"A," kata Renat menunduk sambil memegang kertas di tangan kanannya. "Aku emang nggak sempurna, aku masih banyak kurangnya, masih banyak butuh belajarnya. Jadi aku berharap supaya kamu nggak pernah patah semangat buat selalu ajarin aku gimana caranya jadi istri yang baik."
Renat tersenyum di akhir kalimat yang ia bacakan, memandang Abi lurus-lurus. Resepsi pernikahan sudah berlangsung sejak tiga jam lalu, dimana entah sudah berapa banyak tamu dan ucapan selamat yang diterima oleh Renat dan Abi. Sekarang, pembawa acara meminta para tamu undangan untuk berhenti sesaat dan menikmati suasana terlebih dahulu. Membiarkan Renat dan Abi berdiri dan membacakan kertas yang sudah mereka siapkan sendiri.
"Kalau aku dikasih kesempatan sekali lagi buat hidup di masa lalu, aku bakal tetap milih kamu, A. Seumur hidup, aku nggak pernah ngebayangin bakal dateng hari dimana ternyata kamu yang akhirnya sah jadi suami aku. Sekarang aku percaya sama kalimat, kalau cinta pada akhirnya akan pulang ke rumah yang sebenarnya, sejauh apapun dia pergi. Kita pernah sama-sama jauh, kita pernah sama-sama punya luka, kita juga punya masa lalu masing-masing yang dijadiin pelajaran buat jadi lebih baik di hari sekarang. Yang buat kita sampai di sini, karna satu, kita punya kepercayaan sama masa depan. Kalau aku sama kamu, pasti bisa bahagia dengan cara kita sendiri."
Dalam balutan dress wedding bertema Jawa-Sunda yang dipadukan indah dengan d******i warna putih emas, Renat yang cantik terlihat tertawa sebab menatap wajah Abi yang takjub mendengar ucapan dari kertasnya. Abi tidak menyangka, bahwa Renat memiliki keberanian sebesar itu untuk membacakan isi kertasnya di hadapan ratusan undangan yang kini sedang menatap mereka. Abi saja, butuh beribu kali berpikir apa ia harus membaca kertas miliknya atau menunjukkan Renat nanti saja ketika mereka tiba di apartemen nanti. Mengakui isi perasaan di hadapan sejuta umat seperti Renat sebelumnya, jelas bukan keahlian Abi.
"Ditulisin siapa kertasnya?" bisik Abi yakin bahwa hanya Renat yang mendengar. Untung saja, Renat tidak mencubit pinggang Abi karena merasa tersinggung. Ia mencebik sesaat, menatap Abi tidak terima dan sukses membuat Abi tertawa.
"Tulisan kamu pasti lebih cheesy, A," balas Renat juga berbisik kepada Abi. Abi diam, tidak bereaksi banyak karena apa yang dikatakan Renat benar adanya. Kalau boleh menghilang, maka Abi adalah orang pertama yang ingin melarikan diri dari tempat mereka sekarang. Diraihnya microphone dari tangan Renat, lalu berdehem sebelum meletakkan benda tersebut di depan mulut. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia pasti bisa. Senyum manisnya terlempar untuk Renat.
"Halo, Istri," sapa Abi tiba-tiba dan sukses membuat Renat kehabisan kata-kata, ia bahkan tidak bisa membalas walau sangat ingin.
"Iya, apa?" balas Renat setelah tenang dan tahu bahwa Abi tidak kunjung bersuara.
"Re," panggil Abi tersenyum dan Renat angguk-angguk kepala. "Kalau lihat kamu lama-lama, aku bakal selalu ingat gimana dulu kita ketemu. Masih pakai seragam SMA, masih remaja, sama sekali belum dewasa. Belum kebeda mana yang baik mana yang buruk. Re, terimakasih karna selama bertahun-tahun kamu sanggup percaya sama hubungan jarak jauh kita. Sampai akhirnya kamu sendiri yakin buat terima genggaman tangan aku. Buat kamu, aku bakal selalu kerja keras untuk jadi suami yang baik. Bukan cuma kamu yang belajar, tapi aku juga. Jadi kita belajar sama-sama."
