32. Hari Bahagia

2452 Kata
Renat sukses tersenyum ketika namanya disebut dengan sepenuh hati oleh ibu yang menjadi pembawa acara penting hari ini. Sejak awal, dialah yang menuntun jalannya acara. Ketika ibu tersebut meminta Renat turun dari kamarnya, barulah dengan bantuan Zahwa dan salah seorang sepupu perempuan, Renat dibantu turun. "Ayo, Cantik, duduk di sebelah suaminya." Renat duduk di sebelah Abi yang ternyata sudah menatapnya sejak tadi, belum berani menoleh barang sedikit pun karena malu. Sedang Abi sendiri, ia sukses membeku bagai patung salju ketika wujud Renat pelan-pelan mulai terlihat sejak dari anak tangga. Bisa dikatakan, Abi belum berkedip sama sekali sejak tadi karena benar-benar takjub akan wanita mungil yang kini sudah halal menjadi miliknya. "Aa nya sampai nggak fokus karena si Teteh," ucap ibu pembawa acara itu lagi dan Abi sontak sadar dari keasikannya sendiri. Gelak tawa di sekitar terdengar, membuat Abi sukses berdehem berharap malunya dapat menghilang. Renat yang mengerti maksud ucapan tersebut berusaha menahan diri untuk tidak menggoda Abi. Ia tersenyum saja, membayangkan betapa lucunya Abi. "Sekarang, waktunya Aa Abi mengikat si Teteh dengan cincin, dan begitupula sebaliknya. Semoga, benda mungil tersebut dapat pula mengikat pondasi rumah tangga yang akan kalian masuki agar kuat selamanya." Suara lembut ibu itu membuat Abi dan Renat serempak mengatakan amin, berharap ucapan tersebut menjadi doa untuk mereka. "Ayo, Aa Abi dibantu Teh Renatnya berdiri." Abi menoleh lagi pada Renat, kembali memanjakan mata dengan wanita cantik di sebelahnya. Namun Abi cepat-cepat menyadarkan diri sebelum ia kembali ditegur. Padahal, jelas tidak ada yang salah dengan menatap istri sendiri. Pembawa acara tersebut hanya menggoda Abi dan pria itu benar-benar dibuat malu. Toh, dia masih memiliki banyak waktu setelah acara ini berakhir. Abi menengadahkan tangan, tersenyum pada Renat sampai wanita itu menyambut balik tangan Abi. "Pelan-pelan," ucap Abi seperti berbisik. Renat mengangguk samar, ia sadar bahwa ternyata bukan hanya dirinya yang sedang dilanda oleh kepanikan. Tangan Abi terasa lebih dingin dibanding biasanya dan Renat sudah dapat mengambil kesimpulan sendiri. "Panik banget, ya?" Renat bertanya pelan sekali, namun gerakan pada bibirnya memang terlihat. Benar-benar, dunia seakan hanya milik mereka berdua. Abi dan Renat tampaknya tidak peduli pada banyaknya flash dan kamera yang mengarah pada mereka, sorakan beberapa sanak saudara serta pembawa acara, sudah seperti angin lalu saja. Aneh saja, walau keduanya tidak terlalu memiliki teman, tapi suasana di sekeliling seakan tengah membantah statement tersebut. Abi sendiri, walau teman dekatnya hanya Victor dan Audrey, namun pria itu juga cukup dekat dengan sepupu-sepupunya. Abi hanya tidak begitu terbuka dengan orang lain di luar keluarganya sendiri. Beda lagi dengan Renat, temannya bisa dikatakan hanya Zahwa, namun di luar itu tentulah masih ada orang-orang yang layak ia sebut sebagai teman, termasuk rekan-rekan kerjanya di rumah sakit yang secara langsung Renat undang untuk datang di acara akad nikahnya. Renat menebar tatapan ke sekitar karena tidak tahan dengan Abi, kemudian mendapati Raskal tengah melambai bersama Shalum dari salah satu tempat duduk. Si mungil Shalum juga tampak cantik