Hak orang lain menyukai kamu, lalu meneriakkan untaian benci tepat di telingaku. Lantas dengan begitu, apa mereka pantas? Jika mereka membuka cerita milik kita, apa mereka akan tetap berteriak sama? atau malah semakin tidak suka. Sebab bertahan utuh satu sama lain, bukanlah perihal mudah. Terimakasih, ya, karena tetap memilih aku, dan tidak memandang ke masa lalu. Terimakasih juga karena sudah percaya padaku, dan selalu berusaha menjadi obat untuk beribu lukaku. Aku sudah terlalu bergantung dengan kamu. Jadi, jangan pernah pergi, ya? -Renatasya Edelweis.
0-0-0
Selamat sore! Aku tulis ini ketika senja, kala hatiku tengah bergelumung dengan perasaan bingung dan tidak kuasa. Pertemuan terakhir kali dengan perempuan masa lalumu nyatanya membuatku sadar bahwa aku belum tahu kamu seutuhnya. Aku sadar betul, bahwa hingga detik ini hanya aku yang membiarkan kamu masuk untuk tahu seluk beluk cerita lamaku. Sedang kamu tidak begitu, berusaha menutup rapat kisahmu tanpa ingin aku tahu. Pada akhirnya, aku tampak seperti orang bodoh ketika wanita masa lalumu berusaha meruntuhkan kepercayaan diriku terhadap status yang tengah aku sandang. Jika saja kamu sudah bercerita lebih awal, maka akan mudah bagiku menanggapi bualan omong kosong milik wanita itu. Tapi begitulah kenyataannya. Dia berbohong dan aku percaya, sementara kamu tetap diam tanpa penjelasan apa-apa.
Ini khusus, untuk Tuan Radeva si pemarah. Ngomong-ngomong, anggap saja ini jurnal pertama yang aku buat sebelum kita menikah. Ketika waktunya tiba, akan aku tunjukkan semuanya pada Tuan Pemarah. Aku tidak puitis sama sekali, sih, tapi ini sepertinya sudah cukup. Kedepannya, aku akan banyak belajar.
0-0-0