34 [c]. Honeymoon

2718 Kata
Maldives, memang selalu identik sebagai tempat berlibur bagi pasangan yang ingin menghabiskan waktu berdua, dan kesanalah Abi akan membawa Renat. Pria itu sebenarnya tahu banyak mengenai tempat-tempat menakjubkan selain Maldives. Hanya saja, pergi terlalu jauh di saat seperti sekarang Abi pikir juga bukan ide yang bagus. Sebelum Aldric membelikan tiket pun, pria yang sukses menjadi mertua Renat itu pun sempat bertanya dan memberikan Abi beberapa pilihan. Maldives, Jepang, atau Seoul. Pilihan Abi jatuh tepat pada Maldives. Toh untuk apa mereka melakukan honeymoon jika pada akhirnya juga sibuk menatap kesibukan kota metropolitan. Pria itu tengah mengikat tali sepatu di kaki kanan, membungkuk dan menguatkan simpul tali. Renat yang ia tunggu sejak lima belas menit lalu tidak kunjung keluar dari kamar. Abi meraih sepatu bagian kiri, kemudian memasangnya dengan mudah sambil sesekali menatap ke arah pintu kamar. Lama sekali istrinya itu. Ketika Abi keluar dari kamar tadi, ia ingat kalau Renat sedang berdiri di depan cermin. Wanita itu tidak biasanya lama dalam bermake-up, toh Renat sendiri bisa dibilang jago untuk melakukan make-up singkat di dalam mobil yang bergerak. Abi berdiri, penasaran sebenarnya hal apa yang tengah menghambat Renat untuk keluar lebih cepat. Langkahnya bergerak mendekati pintu kamar yang terbuka sedikit, kemudian melongokkan kepala untuk sekedar mengintip. Wajah Abi sukses berubah ekspresi ketika didapatinya Renat tengah panik di depan koper yang terbuka. Ya Tuhan, padahal semalam suntuk pekerjaan wanita itu hanya berurusan dengan koper dan sekarang pun belum kunjung selesai. "Kamu kenapa?" tanya Abi mendekati Renat, matanya melirik pada isi koper yang dirasa-rasa sudah pas. Seharusnya tidak ada hal yang dikhawatirkan oleh Renat. "A," keluh Renat dengan wajah lesu, tangannya lagi-lagi mengecek isi tas pribadi dan yakin sekali bahwa sesuatu penting sudah hilang. "Iya, kenapa?" Tangan Abi mencoba meraih tas pribadi Renat dan mengintip isinya. Ada ponsel disana, dompet, power bank, kipas kecil, parfum, dan beberapa hal kecil lainnya yang termasuk penting bagi wanita itu. Abi merasa tidak ada yang kurang, semuanya tampak sudah pas. "Ada yang hilang?" Anggukan Renat muncul, tangannya bergerak menuju dahi dan memijit pelan. "Tas skincare aku nggak tau kemana, A." Renat sukses merengek dengan mata memerah. Skincare baginya memang seperti harta karun paling berharga. Jika diberi dua pilihan, make up atau skincare, Renat akan berteriak kencang untuk memilih skincare. Menurutnya, apabila skincare bagus, maka semuanya akan berjalan mulus ke depannya. Bahkan ia tidak akan membutuhkan make up karena skincare akan sangat menolongnya. "Aku aja beneran nggak inget terakhir ngeletakin tas skincarenya dimana, A, gimana dong?" "Di kamar mandi?" "Nggak ada." "Di kamar mandi luar?" "Aku nggak pernah mandi di sana, A." "Di mobil?" "Nggak tau." Abi sukses geleng kepala, bingung sendiri terlebih dengan Renat yang tampaknya kian tersurut. Kepala Abi berusaha mengingat kemana mereka di hari kemarin. Sarapan di warung bubur ayam, kemudian menuju rumah Gita untuk menjemput beberapa perlengkapan Renat yang masih tertinggal. "Jangan-jangan, ketinggal di rumah mama?" Gerakan tangan Renat yang sedang menutup kembali ritsleting koper terhenti. Rengekannya makin kencang saja karena baru mengingat kebodohan yang ia lakukan. Tas kecil transparan yang berisikan harta karun tersebut memang tertinggal di dalam kamarnya di rumah sana, lebih tepatnya di kamar mandi. "A," panggil Renat pelan takut-takut, wajahnya berubah seperti anak kecil yang tidak kebagian jatah permen. Abi yang sudah tahu kenapa ia dipanggil dengan raut wajah mendamba seperti itu