dengan dress warna merah hati yang ia pakai. "Ayo, Teh Renata dikasih jari manis tangan sebelah kanannya ke Aa." Renat menurut, membiarkan Abi memegang tangan Renat dan mengusap pelan jari manis wanita itu. "Bismillahirrahmanirrahim, dengan ridho Pencipta, semoga ikatan Aa kepada sang istri dapat bertahan hingga akhir, biarkan maut yang menjadi pemisah. Sekarang giliran Teteh ke suaminya, ayo Teh Renat dipasangin cincin ke jari Aa. Semoga dengan ikatan kedua, pondasi rumah tangga kalian berdua semakin terikat dengan kuat. Dengan awalan bismillah beserta doa, semoga Aa dan Teteh selalu diberkahi rahmat dan kebahagiaan berlimpah." Bertepatan setelah itu, Renat selesai memasangkan cincin pada jari Abi. Pelan, dengan tuntunan sang ibu kembali, Renat mulai mengangkat tangan Abi dan mencium punggung tangan pria itu. Setelah itu, giliran Abi yang mendekat dan mencium dahi Renat. Cukup lama, sehingga Abi sukses digoda lagi. "Di sambung nanti, Bi," celetuk Victor entah darimana ketika Abi buru-buru mencari sosok pria menyebalkan itu. Sedang tawa di sekitar kembali pecah lagi. Jika tidak mengingat suasana dan acara, mungkin Abi sudah mengejar Victor dan membuang pria gila itu ke dunia lain karena sudah berhasil membuat Abi malu. "Hallo, Aa sama Teteh." Renat dan Abi tersentak, ketika di sebelah kanan sang ibu sudah berdiri Nadine dan Gita, sementara di sebelah kiri Aldric bersama Jerry. Nadine melambaikan tangan pelan, memberi kode bahwa ia lah yang baru saja menyapa. "Aa," panggil Nadine lagi, menatap sosok sulungnya penuh bangga. Ketika tadi Abi mulai membacakan ijab kabul, satu hal yang Nadine benar-benar sadar akan hari ini adalah, bahwa sulungnya sudah benar-benar menjadi dewasa. "Iya, Mam." Abi menjawabnya tanpa mic. "Bahagia nggak?" "Bahagia." Abi meraih tangan Renat diam-diam walau pandangannya tetap fokus pada sang mama yang berbicara. "Mama juga bahagia kalau gitu. A, dari Aa lahir sampai jadi dewasa kayak sekarang, Mama dapetin banyak pelajaran. Gimana caranya jadi ibu yang baik, pahamin apa yang A mau, yang A nggak suka, alergi-alerginya A sama makanan, terus yang lainnya juga. Gimana caranya bersikap kalau Aa mulai susah dijangkau, apapun yang terjadi, Mama sama papa bakal terus mikirin cara supaya bisa dukung Aa. Sekarang, beda sedikit. Aa tetep anak mama papa, tapi juga udah jadi suaminya Re. Tanggung jawab Mama sama Papa juga berkurang. Kalau dulu selalu Mama yang jadi dokter kalau Aa mulai alergi, sekarang udah ada Re. Pendukung nomor satu Aa jelas Re orangnya. Pesen Mama, sayangin Re segimana Aa sayangin Mama dan adik-adik. Karna semua tentang istri, jelas udah jadi tanggung jawab suami. Mama tau Aa nggak sempurna, tapi inget buat selalu kasih usaha terbaik Aa gimana semuanya bisa jadi sempurna. Ya, Nak?" Di tempatnya, Abi tengah menahan diri untuk tidak berjalan mendekati mamanya dan memeluk tubuh wanita yang telah melahirkannya itu sekali lagi. Alhasil, Abi hanya mengangguk dan tersenyum. Renat sendiri juga sudah kesulitan menahan air matanya. Dia benar-benar tidak mau menangis hari ini, tapi Renat tahu bahwa kata-kata menyedihkan tersebut tidak hanya akan berhenti pada mama mertuanya dan akan terus berlanjut hingga mama dan papa, serta papa mertuanya. "Hallo anak-anak mama!" sapa Gita penuh suka cita, tangannya tidak lupa memberikan