30. Lamaran

2962 Kata
Kantuk Abi buyar dalam hitungan detik ketika matanya terbuka dan mengingat hari apa sekarang. Bergadang hingga pukul dua pagi nyatanya tidak membuat pria itu terkantuk dan kembali bergulung dengan selimut hangatnya. Ia memang sempat berbohong semalam pada Renat, mengatakan bahwa akan tidur lebih awal dan meninggalkan pekerjaan terlebih dahulu walau kenyataannya tidak begitu. Kepala Abi tetap kekeh bertahan di depan dokumen dan beberapa data perusahaan karena rasanya aneh bila bekerja setengah-setengah, pria itu tidak terbiasa. Suara ketukan pada pintu kamar membuat Abi kian terjaga. Ia buru-buru bangkit untuk berjalan ke arah pintu dan menarik benda tersebut. Belum sempat Abi menghirup napas karena kaget, pelukan tiba-tiba pada tubuhnya sukses membuat Abi terbatuk. Wangi parfum yang sering kali ia cium beberapa waktu lalu akhirnya dapat dihirup lagi walau dengan cara tidak santai seperti ini. Abi menceraikan pelukan terlebih dahulu, menatap seorang di depannya sedikit tidak percaya. Bagaimana mungkin, adik perempuan yang selalu sulit disuruh pulang ke Jakarta, sekarang tengah berada di hadapannya dengan senyum cemerlang menghias wajah. Abiana tertawa geli, menampakkan deretan giginya yang rapi sebelum melenggang meninggalkan Abi yang yang masih bengong layaknya orang bodoh. "Mandi, A, Bia siapin bajunya dulu!" teriak Bia kemudian hilang di balik pintu kamarnya sendiri. Daripada disebut adik, Bia lebih cocok dikatakan sebagai saudari kembar Abi. Dibanding Judith---adik bungsu perempun Abi---yang lebih condong mirip dengan sang papa dalam segi fisik dan sifat, Abi dan Bia memang mendapatkan perpaduan kedua orangtua mereka. Mata Abi mengikuti mama, sedang Bia mendapatkan bentuk hidung dan bibir. Cara mata mereka yang terkesan tajam ketika menatap orang lain, khas mamanya sekali. Berbeda dengan Judith yang akan selalu menebar tatapan dan sikap hangat pada orang sekitarnya dengan mudah. Umur Abi dan Bia yang hanya berjarak satu tahun membuat keduanya lebih dekat dan mudah untuk saling mengerti masalah satu sama lain. Contohnya saja perihal Renat, entah sudah berapa banyak cerita tentang wanita itu yang Bia dengarkan langsung dari Abi. Itu kenapa, Abi sempat kesal sekali ketika Bia mengatakan bahwa ia tidak dapat kembali ke Jakarta untuk menyaksikan langsung acara lamarannya. Abi mencebik sebal, sadar bahwa dirinya sudah dibodoh-bodohi. Pria itu kembali menutup pintu kamar dan berjalan kembali menuju tepi tempat tidur dekat meja nakas berada. Tangannya meraih ponsel, menyalakan benda itu dengan perasaan lebih was-was. Helaan napas lega terhembus ketika tahu bahwa Renat belum menghubunginya sama sekali. Dibanding Abi, Renat tentu akan lebih sibuk sebagai seorang wanita. Abi mengernyit, menatap satu pesan masuk dari adik bungsunya. Cool J: Semangat ngelamarnya, ya, A! Dahi Abi mengernyit tidak suka. Hanya itu? Dia pikir Judith akan lebih berbaik hati untuk memberikan pesan dan kesan panjang karena kakak laki-lakinya akan melakukan hal besar hari ini. Abi sudah cukup memberi pengertian pada Judith yang tidak bisa pulang dalam waktu dekat disebabkan ujiannya. Lagipula kasihan apabila adiknya itu harus bolak-balik negara, lebih baik pulang ketika hari pernikahan Abi terselenggara saja. Mau bagaimana lagi, Benua Amerika tidaklah dekat dan harus ada pilihan paling tepat yang harus dibuat. Abirayyan: Cuma itu kata-katanya? Nggak ada yang lain? Abi mengirim pesan tersebut, kemudian meletakkan ponselnya lagi di atas meja nakas. Tangan pria itu mengusap wajah, hatinya berubah gundah tidak dapat dijelaskan. Dia bahagia sebetulnya karena hari ini datang juga. Walau tidak dapat Abi pungkiri bahwa ia juga takut. Bahkan ketika Abi mencoba menjadi pemimpin rapat bersama petinggi perusahaan lain, ia tidak seperti ini. Pria itu bertanya-tanya, apa Renat juga sama seperti dirinya atau tidak. Bisa saja, di saat Abi tengah kebingungan untuk membaca hari ini akan berjalan seperti apa, Renat mungkin tengah asik santai sambil mengenakan masker rutinnya. Abi baru akan melangkah ke kamar mandi ketika ponselnya berdering, menandakan ada panggilan yang masuk. Dengan cepat diambilnya benda pipih itu dan duduk di tepi tempat tidur. Senyum bodoh Abi terbit begitu saja karena ternyata panggilan itu berasal dari Judith. Beruntung Abi tidak perlu menunggu lama karena adiknya itu memang suka sibuk melebihi Abi. Entah benar-benar sibuk dengan tugas, atau malah sedang bermain dengan piranha. Adiknya yang satu itu memang suka nyeleneh. "Kependekan, ya, A?" tanya Judith langsung tanpa basa-basi terlebih dahulu. Di tempatnya, Abi dapat mendengar bahwa suara Judith berbeda. Ada dua kemungkinan, sedang pilek atau baru selesai menangis. "Maaf ya, A. Judith baru banget sampai di dorm, abis dari univ karna tadi bikin tugas di library sekalian ngeprint. Abis ngechat bilang itu nggak ngecek HP lagi." "Istirahat," ujar Abi terdengar seperti perintah yang tidak boleh diabaikan. "Lagi pilek atau habis nangis?" "Pilek, ya Aa taulah kondisi cuacanya," jawabnya berbohong. " Ini Judith juga mau mandi air hangat dulu." "Terus kapan jadinya mau pindah ke apartemen? Udahan tinggal bareng di dorm. Satu kamar kok bertiga." "Iya bulan depan pindah, A, udah dapet juga apartemen yang cocok." "Dith," panggil Abi dengan nada turun sedikit. Tatapan pria itu jatuh pada frame dalam etalase kaca yang berisikan wajah konyol kedua adiknya. Kerjaan siapa lagi kalau bukan mereka dan Abi mana mungkin bisa protes. "Apa?" "Nggak kangen mama papa? Teteh di rumah juga sekarang." Tidak ada jawaban dari seberang telepon melainkan hening. Abi pikir sambungan telepon sudah diputus duluan oleh Judith, ternyata tidak. Abi baru akan kembali memanggil, hingga suara Judith akhirnya terdengar. "Bisa nggak, A, jangan buat nangis lagi? Judith capek. Iya, Judith tau Judith nggak sekuat Aa sama Teteh yang bisa hidup sendirian, bisa pisah jauh-jauh dari mama sama papa. Tau nggak bisa tapi tetep kekeh pengen coba. Tapi jangan mancing pakai ngomong kayak gitu ya, A. Udah ya, Judith capek, mau istirahat. Besok Judith harus masuk pagi buat ujian. Sekali lagi semangat buat lamaran Aa. Judith titip salam ke Teh Renat." Abi terdiam, membiarkan sambungan telepon benar-benar terputus kali ini. Dia sudah berulang kali mengingatkan Judith sebelum adik perempuannya itu memilih pilihannya yang sekarang. Yakinkah ia, sanggupkah tinggal jauh, bisakah mengurus semua hal sendirian setelah selama ini hanya terus mengandalkan tangan sang mama. Anggukan pasti Judith lah yang membuat sang papa dan Abi berusaha berlapang d**a melepaskan Judith pergi jauh. Pria itu mengusap wajah, khawatirnya kian bertambah saja sementara jarum jam terus saja bergerak maju tanpa mau berhenti sesaat untuk memahami kondisi Abi. "A!" Teriakan Bia terdengar dari luar, membuat kepala Abi jadi menoleh penasaran ke arah pintu kamar yang kini tengah terbuka. "Loh? Kirain lagi mandi. Sana buruan mandi, udah jam segini. Pokoknya nggak ada yang namanya telat ya, A. Oh iya, Audrey juga udah di jalan mau ke sini." Abi mengangguk saja, tidak lagi bersemangat dengan kepulangan Bia yang pada awalnya memang membuat Abi senang tidak percaya. Dengan sedikit tenaga, akhirnya Abi dapat berdiri dan berjalan ke kamar mandi. Ditinggalkannya Bia yang kini tengah asik merapikan baju milik Abi. Baju warna soft pink yang senada dengan kebaya modern milik Renat hari ini, kemudian bawahan celana kain warna putih. Bia tersenyum lembut, merasa bahagia sebab hari ini akhirnya datang juga setelah sekian lama. "Bi," panggil Abi dari dalam kamar mandi. "Apa?" Bia yang sedang asik melihat sekitar kamar Abi terhenti di dekat meja kerja pria itu. Dulu, hanya ada meja belajar dimana Abi selalu duduk dan bergadang menatap lembaran buku. Bia ingat sekali, kalau pria itu kerap bersembunyi untuk menggambar apa saja. Sayangnya, hanya Bia yang diperbolehkan melihat semua hasil gambar milik Abi. Pria itu tidak membenarkan apabila kedua orangtuanya atau bahkan Judith yang bocor sampai mengetahui. "Telfonin Victor, bilang tiga puluh menit lagi harus sampai." Bia refleks mencebik, ekspresi wajahnya mendadak tidak enak. "Nggak mau, ah! Aa aja yang telfon Victor sendiri." "Yang sopan dong, Bi, masa kamu kayak gitu." "Tau, ah," ujar Bia semakin sebal. "Tanyain tuh ke orangnya, yang nggak sopan Bia atau dia." Bia keluar dari kamar Abi dengan perasaan dongkol, menghempas pintu kamar pria itu sebelum ia memilih masuk ke kamarnya sendiri. Sedang Abi masih harus melanjutkan mandinya sesegera mungkin atau pikirannya akan semakin runyam tidak terkendali. Melupakan sikap Bia, ia malah teringat dengan Judith dan Renat. Ya Tuhan, sepertinya kepala Abi memang tidak bisa dibiarkan beristirahat dari banyaknya masalah. ♦ r e t u r n ♦ Suasana putih berpadu soft pink menghiasi ruang tamu hingga ruang keluarga rumah Renat. Beberapa kursi putih untuk pihak pria sudah tersusun rapi, berhadapan dengan kursi warna soft pink untuk pihak wanita. Renat yang sudah cantik dalam balutan kebaya modern dan rok batik warna putih terlihat sedang duduk manis pada salah satu spot bersama Zahwa. Sepertinya sengaja mengajak Renat membicarakan hal-hal lucu agar wanita itu tidak gemetar seperti sebelumnya. Tidak seperti biasanya, rambut Renat disanggul dengan cepolan kecil di dekat tengkuknya. Benar-benar terlihat seperti wanita Jawa yang anggun dan tertutup. "Re." Renat menoleh ketika dipanggil mamanya. Ibu wanita itu tampak anggun pula dengan balutan kebayanya. "Ayo, Abi sebentar lagi sampai." "Ma," panggil Renat kembali deg-degan. Mengetahui bahwa calonnya sudah semakin dekat malah membuat Renat semakin khawatir. "Takut." "Ayo, kan ada mama sama papa. Biasa kok deg-degan." Renat menghela napas panjang, berusaha menetralkan degub jantungnya yang masih menggila. Dalam hati, meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya akan berjalan lancar. Dia tidak perlu berbicara banyak dan membiarkan kedua orangtua mereka saja. Kemudian hanya perlu menjawab ketika ia ditanya. Untuk tanggal pernikahan sendiri, Renat dan Abi sudah menentukannya sendiri. Jadi tidak sulit untuk menjawab yang satu itu. Di antara kedua orangtuanya Renat berdiri, di beranda rumah yang juga sudah terhias indah. Renat menoleh ke arah papanya sesaat, memandangi gurat wajah pria itu seraya bercermin. Dia yakin bahwa dapat menjadi lebih baik melebihi orangtuanya. Bahwa sebuah pernikahan bukanlah akhir bahagia dari segala cerita, tetapi awal untuk perjalanan baru yang akan lebih panjang dan berdamika. Renat mengalihkan wajah setelah tersenyum untuk papanya karena pria itu ikut-ikutan menoleh. "Re kecil Papa khawatir, Re gede Papa khawatir, Re mau dilamar tambah lagi bikin khawatir." Papa Renat tertawa kecil, menertawakan kehidupan yang selalu berjalan lucu dan menakjubkan. Sampai nanti, tidak akan pernah ada kata berhenti untuk khawatir pada putri satu-satunya. Itu sudah hukum alam, ditetapkan oleh Pencipta pada semesta dan isinya. "Abi baik kok, Pa, nggak perlu khawatir." Papa Renat mencibir, tentu saja putrinya akan menjawab seperti itu. "Iya-iya, Re." Tawa Renat yang awalnya lepas jadi terhenti ketika matanya menangkap kedatangan pihak Abi dengan beberapa mobil. Tidak lagi ada senyum, melainkan hanya wajah tegang penuh rasa was-was karena kembali takut. Tatapan Renat hanya fokus pada satu mobil, jantungnya semakin berdebar menanti seseorang di dalamnya keluar. Benar saja, tidak sampai lima detik, pintu mobil terbuka dan seorang pria keluar dari sana. Napas Renat sukses tertahan ketika melihat penampilan Abi yang jauh dari dugaannya. Pria yang awalnya begitu risih ketika Renat selalu membahas warna soft pink nyatanya menyanggupi untuk memakai baju mereka. Abi yang sedang sibuk menyisir pemandangan sekitar pun akhirnya berhasil menemukan Renat. Ekspresi wajahnya jelas saja tengah terkagum-kagum. Abi tidak pernah melihat Renat dalam balutan tradisional-modern seperti ini. Dia terlalu terbiasa dengan Renat yang casual, kalaupun memakai dress, maka hanyalah dress sederhana. Renat dengan kebaya, tidak pernah sekalipun dibayangi oleh Abi. "Cantik banget Teh Renat, ya ampun!" Nadine bersuara dekat telinga Abi dan dibenarkan oleh pria itu dalam hati. "A , liat dong itu cantik banget calon menantunya mama!" "Calon istri Abi, Ma," kata Abi pelan dan Nadine sukses tertawa. Selanjutnya, Abi dan keluarga mulai berjalan masuk. Bia dan Audrey sibuk tersenyum senang sejak tadi. Kedua wanita itu memang sangat dekat mengingat keduanya bekerja untuk brand yang sama. Walau mengenal Abi lebih dulu, tapi bisa dikatakan Audrey lebih dekat dengan Bia. Keluarga Abi diterima dengan senyum hangat oleh keluarga Renat. Dari dekat, Abi makin dibuat gila karena penampilan calon istrinya itu. Renat yang malu sontak menatap ke arah lain karena tahu bahwa Abi secara terang-terangan takjub seperti itu. Ia masuk ke rumah lebih dulu dan dibiarkan duduk di kursi, diapit oleh kedua orangtuanya. Baru setelahnya, pihak Abi diizinkan masuk dan duduk di kursi mereka. Kedua keluarga tersebut tampak akrab dalam posisi saling berhadapan. Acara tersebut barulah dibuka oleh seorang MC, memandu kedua belah pihak keluarga untuk saling bercengkerama dengan lebih santai. Renat yang sejak tadi lebih banyak menunduk dan tidak berani melihat Abi lama-lama. Rasanya seperti tengah menjadi terdakwa saja, padahal Renat hanya perlu menikmati setiap momen yang terjadi. "Angkat kepalanya, Re." Renat tersentak ketika suara lembut Nadine memintanya melakukan sesuatu. Renat menatap calon mertuanya itu dengan senyum tidak enak, kemudian malah refleks tertawa. "Iya, Tante," jawab Renat masih lurus menatap Nadine. Abi yang sadar bahwa wanita itu sedang menghindari kontak mata darinya membuat ia mau tidak mau jadi kebingungan. Bertanya-tanya sendiri sebenarnya ada apa dengan Renat. "Disapa dong Abinya." Renat kelimpungan, mendapat permintaan yang sebenarnya mudah namun begitu sulit untuk ia lakukan di saat sekarang. Renat menarik napas, kemudian melirik Abi yang sejak tadi selalu menatapnya. Mulut Renat jadi tegang, takut apabila salah berbicara. "Assalamualaikum, A." Pipi Renat sontak semakin merah, sedang Abi di tempatnya sudah sulit menahan tawa. Giliran Abi yang menjawab, ia berusaha menormalkan sikap. Berusaha tampak tenang dalam menjawab sapaan Renat. "Waalaikumsalam, Re," jawab Abi dan sukses menimbulkan tawa dari orang-orang sekitar. MC sepertinya mengerti hal apa yang tengah terjadi antara Renat dan Abi, keduanya masih belum terbiasa dalam acara seperti ini. Mencairkan mereka adalah langkah pertama yang harus dilakukan sebelum kedua pihak keluarga mengarah pada hal yang lebih serius. Setidaknya, Renat sudah mampu melihat wajah Abi tanpa rasa malu lagi. Abi juga sudah terlihat tidak setegang tadi karena diajak tertawa. Walau masalah tengah dipikul, setidaknya dia harus menikmati momen ini dengan cara yang benar. ♦ r e t u r n ♦ Satu jam berlalu dan kini setiap orang tengah menikmati makanan mereka. Renat yang kembali duduk pada spot sebelumnya ditemani Abi yang setia berdiri di depannya. Zahwa dan Victor pun menyusul untuk berada dekat keduanya, beruntung tidak segan untuk saling berkenalan. Setelah sekian lama penasaran dengan teman dekat Renat, akhirnya mereka dipertemukan. "Aduh, calon pengantin sebentar lagi." Renat yang mendapat serangan tiba-tiba dari Victor langsung menyambar, "Lo kapan Vic?" "Gue mah masih lama, Re." "Masih lama sama nggak laku beda tipis, sih," celetuk Bia yang baru datang dengan Audrey di sebelahnya. Victor mencebik ke arah Bia, ingin membalas ucapannya tapi harus terinterupsi gerakan Audrey memeluk Renat sesaat. "Selamat ya, Re, akhirnya bisa sampai di sini juga sama Abi. Semoga lancar terus sampai hari-h nanti." "Makasih ya, Drey," angguk Renat kikuk sambil tersenyum. "Yang nggak laku sini apa sana?" Victor akhirnya bersuara pada Bia. Bia tampak tertawa remeh, kemudian menyisirkan jemari pada rambutnya yang tergerai indah. "Sorry, ya, aku udah laku dari lama. Ya hubungankan nggak harus diumbar-umbar apalagi sama kamu. Yang tau cukup orang-orang penting aja." "Aa kamu nggak pernah bilang kamu pacaran," jawab Victor langsung. "Ya ngapain juga Aa nyeritain hubungan aku sama pacarku ke kamu, Vic. Kamu sehat? Pengen tau banget lagian urusanku." Victor makin sebal saja, sudah sejuta kali ia mencoba meminta Bia untuk memanggilnya dengan benar. Namun tidak sekalipun didengar. "Yang sopan manggilnya!" "Nggak mau kan kita seangkatan!" geleng Bia menolak. "Kok sama Abi bisa pakai Aa?" tanya Victor mencoba membandingkan dirinya dengan Abi. "Dude, he's my brother." Bia berujar penuh penekanan agar Victor mengerti. "Emang aku bukan saudara kamu?" "Of course you are not!" Abi yang sudah tidak tahan mendengar perdebatan konyol tersebut langsung saja mengulurkan tangan, menggerakkannya dari belakang untuk mendapatkan mulut Bia dan menutup mulut tersebut. "Udah, ya? Kamu sama Victor kalau terus-terusan kayak gini, sambung di lapangan aja. Kamu sama Victor sama-sama belum pacaran, sama-sama belum laku, jadi nggak ada gunanya saling ngehina." "Aa!" rengek Bia tidak terima dan Victor langsung saja tertawa mengejek. "Udahan, Bi, yuk kesana." Audrey memutuskan mengajak Bia pergi. Akan lebih baik apabila seperti itu daripada tempat ini berujung dibakar oleh Bia dan Victor. Beruntung, Bia menurut setelah melepaskan rangkulan Abi dengan kesal. "Dah, Bia," lambai Victor memancing lagi. "Vic, udahlah!" sentak Abi jadi kesal juga. Matanya kini jatuh pada Renat yang nyatanya sibuk tertawa. Syukurlah, sejak tadi ia lebih banyak melihat wajah tegang wanita itu padahal Renat bukanlah penjahat yang akan di pidana. Abi memasukkan tangan pada kantong celana kanannya, mengecek benda mungil yang berada di sana. Sesaat, matanya menatap jemari Renat yang putih bersih, masih kosong sebab tidak ada apapun yang tersangkut di sana. Cincin yang seharusnya Abi beri ketika ia melamar Renat secara pribadi tidak pernah sampai pada wanita itu karena Renat selalu menolak Abi, lama kelamaan Abi sendiri pun jadi lupa untuk memberikannya kembali ketika mereka sudah sama-sama yakin. Hari ini, Abi membawa cincin itu lagi. Diam-diam ingin memberikannya langsung pada Renat tanpa mau mendengar alasan ditolak seperti yang sudah-sudah. Abi memberikan kode pada Victor dengan tangannya yang pura-pura menyeka debu dari paha. Victor yang sudah mengerti pun lantas mengangguk cepat. "Zahwa, bisa temenin ke sana dulu? Ada yang harus aku cari." "Emangnya mau cari apa?" "Itu loh, apa ya pokoknya dia bulet aneh." "Hah?" "Ayo!" Victor berlalu, dengan Zahwa yang mengekor kebingungan. Setelah pasti tidak ada siapa-siapa di dekat mereka, Abi lantas berdehem, membuat Renat jadi mencurahkan segala tatapannya pada Abi. Jantung wanita itu lagi-lagi berdegub kegilaan. "Re," panggil Abi kecil. "Kenapa?" "Kuku kamu kok kayak gitu?" Abi mulai mengeluarkan bualannya, mencoba menunjuk salah satu jemari Renat. "Kayak mana apanya? Emangnya ada yang salah?" "Itu kuku jari manis kamu emangnya nggak berdarah? Siniin coba aku liat." Renat tanpa pikir panjang pun langsung saja mengulurkan tangan kiri sebab Abi selalu saja melihat ke sana. Membiarkan pria itu memegang tangannya dan tampak mengecek dengan serius. Renat pikir memang benar, dia tidak memikirkan kemungkinan akan diberi kejutan. Baru ketika tangan kanan Abi keluar dari kantong celana, Renat tersentak karena benda mungil berbentuk lingkaran sukses melingkar pada jari manisnya. Abi tertawa, diikuti oleh Renat yang ingin marah karena sudah dikerjai tapi tidak bisa. Dia sendiri juga ikut-ikutan takjub dengan pemberian Abi. "Punya kamu," kata Abi tersenyum. "Kamu kapan sih, Bi, nggak buat aku kaget-kagetan kayak gini?" Renat sukses geleng kepala, menatap jemarinya yang kini terlihat lebih indah karena ada hiasan mungilnya. Abi mengedikkan bahu, ingin sekali membawa Renat dalam pelukannya tapi ia sadar dengan tempat. "Makasih karna akhirnya kamu bisa nerima aku. Liat aja nanti, aku bakalan bikin kamu nggak pernah nyesel karna udah ambil pilihan ini." ♦ r e t u r n ♦  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN