Berlin, musim dingin terakhirku.
Di bawah lampu jalanan, di dalam hiruk pikuk elegan pusat kota, ditaburi putih sucinya salju, bersama kamu, hatiku sepenuhnya membeku.
Rasanya seperti dirujam oleh ribuan jarum ketika kutatap manik hitammu. Sementara ribuan sabda maaf,
hanya mampu kuucap dalam hati. Malam itu, aku berhasil menjadi jahat. Dan Berlin, adalah saksi bisu atas kejahatan tanpa noda darah yang telah aku perbuat secara tidak berperasaan padamu.
Maaf. Lagi, hanya itu yang kumampu. Kala kamu menggenggam erat tanganku dan berkata, 'Mau jadi istriku?' Gelenganku terbit, dan membunuh binar cahaya yang sejak tadi ada di matamu.
Keindahan Berlin nyatanya tidak bisa merubah pikiranku. Ajakanmu indah, tapi tidak indah untukku. Kalau saja kamu tahu, bahwa keberadaanku di kota terindah ini, bukan sekedar untuk mengejar master yang kamu puja-puji.
Alasanku lebih buruk, lebih jahat, lebih pengecut. Karena sejak awal, yang ingin aku lakukan adalah bersembunyi. Bersembunyi dari ajakan menikah yang kuanggap hal paling konyol. Bersembunyi dari kamu yang saat itu begitu mengganggu pikiranku.
Bodoh sekali aku dulu. Kupikir, kita akan tetap bisa bersama walau dengan tidak menikah.
Lagi, aku minta maaf.
0-0-0
Ternyata menyenangkan dapat menulis surat seperti ini, ya. Sekarang sudah malam, sebentar lagi aku akan tidur. Jujur saja, aku bahagia sekali hari ini. Melihatmu dalam balutan baju warna merah hati lembut membuatku sulit menyurutkan senyum. Bertahun-tahun mengenalmu, aku sadar bahwa aku memang seberuntung itu.
Kalau saja aku tahu, bahwa dengan pulang aku dapat sebahagia ini, maka sejak dulu sudah kulakukan. Tidak akan ada penolakan, tidak akan ada keraguan, tidak akan ada penyesalan. Tapi terkadang, beginilah cara semesta membuat kita paham pada sebuah penghargaan akan perasaan. Aku tidak sempurna, pun kamu sendiri juga begitu, kan? Kita berdua hanya insan Tuhan yang sempat mencoba bertahan pada dahan rapuh, sampai akhirnya, kita bisa berpindah pada batang kuat yang semoga akan kokoh selamanya.
Sudah larut. Kamu di tempatmu jangan lupa untuk tidur segera. Tuan, selamat malam!
0-0-0