"Cie!"
Godaan Gita melalui panggilan telepon yang sengaja diloudspeaker oleh Renat terdengar pula oleh Abi yang tadinya sedang fokus menatap layar ponsel---bacaannya pada sebuah berita terbaru mau tidak mau terhenti. Ditatapnya Renat dengan pandangan bertanya sebab tidak tahu apa ujung pangkal mengapa mama mertuanya itu bisa tiba-tiba mengatakan kata 'cie'.
Renat hanya mengedikkan bahu cuek, mana mau memberitahu Abi. Diambilnya beberapa helai pakaian yang lain, kemudian melipatnya serapi mungkin sebelum disusun dalam koper. "Mama udah, ah!"
"Kenapa, sih?" tanya sang mama diiringi tawa, tampak sedang seru sekali menggoda Renat yang mati-matian menahan malu. "Tadi pagi masakin sarapan apa buat Aanya?"
Renat diam, moodnya semakin buruk karena sang mama menyebut Abi. Kalau sedang tidak belajar menahan emosi, Renat mungkin sudah marah-marah sejak tadi pada Abi. Sebenarnya tidak marah, hanya saja tengah kecewa. Hari pertamanya sebagai istri sukses dihancurkan oleh seseorang.
"Cuma omelet," jawab Renat pendek, membuat Abi jadi meliriknya lagi penuh tanya.
"Kok cuma?" Gita masih terus bertanya, jelas sekali tidak tahu situasi apa yang tengah terjadi di dalam kamar itu. "Mama kesana deh, ya, anterin bahan makanan. Mau?"
"Nggak usah, Ma, Re nanti bisa beli sendiri," kata Renat sambil geleng kepala. Semangatnya tiba-tiba saja menguap entah pergi kemana. "Udah dulu ya, Ma, lagi sibuk packing soalnya Re."
"Cie!" Dua kali. Sudah dua kali dan Renat benar-benar semakin mengerucut sebal karena mamanya itu tidak henti-hentinya menggoda. "Abi," panggil Gita kini untuk Abi.
Abi yang masih terlampau fokus baru sadar ketika Renat mencoleknya, memberi kode bahwa sang mama tengah menunggu jawaban pria itu. "Iya, Ma?"
"Yang fokus ya honeymoonnya!"
"MAMA!!!" teriak Renat dan Gita malah tertawa geli sangking puasnya. Tapi tidak dengan Abi yang malah menatap Renat dengan bingung. Sesudah sarapan, Abi memang memilih mandi dan lepas itu sibuk dengan ponselnya untuk memeriksa perihal pekerjaan. Ketika tadi ia memanggil Renat, wanita itu malah bersikap aneh tidak tahu kenapa. Abi merasa diabaikan, padahal ini hari pertama mereka setelah menikah. Maka dari itu Abi lebih memilih diam dan fokus dengan ponsel daripada semakin memancing emosi Renat. Walau kepalanya sejak tadi sudah bertanya-tanya.
"Iya, ah, emosian banget sih kamu, Re! Yaudah ya Mama tutup dulu."
Tepat setelah sambungan telepon terputus, Abi ikut-ikutan mematikan ponselnya. Difokuskannya tatapan untuk melihat Renat yang masih bolak-balik lemari dan koper, bikin kepala Abi jadi pusing saja. Abi menebak-nebak, entah memang Renat yang semangat dalam honeymoon ini, atau alasannya packing cukup cepat hanya untuk mengalihkan beban di dalam pikiran.
"Kamu masih mau diem?" tanya Abi pelan memutuskan bicara lebih dulu. Jika menunggu Renat, sama saja dengan tidak. Renat yang tengah mencocokkan outfit masih asik sendiri, tidak perduli dengan ucapan Abi yang memancingnya untuk berbicara. Abi yang sejak tadi duduk memutuskan untuk berdiri, mendekati istrinya itu dan duduk di lantai tepat di sebelah outfit Renat. "Kita mau ke Maldives, Re, bukan Eropa. Nggak perlu baju-baju tebel kayak gini."
Renat menatap Abi tepat di manik pria itu. Membuat Abi sadar bahwa Renat memang tengah menyimpan kekesalan. Kepalanya tetap saja diisi oleh amarah walau sudah mati-matian berpura-pura sibuk mencocokkan outfit. Toh yang dibutuhkan di Maldives nanti hanyalah baju-baju tipis untuk tidur dan berenang. Sangat tidak diperlukan bersantai di bawah atap langit biru dan berlantai laut biru dengan baju-baju tebal berbulu. Renat mengawaskan outfit warna kuning kunyit tersebut, lantas mengambil ponsel dari tangan Abi.
