35. Bad Feeling

3585 Kata
Empat hari berlalu sejak honeymoon berkelas di Maldives. Pagi ini, Renat dan Abi tampak sibuk kembali dengan kegiatan mereka. Seperti biasa, Renat yang sibuk di meja makan tengah mempersiapkan sarapan. Kali ini sedikit lebih baik, tidak hanya sekedar omelet, melainkan nasi goreng seafood yang resepnya Renat minta langsung dari sang mama semalam. Renat pun tidak menyangka sebetulnya, kalau sang mama akan datang menjemput di bandara bersama Nadine sambil membawakan kantung pelastik berisi bahan masakan. Ketika Renat tanya untuk apa repot-repot, kedua wanita yang masih cantik itu menjawab kalau mereka memang sedang menghabiskan waktu dengan berbelanja bersama. Dan Gita langsung saja teringat Renat dan kulkasnya yang pasti belum terisi sama sekali oleh bahan makanan. Renat mendongak, tersadar dari lamunannya ketika mendengar pintu kamar terbuka. Dilihatnya Abi yang sudah siap dengan kemeja merah maroon dan langsung mendekat. Renat sigap, tangannya mengambil dasi bercorak garis garis dari tangan Abi. Melihat penampilan Renat sendiri yang sudah oke dengan outfit kerjanya, Abi hanya dapat menahan diri untuk tidak berkomentar sekarang. Pria itu sadar bahwa ia harus mencari waktu yang pas untuk berdiskusi serius dengan Renat tanpa harus menyakiti perasaannya. Abi sudah berpengalaman, kalau Renat bukanlah wanita yang suka ketika hal yang sudah menjadi bagian dari dirinya direcoki. "Pagi," sapa Abi memecah hening ketika Renat mulai berjinjit dan mengalungkan dasi di balik kerah kemeja Abi. Renat tersenyum, "Pagi," sapanya balik dengan wajah menggemaskan. Renat sangat bersemangat pagi ini entah untuk alasan apa. "Tebak dong aku masak apa buat kamu hari ini." "Apa?" tanya Abi sambil memperhatikan puncak kepala Renat. Tangan pria itu mulai bergerak, menyentuh objek yang sejak tadi menjadi perhatiannya. "A, nanti berantakan!" Renat protes apalagi ketika Abi tertawa. "Iya-iya, jadi masak apa?" "Nasi goreng seafood, enak banget kamu harus coba." Renat segera menyelesaikan simpul dasi Abi. Kemudian menarik tangan suaminya itu untuk berjalan menuju meja makan. Abi menarik kursi makan, kemudian duduk di sana dengan tenang dan membiarkan Renat mengisi piring untuknya. "Tau nggak, A?" Abi menerima piring dari Renat dengan ekspresi penasaran. Kemungkinannya dua, penasaran dengan rasa nasi goreng di hadapannya, atau dengan lanjutan ucapan Renat. "Hari ini jus apa, Re?" "Tunggu dulu, A, kamu emangnya nggak kepo aku bakalan bilang apa?" "Iya, apa?" Renat berjalan dulu ke meja konter di dapur, mengambil dua gelas jus wortel dicampur apel hijau. Diletakkannya satu gelas dekat dengan Abi sedang yang satunya di minum sendiri. Renat diam dulu, memperhatikan Abi yang sedang mengunyah suapan pertamanya. "Enak!" puji Abi dengan senyum takjub. "Kok bisa?" "Kok gitu ngomongnya?" kata Renat sebal, matanya memicing dan berpura-pura marah. "Keren nggak istri kamu?" "Kerenlah," sahut Abi. "Jadi tadi mau bilang apa?" Renat menghela napas, wajahnya tampak sedikit redup dari sebelumnya. "Kamu tahukan kalau Mama nitipin rumah ke kita?" Abi mengangguk, tetapi tidak bersuara sebab ingin Renat terus melanjutkan. "Mama bakalan balik lagi ke Seoul minggu depan, A. Jadi ya, Mama pengennya kita tinggal di rumah aja karna kan sayang nggak ditempatin. Mama bilang itu hadiah nikahan." Abi masih diam, sadar bahwa topik yang Renat angkat terlalu berat untuk dibahas sepagi ini. Pindah rumah, sebenarnya bukanlah hal buruk dan Abi pikir tidak akan menjadi masalah. Hanya saja, tentu butuh waktu untuk berpindah lagi padahal mereka baru saja memilih tinggal di apartemen. "A?" panggil Renat sebab untuk satu menit lamanya Abi masih bertahan dalam diam. Bahkan nasi goreng miliknya tidak tersentuh sama sekali karena terlalu fokus memikirkan ucapan Renat. Renat menyentuh tangan Abi, membuat pria berkemeja itu mendongak dan tersadar bahwa ia tengah melamun. "Nggak usah terlalu dipikirin gitu, A. Aku tau kamu lagi mikirin apa. Capek pindahan, padahal masih bisa dihitung tinggal di sini masa udah mau pergi. Mama bilang nggak apa-apa juga kalau emang kamunya mau kita tinggal di sini. Aku ngikutin aja. Tapi ya seenggaknya kamu sama aku harus rajin-rajin cek rumah di sana biar nggak kosong." Abi tersenyum tipis, bersyukur akan pengertian yang diberikan oleh mama mertuanya. Bukannya tidak ingin, belum hilang penatnya berpindahan ke apartemen, dan hal lain yang sama beratnya ternyata tengah menunggu. Abi hanya ingin mengambil waktu untuk beristirahat sebentar sampai nanti ia siap berpindah ke rumah itu. Toh, sebuah bangunan bukan tolak ukur untuk kelancaran rumah tangga. Mau itu hanya sekecil kamar apartemen mereka sekarang atau sebuah gubuk sederhana, yang terpenting ada kehangatan di dalamnya. Abi sudah menemukannya di sini, begitupula dengan Renat. Abi pikir, kamar apartemen mereka memang tidak seberapa apabila dibandingkan dengan rumah mewah yang dihadiahkan oleh Gita. Rumah unik dengan design gabungan antara modern dan tradisional Korea. Sementara design interiornya di dalamnya tidak kalah dengan bagian luar. Tapi di luar itu, ada hal yang tidak dimiliki oleh rumah tersebut. Yaitu, pemandangan malam indah milik Jakarta yang bisa mereka dapatkan dari lantai 17 kamar apartemen ini. Setidaknya, hal tersebut dapat menjadi relaksasi tersendiri untuk Abi dan Renat setelah sibuk seharian dengan urusan masing-masing. Sekarang Abi merasakan sentuhan pada bahunya. Dilihatnya Renat tengah tersenyum sembari mengelus rambut Abi lembut. "Dimakan, aku mau siapin kotak bekal dulu buat kamu." "Hah?" Abi sukses melongo. "Siapin apa, Re?" tanya Abi dengan raut polos seakan-akan Renat sedang bercanda dengan kalimatnya. "Kotak bekal buat kamu!" Renat mengulang lagi kata-katanya. Wanita itu tersenyum geli, membayangkan Abi berjalan di sepanjang kantor dengan kotak bekal memenuhi tangannya. Sejak dulu, Renat tahu sekali bahwa Abi begitu anti dengan bekal. Dia lebih mau mengantri lama untuk mendapatkan makanan dibanding membawa kotak bekal. Menurut Abi, hanya anak TK yang membawa benda seperti itu. Dan Abi bukanlah anak TK, melainkan pemuda dewasa yang masih sanggup mengelilingi Jakarta untuk mencari makanan. "Nggak usahlah, Re," kata Abi pelan, takut kalau Renat tersinggung seperti Nadine yang sudah sering sekali. "Kenapa?" tanya Renat, ekspresi wajahnya sedih. "Kamu malu? Kan aku masak buat kamu, A." "Iya, tapikan udah aku makan sekarang. Jadi nggak usah bawa-bawa bekal." "Emangnya apa yang salah sama kotak bekal sih, A?" Renat yang hendak mengambil kotak tiba-tiba berhenti atas ucapan Abi barusan. Rasanya benar-benar sedihkarena secara tidak langsung Abi tengah menolak masakan buatan Renat. "Kan nanti kalau kamu laper bisa dimakan. Dibawa, ya, A?" Abi tampak berpikir-pikir, sebelum menganggukkan kepalanya mau tidak mau. Membuat Renat sedih bukanlah hal yang benar dan sudah seharusnya Abi menerima. Wajah Renat sumringah. Wanita dengan kaus santai hitam berbalut blezer itu buru-buru melakukan tugasnya. Renat mengambil tiga kotak yang tersedia. Kotak pertama ia isi dengan nasi goreng, buah-buahan dan sedikit sayuran di kotak kedua, kemudian roti selai di kotak terakhir. Cukup banyak, sengaja untuk jaga-jaga kalau Abi kelaparan di jalan nanti. Padahal, pria itu sudah hampir menghabiskan satu piring penuh nasi goreng. "Jangan banyak-banyak, Re," kata Abi dan Renat mengiyakan saja dengan cuek. Abi berdiri dari kursinya, mengambil jas yang tergantung dan segera memakainya. Diceknya ponsel untuk terakhir kali sebelum mematikan benda pipih itu dan memasukkannya dalam saku jas bagian dalam. "Ini!" Renat muncul dari dapur dengan wajah semangat. "Yuk, aku bawain sampai mobil." Abi mengernyit, lantas bertanya untuk memastikan. "Kamu nggak naik mobil sendiri, kan?" Renat menggeleng sambil membersihkan meja makan dengan gerakan cepat. Kemudian merapikan diri untuk terakhir kali sebelum meraih tas miliknya. "Kan ada kamu yang anter jemput, A." Renat nyengir, membuat Abi jadi memandanganya dengan sorot puas. Abi sudah takut kalau istrinya itu malah berkeras untuk pergi sendirian ke rumah sakit. "Yaudah, ayo," ajak Abi sambil menggenggam tangan Renat. "Nanti kalau udah pulang langsung hubungin aku." Keduanya lantas berjalan menuju pintu dan bersiap untuk menjalani aktivitas seperti biasanya. Kembali sibuk. ♦ r e t u r n ♦ "Bekalnya jangan lupa dimakan, A!" Renat memperingatkan sebelum keluar dari mobil. Matanya menatap Abi dengan sorot penuh harap. Berharap kalau Abi tidak akan pernah mengecewakannya untuk yang satu ini. Renat mengambil tangan Abi, mencium telapak bagian luar. Abi membalasnya dengan mencium dahi Renat. "Hati-hati, Re," peringat Abi. "Iya, Aa juga, ya." Abi sukses tersenyum mendengar Renat memanggilnya dengan lengkap. Panggilan Abi itu hanya dua huruf, a bertemu a, dibaca aa. Dan orang-orang masih tega memanggilnya dengan satu huruf, termasuk Renat sendiri. Maka dari itu Abi suka ketika mendengar seseorang memanggilnya dengan dua huruf kembar tersebut. Aa. Renat lantas keluar dari mobil. Langkahnya masuk menuju gedung rumah sakit dengan semangat. Geli sendiri memikirkan Abi nanti akan berjalan menuju ruang kerjanya dengan tiga kotak bekal di tangannya. Renat menyapa beberapa orang yang ia kenal, menaiki beberapa anak tangga karena sedang ingin banyak bergerak. "Renata!" Renat menoleh, menemukan Zurixa tengah berjalan ke arahnya. Wanita yang akrab disapa Zuri itu berada dalam satu bagian yang sama dengan Renat. Bisa dibilang sudah menjadi teman dekat Renat dalam dunia pekerjaan maupun dunia luar. Hanya saja, mereka jarang menghabiskan waktu bersama di mall atau berjalan-jalan mengingat Zuri juga sudah menikah bahkan memiliki dua orang anak. Sepasang, yang laki-laki bernama Ion, sedang yang perempuan bernama Oyi. "Cie udah pulang honeymoon! Gimana-gimana? Pasti seru ya honeymoon di tempat mahal." Pipi Renat sukses bersemu lagi. Dia gampang sekali berubah merah apabila perihal honeymoon diungkit. Diberikannya gelengan, tanda menyuruh Zuri agar berhenti. "Nggak usah goda-godaan ya, Ri. Tulang pipiku capek soalnya dibikin senyum terus." "Berarti sukses dong?" Zuri pura-pura terbatuk, dan Renat kian merungut sebal. "Zuri!" teriak Renat dan Zuri tertawa. "Kenapa, sih? Lagian wajar bahas ginian. Apalagi aku udah punya anak dua, Re. Apa yang mau kamu maluin?" "Ya tapi tetep aja, masalah kamar itu rahasia aku sama suami. Orang lain nggak perlu tau." Zuri kian tersenyum geli, "Cie rahasia. Ya intinya cepetan aja kasihin Ion sama Oyi-ku temen, ya. Apalagi si bungsu, pengen banget punya adek lagi." "Kenapa nggak nambah, Ri?" tanya Renat mencoba mengganti topik agar membahas Zuri saja. "Kan biar nggak cuma Ion yang ngerasain jadi kakak, Oyi juga." "Kalau pakai prinsip kayak gitu, Re, yang ada anakku bisa sebelas. Bahagia dong bapaknya bisa bikin tim bola." Gelak tawa kedua wanita itu terpecah. Renat mengingat, kapan ia pernah tertawa sekencang ini bersama seorang teman. Pengecualian untuk Zahwa, tentunya. Terlebih dengan topik anak yang membuat Renat kembali mengingat perihal mimpinya dengan si gadis kecil bulat bak jamur. "Ya gimana? Kan biar Oyi punya adek." Renat berkata lagi di sela tawa mereka. Zuri menepuk bahu Renat pelan, "Iya maksud aku itu anak kamu sama Abi yang bakal jadi adik baru buat Ion sama Oyi. Mereka juga bakalan seneng kok." "Iya-iya terserah kamu, doain aja pokoknya." Renat dan Zuri berbelok setelah tiba di ujung anak tangga, menuju ruang kerja mereka. Ketika masuk, Renat ternyata disambut meriah oleh seluruh rekan kerjanya. Tidak tanggung-tanggung, mereka juga mengalungkan selempang bertuliskan Nyonya Radeva. Beberapa orang lantas maju untuk memberi Renat bunga. Mata Renat tentu saja memanas, belum lama dia di sini dan seluruh rekan kerjanya sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Zuri yang berdiri tidak jauh dari Renat sukses tertawa cekikikan, ternyata wanita itu sengaja menunggu Renat sampai datang untuk dapat mengabari rekan kerja yang lain agar bersiap-siap. "Selamat ya, Re, jadi istri yang baik buat suaminya, semangat jalanin hari-hari sebagai istri." Seorang wanita dengan umur setengah abad maju, mengucapkan kalimat tersebut dan memeluk Renat penuh sayang. Dia kepala office di sini, salah satu panutan Renat dalam bekerja. Renat mengusap matanya dengan jari-jari kanan, "Makasih ya, Mami Je! Temen-temen yang lain juga makasih banget, kado nikahan kalian bikin nangis." "Wih udah dibuka," imbuh seseorang tak kalah semangat. "Gimana, Renata? Suka nggak?" "Pokoknya suka semua! Tapi bingung kok bisa ada sepeda roda tiganya. Ide siapa?!" "Riko! Katanya jaga-jaga kalau nanti udah punya anak." Riko yang disebutkan mau tidak mau nyegir bagai kuda. Jelek sekali! Tapi cukup puas dengan hadiah konyol yang ia berikan pada Renat dan Abi. "Tapikan bener?" "Iya sih, bener, Rik, tapikan belum ada yang mau naikin sepedanya!" Renat geleng-geleng kepala, tidak kuat dengan Riko yang memang terkenal konyol dan aneh di lingkungan kantor. "Kalau belum ada, ya kamu aja yang naikin sama Abi. Boncengan!" Derai tawa memenuhi ruangan, sementara Renat tengah mencibir karena kembali dijadikan bahan olok-olokan. Tapi jika dipikir-pikir, dunia inilah yang membuat Renat sadar bahwa ia tidak sendirian. Ia memiliki teman-teman hebat selain Abi, Zahwa, dan Tae Joon. Bukan karena Renat begitu gila pada pekerjaan sampai-sampai ia tidak mau berhenti, tetapi disebabkan ia begitu merasa dihargai di tempatnya bekerja. Orang-orang yang tidak pernah memandangnya sebelah mata dan selalu tahu untuk menghargai sesama. Renat membutuhkan itu semua. Walau berpindah ke Jakarta awalnya ditolak keras, Renat perlahan sadar bahwa jiwa sosial dalam dirinya semakin tumbuh ketika kembali lagi ke kampung halaman. Menjadi satu dengan yang lain dalam ikatan pertemanan. Satu yang begitu Renat sadari sejak dulu, bahwa pertemanan tidak pernah bisa dibeli dengan apapun. Karena teman-temannya di sini sudah menawarkan ketulusan, maka sudah sepatutnya Renat menawarkan ketulusan pula, bahkan lebih kalau ia mampu. Renat harap, Abi tidak akan pernah memintanya untuk meninggalkan dunianya. Ketika keadaan mulai mereda dan Mami Je sudah memerintahkan mereka untuk kembali bekerja, Zuri buru-buru mendekati Renat yang hendak berjalan ke meja kerjanya. Wanita yang baru saja mengucapkan terimakasih kepada rekan-rekannya itu kembali dihentikan oleh Zuri. Renat melemparkan ekspresi penasaran, tangannya sesekali bergerak untuk menaikkan selempang yang senang turun melalui lengannya. "Kenapa lagi? Anak lagi?" Renat bertanya dengan nada mengejek karena Zuri tidak kunjung bersuara. Zuri di posisinya menggeleng, tampak berpikir-pikir sesaat. "Kamu, udah lakuin yang aku bilang belum?" "Oh!" Renat tersenyum sambil mengangguk. "Udah, sih. Cuma ya doain aja deh semoga bekalnya dimakan." "Ya pasti dimakanlah, Re, orang buatan istri gitu kok." Zuri geleng-geleng kepala tidak mengerti. Kekhawatiran Renat hanya terdengar konyol di telinga Zuri. Mana mungkin seorang suami tega menolak bekal yang dibuatkan secara istimewa oleh istri sendiri. Hanya suami sinting yang melakukan hal tersebut. Jika dilihat-lihat pun, Zuri tahu bahwa Abi adalah tipe suami sempurna yang akan melakukan apapun untuk membuat Renat bahagia. "Semoga, deh," lirih Renat dengan suara kecil. Senyum paksaan Renat muncul di akhir. Orang-orang tidak tahu bagaimana sikap asli Abi bila ia memang tidak menyukai sesuatu. "Yaudah, yuk mulai kerja." "Biar apa?" kata Zuri dengan semangat. "Biar bisa beli berlian," sambung Renat. Zuri terkikik, "Sama tas branded!" ♦ r e t u r n ♦ "Pak dimana?" pertanyaan Bara melalui telepon dengan suara yang terkesan panik. Abi masih berusaha memarkirkan mobil, tangannya cekatan bermain dengan setir. Sedang raut wajah pria itu tampak begitu serius. "Tunggu, sebentar lagi saya naik." Selesai mengurus mobilnya, Abi buru-buru keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk gedung kantor. Kepalanya was-was, takut kalau sesuatu buruk banyak terjadi selama ia tidak di tempat. Langkah Abi cepat ke arah lift. Ketika dua pintu besi itu berpisah untuk terbuka, Abi masuk, menekan tombol lantai dimana ruangannya terletak. Ketika pintu besi itu hampir tertutup, sebuah tangan muncul diikuti wajah dan kemudian badannya. Moza berdiri di sana, menatap Abi dengan air wajah terkejut. Belum sempat Abi mengusirnya agar pergi, Moza sudah lebih dulu masuk tanpa rasa bersalah sedikitpun. Wanita itu batuk kecil, mencoba melirik Abi dari sudut matanya. "Kok kamu pakai lift karyawan?" Moza bertanya dengan santai, dan sukses menimbulkan kernyitan di dahi Abi. Pertama karena cara Moza berbicara padanya, kedua sebab Abi baru sadar kalau ia salah lift. Tetapi Abi tidak menjawab, ia diam saja dan berusaha meredam emosi. Jika bukan karena rasa iba, Abi pasti sudah mengeluarkan Moza dari perusahaannya. Tapi mengeluarkan wanita itu, sama saja dengan membiarkan Moza tidak mempunyai pekerjaan. Dikeluarkan tidak hormat dari sebuah perusahaan, akan membuat nama baik pribadi tercoreng dan perusahaan lain akan berpikir dua kali untuk merekrut. "Kok diem aja sih, Bi?" Moza bersuara lagi, dan terdengar begitu memuakkan di telinga Abi. "Oh iya, aku nggak akan repot-repot nanyain gimana honeymoon kamu sama istri tercinta kamu. Ya, buat sekarang aku cukup rela sih kalau posisi aku ada yang isiin." Moza tertawa dengan wajah yang dibuat manis. Kalau tidak mengingat bahwa Moza adalah seorang wanita, maka Abi pasti sudah melayangkan tinjunya. Hitung-hitung melatih kembali kekuatan tangannya. Moza mendekat, membuat Abi jadi was-was. Bukan marah, namun ada perasaan lain ketika Abi menatap manik mata milik Moza. Rasanya menyedihkan, sangat miris. Seorang wanita yang Abi kenal lembut dulu nyatanya berubah menjadi monster yang tidak pernah ia bayangkan sekalipun. Entah apa yang telah merubah Moza, tapi yang pasti hal tersebut sangatlah tidak baik. "Jaga sikap kamu," kata Abi datar, terasa dingin. Moza tersenyum, rasanya senang mendengar Abi berbicara. Tangannya dengan lihai menyelipkan anak rambut di belakang telinga, sedang matanya menatap Abi tidak biasa. "Iya, Bi, aku bakalan jaga sikapku kok. Buat kamu apa sih yang enggak. Oh iya, aku titip salam sama istri kamu ya. Aku doain semoga istri kamu cepet ngisinya." Ting! Lift terbuka di lantai Moza bekerja. Wanita itu keluar setelah tersenyum manis pada Abi. Pandangan Abi tidak lepas dari Moza sampai pintu lift kembali menyatu. Ada perasaan was-was di dirinya ketika Moza mulai berbicara. Wanita itu memang sudah sepenuhnya gila dan Abi yang akan berusaha untuk memasukkannya ke rumah sakit jiwa. Abi menghembuskan napas, kembali memfokuskan diri mengingat ada masalah lain yang tengah menunggunya. Ketika pria itu tiba di ruangannya, sudah ada Bara yang menunggunya di depan pintu. Pria itu sudah siap dan sedang memegang beberapa tumpuk dokumen di tangannya. Abi mengangguk, masuk ke dalam ruangannya ketika Bara membukakan pintu. Tangan Abi terulur sebelum ia duduk di kursi kebesarannya, menerima salah satu dokumen. "Dokumen penawaran sepertinya keliru, Pak. Saya sempat mengeceknya pagi tadi untuk memastikan sekali lagi sebelum kita mengirimkannya besok. Laporan pajak serta laporan keuangan tiga tahun lalu juga menghilang, Pak. Sementara laporan keuangan dua tahun lalu bila diteliti memang kurang lengkap." Abi memijit dahi yang tiba-tiba terasa berat. Pria itu ingat bahwa semuanya sudah ia persiapkan sebelum hari pernikahannya dilaksanakan. Bahkan sebelum berangkat ke Maldives, Abi sempat mengecek semuanya dan lengkap. Sama sekali tidak ada yang kurang. "Udah dari kapan isinya berubah?" tanya Abi mencoba tetap tenang. Bara terlihat tidak yakin, "Sepertinya berubah kemarin, Pak." Abi menarik napas panjang. Ini pertama kalinya ia akan mengikuti tender lumayan besar dan halangan sudah datang saja. Entah ada orang jahat yang sengaja atau data memang mengalami error. Sedetik kemudian Abi tersadar, ia langsung berdiri dan menatap Bara dengan percaya diri. "Tolong kamu cek copyan file tersebut sama file yang sudah di print, ada di sana." Abi menunjuk salah satu lemari dokumen dan Bara langsung berjalan cepat ke sana. Pikiran Abi berkecamuk, jauh di dalam dirinya, ada ketakutan bila ia mengecewakan seluruh kepercayaan keluarga besarnya dengan melakukan kesalahan dalam perusahaan. Mata Abi memperhatikan Bara, namun mau tidak mau, dahi Abi mengernyit sebab Bara tidak kunjung mendongak dari laci tempat ia mencari. "Bar!" Bara menoleh, tatapannya panik juga. "Tidak ada apa-apa, Pak. Kosong." "Apa?" reaksi Abi dengan suara pelan, namun ekspresi wajahnya benar-benar menjelaskan segala ketakutan tersebut. Lagi-lagi, Abi mencoba menenangkan diri agar tidak panik. Ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan. "Bar, kamu siap lembur?" Bara tersenyum, haru menyelimuti pria itu. Dia tahu, bahwa Abi tidak akan menyalahkan orang lain dan malah memilih untuk memperbaiki semua kesalahan dan menyempurkan kekurangan daripada sibuk mencari pelaku atas hilangnya file penting tersebut. "Siap, Pak!" Bara bersuara tidak kalah semangat dan Abi mengangguk pasti. "Oh iya, Bar, setelah ini selesai, kamu sama saya bakalan nangkep pelakunya sama-sama." "Laksanakan, Pak!" ♦ r e t u r n ♦ A Abi: Re, hari ini aku lembur. Maaf baru kasih kamu kabar sekarang, aku nggak bisa jemput kamu. Kamu jangan lupa makan malam kalau udah sampai di rumah. Pulangnya pakai taksi ya, kalau udah sampai di rumah, langsung kasih kabar ke aku. Nggak usah nungguin aku pulang, kamu tidur duluan aja, ya. Ily! Renat membaca pesan dari Abi dengan raut sedih yang kentara. Padahal malam ini, Renat sudah berniat memasakkan makanan istimewa untuk dinner mereka. Tapi mau bagaimana lagi, suaminya tentu sedang sibuk sekali dan Renat tidak bisa memaksakan kehendaknya. Renata: Iya, A. Semangat ya kerjanya! Kamu gimana? Bekelnya udah dimakan, kan? Makan malam jangan lupa yang sehat, ya! Sudah. Pesannya sukses terkirim namun belum ada status baca dari Abi. Renat mengetuk-ngetukkan jari pada meja kerjanya. Sepuluh menit lagi jam kerjanya berakhir dan Renat pikir ia sudah akan bertemu Abi, nyatanya angan tersebut harus Renat kubur dalam-dalam untuk hari ini. Wanita itu membereskan barang-barangnya, kemudian berdiri hendak menuju kamar kecil. Untuk pergi dan kembali dari kamar kecil, Renat sukses menghabiskan sepuluh menitnya. Sehingga ketika ia tiba di meja kerja, waktu pulang kantor sudah tiba. Renat mengambil tas miliknya, membawa bunga-bunga hadiah dari para rekan kerjanya. Wanita itu pamit secara formal, kemudian berlalu meninggalkan ruangan dan berjalan menuju lift. Sepertinya karena Abi membatalkan janji, pengaruhnya begitu kuat untuk Renat. wanita itu tidak percaya bahwa di hari pertama bekerja, Abi sudah harus lembur. Renat tersentak, sadar bahwa jabatan suaminya bukanlah main-main. Kalau Abi bisa kuat melepas Renat untuk bekerja, maka sudah sepatutnya Renat melakukan hal yang sama. Keluar dari gedung kantor, Renat berjalan keluar pekarangan untuk mencari taksi. Bersamaan dengan Renat yang berteriak menyebut kata taksi sambil melambaikan tangan, seseorang pun ikut memanggil namanya. Renat menoleh, melihat Raskal dengan mobilnya tengah menepi. Di jok sebelah Raskal terlihat Shalum yang sedang makan es krim. "Wih, banyak bener bunganya!" puji Raskal dengan wajah konyol. " Terus kok sendirian, Re? Pulang kerja?" Renat mengangguk, "Iya, Kal." "Kalau gitu biar aku anterin aja, Re." Renat terlihat berpikir, tidak enak sebetulnya. "Aku naik taksi aja. Abi tadi mintanya aku supaya naik taksi." "Abi nggak jemput?" "Lembur dia." Raskal juga terlihat tidak enak sebetulnya. Tapi kalau memang Renat tidak mau, maka Raskal tidak bisa memaksakan apa-apa. Pria itu keluar dari mobil, berjalan mendekati Renat. "Yaudah, aku temenin kamu sampai ketemu taksinya kalau gitu." "Kamu duluan aja, Kal, kasihan Shalum udah ngantuk gitu." "Tenang, Shalum mau kok." Renat tidak melawan lagi. Dan Raskal pun benar-benar menunggu Renat sampai wanita itu mendapatkan taksinya. Raskal membukakan pintu untuk Renat, kemudian meminta supir taksi membuka kaca jendelanya. "Anterin dia selamat sampai tujuan ya, Pak," kata Raskal setelah itu memberikan dua lembar uang uang seratus ribuan kepada supir taksi. "Kalau kamu udah sampai langsung kasih kabar ke Abi, Re." Renat mencebik, merasa seperti anak kecil. "Iya tau." ♦ r e t u r n ♦
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN