34 [a]. Pagi Pertama

1274 Kata
Kamar dingin itu gelap dan hening. Kain gorden hitam penutup jendela sama sekali belum dibuka, mengakibatkan seorang yang masih terlelap di atas tempat tidur yang berada di tengah ruangan tidak kunjung terbangun. Suhu ruangan yang rendah pun membuatnya kian bergulung, memeluk guling semakin erat dan selimut ditarik semakin tinggi. Setelah semalam tetap memaksakan untuk pulang ke apartemen walau malam kian larut, jadilah setelah melaksanakan salat subuh, Abi memilih melanjutkan tidurnya. Tenaga pria itu seperti sudah terkuras habis karena kelelahan berdiri selama resepsi pernikahan. Belum lagi after party di rooftop dimana Victor banyak sekali memancingnya untuk bergerak. Berbeda dari dalam kamar dimana Abi masih asik terlelap, suasana dapur malah berbanding terbalik. Musik yang terputar sejak tadi tampaknya dapat menjadi saksi bagaimana kerusuhan yang diperbuat oleh Renat di meja dapur. Wanita itu sedang mencoba menyambut pagi dengan membuat sarapan sederhana mengingat ia hanya memiliki telur dan beberapa buah. Sebenarnya Renat bisa saja keluar untuk berbelanja, tapi meninggalkan Abi sendirian di hari pertama mereka tinggal bersama, Renat pikir bukanlah ide yang bagus. Setidaknya, ia masih bisa membuat omelet dan segelas jus segar untuk mereka sarapan. Renat pikir tidak akan berjalan lama. Nyatanya, sudah hampir satu jam ia berada di dapur dan baru menyelesaikan omelet gulung. Dengan cepat Renat beralih untuk membuat jus. Diambilnya beberapa buah segar dan berbeda, lantas dengan cepat memotongnya. Jika untuk yang satu ini, Renat sudah cukup handal. Dimasukkannya beberapa buah yang sudah dipotong ke dalam blender sembari bergerak mengikuti irama musik pop. Ketika jus mulai terjun ke dalam gelas sementara ampasnya langsung terbuang, Renat dengan segera mempersiapkan satu gelas yang lain untuk dirinya. Wajah wanita itu memang terlihat lelah, tapi ia cukup puas dengan kegiatannya pagi ini. Tidak peduli seperti apa acara semalam, yang Renat tahu ia sangat bahagia sehingga masih mampu bangkit dengan semangat sekarang. Dirinya sengaja pula tidak membangunkan Abi karena kasihan. Jika Renat tidak terbangun ketika subuh, maka sudah dipastikan kalau Abi akan melewatkan kewajibannya dalam beribadah. Dan Renat tidak pernah menyangka bahwa memperhatikan suami yang sedang salat adalah hal paling indah. Sehingga ia tidak sabar sampai dirinya bersih dan dapat ikut salat berjamaah bersama Abi. Lima menit berlalu, Renat sudah mulai membereskan peralatan memasaknya. Diambilnya baki dan meletakkan dua mangkuk berisi nasi, lalu satu piring berisi omelet gulung karyanya sendiri. Barulah dua gelas jus menyusul diletakkan. Dimatikannya musik yang berasal dari ponsel, memasukkan benda pipih tersebut dalam kantung sebelum mengangkat baki berisi makanan. "Semoga enak, deh," ujar Renat takut-takut juga sebetulnya. Dibukanya pintu kamar dan mengerjap untuk sesaat. Dengan cahaya yang merambat dari ruang tv, Renat dapat melihat sedikit suasana kamar dan meletakkan makanan tepat di atas meja nakas. Sudah cukup, Renat pikir Abi memang harus bangun dan sarapan terlebih dahulu. Dia tidak bisa membiarkan Abi berlama-lama tidur hingga lupa bahwa masih banyak aktivitas yang bisa dilakukan selain tidur. Renat berjalan menuju kain gorden, tanpa hati mendorong tirai tersebut ke kanan dan ke kiri sehingga matahari langsung saja menyambar masuk tanpa izin. Abi yang tengah tertidur pulas mau tidak mau merasa terganggu. Wajahnya terlihat tidak ikhlas dengan tubuh yang buru-buru berbalik untuk membelakangi cahaya matahari. Renat mencebik, kemudian menarik selimut Abi secara paksa. "A, bangun!" Dengan mata masih tertutup, alis Abi sukses terangkat tanda kebingungan. Dia seperti tidak asing dengan perintah bangun seperti ini, namun suara yang berbeda membuat Abi sukses berbalik lagi dan mengerjap menatap pemandangan Renat dengan dress piyama selutut warna putih. "Re?" celetuk Abi dengan suara berat dan serak khas bangun tidur. Wajahnya tanpa tahu malu menampilkan ekspresi bodoh pada Renat. Pria itu sepertinya lupa dengan kejadian sakral di hari kemarin. "Kamu kapan dateng?" "Hah?" Ekspresi Renat lebih parah. Ingin rasanya marah-marah kepada Abi namun Renat tahu bahwa hal tersebut tidak benar. Dihelanya napas panjang, kemudian melemparkan kembali selimut sampai menutupi kepala Abi. Kakinya melangkah