Wajahnya fokus sementara jemari yang sibuk di atas layar ponsel Abi. Kemudian dibalikkannya ponsel tersebut agar menghadap Abi. Dahi pria itu mau tidak mau mengernyit menatap aplikasi pesan yang Renat buka. Dilihatnya nomor asing yang mengirimi pesan, lalu tanggal dan waktu ketika pesan itu dikirim. Jika Abi tidak salah menebak, pesan ini tentu saja masuk ketika ia sedang mandi tadi dan Renat lah yang membacanya pertama kali.
"Moza, kan?" tanya Renat dengan raut muka lelah yang lebih kentara. Dilepaskannya ponsel Abi tanpa hati, membuat benda pipih itu terjatuh begitu saja ke lantai. Abi tidak peduli, ia tetap fokus menatap Renat berharap keluh kesah wanita itu segera dikeluarkan. "Aku tuh bingung deh ya sama dia. Kalau emang ada masalah ya ngomong ke aku. Jangan malah buat masalah baru kayak gini. Urusin tuh temen SMP kamu."
Renat yang ingin berdiri buru-buru ditahan oleh Abi, "Aku ngerti kamu marah---"
"---Ya menurut kamu akunya harus gimana? Senyum-senyum sambil ketawa? Dia ngirim kamu pesen bukannya bilang selamat loh, A. Tapi bilang sayang. Abis ini apa lagi? Kenapa sih orang-orang yang suka sama kamu pada nggak bisa hargain aku. Bahkan aku masih inget tamu undangan kemarin yang namanya Indy. Perasaan namanya nggak ada di daftar undangan tapi bisa masuk."
"Dia bukan temen aku, Re," jawab Abi, kali ini jujur. Walau ketika SMP Abi terlalu malas dengan perempuan di kelasnya, tetapi setidaknya pria itu masih hapal bahwa tidak ada makhluk bernama Indy yang sempat menjadi teman sekelasnya. Entahlah kalau memang satu sekolah dan Abi mungkin memang sempat menolongnya. Tapi sejauh Abi berusaha mengingat, memorinya tidak dapat menemukan nama Indy.
"Terserahlah, A, aku capek."
"Re," panggil Abi lebih serius. "Aku beneran nggak tau kalau dia ngirimin pesan kayak gitu."
"A." Renat meraih tangan kanan Abi, menggenggam tangan itu dengan kekuatannya yang tidak seberapa. "Aku nggak mau dia gangguin kita lagi."
"Iya, aku ngerti---"
"Kamu sama sekali nggak ngerti, A." Mata Renat memanas memikirkan pertemuan terakhirnya dengan Moza di cafe hari itu. Bohong kalau dirinya sama sekali tidak memikirkan perkataan Moza. Tidak normal kalau Renat tidak cemburu pada fakta bahwa Moza adalah cinta pertama Abi. Membayangkan ucapan wanita lain perihal bagaimana bahagianya mereka terhadap Abi, Renat pikir sudah sepantasnya kalau ia tidak suka. Selama ini, Renat berusaha menahan diri ketika wanita lain tidak segan mengungkapkan perasaannya terhadap Abi. Lama-lama, tentu ia sampai pada tahap dimana lelah sudah menjemput. Mata Renat menangkap raut wajah Abi yang masih serius, "Kalau kayak gini, mendingan kita pindah aja."
"Pindah gimana maksud kamu?"
"Feelingku nggak enak, A," ucap Renat sembari mengawaskan rambut dari sekitaran wajahnya. "Aku takut dia bakal ngelakuin hal yang lebih parah."
"Contohnya?"
"Ngambil kamu dari aku." Jawaban Renat mau tidak mau membuat Abi tidak percaya. Bertahun-tahun memiliki hubungan bersama, dan sekarang Renat terdengar seperti sedang meragukan kesetiaan Abi.
"Re, kayaknya kamu udah kejauhan," kata Abi mencoba menenangkan Renat. Tangannya menggenggam jemari Renat dengan tatapan serius yang tidak pernah surut.
"Tapi aku berani ngomong kayak gini karna mantan kamu itu yang ngomong langsung di depan aku. Kamu pikir nggak sebel dengerin perempuan lain ngomong kalau mereka pernah pacaran sama kamu? Udah lama banget loh aku nahan ini sendirian. Aku emang penasaran sama masa lalu kamu, tapi kalau cuma buat dengerin pengakuan konyol kayak gitu, aku lebih milih buat nggak tau sama sekali."
Kernyitan pada dahi Abi terbit, mulai mencerna kalimat yang diucapkan Renat sebelum akhirnya bersuara. "Kamu, pernah ketemu dia?"
"Bareng Shalum waktu itu," kata Renat langsung. "Dia ngaku kalau kalian pernah pacaran."
"Terus apalagi?"
"Dia nanya perasaan kamu udah sepenuhnya buat aku atau masih setengah-setengah."
Sakit jiwa! Dua kata itu berhasil mendeskripsikan bagaimana Moza di mata Abi sekarang. Bahkan pria itu baru tahu bahwa Renat pernah berinteraksi langsung dengan Moza tanpa sepengetahuan Abi. Jika Abi tidak salah ingat, hari dimana Renat bertemu dengan Moza, wanita itu mengatakan hendak ke salon bersama Shalum. Abi mengizinkan saja sebab dirinya percaya kalau Renat pasti akan menuju salon seperti biasa, bertepatan sekali hari itu memang jadwal perawatan Renat. Kalau sudah tentang perawatan, Abi angkat tangan dan memilih berdiam diri di rumah daripada mati kebosanan menunggu masker di wajah Renat mengering.
Namun ternyata, semua yang Abi pikirkan salah. Dia bahkan tidak cukup siap mendengar pengakuan Renat yang tadi. Wanita yang Renat temui bukan Haruka, melainkan Moza yang Abi sadari memiliki tingkat berbahaya tinggi. Wanita seperti Moza adalah seorang yang nekat dan Abi tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya itu.
Paha Abi dipukul cukup keras, membuatnya tersadar dan kembali menatap Renat penuh rasa bersalah. "Re, aku mohon banget sama kamu, jangan pernah ketemu Moza lagi."
Renat menggigit bibir bagian dalam, jemarinya kini bermain di atas paha Abi. "Terus, kita pindah?"
Gelengan milik Abi yang terbit sukses menghancurkan seluruh harapan yang baru Renat coba bangun. Seharusnya wanita itu sadar bahwa perpindahan bukanlah sesuatu yang mudah untuk diterima begitu saja. Sama halnya ketika Renat harus pindah ke Jakarta, rasanya berat, untung saja Renat masih kuat. Tetapi Abi, pria itu bisa saja menangis untuk satu bulan pertama apabila mereka memilih tinggal di Seoul.
"Maafin aku, ya," kata Abi mengusap dagu Renat dengan ibu jarinya. Tatapan pria itu penuh sayang, tahu bahwa semua ini memang kesalahannya. "Aku harusnya bisa jagain kamu dari Moza. Kalau buat pindah, aku beneran nggak bisa. Kerjaanku di sini, Re. Aku pengen kita bangun semuanya pelan-pelan dari bawah dulu di Jakarta. Waktu nanti kamu sama aku udah cukup kuat, mungkin kita bisa pindah. Kemanapun kamu mau."
Renat mengangguk, "Iya aku ngerti. Aku cuma takut Moza makin berlebihan ke kamu, A. Wajar dong aku marah kalau dia kayak gitu."
"Aku juga seneng kalau kamu cemburu," tawa Abi terdengar, membuat Renat jadi bereaksi dengan mencebik sebal. Dia sedang serius, dan Abi bisa-bisanya bercanda. "Tapi, Re---"
"Apa?"
"Aku sama Moza nggak pernah pacaran."
Mata Renat tertutup, kepalanya dengan cepat menginteruksi diri untuk tetap tenang. Lagi-lagi, Renat diajak untuk membahas perihal masa lalu Abi yang tidak begitu ia sukai. Masalah permantanan. "Aku nggak mau denger." Renat merengek sembari meletakkan kedua tangan di telinga.
"Aku serius, Re, kalau kamu liat langsung dulu, kamu pasti ketawain aku habis-habisan."
Renat mengerjap, "Maksudnya?"
"Aku ditolak sama Moza."
"IH! UDAH AH NGGAK MAU DENGER LAGI!" Renat mengamuk di tempatnya, benar-benar berdiri dan Abi dengan cepat juga menyusul tegak. Digapainya tangan Renat, mencoba menyamakan langkah wanita itu menuju tempat tidur dimana koper terletak.
"Aku serius, Re," ujar Abi merasa diabaikan. Dia sendiri juga bingung kenapa tiba-tiba ingin menceritakan hal tersebut. "Aku mau cerita, dengerin ya?"
"Nggak mau," tolak Renat dengan wajah yang tampak imut di mata Abi.
"Sekali doang, Re, ceritanya."
"Nggak mau denger, A," keluh Renat makin frustrasi.
"Jadi waktu SMP, aku emang sering belain temen-temen perempuan yang digangguin sama laki-laki. Pokoknya waktu SMP hobiku cuma satu, berantem. Terus---"
"Waktu SMA juga hobi kamu cuma satu, berantem. Eh bukan, hobi kamu dua."
Abi menatap Renat bingung, kemudian diposisikannya diri tepat di sebelah koper dan mendongak untuk melihat Renat yang sedang berdiri di depan koper, tengah menata kembali isinya. "Emang satu lagi apa?"
"Nyakitin perempuan yang namanya Renata."
"Sekarangkan udah taubat. Udah dijadiin istri pula Renata-nya."
Sepasang mata milik Abi yang tengah memandangi Renat sukses membuat wanita itu malu. Senyumnya tertahan, walau pipi Renat sama sekali tidak bisa berbohong. Rona merah itu terlalu jelas untuk dipungkiri. "Udah dong, mendingan kamu siniin baju yang mau dibawa."
"Oh iya terus," kata Abi baru ingat bahwa ceritanya masih menggantung. "Raskal, dia yang paling sering gangguin perempuan di sekolah apalagi Moza. Aku juga bingung kenapa Moza bisa selemah itu sampai-sampai cara ngelawan balik aja dia nggak tau. Makanya kalau Raskal udah gangguin Moza, aku bener-bener nggak bisa diem. Akhirnya, lama kelamaan, aku pikir aku suka sama dia."
"Dia? Raskal?"
"Moza," jawab Abi jutek tiba-tiba. "Masalahnya, kenapa Raskal bisa tau aku suka Moza, itu yang bikin aku bingung. Dia sampai nekat macarin Moza duluan supaya aku emosi. Hujan-hujan, aku beneran dateng ke rumah Moza buat minta jawaban kalau kabar dia pacaran sama Raskal bener apa bohong."
"Songong banget hujan-hujanan," ejek Renat tidak melihat mata Abi. Dia sebal mendengar cerita Abi. Telinganya seratus persen panas.
"Iya emang songong," kata Abi santai dan kembali melanjutkan dongengnya. "Sampai di rumah Moza, aku tanya, bener nggak dia pacaran. Dia jawab iya, terus aku bilang, kalau dia salah karna ada di pihak Raskal."
"Untung aja ditolak kamu," celoteh Renat pada dirinya sendiri sambil berbisik, sayangnya Abi masih dengar.
"Kalau dipikir sekarang emang untung. Tapi kalau posisinya masih dulu, ya jujur aku emosi. Aku bela-belain dia selama ini dari Raskal, tapi ternyata lebih mudah buat dia belain Raskal kebanding aku." Abi menghela napas panjang, menatap Renat yang tengah malas menatap balik padanya. Sampai akhirnya ucapan Abi membuat Renat menoleh dengan tatapan penasaran. "Kamu tau, Re, aku nggak bohong kalau setelah hari dimana aku ditolak, aku bener-bener anggap Moza nggak ada lagi. Mau dia digangguin, diapain, aku pikir tanggung jawabku nggak buat dia lagi. Kalau dulu aku bisa secepat itu bilang lupa sama dia, gimana sekarang menurut kamu? Bertahun-tahun jalanin hubungan sama kamu, udah diuji beneran buat setia. Dan sekarang kebayar, aku bisa dapetin kamu dengan cara sah di mata Tuhan. Jadi hapusin kemungkinan-kemungkinan negatif dari kepala kamu, karna apapun yang terjadi, Re, cuma kamu yang bakalan jadi istri aku sekarang di dunia dan semoga juga di akhirat."
Mata Renat ternyata sudah merah. Wanita pencengeng itu benar-benar tidak menyangka bahwa ending dari cerita Abi malah seperti itu. "Aa." Renat mendekat pada Abi, tanpa pikir langsung memeluk Abi yang tengah duduk. Abi tertawa ringan, menyambut tubuh Renat dengan tidak kalah bahagia. Diusapnya punggung wanita itu penuh sayang, sesekali menepuknya dengan ringan.
"SMS yang tadi jangan dipikirin, ya," ucap Abi dan Renat mengangguk berusaha setuju. "Jangan takut, ada aku."
"Iya." Renat mengangguk, masih tidak mau melepaskan pelukannya. Alih-alih memberi Abi ruang untuk bernapas, Renat malah kian mempererat pelukan sedang seluruh tubuhnya sudah berpangku di atas paha Abi. Kaki mulusnya tampak melingkar di sekitar pinggang Abi.
"Nggak lanjut siap-siap lagi?"
"Nanti aja, ngantuk."
Abi tidak punya pilihan lain. Tampaknya dia harus menerima bahwa sekarang Renat akan terus menempel setelah tadi memasang tembok tinggi-tinggi. Beginilah Renat, dan Abi pikir itulah yang membuatnya nyaman pada wanita itu.
♦ r e t u r n ♦