lambaian bahagia. "Mama mau bocorin sedikit ya ke orang-orang. Jadi, Re itu anaknya manja, suka ngerengek apalagi kalau udah soal wajahnya. Orangnya juga ribetan, cengeng. Tapi satu yang Mama masih nggak percaya sampai sekarang, kalau Re itu mandiri. Tinggal dua tahun di Berlin, jauh dari mama dari papa, Re bener-bener belajar buat jadi pribadi yang baik. Dan hari ini, Re buktiin lagi ke mama sama papa, kalau Re sanggup jadi istrinya Abi. Abi, Mama percayain Re ke Abi mulai hari ini. Mama yakin, Abi bisa bikin Re bahagia karna yang sanggup sama tingkah manja, ribet, cengengnya dia, itu cuma Abi. Bertahun-tahun kalian jalanin hubungan jarak jauh, mulai sekarang kemanapun Abi pergi, bakalan selalu ada Re yang nemenin di sebelah. Apapun yang terjadi, Mama harap kalian nggak pernah lupa sama Pencipta." "Mama," rengek Renat tiba-tiba dan berhasil menarik perhatian seluruh pasang mata. Baru saja dikatakan kalau hobinya merengek, Renat malah merealisasikannya. Abi pun secara tidak sadar merangkul pinggang Renat dan tertawa. Renat yang diberikan aksi tersebut malah jadi terdiam dan tidak berkutik lagi. Abi berhasil membuatnya lupa pada situasi sekitar. "Halo, Bro," lanjut Aldric yang berbicara, melambaikan tangan pada Abi dengan senyum penuh makna. "Iya, Pak Boss," jawab Abi masih memeluk pinggang Renat. "Halo, Re," sapa Aldric lembut pada menantu pertamanya itu dan jelas akan menjadi satu-satunya menantu perempuan dalam keluarga. "Halo, Pa," tawa Renat sambil menjawab. Sekali saja, dia ingin melihat sisi normal dari papa mertuanya itu. Tapi sepertinya sulit sekali. "Pesen Papa nggak akan panjang-panjang kayak yang sebelumnya," kata Aldric melirik Nadine dan Gita. "Yang harus kalian inget pertama, jelas Tuhan. Terus buat saling kasih pengertian satu sama lain. Terus, semoga cepet kasih kita cucu." Tawa sekitar pecah, namun Abi berusaha untuk terus bersikap hormat pada papanya. Kalau hanya berdua, mungkin Abi sudah membalas ucapan papanya dengan tidak kalah pedas. Bahkan Renat di sebelahnya sudah tidak tahu bagaimana untuk menutup malu. Wajah wanita itu semakin merah saja karena godaan Aldric. "Re," panggil Jerry dengan senyum tulus seorang ayah. "Papa mau ucapin terimakasih karna Re berani ambil pilihan ini. Terimakasih karna udah jadi anak Papa yang pemberani, terus jadi lebih baik ngelebihi papa sama mama. Nurut sama suaminya, sayang ke suaminya, jaga baik-baik suaminya. Yang harus Re tau, kalau Papa selalu bangga sama Re. Dari dulu, nggak pernah berubah." Senyum kecil Renat terbit. Ia tahu jelas bahwa jauh di dalam hati sang papa, rasa sesal itu masih ada. Bagaimana dulu sang papa memperlakukan Renat tidak layak dan bahkan berbohong kepada mama. Tapi Renat sadar, bahwa papanya tengah berusaha mati-matian untuk berubah menjadi lebih baik dan Renat sangat menghargai hal tersebut. Semua orang layak untuk kesempatan kedua dan berusaha kembali dari awal. "Abi, dari awal kamu minta Renat ke Papa, Papa tau kamu serius. Sekarang, Papa minta buat kamu selalu pegang janji itu. Jaga putri papa baik-baik." "Siap, Pa," jawab Abi tanpa pikir dua kali. Suara sang ibu pembawa acara kembali terdengar, mengatakan bahwa acara akan dilanjutkan dengan kegiatan lainnya. Yang tadi hanyalah pesan-pesan singkat dari orangtua sebagai hiburan agar Abi dan Renat tidak terlalu tegang. Selanjutnya, kedua belah pihak keluarga mulai berfoto. Beberapa kotak berisikan hantaran untuk Renat tersusun rapi di salah satu tempat mulai diambil satu persatu untuk difoto---walau tidak semuanya. Mulai dari sepatu, tas, skincare yang menjadi harta karun Renat, perhiasan, dan barang-barang lain yang terlihat berkilau tersiram cahaya lampu. Abi dibantu mamanya memilih semua barang tersebut, kecuali sebuah kalung yang kini terletak dalam kotak dengan warna lebih mencolok. Ukurannya pun lebih kecil dari kotan-kotak yang lain. Kalung dengan hiasan kecil sekali bertuliskan nama Renat. Abi pesan langsung dari salah seorang terpercaya di London. Pria itu memang mengusahakan segalanya agar Renat bahagia tanpa wanita itu ketahui. Selama hari-hari menuju pernikahan, Abi kerap membuat alasan sibuk bekerja sehingga mereka jarang sekali bertemu. Alhasil, Renat akan merengek karena sebal. Ditambah masa pingitan yang membuat keduanya memang dibatasi. Mau apa dikata, Renat hanya bisa menurut dan sabar menjelang hari akad nikahnya. Dan sekarang, binar bahagia itu jelas sekali terlihat di mata Renat dan Abi. Penantiannya terbayar dengan setimpal. "Re," panggil Abi ketika senggang. Renat menoleh, "Ya?" "Kita pulang ke apartemen kan abis ini?" Muka Renat langsung memanas. Dia belum terbiasa dengan situasi seperti ini. "Apaan sih, A, nanti aja bicarain itu, acaranya juga masih lama selesai." Abi tertawa mendengar panggilan Renat untuknya, "Kamu manggil apa tadi?" "Aa." "Aa apa?" "Aa Abi." "Iya, Sayang, kenapa?" goda Abi semakin jauh dan Renat sukses mencubit pinggang belakang pria itu. Bisa-bisa Renat mati di tempat karena kekurangan oksigen untuk bernapas. "Enggak-enggak, sekarang aku serius." Abi medekatkan diri pada telinga Renat, lantas bersuara lagi. "Kamu cantik." "Udah, A, jangan bercanda! Nanti aja!" Gerakan Judith dan Bia terlihat mendekat ke arah Abi dan Renat, menahan senyum geli sebab tidak tahan akan interaksi keduanya. Kakak beradik tersebut tampak cantik dalam balutan baju warna merah hati dan rok batik. "Teteh Re, selamat!" Judith berteriak sembari mencoba memeluk kakak iparnya dengan hati-hati. "Makasih, Judith!" Renat tersenyum makin lebar. Tidak percaya karena dapat bertemu kembali dengan Judith ketika perempuan itu sudah dewasa seperti sekarang. "Apa kabar? Gimana kuliahnya? Toronto oke?" "Ya namanya juga kuliah, Teh, ada kegiatan, pasti capek." Judith menjawab dengan wajah dibuat sendu, kemudian ekspresinya kembali berganti jadi semangat. "Kalau buat masalah oke atau enggak, ya Teteh bayangin aja dong, Toronto, the world's most livable cities. Ayo dong, Teh, ajak Aa bulan madu ke Toronto. Nanti biar Judith yang jadi tour guidernya." Abi mencibir, "Kejauhan Kanada, kita pergi yang deket-deket dulu." "Ih deket Kanada, A," racau Judith. "Deket apa? Kamu aja pulang udah mabuk, disuruh bantu ini bantu itu alasannya capek Kanada jauh." Judith mencebik sebal, sedang Bia hanya tertawa tidak paham. Rasanya rindu berkumpul seperti sekarang dengan Judith yang dijadikan objek untuk dipojokkan. Jarang-jarang sekali. "Judith nggak takut apa kalau Aa kesana nanti ketemu pacar bulenya Judith," celetuk Bia sembarangan dan Judith sukses melotot. Tangan gadis itu langsung saja menutup mulut kakaknya tanpa pikir, "Teteh!!!" "Judith tangan kamu!" amuk Bia