Abi mengakhiri kalimatnya dengan gerakan mendekat pada Renat, kemudian mencium dahi wanita itu penuh sayang. Tepukan tangan gemuruh beserta teriakan memenuhi seantero ruangan menjadi latar belakang suara dari aksi tiba-tiba Abi. Pria itu sama sekali tidak menyangka bahwa ia mampu berbuat hal semacam itu di depan para tamu undangan yang bahkan tidak ia kenal semuanya. Yang Abi tahu, Renat pantas mendapatkan ciuman di dahinya bahkan lebih karena sudah menjadi terlampau cantik hari ini. Setelah menjauhkan diri, wajah tegang Renat menyambutnya.
Tidak seperti biasanya, kecupan Abi di dahinya kali ini sukses menghantarkan beribu listrik pada tubuhnya. Elektron di tubuh Renat sukses bereaksi berlebihan sehingga ia tidak sanggup bergerak. Pesona Abi hari ini sebagai pria sunda sukses membuat Renat panas dingin. Senyum wanita itu tertahan, sementara mukanya sudah jelas memerah walau dengan make-up. Agar umurnya tidak selesai di tempat itu, Renat memilih menghadap kembali ke depan lebih dulu. Samar, Renat dapat mendengar Abi terkekeh, tampaknya senang karena sudah membuat Renat malu-malu.
"Buat tamu undangan, udah boleh salaman bareng Abi-Re lagi nih." Seorang MC muda yang sudah sejak tadi membantu jalannya acara kembali bersuara saat tahu bahwa Renat dan Abi sudah selesai. "Buat kalian yang mau nyanyi, mau ngehibur tamu-tamu lain di sini, boleh banget naik kesini berdiri bareng aku." Penyampaian MC tersebut terbilang santai, sengaja, karena Renat menginginkan hal semacam ini. Keseriusan biar saja menjadi milik acara akad nikah mereka. Resepsi dan after party, Renat dan Abi ingin santai agar tamu-tamu undangan mereka juga tidak begitu tegang.
Karena diinstruksikan boleh kembali bersalaman, alhasil Renat dan Abi kembali kebanjiran tamu yang datang mendekat. Dari sekian banyak tamu yang datang, bisa terhitung siapa saja yang dikenal. Faktor Abi mengundang seluruh warga kantornya dan ia tidak mengenal seluruh karyawannya. Terlihat ketika bersalaman, sewaktu banyak yang mengaku sebagai karyawan Abi dan pria itu hanya mampu mengangguk karena benar-benar tidak tahu.
"Abi, selamat, ya," ucap seorang wanita yang baru menyalami Abi. Dahi Abi bertahan untuk tidak mengernyit, disamping itu ia juga malas mengingat siapa wanita di depannya.
Abi mengangguk, "Makasih."
"Kamu nggak inget aku?"
"Apa?"
"Aku Indy, Bi," ucap wanita itu semangat. "Waktu SMP kamu pernah belain aku waktu Raskal gangguin aku. Aku inget selain aku, kamu juga pernah belain Aya, Nana, Jolly, siapa lagi ya...."
Rasanya, Abi ingin menggali kuburannya sendiri dan setelah itu mengubur diri. Bagaimana bisa wanita di depannya mengatakan hal semacam itu sekarang. Waktu yang dipilihnya benar-benar tidak pas. Abi terdengar seperti playboy cap ayam yang suka gonta-ganti pacar. Padahal dirinya saja tidak lagi mengingat dengan jelas masa-masa SMP yang begitu suram itu.
Renat di sebelah Abi juga hanya mampu memasang wajah polos, berusaha berpikir positif bahwa suaminya memang seorang relawan bagi perempuan di masa sekolah dulu. Walau keinginan untuk mengusir Indy sudah diujung lidah, tapi Renat tidak mungkin melakukan hal semacam itu. Dalam keadaan panas, masih dilihatnya Indy asik berbicara dengan Abi.
"Oh iya, Moza, dia yang paling sering digangguin Raskal. Hampir setiap hari ya nggak sih, Bi? Terus kamu pasti langsung dateng belain Moza. Sayang sih, waktu itu dia sempet pacaran sama Raskal padahal kamunya juga lagi sayang sama dia. Kangen nggak, Bi? Sama masa SMP dulu." Baiklah. Renat pikir kecerewetan Indy sudah di luar batas. Melihat Abi tidak terlihat akan membalas ucapan wanita itu, Renat tahu bahwa dialah yang harus mengambil tindakan.
Renat merangkul lengan Abi kian erat, membuat Abi seketika menoleh pada istrinya. Tanpa mengingat lagi rasa malu, Renat berjinjit, lantas mencium sudut bibir Abi dengan kehendaknya sendiri. Tidak lama, namun bibir ranum Renat sanggup membuat Abi kehabisan kata-kata. Renat terlihat santai, bahkan ketika matanya bertemu dengan mata milik Indy, ia sama sekali tidak gentar. Jika wanita bernama Indy tersebut ingin membuat Renat merasakan sakit hati, maka Renat bisa membalas lebih. Dan rasa-rasanya memang tidak sopan bila membahas hal seperti tadi di hadapan Renat dan Abi.
Renat mengulurkan tangan lebih dulu, tersenyum manis. "Percuma kamu ngomong kayak tadi. Mau suamiku udah nolongin kamu, temen-temen seangkatan, bahkan Moza sekalipun, dia nggak bakalan inget sama orang yang udah dia tolongin. Aku bingung deh kenapa kalian seneng banget ngumbar kalau suamiku pernah nolongin kalian cuma karna kalian digangguin Raskal. Udah ya ngumbar-ngumbarnya, suamiku nggak suka digituin apalagi sama orang yang nggak dikenal. Dia cuma pengen kalau istrinya yang ngumbar-ngumbar tentang dia." Renat berbicara panjang lebar dengan nada terkontrol. Berharap wanita seperti Indy cepat enyah dari hadapannya. Wajah Indy sendiri juga sudah terlihat merah karena malu. Tanpa suara lagi, bahkan tidak membalas uluran tangan Renat, Indy pergi begitu saja.
Indy turun dari panggung pelaminan tersebut dengan menahan malu. Didatanginya wanita lain yang tengah duduk di salah satu meja dengan wajah geram tidak terima. Hanya karena suruhan tidak berguna, Indy sukses malu seakan ia sudah melakukan dosa besar. Indy membalikkan piring milik wanita di depannya dan sukses membuat wanita itu berteriak karena bajunya kotor walau tidak banyak.
"Otak lo nggak ada apa, ya?" semprot Indy tidak peduli keadaan sekitar.
"Otak lo yang nggak ada. Baju gue kotor!"
"Pantes buat lo," balas Indy sakit hati. "Lo kalau mau hancurin hubungin orang, mikir! Lo yakin mau hancurin pasangan yang udah jalanin hubungan bertahun-tahun? Tanpa perlu lo liat dari deket, lo pasti bisa nebak kalau mereka saling sayang, saling ngelindungin satu sama lain. Dan begonya gue mau disuruh sama lo buat panas-panasin mereka. Lo daripada kayak gini, mendingan taubat. Dosa lo udah numpuk, Moz. Bego lo masih mikir kalau Abi sayang sama lo. Bangun! Abi nggak cinta sama lo. Dia udah jadi suami Renat dan lo nggak berhak bikin spekulasi aneh-aneh."
Indy meninggalkan tempat tersebut dengan pandangan orang-orang yang masih mengikutinya. Sedang Moza sendiri masih diam, merutuki kebodohan Indy yang barusan marah-marah dengannya. Bajunya mahal, dan Indy berani sekali membuat bajunya kotor. Sembari berjalan menuju kamar kecil, Moza sibuk geleng kepala. Ia tidak akan menyerah terlebih ini perihal Abi. Pria itulah yang membuat Moza jatuh cinta dan sudah seharusnya ia bertanggung jawab atas perasaan tersebut.
"Bukan lo, Re," ujar Moza pedih. "Bukan lo yang seharusnya berdiri di sebelah Abi sekarang. Gue orang pertama yang Abi sayang dan udah seharusnya kalau tempat itu jadi punya gue."
Moza berlalu masuk ke kamar kecil, memikirkan rencana apa yang harus ia lakukan untuk dapat mengambil tempat yang ia pikir adalah miliknya. Jika tidak bisa menjadi yang pertama, Moza rela menjadi yang kedua. Asalkan, ia memiliki status sebagai istri Abi pula.
♦ r e t u r n ♦
Sementara di tempatnya, Abi dan Renat masih asik menerima ucapan selamat dari para tamu. Sukurlah, dari sekian banyak tamu, hanya satu yang merupakan orang gila. Seiring berjalannya waktu, Renat sudah asik tertawa oleh hiburan lain yang disuguhkan. Walau Abi masih takut-takut kalau Renat kepikiran hal tadi, maka dari itu dirinya banyak mengajak Renat bercerita.
"Re, sebentar lagi pulang." Abi menaik-naikkan alisnya, mulai lagi sintingnya.
"Iya, emang pulang. Nggak kamu doang yang capek aku juga."
"Kalau yang tadi kan cuma di sini, Re," kata Abi sambil menunjuk sudut bibirnya dan jemari Renat sukses mencubit pinggang pria itu.
"Kamu kenapa, sih?" Renat geram sendiri karena Abi yang terus saja menggodanya tanpa mau berhenti.
"Nanti di apart jangan di situ lagi." Mata Renat sukses terpejam karena menahan emosi. Bukannya malu-malu, Renat malah ingin membentak Abi. Sepertinya pria itu disapa oleh hantu sinting penunggu tempat resepsi ini. Jika tidak memikirkan tamu, Renat pastikan Abi habis malam ini ia cubiti ganas.
"Renata!" Renat menoleh, menemukan Audrey yang tengah melambai dan memintanya tersenyum. Alih-alih tersenyum, Renat malah cemberut dan hanya Abi yang tersenyum ketika Audrey memotret mereka.
"Senyum dong, Re," ujar Abi tersenyum.
"Bi---" Renat terdiam, sadar sudah salah memanggil. "Maksudku A, kamu bisa nggak sih jangan bahasin yang tadi aku lakuin. Nggak nyaman dengernya. Kalau bukan karna temen SMP kamu tadi, aku nggak bakalan kayak gitu. Malu."
Abi menatap Renat serius, "Kenapa malu? Aku suami kamu, bukan orang lain."
"Iya, tapi aneh karna kamu bahas-bahasin hal itu terus sama aku. Akunya nggak nyaman, A."
"Re, aku cuma mau ngehibur kamu. Lagian wajar aku ngomong kayak tadi ke kamu, kalau ke yang lain baru salah."
"Tapi akunya nggak nyaman, kamu ngerti nggak, sih?!" Renat bersikeras. Dia tetap tidak suka.
"Oke, aku ikutin mau kamu." Helaan napas Abi keluar, menjadi akhir dari obrolan mereka.
Abi diam saja selepas itu. Daripada terus memperpanjang perdebatan yang terjadi di antara mereka, memang lebih baik Abi mengalah dan diam. Mungkin memang salah bila dirinya terlalu ingin menghibur Renat yang sedang tidak ingin digoda. Sebisa mungkin, Abi tetap bersikap baik di depan para tamu dan berusaha menghargai Renat.
♦ r e t u r n ♦
Di penghujung acara, baju keduanya sudah terganti dengan baju santai. Tamu undangan yang tadi begitu banyak kini tersisa dengan orang-orang terdekat saja untuk acara after party mereka. Abi terlihat menggenggam tangan Renat begitu erat ketika mereka sama-sama keluar dari ballroom. Berjalan ke arah lift sebab hendak menuju rooftop. Renat dengan dress warna rosegold yang jatuh hingga lutut. Sedang kakinya terbalut indah dengan heels hitam bertali. Abi sendiri juga terlihat tidak kalah dengan kemeja hitam serta celana santai selutut dengan warna senada. Sementara sneakers pria itu tampak matching dengan dress rosegold milik Renat.
"Re," panggil Abi kala di dalam lift. Renat menoleh, menatap Abi dalam diam. Jujur saja, ia sendiri begitu merasa bersalah sebab sudah tidak baik kepada Abi tadi. Renat hanya sedang kelelahan, dan Abi malah memancingnya. Tidak ada pilihan lain selain meluapkan amarah pada Abi.
"Aku minta maaf," ujar Renat pelan. "Nggak seharusnya aku kayak tadi ke kamu. Aku lagi capek, makanya jadi marah-marah. Maaf marahnya nggak lihat situasi."
Abi tersenyum, tidak lagi menggenggam tangan Renat melainkan merangkul wanita itu penuh sayang. "Aku yang harusnya minta maaf sama kamu. Kalau kamunya emang nggak nyaman, udah seharusnya aku ngerti."
"Udah, ah, nanti aku nangis." Renat mencibir, membuat tawa Abi terbit. "Masa hari resepsi aku sama kamu malah berantem. Aneh, A."
Abi angguk-angguk kepala. Ketika lift terbuka, barulah diajaknya Renat keluar lebih dulu. Suasana gelap malam berpadu kerlap-kerlip lampu membuat rooftop terlihat berkali lipat menakjubkan. Renat disambut oleh beberapa teman dekat termasuk Zahwa yang sangat bersemangat. Abi sendiri sudah ditarik Victor untuk duduk di antara ia dan teman yang lain. Tawa pria bernama lengkap Julian Victor tersebut benar-benar tidak bisa diam sejak awal. Jika ada nominasi makhluk paling pecicilan, maka Victor dipastikan akan menang. Kesenangan bahwa Abi kini sudah menjadi suami Renat membuat Victor gemas sendiri. Rasanya baru dulu ia menggoda Abi yang menaruh benci pada Renat, sekarang mereka malah menikah.
Kadang kala, jalan hidup memang semenarik itu.
"Asik, Pak Boss, udah nikah!" teriak Victor mengangkat gelas berisi minuman berwarna.
"Lo nyusul buruan." Abi membalas, duduk santai sembari ikut meminum minumannya.
Salah satu dari pria yang berkumpul di sana menyeletuk, "Gimana mau nikah, Bi, calon pacar aja udah nikah sama laki-laki lain."
"Anjir lo, No! Ya mana gue tau kalau tuh cewe udah mau nikah." Victor membalas ucapan Deno sakit hati.
"Makanya nggak usah pacaran sama Teteh Bandung, sakit hati lo soalnya yang suka mereka banyak." Deno menjawab lagi tidak mau kalah. "Kayak adiknya Abi nih, cakep-cakep, pasti banyak yang suka."
"Halah, cantik-cantik ganas. Apalagi si Bia."
"Heh sarap!" letus Abi menatap Victor tajam.
Sedang Victor hanya nyengir, tidak sadar bahwa di belakangnya sudah berdiri Bia dengan tangan di depan d**a. Dengan sebal, Bia menarik kedua telinga Victor hingga pria itu terlonjak karena kesakitan.
"Tuh ganas!" ujar Bia kesal tidak terima setelah membuktikan keganasan yang dimaksud oleh Victor.
"Eh, Bi, Bi, Bi." Victor panik sendiri, tidak sadar ternyata menyusul langkah Bia yang menjauh.
"Adik lo sama Victor pacaran?" Deno bertanya, membuat dahi Abi jadi mengernyit kebingungan karena ia sendiripun tidak bisa menebak hal apa yang tengah terjadi antara teman dan adiknya itu.
"Nggak tau gue," geleng Abi.
"Kalau misalkan beneran pacaran gimana?"
Abi mengedikkan bahu, "Nggaklah, Victor udah anggep Bia adiknya sendiri."
"Ya lo ngomong kayak gitu mudah sih, Bi. Cuma kalau emang merekanya nggak nggangep diri sebagai kakak sama adik, lo bisa apa?"
Abi termenung. Dia memang sering menitipkan Bia pada Victor tanpa pernah berpikir aneh-aneh. Lagipula, sepertinya Bia sendiri masih terlalu tenggelam dengan cinta masa lalunya dan tidak pernah berpikir untuk memulai hubungan baru. Walau Abi memang tidak pernah melihat langsung interaksi Bia dan Victor ketika tidak ada siapapun di sekeliling mereka.
"Aa," suara Renat memecah pikiran Abi. Pria itu menoleh dan tersenyum. Mendapati Renat tengah mengulurkan tangannya semangat. "Will you dance with me?"
Abi tertawa, menatap Deno dan teman yang lain sesaat sebelum berdiri dan menerima uluran tangan istrinya. "With all my pleasure, Re."
Renat tertawa dengan ucapan Abi. Perlahan, mereka mulai bergerak pelan di bawah sinar lampu dan bintang-bintang malam. Renat ingat sekali dulu, kala malam di penghujung Desember, mereka berdansa bersama. Karena Renat tidak bisa, Abi dengan suka rela membiarkan Renat memijak kakinya. Sedikit, Renat rindu masa-masa indah di masa lalu.
"Ngobrolin apa sama temen-temen kamu?" tanya Renat sambil berpindah ke kanan dengan pelan.
Abi memutar tubuh Renat, "Victor galau, calon pacarnya nikah sama orang lain."
"Hah? Calon pacar?"
"Victor nggak tau kalau dia lagi deketin calon istri orang lain."
"Cewenya dong yang sinting. Udah nikah masih jelalatan sana sini."
"Udah," ujar Abi lembut. "Malah kamu yang marah-marah. Nggak usah dipikirin, nggak penting juga."
"Penting tau, A! Kan kasihan Victor."
"Enggaklah, kasihan apanya," geleng Abi tidak setuju. "Kamu, ngobrol apa aja tadi?"
Muka Renat memerah, tatapannya seakan menjauhi manik mata Abi. Tangan Abi di sekitar pinggang Renat membawa tubuh wanita itu untuk bergerak pelan maju mundur. Sedang tangan Renat yang mengalungi leher Abi hanya berusaha mengikuti alur. Sepertinya tidak ada harapan bahwa Renat akan menjawab pertanyaan Abi.
"Bukan apa-apa, masalah perempuan kok, A."
Abi memandang menyelidik, dan sukses membuat Renat salah tingkah. "Serius?"
"Serius! Emangnya ngomongin apalagi?"
"Ya kali aja---"
"Apa?" tantang Renat mengangkat wajah.
"Enggak, nanti kamu malu terus nggak nyaman."
"Emangnya kamu mau jawab apa?"
"Ini." Tanpa peringatan, kepala Abi mendekat hingga bibirnya berjumpa dengan bibir merah hati milik Renat. Gerakan dansa mereka sudah terhenti, dengan pelukan pria itu yang semakin mengerat pada pingga Renat. Dibawanya Renat kian dekat, menghapus jarak yang tercipta di antara mereka. Teriakan teman-teman yang lain seakan tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh keduanya. Sama seperti Abi, Renat tidak lagi memperdulikan sekitar. Dia sudah disihir lebih dulu oleh sang suami.
Seharusnya Renat tidak berkata bahwa ia tidak nyaman dengan Abi. Lebih dari itu, bahkan Renat tidak ingin melepaskan pelukannya pada leher pria itu. Tangannya yang sejak tadi bermain di rambut Abi tidak mau berhenti juga. Nyatanya, pesona Abi terlalu sulit untuk Renat tolak.
Abi mengecup bibir Renat sekali lagi sebelum meyudahi aksi gilanya. Ditatapnya wajah Renat, kemudian mencolek ujung hidung Renat dan tertawa. "Manis, rasa coklat."
"Aa!" balas Renat tidak terima dan tawa Abi terdengar makin keras.
♦ r e t u r n ♦