lagi menuju meja nakas untuk mengambil sarapan. "Astaghfirullah." Suara Abi terdengar ketika tangannya mulai mengawaskan selimut dari wajah. Tampaknya Abi sudah betul-betul sadar. Raut wajah Abi penuh akan rasa bersalah ketika Renat dengan baik hatinya menyuguhkan ia sarapan pagi. Dicarinya mata Renat, dan sukses dihadiahi pelolotan dari istrinya itu. "Sebel sama kamu," aku Renat tidak berbohong. "Maaf, Re, beneran khilaf ngomong kayak gitu." "Terus semalem ngapain peluk-peluk aku waktu tidur kalau pagi sekarang bisa lupa aku istrinya kamu?" semprot Renat tanpa hati dan Abi sukses tertawa geli mengingat kejadian semalam. Bila dipikir-pikir, Abi memang jauh dari kata suami idaman. Ketika Renat tersiksa dengan sisa make up dan badan pegal, bukannya menunggu Renat sampai selesai, Abi malah terus gas untuk tidur duluan. Selesai bersih-bersih, wanita itu tentu saja menyusul untuk tidur di sebelah Abi walau hatinya benar-benar tidak berani. Namun baru lima detik Renat terbaring, pelukan Abi yang secara tiba-tiba sukses membuat napas Renat tertahan. "Kamu wangi," bisik Abi semalam sebelum jatuh kembali dalam tidur lelapnya. "Iya, pertama sama yang terakhir kayak gini, Re." Abi berjanji, namun mata pria itu sama sekali tidak melihat Renat melainkan tertarik dengan susunan sarapan paginya. Omelet, nasi, dan jus. "Kamu masak?" Renat mengangguk, tidak lagi memusingkan hal tadi. "Maaf ya, A, cuma bisa masakin kamu omelet." "Kok minta maaf?" tanya Abi tidak suka, toh apapun yang Renat masak tentu akan ia makan dengan senang hati. "Kamu nggak masak juga nggak apa-apa, kan masih ada roti." "Masa?" tanya Renat dengan suara lebih keras sebab meragukan ucapan Abi barusan. "Iya, beneran!" "BOHONG!" "Beneran, Re." "Yaudah, mulai besok aku nggak masak lagi, ya?" Abi terdiam, tidak lagi dapat berbohong. "Janganlah, nanti aku kurus makan roti terus." "TUHKAN!!!" Renat mencibir, membuat Abi tertawa sambil menerima jus yang Renat ulurkan. Ketika Abi mulai meneguknya, tatapan Renat tidak sekalipun terlepas dari pria itu. Ingin tahu seperti apa komentar Abi. Barulah ketika Abi tersenyum, Renat paham dan tersenyum pula. "Aku pengen belajar masak, tapi nggak tau sama siapa, A." "Mama jago masak," kata Abi menjurus pada Nadine. Walau dahinya kembali mengernyit karena tidak menemukan sendok, tapi Abi tidak berkomentar apapun. Dia tetap mengambil sumpit dan mulai menggunakannya untuk mengambil potongan omelet dan menyuap nasi. "Kamu belajar sama mama aja." "Pengen kok. Cuma ya gitu, karna kerjaan jadinya takut nggak sempat." Abi diam saja ketika Renat mulai menyebut tentang pekerjaannya. Sebenarnya, jauh di dalam diri Abi, masih ada bagian yang tidak bisa menerima keputusan Renat untuk bekerja. Kasihan saja melihat wanita itu harus terus-terusan mengurus banyak pekerjaan di rumah sakit. Bahkan Abi secara jelas bisa menafkahi Renat dengan teramat lancar. Ia hanya ingin Renat fokus dengan rumah tangga dan menghabiskan waktu di rumah saja seperti kodrat istri yang seharusnya. Tetapi Abi tidak ingin dinilai mengekang. "Kerjaan di nomor duain aja dulu," kata Abi tampak serius. "Aku emang ngasih kamu izin kerja, Re. Tapi kalau akhirnya kamu gagal manage waktu, ya berarti buat apa? Kalau kamu makin sibuk, berarti kamu harus makin jago ngaturin waktu apalagi buat waktu ke diri kamu sendiri." "Hal-hal penting yang berhubungan sama diri aku sendiri?" "Iya, Sayang," ucap Abi menatap Renat dengan anggukan kepala beberapa kali. "Oh iya, kamu udah tau kalau papa kasih hadiah ke kita?" Renat menggeleng, melemparkan tatapan tanya pada Abi. "Emang Papa Aldric kasih apa?" "Itu," kata Abi menunjuk meja nakas yang terletak di sebelah tempat tidur. "Aku letakin di laci meja nakas." Renat ogah awalnya karena malas bergerak. Tapi karena penasaran, akhirnya Renat menurut dan mulai membuka laci pertama. Mata wanita itu sukses memancarkan ekspresi terkejut, tidak percaya dengan dua tiket liburan yang diberi oleh papa mertuanya itu. "Dibayarin papa?!" Abi mengangguk dengan wajah seperti habis memenangkan lotere. Alisnya naik turun menatap Renat. "Katanya hadiah. Imbalannya, cepet-cepet kasih cucu." Dengah wajah sukses merah, Renat hanya mampu melongo dan membuang muka ke sembarang arah. Asal jangan melihat mata Abi untuk sekarang, dan Renat tahu ia akan baik-baik saja. ♦ r e t u r n ♦
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN