Renat dengan wajah berseri asik bermain bersama Shalum di depan televisi sementara Abi dan Raskal menghabiskan waktu untuk menikmati angin di beranda luar. Kemarin, secara mendadak Raskal memang menghubungi Renat dan Abi untuk meminta pertolongan. Malam ini Raskal harus berangkat menuju Bandung untuk menjemput bundanya. Seminggu lalu ketika Raskal mengantar sang bunda kesana, baby sitter Shalum sedang tidak sakit. Sedang Ayahnya pun sedang tidak berada di tempat sekarang atau mungkin sang ayah sudah berbesar hati untuk menjemput mantan istrinya tersebut daripada membebani semuanya pada Raskal. Maka dari itu, daripada membawa Shalum dalam perjalanan panjang di dalam mobil yang tentu tidak akan nyaman, Raskal akhirnya mendapatkan ide walau pada akhirnya ia harus merepotkan Renat beserta Abi.
Beruntung karena Renat sangat menerima kehadiran Shalum. Bahkan ia sudah belajar membuatkan s**u untuk Shalum dan sudah diminum habis. Menurut Renat, Shalum adalah anak yang penuh semangat walau kini ia tidak memiliki kehadiran seorang ibu. Tapi tidak masalah, Renat sudah berniat dalam hati untuk akan terus ada pada gadis kecil di hadapannya sekarang. Nanti, ketika Shalum tengah membutuhkannya, Renat pasti akan selalu hadir.
"Eh, Shal, baju Tante jangan dimakan." Renat panik sendiri kita Shalum menarik ujung kaus Renat dan berusaha memasukkannya ke dalam mulut. "Ini, Tante punya cookies, satu aja ya buat Shalum."
"U-kies?" tanya Shalum susah payah, dan Renat tersenyum senang. "A-mau."
"Loh? Kok Shalum nggak suka cookies? Enak loh cookiesnya."
"Enyak? Enyak pha?"
Renat gemas sendiri, diciumnya pipi Shalum sebelum menjawab. "Enak rasanya. Mau?"
Shalum menutup hidung, lantas menjatuhkan diri di sebelah Renat dan menatap televisi dengan serius. "A-mau."
"Terus maunya apa?"
"Papa Cal ana, Te?" Renat terdiam, kepalanya masih berusaha mentranslatekan kalimat Shalum agar dapat ia mengerti. "Te! Papa Cal ana?"
"OH! PAPA SHALUM?"
"Iyah," angguk Shalum lucu, rambut lurus melebihi bahu yang mencoba menghalangi wajah diawaskannya dengan tangan. "Ana, Te?"
"Lagi ngobrol di luar bareng Om Abi," jawab Renat sembari mengusap dahi Shalum penuh sayang. Dia tidak percaya bahwa menghabiskan waktu seperti ini dengan seorang anak kecil akan begitu menyenangkan. Maklum, Renat terbiasa sendiri dari kecil hingga tumbuh dewasa. Tanpa kakak atau adik sehingga Renat tidak tahu bagaimana rasanya memiliki saudara kandung. Melihat Shalum sekarang, entah mengapa membuat Renat tercermin pada masa kecil. Jika Raskal tidak menikah, maka sudah dipastikan Shalum juga akan menjadi anak tunggal sama seperti Renat.
"Oblor?" tanya Shalum dengan wajah polos. "Oblor pha, Te?"
"Ngobrol, Sayang, bukan oblor."
"Iyah, oblor."
"Ya ampun!" Renat tertawa gemas sembari menggetarkan pipi Shalum yang gembil. Anak perempuan itu tetap fokus pada cartoon di depannya, seperti tidak terganggu dengan aksi Renat yang terlewat gemas padanya. "Shalum Tante makan boleh, ya?"
"Te apar?" Shalum menatap wajah Renat penuh tanya, menanti jawaban wanita itu.
"Enggak, pengen aja makan Shalum. Tante gemes." Shalum terkikik, tapi tidak berbicara apa-apa lagi melainkan tetap fokus pada cartoon di layar televisi. Renat yang merasa diabaikan hanya bisa mencibir, kemudian memukul pelan popok Shalum sebelum berdiri. "Tante liat Papa Shalum sebentar, ya."
"Iyah," jawabnya pula dan Renat langsung melotot kemudian tertawa. Tidak seperti kebanyakan anak kecil yang ingin tahu dan akan selalu mengekori orang dewasa, Shalum tipikal yang lebih tenang dan hanya akan fokus ketika sesuatu sudah menarik perhatiannya. Lucu sekali.
Renat akhirnya berjalan menuju pintu yang akan menghubungkannya dengan beranda luar, dimana Abi dan Raskal tengah saling bercengkerama entah membahas perihal apa, tampaknya sesuatu yang seru. Renat melongokkan kepala, tersenyum dan melambaikan tangan. Kedua pria di sana tentu langsung menoleh sebab kedatangan Renat. Raskal yang tersenyum sedang Abi terdengar berdehem dan menegakkan punggung.
"Lagi bahasin apa?" tanya Renat kini mulai bergabung bersama keduanya, memilih berdiri di antara Abi juga Raskal.
"Bahasin ini---"
"---Sana masuk!" Abi bersuara, memotong suara Raskal yang baru akan menjawab pertanyaan Renat. Raut wajah Abi benar-benar seperti takut bila Renat mengetahui apa yang ia bahas bersama Raskal.
"Apasih kok ngusir," dumel Renat tidak senang.
"Udah malem, kasian Shalum sendirian."
"Eh iya, Shalum tidur?"
Renat menggeleng, "Tadi nanyain papanya. Terus, kamu mau berangkat kapan, Kal?"
Raskal mengangkat pergelangan tangan kirinya, lalu menatap Abi dan Renat bergantian. "Sebentar lagi. Benerkan ini nggak apa-apa gue nitip Shalum ke kalian?" Raskal bertanya lagi, memastikan karena takut bila-bila merepotkan. Mungkin bukan Renat, tetapi Abi yang akan terganggu walau pria itu sudah berkata bahwa dirinya senang akan kehadiran Shalum. "Intinya Shalum bakalan tidur kalau tvnya selalu nyala nayangin cartoon. Dia nggak rewel kok, gue janji, Bi. Shalum juga udah gue pakein popok, jadi nggak bakalan ngompol. Bangun tidur, dia cuma harus dibawa ke kamar mandi buat pipis, terus sarapan sampai makan siang, susunya, ada di dalam tas. Besok sore, gue janji jemput Shalum tepat waktu."
"Iya," jawab Abi pendek karena bosan sebab Raskal hanya mengulang hal-hal yang sama. "Gue nggak masalah anak lo di sini. Udahlah, buruan berangkat. Kasian nyokap lo nunggunya kelamaan."
Raskal mengangguk, kemudian tersenyum kecil sebelum masuk ke dalam apartemen diikuti Renat dan Abi di belakangnya. Raskal terlihat mendekati gadis kecilnya dan mencium Shalum dengan gemas. Gadis kecil yang merasa terganggu akan papanya itu hanya merengek tidak jelas dan berusaha menolak Raskal agar tidak menganggu.
"Cana, Pa, Cal aghy ton ilem." Shalum membelakangi Raskal, dan sibuk lagi dengan cartoonnya.
"Iya-iya," ujar Raskal menurut pada anaknya itu. "Papa jemput Nana dulu ya, Cal."
"Iyah." Shalum bersuara sambil melambaikan tangannya walau tidak melihat sang papa sama sekali. Renat dan Abi yang memperhatikan mau tidak mau tersenyum. Lucu sekali melihat interaksi Shalum dan Raskal.
"Kalau Papa mau pergi bilang apa dulu?"
"Ati-ati, Papa!"
Raskal tertawa, kemudian berbalik dan melihat Renat beserta Abi. Pria itu mengangkat tangan, kemudian melambai sesaat sebelum benar-benar berjalan menuju pintu. "Gue pergi ya, titip Shalum!"
Renat mengangguk, "Iya, Kal!" Dibiarkannya Abi berjalan menemani Raskal sementara ia kembali menemani Shalum. Rasanya sedikit deg-degan sebab untuk malam ini akan ada anak kecil di antara mereka. Terlebih, tampaknya waktu begitu pas karena Renat dan Abi memilih menginap bersama malam ini. Apabila tidak begini, sudah dipastikan Shalum akan Renat bawa pulang ke rumah dan mereka akan tertidur di kamarnya.
"Shal, mau om pesenin makanan?" Abi bertanya tiba-tiba sembari duduk di sebelah Renat.
Shalum menoleh, mengernyit seraya berpikir siapakah pria yang tengah duduk di sebelahnya sekarang. "Om capa?"
"Hah? Dia nggak tau aku?" Abi menatap Renat tidak terima. Enak saja dirinya tidak dikenal. "Om calon suaminya Tante Re, masa nggak kenal."
Shalum hanya diam, tidak paham sama sekali pada ucapan Abi. Sedang Renat mau tidak mau tertawa, lantas berjalan menuju dapur untuk membuat sesuatu yang hangat. Dia tidak mau pulang dari sini Shalum sampai kelihatan kurus. Benar, sepertinya si kecil itu menginginkan sesuatu untuk dimakan.
"Shalum mau makanan nggak?" teriak Renat dari dapur, dilihatnya Abi dan Shalum sama-sama fokus dengan televisi.
"No," balas Shalum juga berteriak.
"Kenapa nggak mau makan? Shalum nggak laper?" Abi yang bersuara sebab penasaran, dia masih canggung menyikapi si kecil Shalum sebagai seorang yang dewasa. Rasanya, memang Abi harus banyak belajar ketika nanti ia sudah menjadi ayah.
"No,Om," ujar Shalum menunjukkan jari telunjuknya pada Abi dan menggerak-gerakkannya dengan lucu.
"Ngantuk?" tanya Abi semakin kaku saja, dia benar-benar lemah dalam mencari topik bahkan bersama anak kecil.
"Om celewet, shh, Cal aghy ton ilem, Om!"
Abi menekan kedua bibirnya, sukses geleng kepala dan tidak lagi mau berbicara. Jika begini, Abi merasa bahwa lebih baik jika ia tidur saja. Lagipula badannya sudah terlampau lelah. Dilihatnya Renat yang masih asik di dapur dan kembali beralih pada Shalum. Tampaknya tidak apa-apa bila ia meninggalkan Shalum dengan tidur lebih dulu di sebelah gadis kecil tersebut.
"Om tidur duluan, ya, Shalum jangan rewel."
"Shh!" desis Shalum makin keras sebab tidak suka diganggu.
♦ r e t u r n ♦
Sore hari di area coffee cafe tidak begitu ribut, bukan karena tidak banyak orang, melainkan orang-orang di dalamnya tampak lebih tertarik dengan urusan mereka masing-masing ketimbang mengobrol dan bersenda gurau. Dengan alat elektronik di atas meja sementara di sebelahnya terdapat secangkir kopi dan sepotong kudapan sore. Bila diperhatikan lebih lanjut, hanya Renat satu-satunya orang yang menggendong anak kecil di sana. Untung saja, Shalum terlihat anteng-anteng saja dengan cake manis di depannya.
Renat memandang sekeliling, menunggu seseorang entah siapa yang membuatnya penasaran sehingga sanggup untuk datang kemari. Renat bahkan tidak mengerti, kenapa masih saja ada orang aneh yang mau-maunya melakukan hal semacam ini. Apa susahnya menghubungi Renat dengan memperkenalkan diri terlebih dahulu agar ia tidak perlu penasaran lagi. Sekarang, hanya beribu pertanyaan berujung rasa tidak puas di dalam kepalanya.
"Renata?"
Renat menoleh cepat, matanya melotot sebagai reaksi normal akan keterkejutan atas seseorang yang sedang menunjukkan senyum manis di hadapannya. "Kamu?" Renat bertanya, menahan tawa sarkas tidak percaya.
"Kenapa? Kaget?"Moza, yang masih mempertahankan senyum manisnya tersebut memilih mengambil tempat di seberang Renat. Awalnya terlihat penasaran dengan Shalum walau tidak bertahan lama, ada hal penting yang harus ia bicarakan dengan Renat perihal Abi.
Renat menggeleng kaku, terasa dipermaikan. "Maksud kamu apa ngirimin SMS kayak gitu? Kamu punya masalah sama aku? Atau ada hal yang kamu nggak suka sampai-sampai kamu kayak gini?"
"Santai dulu dong, Renata," tawa Moza terdengar renyah, ia tahu bahwa Renat sedang tidak sabaran sekarang. "Aku ngirim SMS kayak gitu sebenernya cuma niatan bercanda. Aku mau kenalan sama kamu, nggak ada salahnya berteman, kan?"
"Berteman?" tanya Renat tidak habis pikir. "Nggak kayak gini caranya buat mulai berteman."
"Terus gimana?"
"Udahlah, kamu to the point aja, bisa? Aku nggak punya waktu ladenin kamu lama-lama. Apalagi baby di sebelahku harus buru-buru pulang karna udah ikut kelamaan nunggu seseorang yang nggak bisa tepat waktu. Lain kali, kalau mau tentuin jam buat ketemu, harusnya jelas-jelas."
Moza terlihat meringis dan mengangguk, "Oke-oke, buat yang itu aku beneran minta maaf. Jalanan macet banget tadi."
"Ya tau macet harusnya bisa lebih cepat, kan?" tanya Renat tidak suka dengan Moza yang menurutnya bertele-tele. "Udahlah, jadi kamu mau ngomong apa?"
"Aku mantannya Abi!" ucap Moza langsung saja, dia sepertinya juga terpojokkan dengan sikap Renat yang terkesan dingin.
Mendengar ucapan Moza, Renat diam saja. Kepalanya berusaha mencerna kalimat pendek milik Moza. Lantas, apa untungnya mengaku perihal status kepada Renat? Toh hal tersebut juga tidak berlaku lagi. Jika saja Moza sedikit tahu malu dan bersikap dewasa, maka ia tidak akan berani untuk mengungkapkan statusnya pada Renat selaku calon istri Abi. Bukannya ingin marah, Renat lebih ingin menertawakan keanehan Moza yang satu ini.
"Terus? Apa untungnya kamu ngasih tau aku?" Renat bertanya dengan raut datar, sesekali dilihatnya Shalum yang masih asik dengan cake di depannya.
"Aku cuma mau kamu tau, kok." Moza berusaha tersenyum manis, walau Renat sama sekali tidak bisa menanggapinya dengan baik. Bukannya bersuara, Renat malah memberi jeda sehingga Moza kembali memiliki kesempatan untuk berbicara. "Dulu banget, Abi sama aku hampir selalu habisin waktu bareng-bareng. Ada satu cowok yang selalu gangguin aku, terus Abi yang bakalan dateng buat ngebela. Lucu ya, aku pikir kita bakalan selalu sama-sama, tapi nyatanya enggak."
"Terus?"
"Kamu yakin kalau Abi beneran cinta sama kamu?"
"Ha?" Renat merespon dengan wajah konyol, benar-benar tidak habis pikir dengan manusia aneh di hadapannya. "Kamu yakin nanya kayak gitu ke aku? Kamu bahkan nggak kenal aku, Moza, dan kamu berani-beraninya nanyain itu."
"Aku tau kok, aku tau jelas Abi itu tipe kayak mana. Dia nggak mudah jatuh cinta ke perempuan. Dan aku termasuk orang pertama yang berhasil bikin dia jatuh cinta. Aku cuma takut, Re, kalau perasaan dia itu cuma setengah ke kamu."
Renat menatap Moza dengan pandangan menyelidik. Dengan matanya sendiri, Renat dapat menilai jelas wanita seperti apa Moza sebenarnya. Dia cantik, hanya saja tidak bisa membawa cantiknya bersama sikap yang baik. Bisa-bisanya ia bertanya perihal cinta Abi pada Renat, entah kemana Moza melemparkan etika berkelasnya sebelum datang kemari.
"Kamu suka Abi?" tanya Renat langsung, tidak peduli apakah kata-katanya menyentak Moza atau tidak. "Boleh aku tau kamu temenan sama Abi dari kapan?"
Moza tampak berpikir, mewanti-wanti kemana arah pertanyaan Renat. "SMP."
"Sampai?"
"Kita lulus."
"Sayangnya Abi nggak pernah sebut nama kamu lagi waktu kita SMA. Mungkin cerita monyet kalian emang udah tamat selesai SMP, dan nggak ada alasan buat kamu nanya apa Abi beneran cinta sama aku atau cuma setengah-setengah. Mau dia kasih setengah atau seluruh hidupnya buat aku, itu sama sekali nggak ada hubungannya sama kamu. Itu urusan aku sama Abi." Renat menghirup napas yang nyatanya tertahan cukup lama, jantungnya mendadak berdegub kencang karena berbicara seperti tadi. "Kamu bilang kamu mantannya Abi? Harusnya kamu malu buat ngakuin hal itu di depan aku. Aku? Aku jelas-jelas bakalan jadi Nyonya Radeva. Jadi aku mohon, jaga ucapan kamu."
Rasanya menyakitkan. Mendengar Renat dengan lantang menyebut dirinya sebagai calon Nyonya Radeva jelas membuat Moza kian kalah dan terpuruk. Di depan Renat kali ini, Moza tidak lebih dari seorang wanita yang putus dalam bercinta. Sekeras apapun dia berusaha untuk dapat menarik perhatian Abi kembali, akhirnya akan terus sia-sia. Moza hanya ingin dimengerti, terlebih oleh Abi. Sedang kehadiran Renat seperti menghalangi semua jalan yang sedang Moza bangun kembali.
"Kamu terlalu sombong sama status kamu sekarang." Moza menyesap kopi yang sudah ia pesan terlebih dahulu, mencoba menormalkan diri.
"Kenapa?" tanya Renat meminta alasan. "Aku punya alasan buat ngomong kayak tadi buat ingetin kalau apa yang udah kamu bilang di awal itu salah. Aku nggak perlu denger pengakuan kalau kamu itu mantan dari calon suamiku. Aku berhak mertahanin apa yang udah jadi milikku, apalagi ini soal Abi. Kamu nggak tau apa yang udah aku lewatin bareng Abi, jadi cukup diem."
"Kenapa? Karna dia punya kamu jadi aku nggak boleh buat suka?"
"Nggak masalah kalau kamu suka sama Abi, tapi kamu nggak perlu ikutan ngaku soal perasaan konyol kamu itu ke aku. Karna hidupku bukan buat dengerin omong kosong kayak gini. Masih banyak laki-laki lain, jadi kamu nggak perlu sedesperate ini cuma karna Abi. Kalau kamu bahas soal mantan, kamu bukan satu-satunya mantan Abi. Tapi kamu emang satu-satunya orang yang bangga karna udah jadi mantannya Abi." Renat tersenyum, yang sayangnya terasa seperti ejekan bagi Moza. Tapi Renat sendiri tidak peduli. Jika seseorang datang hanya untuk mencuri apa yang ia miliki, maka sudah seharusnya Renat menunjukkan sikap tegas untuk mempertahankan miliknya.
"Kamu nggak tau apa-apa," ucap Moza bersama rasa sakitnya sendiri.
"Kalau gitu kamu juga, kamu nggak tau apa-apa tentang aku sama Abi. Jadi cukup urusin urusan masing-masing aja, kan?" Renat membalasnya masih dengan senyum, kemudian melirik Shalum dan mengulurkan kedua tangannya. Si kecil itu---yang sejak tadi mendengarkan obrolan orang dewasa di sekitarnya tanpa mengerti satupun maksud dari ucapan mereka---mulai ikut mengulurkan tangan, membiarkan Renat memeluknya dengan hangat.
"Ayo, Shal, papa Shalum baru ngirim pesen katanya udah di parkiran."
Renat berdiri, mengambil tas barang-barang milik Shalum, tidak lagi menatap Moza dan memilih berjalan menuju pintu keluar. Shalum harus segera diantarkan pada Raskal yang baru saja tiba. Keluarnya ia dari cafe, dapat dilihatnya Raskal yang tengah melambaikan tangan di sebelah mobil miliknya. Renat tersenyum, dipercepatnya langkah karena Shalum sudah bergerak-gerak semangat dalam gendongannya. Bahaya juga, menggendong anak umur tiga tahun yang sedang aktif-aktifnya.
"Nih, nih, papanya," ujar Renat kepada Shalum sembari mentranferskan si kecil tersebut pada Raskal.
"Makasih ya, Re." Raskal tersenyum sembari mengusap kepala putrinya penuh sayang.
"Apaan sih pakai makasi segala, santai aja! Kan udah dibilang aku sama Abi seneng jagain Shalum. Shalum nggak ngompol loh! Pinter banget anak Tante!" Renat tertawa gemas, menunjukkan telapak tangannya yang langsung dibalas dengan Shalum. "Besok-besok biar Tante sama Om Abi lagi ya yang jagain."
"Enak aja!" celetuk Raskal mencibir, "bikin sendiri sama Abi!"
"HEH!" tepuk Renat pada bahu Raskal dengan kencang sehingga pria itu sukses tertawa bahagia. Alih-alih semakin brutal bersama tawanya, suara Raskal malah langsung padam dengan tatapan yang lurus ke satu arah. "Kal, kamu kenapa?"
"Kamu ketemu dia?" Renat menoleh dan mengikuti arah pandangan Raskal. Anggukan Renat terlihat kaku sebab nada suara Raskal seperti terdengar tidak suka. "Ngapain? Kalian saling kenal?"
"Nope," geleng Renat. "Aku yang terlalu terkenal sampai dia mau ketemu sama aku. Oh iya, dia bilang dia mantannya Abi waktu SMP, kamu kenal dia dong berarti."
Raskal diam, pandangannya pada Moza belum juga surut. Rasa bersalah itu tampaknya masih ada dan bersarang dalam hatinya. "Aku kenal dia. Tapi setauku dia bukan mantan Abi."
"Jadi dia ngaku-ngaku di depan aku?"
Raskal mengedikkan bahu, "Intinya dia sama Abi nggak pernah pacaran. Aku yang pernah pacaran sama dia, tapi lupa berapa hari."
"Cukup ya, Kal, aku nggak mau denger apa-apa lagi. Urusan mantan-mantan itu biar jadi urusan kalian aja. Aku nggak mau tau, aku sama sekali nggak penasaran tentang masa SMP kalian. Jadi udah, ya? Kalau gitu aku pulang dulu. Dah, Shal, Tante pulang, ya."
Renat kemudian mengambil langkah untuk meninggalkan Raskal yang kini kembali sibuk menatap Moza dari kejauhan. Hanya sebentar, sebelum dirinya memilih masuk ke mobil karena Shalum sudah mulai merengek tidak nyaman. Perihal Moza, biarlah tetap berada di belakang dan menjadi masa lalu masing-masing. Tidak perlu dibahas lagi, sebab sudah saatnya menata masa depan.
♦ r e t u r n ♦