langsung peka saja. "Iya ayo." "Masih sempetkan, A, tapinya?" "Masih, Neng Skincare, masih," sahut Abi kemudian tertawa. Wajah Renat yang tidak terima akan sapaan Abi untuk dirinya dibalas dengan cubitan kecil pada pinggang pria itu. Abi berjongkok, merapikan kembali koper khusus milik Renat. Kemudian ditegakkannya koper tersebut sebelum tangannya yang lain meraih tangan Renat, mengajak wanita itu juga keluar dari kamar atau mereka akan semakin membuang waktu. "Nggak ada yang tinggal lagi, kan? Habis dari rumah Mama biar langsung ke bandara." "Iya nggak ada," jawab Renat sudah yakin. Keluar dari kamar, Renat berlari menuju sofa untuk mengambil animal hat karakter beruang putih miliknya. Abi yang melihat Renat memakainya hanya mampu geleng kepala. Tidak heran dengan sikap kekanak-kanakan Renat yang masih menempel di dirinya. Renat tersenyum lucu ke arah Abi, membuat pria itu jadi mencubit pipi Renat karena terlalu gemas. Abi sadar, bahwa sosok wanita yang ia nikahi bukanlah sosok yang akan bersikap dewasa secara sepenuhnya. Namun hal tersebut yang sangat Abi syukuri. Keceriaan Renat bersama hal-hal sederhana yang ia miliki sudah mampu membuat senyumnya terbit. Tidak perlu suatu yang mahal, tapi sederhana dan bermakna. "Nyampe di Changi Airport nggak ada jajan-jajan ya, Re?" Abi bersuara ketika mereka baru saja keluar dari apartemen. Renat yang berdiri di sebelah kopernya langsung saja mencibir, tidak setuju dengan ucapan Abi. "Nggak mau," celetuk Renat sesuka hati. Kemudian menarik kopernya untuk berjalan lebih dulu. Jauh di dalam hatinya, ada perasaan gugup yang sulit sekali untuk Renat sembunyikan jika Abi pandai membaca ekspresinya. Renat sudah bersih sejak semalam, namun hatinya malah memerintahkan untuk diam saja dan jangan memberitahu Abi. Bagi Renat, tidur dari malam hingga pagi, menatap wajah Abi sebelum tidur dan melihat lagi wajah Abi ketika bangun, adalah hal yang sangat baru baginya. Dipeluk Abi ketika tidur saja rasanya sudah panas dingin, bagaimana yang lain. Renat bergidik, mempercepat langkah kakinya. "Re, tungguin dulu, kamu nanti jatuh kalau jalannya gitu." Abi berbicara sedikit keras agar Renat dapat mendengar suaranya. Pria itu masih sibuk dengan ponsel dan mengetik sesuatu. "Kamu balesin siapa, sih?" tanya Renat dari tempatnya berdiri. "Bara," sahut Abi menyebut nama sekretarisnya sembari mematikan ponsel. Urusannya baru saja selesai. Abi sangat tidak mau apabila nanti kegiatannya malah terinterupsi selama di Maldives nanti. Akan lebih baik apabila meninggalkan pesan teramat jelas kepada Bara agar pria itu juga mudah mengerjakan segala pekerjaan. Sehingga ketika Abi pulang, semuanya tetap aman terkendali dan Abi hanya tinggal melanjutkan apa yang tertinggal. "Serius banget balesin Bara-nya," ujar Renat dengan mata memicing, mengisyaratkan bahwa ia tengah tidak percaya dengan Abi. "A, ayo dong cepetan jalannya. Mau cepet sampai di rumah mama nih." "Iya-iya." Abi menurut saja, mempercepat langkah sambil menarik koper miliknya sendiri. "Besok jangan sampai tinggal lagi. Mending sekarang tinggalnya di kamar mandi rumah sana, kalau besok ketinggalan di kamar mandi resort, gimana?" "Tinggal balik, A, gampang," jawab Renat sambil menjetikkan jari. Ia lantas tertawa akan perkataan konyol tersebut. Balik kembali menuju Maldives memang gampang, membayar biaya selama di sana yang tidak gampang, apalagi dengan resort yang mereka pilih---lebih tepatnya Abi yang memilih. Bayangkan saja, biaya tiga sampai empat hari di Maldives yang Abi keluarkan sama saja rasanya dengan biasa hidup sebulan bahkan lebih ketika Renat di Seoul. Memikirkan hal tersebut hanya membuat kepala Renat kembali berdenyut. Akhir-akhir ini Renat memang sensitif dengan uang yang rela Abi keluarkan dengan alasan 'yang penting Renat nyaman'. "Aku mau-mau aja balik," kata Abi tiba-tiba merangkul bahu Renat. "Kalau bisa di sana aja terus nggak usah balik ke sini. Mau?" Benar saja, hal pertama yang bereaksi berlebihan adalah jantung Renat. Sedang kepalanya kembali berkelana jauh dikarenakan Abi adalah objek fantasinya sekarang. Astaga! Renat pikir dia harus segera membersihkan otak kotornya itu. Renat baru akan menjawab ucapan Abi ketika dirasakannya kecupan pada pipi. Sekujur tubuhnya langsung saja panas dingin. Tanpa mau kalah, Renat menoleh dan melemparkan tatapan tidak terima pada Abi. "Nggak boleh kayak gitu, A." Renat bersuara di atas kegugupannya. Abi diam saja, tidak menanggapi lebih jauh dan mengajak Renat untuk langsung masuk ke dalam lift. Perjalanan mereka akan panjang dan Abi tidak mau Renat terlalu capek. Bisa-bisa wanita itu sakit karena kecapean sebab selalu ia ganggu. Abi memperhatikan Renat yang sedang diam, dalam hati begitu bersyukur akan kebahagiaan yang membuncah. Dia tidak pernah membayangkan akan menghabiskan waktu beberapa hari bersama Renat sebagai pasangan suami-istri yang sudah sah. "Siap-siap ya, Re," ujar Abi kecil dan Renat jadi melirik penuh tanya. "Siap-siap apa?" "Siap-siap aja, soalnya Pulau Medhufaru bakal didatengin sama perempuan yang cantiknya nggak kalah sama pemandangan di sana." Renat memejamkan mata, cukup bersabar dengan suaminya yang memang suka memberi gombalan basi akhir-akhir ini. "Iya, suka-suka kamu aja." ♦ r e t u r n ♦ Selamat datang di Noonu Atoll! Surga di sana seakan menyorakkan kalimat tersebut pada Renat dan Abi. Setelah melewati perjalanan melelahkan dari Jakarta, kemudian transit di Bandara Changi dan Abi harus tahan dengan keinginan Renat yang besar untuk berbelanja. Belum lagi keaktifan wanita itu yang benar-benar membuat Abi kewalahan. Layaknya membawa anak SD, begitulah berjalan bersama Renat. Ketika penerbangan menuju Male, wanita itu baru tidur nyenyak sekali. Menggunakan dua setengah jam untuk tidur nyenyak dan mengumpulkan kembali energinya. Sekarang di sinilah mereka. Setelah menempuh 40 menit perjalanan menggunakan pesawat amfibi dan 1 jam dengan speedboat, akhirnya apa yang menjadi tujuan dapat dicapai. Tepat di atas Pulau Medhufaru, diantar menggunakan kendaraan persis mobil golf melewat jembatan yang membentang di atas laguna. Air di sekitar layaknya kristal, benar-benar jernih dengan hiasan bawah laut menakjubkan. Ditambah cuaca yang cerah sehingga cahaya matahari membuat perairan tampak begitu berkilau. Sepanjang mata memandang, hanya ada air biru dengan latar belakang langit biru. Renat menghela napas beberapa kali, masih belum berhenti mengucapkan pujiannya pada Pulau Medhufaru. Ciptaan Tuhan memang tidak pernah berakhir sia-sia. Rasanya Renat akan sangat menyesal apabila ia tetap bersikeras menolak tawaran Abi untuk tinggal di Soneva Jani resort. Yang paling membuat Renat semangat, dengan adanya seluncuran dari vila air dimana mereka akan langsung meluncur ke dalam laguna. Tidak perlu menunggu nanti, sekarang saja Renat begitu ingin melompat ke dalam air. "A, bagus banget!" Renat memeluk erat lengan Abi. Walau pandangannya tidak sekalipun terlepas dari indahnya sekitar. "Suka?" tanya Abi singkat. Kalau dipikir-pikir, hal tersebut memanglah pertanyaan bodoh yang pernah disuarakan oleh makhluk seperti Abi. "Sukalah, A! Kamu mah pertanyaannya suka gitu." "Iya, kali aja kamu masih mikirin Seoul." Renat menggeleng cepat, dia mengaku menyesal sudah kekeh untuk menjadikan Seoul sebagai destinasi bulan madu mereka. Jika Abi memang mengiyakan, Renat tahu ia tidak akan pernah merasa sebahagia ini bersama alam. "Enggak, aku mau disini aja! Sampai nanti di vila aku mau langsung nyebur, ah!" Abi melotot, benar-benar terkesan dengan tingkah Renat. "Ganti dulu baju kamu." Abi mengingatkan, walau Renat memang sudah memakai pakaian dress tipis di balik jaket denimnya. Dress warna putih dengan tali spaghetti yang jatuh cantik hingga betis. "Udah, kita nyebur langsung gini aja, A. Aku cuma buka jaket aja, kamu juga apanya yang mau diganti? Celana udah selutut, tinggal buka baju sama sepatu." Abi mengerjap, sadar bahwa Renat sepertinya sudah tidak setegang semalam. Pria itu tahu bahwa Renat memang tengah tegang terhadap sesuatu dan Abi lah yang merasa tidak enak. Istrinya tersebut seperti terbebani akan sebuah hal yang tidak mungkin ia sebutkan secara terang-terangan. Alih-alih bersikap malu-malu, Renat malah terlihat santai. Abi tidak sabar dengan reaksi Renat ketika ia kembali membuka baju. Padahal semalam, wanita yang sedang membuka animal hat di kepalanya itu sukses gugup ketika Abi topless di depannya. Kalau Renat tidak berteriak dan protes, Abi pasti tetap tertidur topless. Seseorang yang mengantarkan mereka mulai memberhentikan kendaraan. Memberitahu bahwa di vila di sebelah mereka merupakan tempat Abi dan Renat akan tinggal. Renat berjalan lebih dulu, melupakan sang suami di belakangnya. Seorang pelayan vila membukakan pintu yang bertujuan menjadi pagar---tersenyum manis pada Renat. "Welcome to Soneva Jani Resort," ucapnya ramah dengan tangan menyambut di depan d**a. "Thankyou!" balas Renat tidak kalah ramah. Kepalanya menoleh, hendak melihat Abi yang kini sibuk dengan tali kamera. "A, ayo! Mau berenang!" Ketika Renat diikuti Abi melewati pintu utama vila, keduanya sukses takjub. Mulut Renat yang terbuka sukses ditutup oleh Abi, membuat wanita itu sadar untuk segera menutup mulut. Bukannya menuju kamar utama layaknya Abi, Renat malah pergi mengecek kamar mandi. Matanya melotot sempurna. Nilai estetika tempat ini patut diacungi seratus jempol. Bahkan ketika mandi pun, Renat tetap bisa melihat jauh ke luar sebab dinding vila memang didominasi oleh kaca sebagai jendela serta pintu. "Re," panggil Abi dan Renat hanya bergumam karena terlalu menikmati pemandangan. "Re, katanya mau berenang." Renat tersadar, langsung menoleh dan sukses menahan napas. Pemandangan indah milik pulau ini seakan terganti dengan pemandangan lain tepat di hadapannya. Abi yang tengah topless dan hanya memakai celana santai sepanjang lutut warna hitam. Kaki panjang milik pria itu sukses berterbangan di atas kepala Renat. "I-iya." Renat mengerjap, merutuki kegugupannya yang semakin jelas. Abi yang tenang tentu saja tahu bahwa Renat gugup, namun ia tetap mencoba agar situasi tetap stabil dan Renat merasa nyaman. "Kamu mau ganti baju?" "Itu, boleh nggak berenangnya pakai jaket aja?" "Hah?" Abi memasang wajah bodoh, ingin sekali tertawa namun rasanya kasihan. Alih-alih membiarkan Renat di sini dan berganti baju, Abi malah berjalan mendekat. Senyum tipis suami Renat itu terbit. Dia jelas tahu ketakutan Renat dan sudah sepatutnya apabila Abi membimbing wanita itu. "Nggak usah takut gitu, Re." Abi berbicara dengan tenang, berharap Renat bisa tenang juga. "A-aku---" Belum selesai ucapan Renat, Abi sudah terlanjur mendekat dan menyatukan bibir mereka. Gerakannya lembut, namun tetap saja terlalu tiba-tiba untuk Renat. Untungnya, Renat dapat mengikuti permainan Abi setelah diam selama sepuluh detik karena terkejut. Satu tangan Abi melingkar di sekitar pinggang Renat, sementara tangan yang lain bergerak ke arah lain. Dengan gerakan pelan juga, Abi mulai membantu Renat membuka jaket denim milik wanita itu. Renat yang terlalu menikmati permainan Abi sepertinya tidak sadar bahwa jaket denim yang ia pakai sudah tergeletak tidak berdaya di lantai kamar mandi. Ketika Abi menyudahi kegiatan mereka, Renat hanya bisa melongo; pertama karena senyum Abi, kedua sebab lengan putihnya yang kini terkekspos. "Aku nggak akan pernah nyakitin kamu, Re," kata Abi dengan keyakinannya. "Dari semalem aku tau kalau kamu takut. Aku? Kalau kamu minta aku jujur, iya, aku mau kamu. Tapi enggak kalau kamu nggak siap. Aku cuma mau nikmatin libur bareng kamu berdua, nggak ada yang gangguin kita, dan yang paling penting, kamu selalu dapetin hak kamu buat kenyamanan." Saliva Renat tertahan, sementara perasaan bersalah tengah datang menggebu-gebu. "A, maaf." Abi tentu saja menggeleng, senyum pria itu terlihat sangat manis. "Re, nggak semua honeymoon harus dihabisin di dalam kamar terus, di atas tempat tidur terus." Wajah Renat sukses memerah sebab perkataan Abi yang terlalu terbuka. Namun sekali lagi Renat berpikir, dia memang tidak seharusnya meminta maaf dan membuat Abi merasa terbebani dengan kata tersebut. "Jangan minta maaf kayak gitu." Renat meringis, kemudian sedikit menjauh dari Abi. "Kalau gitu aku ganti baju dulu, ya. Kamu duluan aja." Renat bergegas, bahkan lupa dengan jaket denimnya yang harus dipungut oleh Abi. Di dalam kamar yang juga menghadap ke perairan biru, Renat melepas dressnya sambil menikmati pemandangan. Wanita itu dengan cepat mengganti dress dengan pakaian Renang warna hitam pula. Lalu mengambil bathrobe dan membungkus tubuhnya. Renat berjalan menuju beranda vila, dimana terdapat kursi berjemur yang salah satunya sudah diduduki oleh Abi. Pria itu terlihat memandang serius ke depan, menikmati pemandangan sepertinya. Renat berjalan pelan, diam-diam berdiri di balik badan Abi sebelum memeluk leher Abi dari belakang. "Kok nggak nyebur?" tanya Renat pada Abi yang kini tengah menenangkan diri dari keterkejutan. "Nungguin kamu," sahut Abi sudah tenang. "Gimana? Katanya tadi mau nyebur." "Iya mau," kata Renat sambil menganggukkan kepala. "Tapi kamu dulu yang nyebur. Terus nyelam sepuluh detik aja." Abi menahan diri untuk tidak menghela napas, paham betul bahwa Renat masih sedang malu. Tapi setidaknya, Abi mengapresiasi keberanian Renat untuk memeluknya dari belakang. Abi berdiri, menoleh pada Renat sebelum menyetujui keinginan istrinya itu. "Sepuluh detik, ya." "Iya." Renat memperhatikan gerakan Abi yang masuk ke dalam kolam renang. Bahkan menyelam dengan posisi membelakangi Renat. Ketika itulah, Renat langsung melepas bathrobe dan berjalan menuju kolam renang. Gerakannya tenang, tapi sudah cukup memberitahu Abi bahwa Renat sudah masuk. Sama seperti tadi, tanpa diduga, Renat kembali memeluk punggung belakang Abi. Benar-benar menghapus jarak diantara mereka. Abi diam-diam tersenyum gemas, suka dengan cara Renat. Abi balik badan tanpa diminta, matanya langsung bertemu dengan manik milik Renat. Sesaat, berbagi cerita dalam diam sampai Abi memecah keheningan. "Cantik," puji Abi dan Renat sukses geleng kepala sambil tertawa. "Udah dong, A, capek akunya senyum-senyum." "Kamu beneran cantik, aku nggak bohong." "Ya jangan sampai bohong dong," rungut Renat jadi sebal juga. "Udah sana, aku mau berenang." Renat mendorong Abi agar menjauh, dan menyiram pria itu tanpa hati. "Huft, mau tinggal di sini aja boleh nggak?" "Boleh, kalau bareng aku boleh." Abi menjawab cepat, dan membuat Renat mencibir lagi. "Re, abis berenang kita kemana?" "Makan?" "Yah," ungkap Abi dengan nada kecewa. "Ya terus kemana?" "Kirain kamu maunya di kamar aja seharian." "Ih!" Renat melotot, tatapannya garang. "Kamu jangan godain terus bisa nggak sih, A?" "Iya, Neng, bisa. Nggak godain lagi." Renat lantas bergerak menjauh, mulai berenang dengan serius sementara Abi masih mencoba meredakan tawanya. ♦ r e t u r n ♦
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN