat Abi berdehem, mencoba memikirkan alasan yang masuk akal agar nona cerewet di sebelahnya tidak semakin mengamuk. "Emang pilih bahan baju juga perlu aku? Mamaku sama mama kamu yang khatam masalah kain-kainan gitu, Re. Kamu juga. Aku pakai waktu udah jadi baju aja."
"Ya tapikan aku pengennya kamu juga ada gitu loh, Bi. Jangan cuma aku doang. Abis meeting waktu itu padahal kamu bisa nyusul aku tapi malah kemana? Ngegames di rumahnya Victor, kan?"
Abi mencoba mengingat-ingat. Memang benar, sepulang meeting hari itu, Abi memilih pergi ke rumah Victor. Sebenarnya tidak untuk bermain PS, tapi karena sahabat SMAnya tersebut tengah dilanda masalah hati yang membuat Abi tidak bisa diam saja. Victor bukan tipikal orang yang mudah untuk memulai sebuah keseriusan dalam soal percintaan, mendapati pria konyol itu menyebut-nyebut tentang perempuan tentu saja membuat Abi tidak tenang. Terlebih, baru saja memulai, Victor sudah harus menelan kekecewaan karena ditolak.
"Bulan depan gue flight ke London, Bi," ungkap Victor dalam balutan baju rumahan, mulutnya baru saja menelan sesendok es krim green tea.
"Ngapain? Kabur?" tanya Abi tidak percaya. Sebesar apa sebetulnya perasaan kecewa Victor karena ditolak oleh seorang perempuan asal Bandung yang namanya tidak ia beritahukan kepada Abi. "Itu cewe Bandung segitunya banget buat lo?"
"Apaan sih lo orang gue kesana buat kerjaan. Dasar sinting!" Dilemparkannya guling pada Abi dan sukses ditangkap oleh pria itu. "Boss gue minta ditemenin kesana. Ya gue mana mungkin nolak, liburan gratis, Cuy."
"Oh iya," ucap Abi tiba-tiba teringat sesuatu. Awalnya ia ragu mengatakan, tetapi karena sosok di depannya adalah Victor---salah satu manusia yang paling ia percaya di muka bumi---Abi memutuskan untuk melanjutkan kalimatnya. "Kalau lo udah di sana gue minta tolong cek Bia. Lo cek kulkasnya ada makanan karbo atau enggak, kalau nggak ada, lo tarik dia ke supermarket terus ajak belanja makanan manusia."
"Gila lo," geleng Victor tidak percaya pada ucapan Abi yang menurutnya keterlaluan. "Lo dukung aja kenapasih, Bi? Toh adik lo juga yang bahagia sama pilihan dia buat jadi model, bukan dipaksa siapa-siapa."
Pukulan keras pada bahu kembali dirasakan oleh Abi, membuat lamunannya buyar dan tersadar bahwa debatnya dan Renat ternyata belum juga menemukan titik terang. "Jangan ngelamun dong aku lagi serius ngomong sama kamu, Bi!" Abi tersenyum, meringis penuh rasa bersalah. Bukannya serius, ia malah sempat-sempatnya terpikir akan obrolan singkat bersama Victor.
"Iya, abis ini kalau pilih bahan baju aku ikut."
"Bener, ya?"
"Iya."
"Kalau kamu nggak ikut atau ngebatalin janji gimana?" Renat bertanya dengan raut wajah semakin serius. Dia tidak ingin Abi melanggar janji yang telah mereka buat dan berakhir dengan Renat yang harus dikecewakan.
"Kalau aku ngelanggar, honeymoon kita nggak cuma di Maldives tapi Seoul juga."
Renat melotot, tidak percaya pada ucapan Abi. Setelah berharap lama agar dapat kembali ke tempat itu, tetapi takut karena Abi tidak mau. Tapi detik ini, ketika Renat lupa akan hal tersebut, Abi malah secara terang-terangan memberikan Renat kesempatan. Otak jahat wanita itu tentu saja langsung mengambil kesimpulan bahwa ia ingin agar Abi berakhir membatalkan janji mereka. Ya Tuhan, Renat pikir dirinya memang ingin sekali mengunjungi Seoul kembali untuk dapat bertemu bersama kenangan-kenangannya di sana---kenangan yang tidak dapat ia bawa kemari dan terpaksa harus tertinggal di belakang. Senyum Renat yang harusnya tampak kini tidak terlihat sama sekali. Ia tengah berusaha berbohong dengan memperlihatkan ekspresi serius pada Abi seakan-akan tengah menilik keseriusan prianya. Seperti ingin agar Abi tidak melanggar janji walau hatinya tengah berdoa agar Abi tidak sengaja membatalkannya dan Renat dapat menagih janji agar mereka bisa terbang menuju Seoul.
"Deal!" Renat menerima uluran tangan Abi yang sejak tadi sudah menggantung meminta direspon.
"Ya intinya aku nggak bakal ngelanggar janji." Abi terkekeh, diikuti mata yang kembali terpejam untuk beristirahat. Renat sendiri sukses dibuat mencebik sebal dan rasanya ingin sekali mencekik Abi, tapi sayang juga rasanya. "Jalan, Buk Supir."
"Diem!" balas Renat tidak bersahabat dan mulai menggerakkan mobil. Rasa ibanya pada Abi sukses menguap secara keseluruhan, benar-benar tidak lagi bersisa.
Selepas memarkirkan mobil, Abi bersama Renat berjalan memasuki ruangan besar tempat pernikahan mereka nantinya akan digelar. Abi terlihat serius memandang ke arah dimana beberapa orang tengah berdiskusi, sementara Renat yang tengah memeluk lengan Abi tampak asik memandangi sekeliling ruangan. Ini akan menjadi pernikahan besar yang tidak pernah Renat bayangkan sebelumnya. Pernikahan mereka akan di selenggarakan tiga bulan lagi, dimana dua minggu mendatang akan ada acara lamaran yang akan disusul tunangan di bulan berikutnya. Memikirkan hal tersebut saja rasanya Renat sudah menggigil karena tidak percaya, tidak lama lagi, statusnya akan segera berubah. Kemudian, membiasakan diri menjadi istri dari seorang Abi yang harus dilakukan olehnya.
"Halo, Renata," sapa Caca, salah satu orang yang terlibat dalam keberlangsungan acara sakral Renat dan Abi. Caca mengulurkan tangan, yang dibalas dengan tidak kalah semangat oleh Renat.
"Halo, Mbak Caca." Renat bersuara, kemudian beralih untuk bersalaman dengan kedua rekan Caca.
"Tadi kita sempet ngobrol sebentar sama Abi, tapi waktu tau calon istrinya udah dateng dianya keluar lagi. Jadi gimana? Buat acara dua minggu lagi kita fix sama yang dibahas kemarin?"
Renat menganggukkan kepalanya penuh semangat. Acara lamaran yang tentu saja akan berlangsung di kediaman Renat sudah direncanakan akan penuh oleh nuansa Jawa. "Tapi aku belum ngehubungin pihak-pihak yang bakalan ambil bunga nih, Mbak. Itu gimana? Aku yang ngehubungin, atau siapa?"
"Biar kita aja, nggak apa-apa." Caca menganggukkan kepala, diikuti rekan yang lain sembari menuliskan sesuatu di buku milik masing-masing mereka.
"Pihak bunga apa?" Abi yang awalnya diam kini jadi bersuara, karena tidak tahu apa yang sedang dibahas. Menurut Abi, tidak ada satupun diskusi bersama yang terlewatkan olehnya, tetapi mengapa sekarang terasa seperti bahwa Abi tidak pernah mengikuti satupun diskusi. Perihal bunga salah satunya, dia bahkan sama sekali tidak mengetahui.
"Jadi gini loh, kan di setiap acara kita nanti bakalan banyak bunga-bunga buat hiasan. Nah, daripada nggak kepakai, mendingan abis acara bunga-bunganya dibawa sama orang-orang dari pihak yayasan peduli bunga. Denger-denger mereka sering bikin acara bareng anak-anak panti, kayak belajar ngerangkai bunga, terus bunganya dijadiin hadiah satu sama lain. Iya gitukan, Mbak?" Renat menoleh pada Caca, mengharapkan jawabannya agar dapat dikoreksi benar dan salahnya. Ketika Caca tersenyum, Renat tahu bahwa ia benar dan Abi sendiri juga sudah mengangguk-anggukkan kepala sekarang.
"Oh iya, Mbak, aku pengen banget kalau nuasa ruangannya nanti juga dipadu sama vintage. Ya, sedikit cherry blossom lah."
Caca terlihat mengangguk sambil asik sebentar dengan iPadnya, kemudian menatap Renat dengan yakin. "Bisa kita atur. Kalau kita nggak bisa dapetin cherry blossom dalam bentuk nyata, mungkin kita bisa gunain cara lain. Intinya, nuansa vintage yang kamu pengen bakalan tetep dipadu sama kedua adat kalian." Renat tersenyum puas pada penjelasan Caca sebelum wanita yang mengurus pernikahan mereka itu beralih menatap Abi. "Kalau Abi? Ada yang mau ditambahin?"
Abi menggeleng kecil, dia memang tidak begitu banyak memberi saran. Bukan karena tidak tahu, tapi senang saja sebab membiarkan Renat banyak berbicara dan mengutarakan apa yang ia inginkan untuk hal-hal yang akan menyempurnakan pernikahan mereka nanti. Kepalanya menoleh sedikit pada Renat di sebelahnya, lantas mengusap kepala belakang wanita itu penuh sayang. "Tanyain Re aja, Mbak, dia yang banyak tau."
"Kok gitu?" Renat bertanya dengan dahi mengernyit. Sementara Abi tersenyum lucu karena sadar Renat akan mengamuk akan ucapannya, kemudian dibuangnya pandangan pada sekeliling berpura-pura menilai ruangan. Sentakan pada pahanya sebab pukulan kecil Renat membuat Abi tersadar. Wajahnya meringis dengan tangan yang sibuk mengusap paha berbalut celana kain hitam tersebut. "Maksudnya aku yang banyak tau apa? Kan Mbak Caca nanyain kamu, ya tinggal jawab aja kamu maunya gimana. Suka ini nggak suka itu, jadi buat ke depannya bisa enak karna udah tau apa yang kita suka sama nggak suka."
"Aku nggak suka berdiri lama-lama buat salaman sama tamu," ucap Abi jujur-jujur saja. Membayangkan undangan yang akan datang begitu banyak membuat Abi tidak tahan walau hanya sekedar membayangkan.
"Tapi kita nggak mungkin nggak salaman sama tamu kalau pernikahan kita kayak gini, Bi. Kalau buat privat wedding atau garden party gitu ya baru bisa. Undangannya nggak gitu banyak, isinya cuma orang-orang yang deket sama kita doang. Nggak mungkinkan karyawan kamu dateng terus mereka kesini cuma makan doang tapi nggak bisa ketemu kita karna tamunya kebanyakan."
Abi pada akhirnya menerima saja, "Yaudah, kayak seharusnya aja. Aku nggak masalah."
"Bener?" tanya Renat dengan raut khawatir.
"Iya, Re," jawab Abi tertawa kecil, gemas sekali rasanya melihat ekspresi wajah Renat. "Tadikan kamu tanya apa yang aku nggak suka, ya aku jawab aku nggak suka salaman kalau tamunya kebanyakan. Tapi kalau emang harus salaman ya nggak masalah, ayo lakuin sama-sama."
Caca dan rekan-rekannya hanya dapat tersenyum pada debat singkat kedua pasangan di depannya itu. Kemudian kembali mencatat dengan baik apa-apa saja yang harus mereka persiapkan menjelang hari besar untuk Renat dan Abi. Sebagai tim yang menjadi pengatur pernikahan, Caca dapat menilai seperti apa rasa sayang Abi kepada Renat dan sebaliknya. Kisah Renat dan Abi dengan hubungan jarak jauh dalam kurun waktu yang tidak sebentar pun sudah sampai di telinga mereka. Lucu rasanya, dengan Abi yang terlampau tidak peduli pada orang sekitar namun tidak pada Renat. Sementara Renat yangterlihat dewasa sekali ketika berhubungan bersama orang di sekitarnya nyatanya masih seperti anak kecil ketika bersama Abi.
"Yaudah, untuk hari ini, kayaknya sampai di sini dulu. Pertemuan selanjutnya kita bisa langsung ketemu di rumah Renata biar bisa langsung liat kondisi rumah dan kita bisa atur titik-titik dekorasi."
Renat dan Abi mengangguk tanda setuju. Abi langsung saja berdiri dan megulurkan tangannya kepada Caca dan yang lainnya. Akhirnya, hari ini dapat berakhir dan ia bisa pulang menuju apartemen untuk beristirahat. Perihal pertemuan bersama Raskal, bisa diatur nanti. Kali ini, Abi hanya ingin mandi dan tidur.
"Ayo pulang," ajak Abi pada Renat, tangannya terulur untuk kembali menggemgam tangan lembut si nona cerewet. "Kamu yang nyetir, kan?"
"Iya, Abi, aku yang yang nyetir." Renat bersuara penuh penekanan karena gemas. Tapi bagaimanapun, dia tahu Abi yang lelah dan sudah seharusnya hari ini dia menjadi supir yang baik hati untuk pria tersebut.
♦ r e t u r n ♦
Pintu apartemen terbuka, Abi berdiri untuk membiarkan Renat masuk lebih dulu. Mata wanita itu terbuka ketika dilihatnya apartemen yang semula kosong kini sudah diisi oleh beberapa furniture. Tidak banyak, hanya televisi dan bed sofa yang berada di depannya. Kemudian susunan makanan ringan dekat kabinet dapur. Masih sangat sederhana, dan Renat berharap secepatnya mereka dapat mengisinya.
"Kamu pakai kamar mandi yang di dalem kamar aja, aku pakai yang di luar." Renat mengerjap ketika Abi berbicara di dekatnya. Wanita itu baru sadar bahwa ia tidak memiliki baju ganti, dan yang terburuk, skincare yang Renat bawa hanya beberapa di dalam tasnya.
Renat memilih meletakkan tas di atas bed sofa dan menatap Abi tidak enak. "Abi," panggilnya kecil pada Abi karena malu. "Kamu aja yang mandi, aku enggak. Aku lupa bawa bajuku."
Abi terbatuk dan ia buru-buru berdehem untuk menormalkan diri. "Kamu masuk aja dulu ke kamar, terus cek di lemari, kayaknya baju kamu ada disitu."
"Hah?" respon Renat tidak mengerti. Ini kedua kalinya Renat kemari, dan dirinya yakin bahwa ia tidak pernah membawa baju atau perlengkapan apapun untuk mengisi tempat di sini. "Baju kamu maksudnya?"
"Baju kamu, Re," ujar Abi jadi tidak tahu juga harus bersikap seperti apa. Pria itu terlampau malu untuk mengakui apa saja yang sudah ia lakukan pada apartemen ini secara diam-diam. Abi undur diri, melangkah menjauh sembari bersuara, "Aku mandi dulu kalau gitu."
Renat yang masih bingung langsung saja mencari jawabannya sendiri. Ia berdiri, berjalan menuju kamar utama. Tangannya membuka pintu dan lagi-lagi Renat harus dibuat kaget ketika melihat tempat tidur dengan ukuran kingsize sudah mengisi tengah ruangan. Sebuah lemari di sudut ruangan mencuri perhatian Renat. Dia pernah melihat lemari tersebut, dan bahkan ingin sekali membelinya. Namun harganya yang terlalu tinggi membuat Renat menahan diri, dia masih bisa menabung dan harus bersabar. Nyatanya, Abi sudah lebih dulu mengetahui apa yang Renat inginkan. Lemari berwarna silver dengan pintu full of mirror tersebut sudah berada di depan Renat dan menampakkan bayangannya di sana.
Renat sukses dibuat senyum sendiri, ia lantas memilih membuka salah satu pintu lemari dan mulutnya sukses terbuka. Terdapat beberapa baju yang memang cocok apabila dikatakan miliknya daripada milik Abi. Beberapa dress indah untuk pertemuan formal sampai baju-baju rumahan terdapat di dalam lemari. Dan ketika Renat melirik lebih ke bawah, seluruh wajahnya berubah merah. Ya Tuhan, Renat tidak pernah menyangka bahwa Abi akan melakukan semua ini, termasuk membelikannya pakaian dalam. Entah pria itu sehat atau tidak, yang jelas ia sukses membuat Renat malu dan terharu dalam waktu bersamaan. Lucu saja membayangkan Abi mempersiapkan ini sendirian apalagi masuk ke dalam toko pakaian dalam wanita.
Renat buru-buru mengambil kaus dan celana hitam panjang untuk tidur, lalu pakaian lain yang ia perlukan. Kakinya melangkah menuju pintu kamar mandi dan masuk ke dalam ruangan yang tidak terlalu besar tersebut. Ada beberapa handuk, sabun mandi, dan shampoo yang memang selalu menjadi pilihan Renat. Wanita itu bahkan tidak tahu kalau Abi hapal pada hal yang satu ini. Pikiran Renat terbang jauh, bahwa ia memang beruntung sebab Abi memilihnya. Tidak perlu suatu yang besar, sebab hal-hal kecil penuh akan perhatian seperti inilah yang selalu membuat Renat sukses jatuh pada Abi berkali-kali.
Renat melangkah menuju wastafel dan menatap bayangannya pada cermin besar. Tampilannya juga tidak jauh berbeda dengan Abi, sama saja kusut walau Abi lebih parah. Renat mengambil karet gelang, lantas mengikat rambutnya menjadi satu di bagian atas. Setelah itu, ritual mandinya pun satu persatu dilakukan.
Sekitar tiga puluh menit berlalu, Renat baru saja selesai dan hendak memakai baju ketika suara ketukan pada pintu kamar mandi terdengar.
"Ya?" teriak Renat dari dalam.
"Aku kirain kamu tidur di dalem," celetuk Abi dari luar dan sukses membuat Renat melotot. Pria sama saja, tidak paham bahwa wanita memang harus berlama-lama di dalam kamar mandi. "Cepetan, Re, makanannya udah dateng nanti keburu dingin."
"Iya ini udah selesai kok!" Renat berteriak lagi, kemudian dengan cepat mengenakan pakaian sebelum Abi mengira ia tidur lagi.
Keluar dari kamar mandi, Renat berjalan menuju tas nya untuk mengambil beberapa skincare dan dengan cepat mengoleskannya pada kulit. Setelah selesai, ia bergegas untuk keluar walau jantungnya sekarang tengah berdegup tidak beraturan. Aneh sekali, Renat jarang seperti ini. Kala ia membuka pintu kamar, dapat dilihatnya Abi sedang duduk di atas karpet yang terletak di depan bed sofa, punggungnya menyandar pada sofa tersebut sementara pandangannya fokus menatap cartoon sore.
Suara pintu yang kembali ditutup membuat Abi mau tidak mau menoleh. Walau terlihat biasa, namun Abi memang sempat panas dingin memikirkan apa reaksi Renat ketika melihat isi lemari di dalam kamar. Bukan apa-apa, Abi melakukan hal tersebut hanya untuk jaga-jaga. Lagipula, wajar saja rasanya sebab Abi mempersiapkan hal tersebut bermaksud mewanti-wanti apabila keadaan sedang mendesaknya---salah satu contohnya di saat sekarang. Sedia payung sebelum hujan adalah hal yang tidak salah dilakukan.
"Aku cuma pesen makanan di depan gedung," ujar Abi mengangkat kotak nasi karena Renat duduk di atas bed sofa, tepat di belakang Abi. "Kalau nanti masih nggak kenyang kita pesen makanan lain. Aku juga udah hubungin Raskal minta dia kesini. Aku lagi nggak sanggup keluar, capek."
"Yaudah nggak apa-apa," jawab Renat sembari angguk kepala mengerti. "Terus, kita nginep?"
Abi menoleh, "Nggak apa-apa, kan? Besok juga minggu. Kamu tidur di kamar aku tidur di sini."
"Aku belum bilang mama, A, takut nggak dibolehin."
"Aku udah bilang ke mama kamu, katanya, sekali ini doang aku boleh bawa anaknya nginep, abis itu nggak ada nginep-nginep lagi."
"Mama garang," celetuk Renat setelah itu tertawa dengan perasaan lebih lega.
Sembari menikmati makan malam mereka yang terbilang sederhana, keduanya sibuk memfokuskan diri pada layar televisi yang kini sedang menampilkan salah satu film horror. Renat yang awalnya duduk sendirian di atas sudah jelas langsung berpindah ke sebelah Abi karena tidak tahan akan hawa dingin di belakang tubuhnya. Renat bukan penakut, hanya saja, dia tidak terlalu suka dengan hantu yang hanya bisa mengagetkan. Menyebalkan untuknya.
"Ganti film dong, A," ucap Renat mengeluh, tapi tidak didengar oleh Abi karena pria itu sedang seru dengan filmnya. "Kamu tuh, kalau udah keseruan nonton pasti lupa makannya. Tuh nasi kamu udah keburu ngambek karna diduain, A!"
Abi tersentak, bukan pada Renat di sebelahnya tapi karena suara bel, pertanda seseorang telah datang.
"Shalum!" lonjak Renat penuh semangat dan kabur lebih dulu meninggalkan Abi untuk mendekat pada pintu apartemen. Tanpa pikir, ia langsung saja membuka pintu dengan senyum refleks terbit. Di depannya, di dalam gendongan Raskal, seorang anak perempuan berumur tiga tahun tengah mencibir dengan pipi gembil yang hampir tumpah. Dia Shalum, anak Raskal yang terakhir kali ia ceritakan pada Abi.
"Halo, Tante Re," ujar Raskal seakan-akan tengah menjadi Shalum.
"Ya ampun lucu banget!" Renat tidak tahan apabila tidak berekspresi berlebihan. Nyatanya, anak kecil dengan baju monyet warna biru tua yang tengah digendong oleh ayahnya itu memang tampak sangat menggemaskan. "Ayo sini sama Tante yang gendong, Shal."
Ajaibnya, Shalum sendiri tidak menolak dan bahkan ikut-ikutan mengulurkan tangan sama seperti Renat. "Abi, liat Shalum nya mau sama aku! Abi, lucu banget mau nangis aku!"
Raskal yang hanya memperhatikan sukses tergelak, dia seperti melihat Renat yang asli di detik sekarang. Renat yang ribut, penuh akan tingkah-tingkah ajaib yang akan membuat orang sekitar selalu nyaman padanya. Dan yang terpenting sekarang, Raskal tahu bahwa pilihannya untuk menitipkan Shalum kepada Renat dan Abi selama satu malam adalah pilihan yang tepat!
♦ r e t u r n ♦