Renat membuka pintu apartemen dengan tangan yang dipenuhi oleh kantung belanjaan. Tidak jauh dari gedung apartemennya memang terdapat supermarket, sekitar sepuluh menit apabila berjalan kaki. Setelah menutup kembali pintu, ia langsung berjalan menuju meja konter dan meletakkan belanjaan di sana. Renat memperhatikan jam di dinding, masih ada satu jam sebelum magrib tiba.
"Mandi dulu, deh," celetuk Renat sambil membuka blezer yang dipakainya, menyisakan kaus santai hitam pas badan. Tangannya kini terulur mengambil gelas dan menuangkan air putih ke dalamnya. Diteguknya cepat air tersebut dengan pikiran yang terbang menuju Abi.
Pesan terakhir Renat belum kunjung mendapat balasan. Wanita itu mengerti pada kesibukan Abi. Tetapi apa tidak bisa untuk sebentar saja Abi mengetik dan memberi kabar lagi pada Renat. Helaan napas panjang Renat terhembus, ditemani oleh wajah dengan eskpresi kecewa yang tidak ia sembunyikan sama sekali.
Renat melangkahkan kaki meninggalkan meja makan menuju kamar. Dilihatnya kain gorden yang masih terbuka, lantas menariknya agar tertutup. Baru setelah itu berjalan menuju kamar mandi untuk melakukan ritual seperti biasa. Cermin besar menyambut Renat, menampakkan bayangan maya miliknya. Untuk sesaat, Renat tidak melakukan apapun selain diam memperhatikan dirinya sendiri.
Dulu, salah satu hal yang menjadi penyemangat Renat adalah dirinya sendiri. Bayangan di cermin itu, tidak pernah tertawa ketika Renat kerap kali menangis sebab tersiksa dengan dunia remajanya. Kala itu Renat menyadari seperti apa kerasnya hidup. Tapi jika bukan karena semua pengalaman tersebut, Renat mungkin tidak akan merasakan kebahagiaan melimpah di hari ini.
Renat menepuk pipi perlahan, tersenyum tipis sebab dirinya yang kembali ingat pada masa lalu. Tanpa pikir banyak lagi, Renat mulai membuka keran, membasuh wajahnya beberapa kali sebelum mengambil sabun cuci muka. Untuk tiga puluh menit ke depan, Renat memilih untuk membersihkan dirinya.
Selesai mandi, Renat sudah rapi walau hanya dengan piyama simpel warna putih. Sebelum keluar dari kamar, Renat menggapai ponsel dan mengecek isinya sambil berjalan menuju pintu. Masih belum ada balasan dari Abi. Renat memutuskan menekan kontak pria itu, berharap kali ini panggilan telepon Renat akan dijawab.
"Halo, A?" sapa Renat lega sekali ketika Abi akhirnya menjawab panggilan.
"Eh, halo, Buk?" Renat mengernyit, kemana Abi? "Maaf kalau saya lancang, Buk, cuma tadi Pak Abi bilang kalau Ibuk yang nelfon diangkat aja."
"Hm, emangnya Pak Abi kemana?" Renat bertanya mengikuti cara panggil Bara, walau lidah dan telinganya terasa aneh dengan sapaan Ibuk dan Bapak yang Bara lakukan.
"Lagi magrib-an, Buk," jawab Bara jujur. "Ada yang mau disampein, Buk?"
"Enggak, sih." Renat menggeleng, menatap bahan-bahan makanan di depannya sembari menyentuhnya. "Tapi tolong bilangin aja kalau makan malem jangan sampai telat."
"Oh, siap, Buk!"
"Makasih ya, Bar." Renat memutuskan panggilan lebih dulu. Diletakkannya ponsel di tempat yang lebih aman, kemudian memilih memasak makan malam. Setidaknya, ketika nanti Abi pulang, meja makan sudah penuh dengan makanan dan itulah yang terpenting.
♦ r e t u r n ♦
"Ada yang nelfon, Bar?" tanya Abi setelah kembali dari ibadahnya. Pria itu duduk di balik meja kerjanya sembari menyalakan ponsel. Abi menatap panggilan yang masuk, dan melihat nama Renat di layar.
"Tadi ibuk yang nelfon, Pak," jawab Bara masih sibuk dengan laptop di depannya. Tangannya cekatan mengetik semua laporan keuangan sejak tadi. "Katanya supaya Bapak jangan lupa makan malam."
Abi terdiam, teringat dengan bekal makanan yang Renat beri untuknya. Bukannya tidak mau membawa bekal tersebut, tetapi Abi benar-benar lupa. Walaupun ada perasaan sedikit tidak terima karena dibekali makanan dari rumah, namun Abi bukanlah suami jahat yang rela menolak makanan istrinya sendiri. Belum lagi pengorbanan Renat terhadap memasak. Abi tahu seberapa tidak sukanya Renat dengan dapur dulu, dan sekarang wanita itu tengah berjalan untuk berubah. Demi memenuhi kodratnya sebagai seorang istri yang baik.
Abi baru akan berjalan keluar ruangan untuk menjemput bekal makanannya---tidak peduli apa masih enak atau tidak. Sayangnya, panggilan Bara membuat Abi menoleh. Wajah sekretarisnya tersebut tampak serius, memberi kode agar Abi segera mendekat.
"Ketemu sesuatu?" tanya Abi mengambil tempat tidak jauh dari Bara.
Bara menggeser laptopnya, memperlihatkan kiriman seseorang kepada Abi. Itu jelas alamat sebuah surel seseorang yang terlihat janggal, dengan subjek dibiarkan kosong sementara isinya jelas beberapa foto dan kalimat. Abi melemparkan tatapan penuh tanya pada Bara, menunggu penjelasan dari pria satu itu agar semuanya lebih jelas bagi Abi.
"Ini orang yang saya minta buat cari tahu siapa pelaku dibalik hilangnya data keuangan, Pak. Awalnya saya sempet ngira kalau emang ada error di komputer sampai data bisa hilang. Tapi kalau dokumen sama kopiannya juga ikut hilang, berarti emang ada yang nggak bener di sini." Bara berbicara dengan serius, sesekali mengetikkan sesuatu pada keyboard laptop dan mengalihkan layarnya pada Abi. "Anehnya lagi, CCTV rahasia yang bisa nangkap gambar seluruh ruangan bapak sama sekali nggak berfungsi dan ternyata udah rusak dari dua hari yang lalu. Ini nggak mungkin lagi disengaja, Pak. Fakta kalau udah banyak banget yang janggal, nggak bisa kita bilang sebagai error komputer lagi. Pasti emang ada orang yang sengaja masuk ke sini dan ambil semua dokumen penting supaya kita nggak bisa kirim data ke pihak panitia."
"Karna dia nggak mau kita menang tender besar kali ini," cetus Abi sebab sudah mengerti dengan rangkaian kalimat Bara.
"Tapi Bapak nggak ngerasa ada yang aneh?" tanya Bara dengan wajah seriusnya. Alis pria itu bahkan bertautan. Untuk ukuran sekretaris, Abi akui jika Bara memang pantas dalam pekerjaan ini. Penalaran pria itu yang sangat Abi perlukan di saat-saat seperti sekarang.
"Aneh gimana?"
"Kenapa CCTV rahasia di ruangan ini bisa ikutan dirusak? Padahal jelas-jelas kalau CCTV-nya rahasia. Otomatis nggak ada orang yang tau tentang CCTV itu kecuali Bapak, saya---"
"Moza," kata Abi pelan namun dingin. Seketika semuanya memang tersambung rapi di kepala Abi. Yang menjadi pertanyaannya, apa benar wanita itu yang melakukan hal semacam ini. Jika memang begitu, lantas atas dasar apa?
"Moza siapa, Pak? Kenapa dia bisa tau?"
"Jelas Moza tau," sahut Abi. "Dia sekretaris pertama saya."
Wajah Bara terlihat paham, sepertinya hal ini akan lebih mudah berjalan untuk ke depannya. Pria itu suka sekali dengan situasi semacam ini. Menerka, mencari tahu siapa biang keladi dibalik kejahatan yang terjadi, mengumpulkan berbagai alasan, mengaitkan sebab-akibat. Bagi Bara, situasi menegangkan akan membuatnya merasa lebih hidup. Sayang saja, sebab Bara harus menelan pahitnya jalan hidup. Kecelakaan yang terjadi beberapa tahun silam membuat pria berkemeja hijau tersebut harus kuat menahan diri karena tidak lulus untuk menjadi seorang badan inteligen negara. Hingga akhirnya Bara terpaksa banting setir ke jurusan yang lain dan kini duduk di belakang laptop sebagai sekretaris favorit Abi.
"Dia dalangnya." Bara berbicara dengan nada dan ekspresi yakin.
"Saya pikir juga dia. Tapi orang di foto itu, jelas bukan dia, kan?"
Bara tertawa kecil, mudah saja menjawab pertanyaan Abi. "Orang-orang selalu mau jadi sewaan orang lain buat ngelakuin apa aja asal ada bayaran kan, Pak? Ini motifnya. Cuma sayangnya, Moza nggak ngatur semuanya baik-baik. Kalau aja dia lebih jago dan rapi, kita pasti nggak cuma kehilangan data keuangan, tapi semuanya bahkan juga uang sekalian. Karna sebenernya, kejahatan yang terorganisir dengan baik dan apik pasti selalu berhasil ngalahin kebaikan yang nggak terorganisir. Tapi sayangnya Moza nggak pinter."
Abi tetap terlihat tenang walau hanya dari luar. Sementara emosi dari dalam dirinya sudah membakar segala hal yang ada di dalam. Abi sudah terlalu mentolerir semua sikap Moza. Mulai dari penghinaan terhadap Renat, sikapnya yang tidak sopan selama menjadi sekretaris Abi sampai kesengajaan atas penghapusan data penting perusahaan.
Abi berdiri, kini jalannya sudah terbuka. Ia sudah tahu harus melakukan apa. Lampu di kepalanya sudah menyala atas bantuan Bara. Pria itu kembali lagi menuju meja kerjanya, melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
"Kamu tolong forward emailnya ke saya," perintah Abi dengan tegas.
"Baik, Pak," sahut Bara cepat.
Abi kembali fokus dengan layar di depannya. Sesekali mempelajari kertas dokumen yang berada di sebelah komputer. Ketika email dari Bara masuk, Abi lantas membukanya. Pria itu memperhatikan dengan detail sekali seseorang di dalam foto---dengan baju serba hitam dan masker penutup wajah. Tidak begitu tinggi, mungkin hanya sekitar 165 senti. Untuk warna kulitnya, Abi benar-benar tidak bisa menebak mengingat semuanya tertutup. Helaan napas Abi keluar, matanya menyiratkan kelelahan. Tapi Abi tidak bisa berhenti begitu saja, sebab ia baru saja berjalan satu langkah ke depan. Masih banyak sisa langkah yang harus Abi lewati untuk menunjukkan bahwa ia bisa memimpin dan memajukan perusahaan.
Untuk sisa malam tersebut, Abi dan Bara menghabiskan waktu untuk memperbaiki data serta mempelajari dokumen yang harus dipresentasikan esok hari pada meeting rutin. Untuk urusan makan pun, Abi memberikan tanggung jawab pada Bara agar dipesan via online saja.
♦ r e t u r n ♦
Lampu di ruang keluarga terlihat redup. Renat yang tengah menonton video youtube lewat televisi terlihat sangat serius. Setelah tadi menghabiskan waktu dengan video make up tutorial, kini Renat sedang melihat seorang youtuber tengah memasak. Mata wanita itu pun sudah berat, pertama karena bosan sendirian, kemudian sebab kelelahan. Renat memandang ke sebelah, melihat selimut putih yang ia bawa dari kamar. Diambilnya benda lembut tersebut, kemudian menepuk bantal beberapa kali sebelum akhirnya berguling dengan nyaman. Sekarang sudah hampir tengah malam dan Abi belum kunjung pulang.
Pelan tapi pasti, kelopak mata Renat mulai menutup. Dibiarkannya televisi berbicara sendirian, sementara ia sudah akan memasuki alam mimpi. Semua kegiatan melelahkan mulai dari pagi, bekerja sepanjang hari, dilanjutkan dengan memasak makan malam yang sayangnya belum dimakan sama sekali, menghilang begitu saja dari kepala Renat. Yang ia tahu hanya satu, yaitu tidur untuk menyambut besok hari.
Selang lima belas menit dari Renat tertidur, pintu apartemen terbuka. Abi masuk pelan-pelan dan bersyukur sebab Renat tidak menunggunya dan memilih tidur lebih dulu. Tapi ketika langkahnya melihat ruang keluarga, Abi mengernyit karena televisi menyala. Ia buru-buru mengecek bed sofa dan terdiam di posisinya. Melihat Renat tertidur di sana, Abi penasaran apa Renat sempat menunggunya dan karena tidak sanggup, sampai terlelap lebih dulu.
Abi mendekat, perlahan menyibak selimut yang menutupi tubuh Renat. Diselipkannya tangan dibawah bahu dan lutut Renat, kemudian mengangkat tubuh wanita itu sembari mendekapnya lebih dekat. Sesaat Renat terlihat resah dalam gendongan Abi, namun kembali diam karena sudah menemukan titik nyaman miliknya. Pintu kamar dibuka oleh Abi dan dengan kaki mendorongnya. Kemudian Abi menidurkan Renat di tengah tempat tidur, merapikan baju Renat dan rambutnya.
"A," suara Rendah itu terdengar ketika Abi baru hendak beranjak. Pria itu menoleh, melihat Renat dengan mata masih terpejam.
Abi menenangkan, kembali mendekat untuk mengusap punggung Renat. Diciumnya dahi Renat penuh sayang, membiarkan wanita itu meringkuk bagai bayi. Tangan Renat terulur untuk memeluk pinggang Abi dan benar-benar menghapus jarak---tidak peduli apa Abi sudah mandi atau belum.
"Aku mandi dulu, ya?" Abi membujuk, namun rengekan Renat terdengar tidak terima. "Bau, Re, akunya."
"Siapa bilang kamu bau?" kata Renat dengan suara rendah. "Manly kok wanginya."
Abi sukses geleng kepala akan ucapan Renat yang terdengar tidak masuk akal bagi Abi. Bukannya semakin menjauh, Renat malah semakin menyesak dan berlindung di bawah leher Abi, menghirup banyak-banyak aroma parfum Abi yang selalu sama. Ciri khas dari Abi yang Renat suka dari dulu.
"Mandi dulu ya, Re?" bujuk Abi lagi dan lagi.
"Wangi," imbuh Renat teguh pendirian. "Kamu di sini aja, aku suka wanginya."
Abi akhirnya mengalah, ia tidak bisa membantah lagi sebab Renat bisa-bisa melanjutkan rengekannya. Daripada tidak tidur karena Renat akan rusuh, lebih baik mengalah dalam keadaan masih memakai perlengkapan kerja. Abi menyamankan posisinya, menatap Renat yang sedang terlelap.
"Hari ini ngapain aja?" tanya Abi, jemarinya memainkan anak rambut Renat yang nakal.
"Masak," jawab Renat tidak sanggup mengangkat kelopak matanya karena sangat mengantuk. "Tapi masakannya belum dimakan, soalnya yang makan lembur ngantor."
"Aku laper sekarang," kata Abi jujur. "Tapi kalau ditahan kayak gini jadi nggak bisa makan."
Seketika, mata Renat terbuka. Rasa bersalah dan khawatir membanjiri wanita itu. "Kamu kenapa nggak bilang belum makan? Yaudah mandi dulu, aku masakin makan dulu."
"Kok masak lagi?" Dahi Abi mengernyit, tidak paham maksud Renat. "Kamu habisin makanannya?"
"Udah dingin, A, makanannya. Masa kamu makan makanan dingin."
"Ya emangnya kenapa, Re?" kata Abi membantu Renat duduk. Dilihatnya Renat mengatur rambut sebelum mengikatnya menjadi satu. "Kamu nggak perlu masak lagi. Aku mandi dulu abis itu makan makanan yang tadi kamu masak."
"Nggak apa-apa? Bener?"
Abi mendekat, mencium rahang Renat sebelum berdiri dengan senyum geli menyangkut di wajah lelahnya. "Bawel banget kamu."
Renat bukannya malu-malu, malah melemparkan Abi boneka yang letaknya tidak jauh dari posisinya. "Nyebelin banget kamu kan aku serius."
"Nggak apa-apa, Re. Lagipula makanannya bukan basi cuma nggak panas lagi."
"Yaudah sana mandi aku ke meja makan dulu."
Setelah menerima handuk dari Renat, alih-alih berjalan menuju kamar mandi, Abi malah mendekat pada Renat. "Nggak mau peluk lagi? Tadi peluk-peluk aja."
"Apaan sih kamu, sana mandi, bau!" Setelahnya, Renat keluar dari kamar tanpa berbicara apa-apa lagi.
♦ r e t u r n ♦