balik karena make-upnya bisa saja berantakan. "Apanya yang pacar bule?" tanya Abi kebingungan. "Teteh mah, jangan dengerin, A!" Judith merajuk, lantas meninggalkan tempat dan buru-buru dikejar Bia dengan langkah cepat. Bertambahnya umur mereka, membuat Judith dan Bia lebih sering terbuka dan membicarakan banyak hal. Judith yang tidak sungkan menjadikan kakaknya itu sebagai penampung keluh kesahnya dan begitu pula dengan Bia kepada Judith. Abi yang melihat kelakuan kedua adiknya itu hanya mampu geleng kepala. Dia tidak terlalu mengikuti perkembangan hubungan percintaan Judith. Berbeda dengan Bia yang juga kerap mencari Abi sebagai tempat curhatnya. Abi kini melirik Renat, mengernyit sebab wanita itu tengah terdiam menatap ke satu titik. Pelan, Abi mengikuti tatapan istrinya. Di luar dugaan, reaksi Abi nyatanya melebihi Renat. "Dia, bukannya temen kamu?" "Tae Joon-ssi...," lirih Renat perlahan. Matanya tidak berkedip melihat pria dengan kemeja hijau yang sedang tersenyum di depan pintu. Beberapa pasang mata pun melihat Tae Joon dengan tatapan ingin tahu. Tae Joon mendekat, langkahnya pelan namun pasti ke arah Renat. Senyum pria asal Seoul itu tidak kunjung surut, sedang tatapannya selalu saja fokus menatap Renat. Sementara Abi harus menahan diri sebab takut pada aksi Tae Joon selanjutnya. Lama tidak bertemu, Abi mana mungkin akrab dengan pria satu itu. "Nata-ssi," sapa Tae Joon ketika berdiri tepat di depan Renat. "Kabarmu pasti baik-baik saja." Tae Joon tersenyum juga pada Abi, kemudian mengulurkan tangan untuk mengajak Abi bersalaman. "Selamat untuk kalian berdua!" Tae Joon berbicara tetap dengan han gul, dan jidat Abi harus tahan untuk tidak mengernyit karena ia tidak mengerti. "Maaf karena jarang memberitahu kabar, Tae Joon-ssi." Tae Joon mengganguk, "Tidak apa, aku mengerti keadaanmu. Lagipula masih ada Zahwa sebagai tempatku bertanya. Setidaknya dia selalu memberi tahu bagaimana kabar kalian berdua." "Zahwa yang memintamu datang, ya?" Tae Joon mengangguk, "Benar. Dia bilang akan lebih baik bila aku datang daripada hanya mengirimkan kado saja. Aku meminta izin langsung pada Presdir Ahn dan beruntung dia mengerti. Presdir kita yang satu itu memang pengertian sekali, kan?" "Aku rindu Presdir Ahn," ujar Renat tiba-tiba, namun tersadar bahwa ia tidak seharusnya bersedih hari ini. "Nanti, aku ingin kita berbicara banyak." "Tentu saja! Banyak cerita di Seoul yang kamu lewatkan, Nata-ya." Tae Joon berlalu, diikuti oleh sorot mata Abi yang terus mengikuti langkahnya. Pria itu jelas tengah kebingungan sekali dan hanya mampu menerka-nerka bagai katak bodoh pada apa yang dibicarakan oleh Renat dan Tae Joon. Renat menoleh pada Abi, mendapati wajah bingung prianya. "Dia bilang selamet buat kita berdua." "Kayaknya tadi lebih panjang," lirih Abi dengan raut lucu. "Selebihnya cuma tentang kerjaan, A. Kamu takut banget sih sama Tae Joon. Dia nggak bakalan gigit kamu kok." Abi geleng kepala kepala, sekarang giliran dirinya yang ingin sekali menggigit Renat. "Iya-iya percaya." "Jangan sedih gitu dong, A. Kan abis ini kita pulang ke apartemen." Renat menggoda Abi, dikedipkannya sebelah mata sehingga Abi sukses melotot tidak percaya. Abi pikir, istrinya itu tidak akan pernah bersikap begitu. ♦ r e t u r n ♦
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN