31. Tuan dan Nyonya Radeva

2883 Kata
Adam memiliki Hawa sebagai tulang rusuknya. Romeo, pria romantis itu juga memiliki si cantik Juliet sebagai cinta abadinya. Habibie juga begitu, punya Ainun yang membuatnya merasa lengkap menjadi manusia. Aku pikir, sekarang saatnya untuk kita, Tuan. Mari, kita buat pula sejarah tentang kita. Tentang aku, kamu, dan keluarga kecil kita. [R e t u r n ; 3 1] 0-0-0 Suasana tempat itu terlihat sakral, dengan warna putih s**u yang mendominasi. Setiap sudut hingga sisi dipenuhi dekorasi tradisional masih dengan warna yang sama, merah hati dan keemasan, berpadu indahnya cherry blossom tiruan di setiap sudutnya. Susunan bunga lily yang segar terlihat di sekitar ruangan, pun tidak ketinggalan dengan pot-pot putih besar yang ditanami dengan tumbuhan hijau. Di tengah ruangan itu, sudah terdapat meja beralaskan kain warna putih keemasan dengan bordiran warna emas sempuna---penuh akan sinar ketika dihujani cahaya lampu kristal dari atas. Kursi tamu yang tersusun rapi masih di dalam ruangan yang sama, sudah diisi beberapa oleh kerabat dekat Renat yang berasal dari pihak papanya. Jauh-jauh datang dari luar kota untuk ikut bahagia bersama dua pasangan yang sebentar lagi akan sah. Walau tidak begitu dekat dengan Renat sekarang, apalagi semakin jauh ketika Renat dan mamanya meninggalkan Indonesia dan tinggal di negara orang, tetapi tetap saja mereka adalah keluarga. Ketika kecil, Renat memang selalu pulang ke kampung halaman papanya, bertemu dengan paman dan bibi yang menyayanginya. Sepupu dengan umur sepantaran pun cukup banyak, bahkan beberapa di antara mereka sudah menggendong anak. Meninggalkan ruangan sakral tersebut dan kini memasuki kamar untuk bertemu sang mempelai wanita. Renat, ia tampak anggun sekali dengan balutan kebaya Jawa warna putih s**u. Di balik jendela kamarnya, Renat menyingkap pelan kain gorden warna putih tersebut. Senyumnya terbit melihat suasana di luar, ia tidak menyangka bahwa akan secepat ini hari besar mereka tiba. Kalau saja telinga orang-orang di sekitarnya lebih peka, mungkin mereka dapat mendengar suara detak jantung Renat yang menggila. Sesekali, Renat menunduk, menatap rok batik sampai kuku kakinya yang bersih. "Nata-ya!" Suara Zahwa yang begitu semangat tertahan di tenggorokan. Wanita asal Semarang itu tampak manis dengan dress warna putih yang melekat di tubuhnya. "Kamu Nata, kan?!" "Iya, Wa...," jawab Renat geleng-geleng kepala, senyumnya sendiri tidak juga surut. "Gimana di luar? Udah ramai banget, ya?" Zahwa mengangguk, mengambil tempat di kursi rias dan menatap Renat lurus-lurus. "Pasti kangen ya, Nat?" "Apanya?" tanya Renat, kemudian ikut-ikutan duduk di kursi empuk miliknya. "Kan dipingit," celetuk Zahwa dan Renat tertawa kecil. "Kok ketawa? Kan aku nanya. Gimana kemarin nggak ketemuan lama sama Abi?" Renat mengibaskan tangan di depan wajah, sombong sedikit. "Kamu tuh kalau nanyain itu harusnya jangan ke aku, tapi ke pengantin lain. Kamu lupa aku sama Abi berapa lama LDR beda negara beda benua beda zona waktu beda semua-semuanya?" "IH!" rungut Zahwa sebal. "Tapi sekarang kan beda, Nat, kamunya udah mau nikah. Pasti ada rasa-rasa baru gitu loh." "Iya, ada." "Gimana-gimana?" tanya Zahwa semakin penasaran. Untuk sekarang pun, Zahwa bisa dibilang tidak terlalu memiliki banyak teman pria kecuali satu, Choi Tae Joon. Sepulangnya Zahwa ke Jakarta, Tae Joon memang banyak menghubungi Zahwa. Entah untuk sekedar bertanya kabar wanita itu atau kabar Renat, mengingat Tae Joon sendiri memang tidak enak menghubungi Renat secara pribadi. "Wa, kamu cepetan nikah juga makanya biar tau," ucap Renat tidak memberi jawaban puas, membuat Zahwa jadi merengut mengingat ia tidak memiliki calon sama sekali. "Nikah sama siapa? Bayangan?" "Banyak tau yang mau sama kamu, kamunya aja yang nolak terus." "Aku nolak yang lain karna setia buat satu orang tau," ujar Zahwa sedih. "Kalau aja dulu Mas Prabu nggak minta aku buat nungguin dia, mungkin aku udah sama yang lain sekarang." "Mas Prabu kamu aja yang nggak tegas." Renat ikut-ikutan sebal mengingat kisah cinta Zahwa yang lebih miris dari pada kisahnya. "Nih ya, Wa, kalau emang dia niat sama kamu, dia pasti nggak bakalan mikirin yang lain-lain dulu. Mau dia ditugasin di perbatasan kek, mau di tengah laut kek, mau di tengah hutan sekalian, itu tuh nggak ada hubungannya sama dia yang nggak mau nikahin kamu. Kalau emang dia serius, pasti dia bakal ajakin nikah terus minta kamu baik-baik buat ikut sama dia tinggal di Kalimantan." "Diakan bilang nggak mau akunya susah, Nat," ujar Zahwa sendu. "Wa, konsep rumah tangga bukan gitu!" Renat berusaha menahan emosinya. Menyebalkan sekali di hari penting harus membahas perihal Mas Prabu yang tidak tegas. "Kalau suami susah, berarti istri juga harus susah. Kalau suami seneng, istri juga harus lebih seneng. Nggak ada dianya susah kamu seneng, dianya seneng kamu susah." "Tapi aku sendiri juga nggak mau, Nat, ikut tinggal di Kalimantan." Renat memejamkan mata, berusaha menunjukkan senyumnya pada Zahwa yang jadi bersedih. "Kalau gitu lupain Mas Prabu kamu itu. Jangan biarin dia jadi penghalang buat kamu terima yang lain. Toh dia sendiri sekarang juga nggak jelas ada dimana. Hidup kamu punya kamu, Wa, bukan punya Mas Prabu yang nggak tegas itu." Zahwa mengangguk saja, lantas berdiri untuk berjalan lebih dekat dengan jendela. Seperti halnya Renat yang sekarang sudah berani dengan pernikahan, Zahwa pikir ia juga harus begitu. Ditatapnya Renat, tersenyum dengan rasa bersalah sebab membuat hari-harinya Renat berjalan sedikit tidak sempurna. "Udah, ah, kamu juga harus bahagia tau karna hari ini aku lagi bahagia!" Renat menggapai tangan Zahwa, mengenggamnya cukup erat. "Jadi bridesmaid yang sempurna ya, Wa!" Zahwa mau tidak mau mengangguk dan tersenyum karena ucapan Renat, kemudian berakhir tertawa. "Cantik banget sih kamu!" "Iya dong," jawab Renat kian manis. "Kan muka aku nggak lagi break out." "Iya-iya, yang udah ketemu skincare yang cocok!" "Wa, apaan sih!" Tawa kedua wanita itu mungkin akan terus berlangsung kalau mata Zahwa tidak menangkap adanya gerakan dari luar. Seorang yang sejak tadi ditunggu akhirnya tiba. Seorang yang sejak semalam berhasil membuat Renat tidak tenang akhirnya tiba dengan selamat di kediaman Renat. Renat yang masih duduk di posisinya semakin berubah tidak tenang. Untung saja sedang duduk, kalau berdiri, mungkin Renat akan jatuh lebih dulu karena kakinya tidak dapat menopang badan. "Nat, ya ampun, liat itu calon kamu!" "Wa, udah dong, malu." Renat berujar penuh permohonan, tidak berani menatap ke jendela dan mengintip bagaimana Abi. "Nat, aku yakin abis kamu liat ini, kamu beneran mau lari ke bawah sekarang." "Zahwa, udah!" Zahwa tertawa geli, tidak tahan menatap Renat yang sepertinya tengah mati-matian menahan diri. Lucu sekali, bagaimana dulu Renat masih sangat remaja dan mereka asik membahas konser-konser yang mereka datangi. Tidak pernah sekalipun terbesit di antara mereka akan siapa yang lebih dulu menikah dan menempuh hidup seserius ini. "Selamet ya, Nat," kata Zahwa tiba-tiba mengingat bila ia tidak sempat mengatakan apa-apa nanti. "Semoga rumah tangganya selalu dilimpahin kebahagiaan. Aku pikir, abis ini kita bakalan jarang ketemu karna aku harus balik ke Seoul. Kamu harus kuat, harus bisa ngatasin masalah kamu bareng Abi baik-baik. Jangan mudah ngambek, harus rajin-rajin kasih pengertian. Kalau butuh aku, langsung telfon aja." "Makasih ya, Wa," ujar Renat pelan. "Doain aja, kali-kali aku sama Abi dapet kesempatan buat tinggal di Seoul juga." Zahwa menepuk kedua tangannya penuh semangat, "Udah, sekarang siap-siap. Sebentar lagi bakalan sah!" ♦ r e t u r n ♦ "Pa, ini gimana?" Abi bertanya dengan nada panik yang kentara. Rambutnya masih teracak, dengan kaus hitam dan celana santai sepanjang lutut. Selepas salat subuh, bukannya lekas siap-siap, Abi malah masuk tanpa permisi ke kamar orangtuanya dan mengadu seperti anak-anak. "Pa, tolong!" "Allahuakbar, A." Aldric yang terkejut dengan tingkah Abi pun juga ikut-ikutan panik. Tidak biasanya ia melihat putra sulungnya seperti ini. "Ma, ini bantuin anaknya!" "Apa?" Nadine muncul dari walk in closet dan mengerjap ketika dilihatnya Abi sedang berdiri dengan wajah frutrasi. "Aa kok nggak siap-siap?!" Abi diam, kemudian seperti orang bodoh bersuara. "Caranya, Ma?" Nadine mau tidak mau tertawa akan tingkah Abi yang menurutnya terlalu lucu. Bertahun-tahun, kalau Nadine tidak salah ingat, ia sudah berhenti melihat tingkah menggemaskan Abi ketika sulungnya itu mulai memasuki sekolah dasar. Dan kini, ketika kembali disuguhkan hal yang sama, wanita itu benar-benar seperti terlempar ke masa lalu. Rindu rasanya pada si kecil Abi, terlebih ketika ia baru bisa memanggil Aldric dan Nadine dengan sebutan mama dan papa. Senyum Nadine belum surut, ia memilih melangkahkan kaki mendekati Abi, tanpa peringatan membawa sulungnya tersebut ke dalam dekapan---walau Nadine hanya sebahu Abi dan terlihat bahwa ia yang sedang di beri dekapan. "Masih deg-degan?" tanya Nadine lembut, kedua tangannya mencoba mengusap punggung Abi penuh rasa keibuan. "Mama masih nggak nyangka anak mama udah gede, padahal dulu kemana-mana selalu mama gendong." Abi berusaha tersenyum mendengar ucapan mamanya, walau hatinya masih tidak tenang. Abi pikir, bachelor party yang ia rayakan hanya dengan Victor dapat mengurangi ketegangannya untuk menyambut hari ini. Nyatanya, tidak sama sekali. Semakin detik jam terus bergerak maju, Abi malah semakin dibuat tidak karuan dan bingung harus melakukan apa. Benar-benar berbeda dari Abi yang biasanya. Ketika Nadine menceraikan pelukan mereka, wanita itu dapat melihat dengan jelas kekhawatiran di wajah Abi. "Ma," panggil Abi kecil. "Hari ini bakalan lancar-lancar aja, kan?" Nadine mengangguk dengan pasti, "Pasti lancar! Mama tau Aa khawatir terus deg-degan hari ini. Tapi percaya deh, waktu nanti udah sah, Aa bakalan ngerasain sesuatu yang nggak bisa dijelasin pakai kata-kata lagi. Sekarang coba tenangin diri Aa dulu, lakuin yang Mama suruh pelan-pelan, kalau Aa kayak gini bisa-bisa lupa caranya ijab kabul." Abi menutup mata, mengusap wajahnya sembari memperbaiki napas. Ketika dibukanya kembali mata, dapat dilihatnya sang papa tengah cengengesan lucu. "Apa, Pa?" Abi bertanya karena tidak terima ditatap seperti itu. "Kamu tuh waktu ngelamar Renat juga kayak gini, A?" balas Aldric malah dengan bertanya, pria itu penasaran saja bagaimana sebenarnya cara Abi melamar Renat hingga sampai dua kali. Abi menggeleng, "Ngelamar doang, Pa." "Ya kalau gitu anggep aja sekarang kamu juga mau ngelamar Renat lagi buat yang kesekian kali. Jangan panik-panik banget, A, nanti malah lupa semua-semuanya." Anggukan Abi muncul walau matanya tetap saja menampakkan binar ragu. Bagaimana lagi, euforia semacam ini tentu saja akan dirasakan mengingat Abi sama sekali tidak memiliki pengalaman apapun. Namun Abi bersyukur sebab dirinya dapat menerima dukungan positif dari kedua orangtuanya. Tidak peduli seberapa dewasanya Abi hari ini, dia tetaplah putra dari Nadine dan Aldric. "Udah, sana balik ke kamar, sebentar lagi Mama susul bareng Lila." Nadine berkata, menyebutkan nama salah seorang perempuan yang bertanggung jawab pada penampilan Abi hari ini. "Ma," panggil Abi sebelum meninggalkan kamar orangtuanya. "Apalagi?" tanya Nadine lembut. "Mau buatin sesuatu nggak, Ma? Abi laper." Nadine geleng-geleng kepala, kakinya melangkah mendekat ke arah Abi hendak ke pintu kamar juga. "Mau dibuatin apa? Emang nggak mau ambil sendiri? Makanan banyak gitu tinggal pilih." "Terserah Mama, apa aja Abi makan," kata Abi sambil berlalu duluan keluar dari kamar. Ia buru-buru berjalan lagi menuju tangga karena malu dengan beberapa sanak saudara dan sepupu yang memilih menginap di rumah---sengaja agar tidak terlambat dan dapat pergi bersama-sama. Dan sejak tadi, ruang keluarga itu sudah dipenuhi oleh cerita para saudara jauh. Salah satu topik hangat yang selalu mereka bicarakan adalah tentu saja perihal Abi dan calon istri cantiknya. Mengingat Abi tidak begitu terbuka dan apapun yang sedang dilalui pria itu tentulah hanya orang-orang tertentu saja yang tahu. Ketika Nadine memberi kabar bahwa Abi akan segera menikah, muncullah pertanyaan bahwa sejak kapan pria itu berpacaran, bahkan ada yang mengira jika Nadine dan Aldric lah yang menjodohkan Abi dengan calon istrinya kini. Abi membuka pintu kamar dan sukses terkejut ketika melihat pemandangan di depannya. Judith dan Bia yang sudah selesai siap-siap walau masih mengenakan baju santai mereka. Bia yang tiduran di tempat tidur sementara Judith tengah duduk tenang melipat kaki di atas karpet, asik menunduk memandang layar ponsel. Benar, Judith memang sudah kembali sejak tiga hari lalu. Penerbangan panjang dari Toronto membuatnya tidak banyak melakukan aktivitas ketika tiba di Jakarta. Bahkan untuk keluar rumah dan berjalan-jalan menikmati angin sore segar untuk mengobati rasa rindu, Judith belum sempat. Pun Judith hanya pulang sebentar karena seminggu lagi ia harus segera kembali. Kuliahnya tengah padat, belum lagi tugas-tugas yang bertumpuk membuat Judith sedikit terkekang. "Ini ngapain di sini semua?" tanya Abi kebingungan dan melangkah menuju salah satu kursi. Pria itu duduk di sana, tampak jelas masih berusaha menenangkan diri walau tatapannya masih setia melihat Judith dan Bia. Judith mendongak lebih dulu kala sadar bahwa di depannya sudah ada Abi yang duduk rapi. Baru akan berbicara, ponsel Judith berbunyi. Gadis itu langsung saja berdiri dan berjalan cepat untuk keluar kamar. "Pacaran terus!" teriak Abi dari dalam kamar, membuat Judith yang mendengar jadi tidak terima dikatai. "Biarin emangnya Aa doang yang punya Teh Renat." "A." Panggilan Bia membuat Abi terlonjak. Dia mengira Bia tengah tidur di atas tempat tidur tersebut. "Apa?" "Deg-degan nggak mau nikah?" Abi sukses menghela napas panjang, tampaknya Bia tidak tahu Abi baru saja melakukan apa di depan orangtua mereka. "Kamu cobain aja nanti." "Nggak akan," kata Bia, tiba-tiba dingin. Abi sontak mengernyit. Bingung saja adiknya itu sedang kenapa."Kamu nggak apa-apa?" "Kalau aja---" ucapan Bia terhenti, wanita itu memilih bangkit dari posisinya, duduk dan kini menghadap Abi dengan tatapan tidak terbaca. "Kalau aja dia di sini, A, mungkin semuanya bakalan lebih mudah buat Bia." "Bi, nggak ada yang harus sesalin." "Menurut Aa kayak gitu, tapi Bia yang ngerasain semuanya, A." "Mau sampai kapan perasaan kamu dikendaliin terus kayak gini? Dia udah nggak di sini, Bi. Dia udah nggak bareng kamu lagi, itu yang harus kamu inget. Percuma kamu mau nangis nyesel, dia juga nggak akan tau. Udahlah, Bi, fokus aja sama masa depan kamu sekarang." Bia diam, memandang Abi dengan senyum terpaksa. Matanya sudah merah, hanya tinggal hitungan detik sampai cairan bening tersebut jatuh pada pipi putihnya. "Gimana, gimana kalau Bia bilang Bia udah capek banget, A?" "Karna dia juga?" tanya Abi dengan raut serius. "Bukan," geleng Bia. "Terus karna?" "Karna hidup," jawab Bia simpel saja. Kepalanya menunduk setelah itu. Tapi tidak lama, karena Bia kembali mendongak dan kali ini berusaha menutupi kembali semuanya. Abi yang belum memberikan tanggapan apapun perihal kaduan adiknya itu hanya bisa terdiam. Bahkan ketika Bia berjalan ke arahnya sembari tersenyum, memberikan Abi hadiah pelukan singkat. "Maaf ya, A, malah buat Aa kebeban hari ini. Nggak usah khawatir, Bia baik-baik aja kok. Selamet buat Aa, Bia yakin Aa bisa bahagiain Teh Renat dan bikin dia jadi perempuan paling beruntung. Gitu juga sebaliknya." "Bi," panggil Abi tertahan. "Bia sayang Aa, makasih karna udah mau jagain Bia selama ini." Untuk kesekian kalinya Abi menghela napas. Ia tidak tahu harus berkata apa untuk membalas Bia yang jelas sekali tengah terluka di hari membahagiakan ini. Sedih saja rasanya, sebab hanya Abi yang bahagia sementara Bia tidak begitu dan malah berpura-pura kuat. Acara pelukan kakak adik tersebut sukses terinterupsi akibat suara yang berasa dari pintu. "Pada sedih-sedihan, ya?" tanya Nadine yang sekarang sedang membawa baki berisi makanan. Judith yang berada di sebelahnya sibuk menatap isi baki dan mengambil satu buah anggur dari sana. "Pada bicarain Judith, ya?" "Sok tau," jawab Bia dan kembali duduk tenang di tepi tempat tidur. Sedang Abi mulai menerima makanan yang dibawakan Nadine. "Abis ini langsung siap-siap ya, A," kata Nadine sembari sibuk mengecek baju untuk akad hari ini. "Teteh sama Judith juga gitu, abis ini langsung pakai bajunya terus balik lagi kesini biar di bantu make up sama Mbak Lila." Serempak, ketiga saudara tersebut mengangguk patuh layaknya kembar tiga. ♦ r e t u r n ♦ Jika saja bisa dijelaskan dengan kata-kata, mungkin sudah akan terdeskripsikan. Namun kesempurnaan seorang pria yang hendak menikah memang selalu membuat keturunan hawa terbungkam. Ketika sekarang, dimana Renat hanya dapat memperhatikan Abi dari layar televisi di kamarnya, melihat betapa kuatnya karisma pria itu dengan baju warna putih s**u yang sama dengan milik Renat, Renat hanya mampu mengucap beribu syukur dalam diamnya. Ia sadar bahwa Abi memang memiliki ketampanan yang banyak dikagumi oleh orang banyak khususnya wanita. Tapi melihat Abi hari ini, Renat tahu bahwa prianya tidak hanya sekedar tampan, tetapi terlalu sempurna untuknya. Dan penutup kepala yang Abi pakai, membuatnya beribu kali lipat lebih dewasa dibanding topi santai yang sering ia pakai. "Abi...," suara lembut itu keluar dari mulut Renat. Tangannya pun mulai berjalan menuju d**a untuk merasakan detak jantungnya yang menggila. Renat ingat kata mamanya tadi, jangan lupa mengucapkan bismillah ketika tangan Abi mulai berjabatan dengan tangan papanya. Dan, sekaranglah saatnya. "Ananda Abirayyan Haidar Radeva bin Azka Aldric, saya nikahkan dan saya kawinkan ananda dengan anak kandung saya yang bernama, Renatasya Edelweis, dengan mahar berupa seperangkat alat salat dan uang tunai delapan juta, delapan ribu, delapan ratus rupiah, yang dibayar tunai." Napas Renat tertahan, sedang Abi yang kini tengah menatap wajah calon ayah mertuanya itu dengan sangat yakin sudah bersiap untuk bersuara. "Saya terima nikahnya dan kawinnya Renatasya Edelweis binti Jerry Endhiko dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Untuk selanjutnya, lantunan kata sah terdengar di seluruh ruangan. Di tempat yang berbeda, Abi dan Renat sama-sama merasakan kelegaan luar biasa sembari mencium kedua telapak tangan mereka sebagai tanda syukur pada Pencipta. Seluruh rasa cemas yang Abi rasakan tanpa henti benar-benar hilang dan entah menguap kemana, terganti dengan perasaan bahagia luar biasa. Fakta bahwa Renat sudah menjadi istrinya membuat Abi tidak tahan untuk tidak tersenyum. Tidak sabar untuk melihat wanita itu turun dan ikut duduk di sebelahnya. Sementara Renat, ia masih tidak percaya bahwa baru beberapa detik lalu, dirinya sudah sah menjadi makmum untuk Abi yang akan menjadi imamnya. Mereka tidak lagi Renata dan Abirayyan yang terikat dalam hubungan pacaran. Sebab hari ini, mereka sudah resmi menjadi Tuan dan Nyonya Radeva yang berharap akan selalu dilimpahkan oleh beribu kebahagiaan dari semesta. "Aku cinta kamu, A," batin Renat sendirian. "Re, aku cinta kamu," begitupula dengan Abi. ♦ r e t u r n  ♦
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN