37. Mood

2989 Kata
Renat berjalan tergesa menyusul Abi yang sudah lebih dulu berada di mobil. Kepalanya beberapa kali menunduk untuk melihat jam di pergelangan tangan kiri. Renat memang terlambat bersiap-siap sebab harus menyiapkan sarapan untuk Abi. Barulah ketika Abi makan, Renat memutuskan untuk mandi. Ketika Renat keluar dari kamar mandi, ia tidak lagi melihat Abi. Melainkan hanya pesan yang yang masuk dalam ponselnya dimana Abi mengatakan bahwa ia tengah menunggu di mobil untuk mempelajari dokumen. Renat sudah siap, sudah tiba di basement sampai ia mengingat kotak bekal untuk Abi tertinggal di meja makan. Tidak ada pilihan, Renat harus kembali atau Abi akan kesusahan dalam makan siang. Ponsel Renat berbunyi tepat ketika ia keluar dari lift, nama Abi tertera di sana. Dengan segera Renat mengusap layar ponsel untuk menerima panggilan tersebut. "Kamu masih di atas? Buruan, Re, aku ada meeting pagi ini." tembak Abi langsung karena ia juga buru-buru sebab dikejar waktu. "Udah sampai," jawab Renat mematikan ponsel dan sedikit berlari menuju mobil. Dengan napas tersengal ia membuka pintu mobil. "Maaf ya, A, tadi bekal kamu ketinggalan makanya aku balik lagi." Abi tersentak, matanya melirik kotak bekal baru yang beda dengan kemarin tengah dipangku oleh Renat di atas pahanya. Abi diam saja, tidak mau berkomentar perihal bekal makanan sebab ia sadar akan perilaku bodohnya. Pria itu mendekat ke arah Renat, dekat sekali sampai Renat berpikir bahwa Abi hendak menciumnya. Tapi Abi bukan mencium atau apapun asumsi konyol yang tengah sangkut di dalam pikiran Renat, melainkan sedang menarik seatbelt dan menguncinya. "Kebiasaan suka lupa seatbelt," ujar Abi pelan kemudian fokus menatap ke depan. Renat tidak menjawab, ia tahu bahwa Abi tengah kesal sebab keterlambatannya. Renat menyalakan ponsel, mengecek aplikasi pesan singkat. Dilihatnya group yang hanya berisikan tiga anggota. Renat, Zahwa, dan Tae Joon. Sejak semalam, group tersebut cukup ribut. Renat menebak bahwa Zahwa dan Tae Joon pasti sedang memperdebatkan sesuatu yang tidak penting. Untuk memastikan, Renat membuka dan layar ponselnya menampilkan roomchat dengan wallpaper wajah lucu Abi. Tawa Renat keluar tanpa mampu ia tahan, tangannya buru-buru lari ke mulut. Zahwa dan Tae Joon benar-benar dua makhluk paling konyol yang pernah Renat kenal. Kadang kala, ia berpikir bahwa Tae Joon akan lebih baik apabila menikah dengan Zahwa. Daripada perempuan Jawa itu menunggu si tidak tegas Prabu yang rimbanya tidak tahu dimana sekarang. Renat mengatur huruf di keyboard, menggantinya dengan keyboard huruf abjad Korea---hangul. Diketiknya sesuatu di sana, bertujuan menanggapi cerita kedua temannya itu. Baru akan mengetik lebih panjang, suara pada ponsel Abi sukses membuat Renat berhenti dengan kesibukannya. "Kok dimatiin?" tanya Renat ketika Abi menolak panggilan pada ponselnya. Abi hanya menggeleng, sama sekali tidak membalas tatapan Renat. Renat yang sadar bahwa ia tengah diabaikan benar-benar menahan diri untuk tidak mengusap d**a. Beginilah sikap Abi kalau mood pria itu sedang tidak baik. Apalagi sekarang, Renat adalah penyebabnya. Lagi, Renat merutuki dirinya yang lambat. "A," panggil Renat lagi, menunggu respon Abi yang lambat. Ketika tangan Renat menyentuh lengan atas Abi, ia baru menoleh. Diberinya tatapan tidak terbaca---seperti yang sudah-sudah. Renat terlampau hapal dengan pria di sebelahnya. Kalau bukan suami, mungkin Renat sudah menggoreng Abi sebagai cadangan makanan untuk lima hari ke depan. Sebelum melepaskan lengan Abi, tatapan Renat terhenti ketika dilihatnya dasi Abi belum terpasang sama sekali. "Kenapa?" Abi bersuara, tidak ada nada di dalamnya. Kosong. "Kalau kamu buru-buru aku naik taksi aja dari sini, kasihan kamunya mesti muter-muter." "Nggak," tolak Abi tanpa pikir. Pandangannya kembali menatap lurus ke depan, tidak suka dengan usulan Renat. "Aku anter sampai RS, nggak usah protes lagi." "Iya, tapikan maksudku baik." Renat mencoba lagi. "Kamu bilang ada meeting, aku cuma nggak mau kamu telat, A." "Re, mau aku telat atau enggak, kamu duduk aja. Aku anterin." Abi bersuara lebih keras, membuat Renat sukses diam tidak melawan lagi. Niatnya baik, tetapi Abi memang sedang tidak baik-baik saja. "Kamu kenapa, sih, kok jadi nggak enak gitu ngejawabnya? Kan aku udah minta karna bikin kamu nunggu." "Siapa yang nggak enak ngejawabnya?" Abi bersuara dengan balik melemparkan tanya. "Aku nggak mau kamu pergi sendiri. Aku bisa nganterin kamu." "Kemarin aku juga pulang sendiri," balas Renat ikutan sebal. "Ya makanya sekarang selagi aku bisa, aku nganterin kamu." "Tapi percuma kalau kamu nganterin aku tapi kamunya lagi sebel. Aku coba perbaikin mood kamu tapi malah moodku yang ikut-ikutan anjlok." Abi menahan helaan napasnya, tidak ingin melanjutkan perdebatan atau semua fokusnya akan buyar. "Iya, pokoknya kamu duduk aja biar aku anter sampai RS." Nada suara Abi merendah, agar Renat tidak kian tersingung. Untuk selanjutnya, suasana di dalam mobil hanya dibalut oleh hening. Renat juga tidak berniat lagi membuka ponsel, hanya menatap kesibukan di luar dari dalam mobil. Abi juga sama saja, bahkan ketika ponselnya kembali berbunyi, Abi tidak mau repot-repot mengangkat. Lima belas menit yang terasa lama sekali, mobil Abi baru berhenti di depan gedung rumah sakit tempat Renat bekerja. Renat baru mau menoleh kepada Abi, mengulurkan tangan untuk mengancing buah kemeja paling atas. Abi yang mendapat perlakuan tersebut tentu kaget. Abi sudah sempat kecewa karena Renat mungkin lupa. Pria itu sudah terlanjur menyukai posisi ketika Renat menyimpulkan dasi miliknya. "Dasinya mana?" tanya Renat dan Abi langsung mengambil dasi di sebelahnya. Renat menerima, kemudian mengalungkannya di balik kerah kemeja. Renat tidak repot-repot menatap Abi, ia hanya fokus dengan simpulan dasi. "Kamu lembur lagi?" "Belum tau, aku usahain enggak." Renat mengangguk, "Kalau lembur kabarin cepet, ya, A." Abi mengangguk, kemudian mendekat untuk mencium cepat dahi Renat. "Aku berangkat, ya." Renat menunduk, menatap kotak bekal untuk Abi. Wanita itu hendak meletakkan bekal tersebut di jok belakang sebelum tersadar akan satu hal. "Bekal kemarin, kotaknya ketinggalan di kantor?" "Apa?" tanya Abi tidak siap diserang. Renat membalikkan badan, melihat ke jok belakang dan seketika mematung. Walau kotak bekal tersebut tertutup, feelingnya tahu bahwa Abi sama sekali tidak menyentuh bekal yang Renat siapkan untuknya. Sumpit, sendok, semuanya terlihat utuh. Bersih. Renat menatap lagi bekal di pangkuannya, menghela napas panjang sembari memaksakan senyum. Sakit juga ternyata. "Maaf, Re, aku beneran lupa kalau ada bekal dari kamu." Renat memandang Abi, menunjukkan senyumnya. "Nggak apa-apa kok. Aku ngerti kalau kamu emang nggak suka disiapin bekal. Tapi, yang bawa bekal kemana-mana bukan cuma anak TK. Lagi-lagi niat baik aku kamu respon nggak baik. Aku cuma mau kamu makan makanan sehat dari rumah. Makanya aku belajar masak buat kamu, bukan buat yang lain. Besok kalau kamu udah siap buat bawa bekal, kasih tau aku. Biar aku tau kapan harus nyiapin bekal buat kamu." Renat mengambil tangan Abi, menciumnya lalu berpamitan. Kotak bekal yang sejak tadi Renat pangku dibawa untuk dirinya sendiri. "Biar aku yang bawa bekalnya, Re," kata Abi menginterupsi gerakan Renat. "Buat apa? Buat kamu anggurin lagi? Aku aja yang bawa, perutku tiba-tiba laper." "Re---" "Aku pamit ya, A!" ♦ r e t u r n ♦ Abi memasuki ruangannya dengan wajah tidak terlalu bersemangat. Bara yang mengikuti Abi dari belakang dengan sigap membacakan kegiatan Abi hari ini. Abi mendengarkan, tapi setelah itu setiap kata yang diucapkan Bara bagai hilang tertelan angin. Respon Abi sama sekali tidak ada. Semangatnya seakan menghilang kala mengingat cara Renat tersenyum tadi. Wanita itu terlihat jelas tengah menahan sedih, namun tidak marah-marah. "Pak?" panggil Raka entah untuk yang ke berapa akhirnya membuat Abi tersadar. "Ya?" sahut Abi. "Kita ke ruang meeting sekarang? Semuanya sudah menunggu Bapak." Abi mengangguk, kemudian berdiri dan berjalan kembali ke arah pintu. Bara yang sedang sibuk mengetik sesuatu pada ponsel mengikuti langkah Abi dari belakang. Keduanya menuju lift, lalu menekan tombol lantai yang tetaknya beberapa lantai di bawah lantai ruangan Abi. Dengan perbedaan aura 180 derajat, Bara benar-benar terlihat semangat. Terlebih ketika alamat email tanpa subjek kembali masuk pada akun miliknya. "Pak, ketemu!" Reaksi Abi cepat. Ia menoleh dan langsung dihadapi oleh layar dengan tampilan foto seseorang. Sedikit blur, namun masih jelas untuk dapat menebak. "Dia---" "Jelas kalau dia karyawan di sini. Saya dateng barengan sama dia pagi ini." "Jadi bukan Moza?" Bara tertawa, entah kenapa merasa bahwa Abi tengah blank pagi ini bila dilihat dari ekspresi wajahnya. "Jadi makin jelas kalau dia ini suruhan seseorang, Pak. Karna orang di foto ini, dia itu cleaning service. Yang artinya dia nggak punya urusan sama data-data yang hilang. Ngapain juga dia ngurusin hal gituan kalau bukan karna disuruh dan lagi butuh uangkan, Pak?" "Kamu kenapa cepet banget nyusun puzzlenya, Bar." "Karna semuanya terlalu mudah buat ditebak. Udah saya bilang, mantan sekretaris Bapak kurang pinter nyusun semuanya. Yang jadi pertanyaan, apa pentingnya dia ngapusin data-data itu? Untungnya apa? Kecuali kalau dia punya masalah pribadi ke Bapak." Abi menahan diri untuk tidak menyahut ucapan Bara perihal masalah pribadi. Abi pikir, dia memang harus menemui Moza dan bicara dengan serius pada wanita setengah waras itu. "Saya berterimakasih sama kamu, Bar. Sisa sama Moza biar saya yang urus." Bara mengangguk, mempersilahkan Abi keluar lebih dahulu dari lift ketika kedua pintu besi itu berpisah untuk terbuka. Abi berjalan, menuju ruangan dimana beberapa orang sudah menunggunya. Semangat Abi pelan-pelan sudah muncul berkat bantuan Bara. Disapanya karyawan dengan senyum tipis, kemudian memberi instruksi untuk kembali duduk di kursi mereka. "Baik, mari kita mulai meetingnya!" ♦ r e t u r n ♦ From: unknown Mau ketemuan? Aku cuma mau minta maaf. Kalau kamu mau, langsung aja pulang kerja ke location yang bakalan aku kirim abis ini. Renat membaca pesan singkat dari nomor asing yang baru saja masuk. Walau asing, Renat jelas tahu siapa pengirimnya. Dia pernah mendapatkan pesan dari nomor yang sama. Pikiran wanita itu berkecamuk, haruskah ia menerima tawaran Moza untuk bertemu atau mengabaikannya saja. Tapi isi pesan tersebut sedikit banyak membuat Renat penasaran untuk bertemu. Renat menghela napas. Dia belum siap pulang ke rumah terlalu cepat dan bertemu dengan Abi. Sepertinya refreshing sebentar di mal sekalian bertemu Moza tidak ada salahnya. Renat melihat jam di pergelangan tangan, masih ada satu jam sebelum jam kerjanya selesai. Zuri---rekan kerja Renat---tanpa diundang terlebih dahulu sudah berdiri di depan meja kerja Renat. Ia menatap Renat terus tapi tidak kunjung bersuara. Ibu dari dua anak tersebut terus diam sebab ingin Renat yang berbicara lebih dahulu. "Apa?" kata Renat akhirnya, sementara Zuri hanya memutar mata karena Renat yang pura-pura lupa. "Tadi pagi kamu kenapa nangis?!" Renat melotot. Zuri benar-benar detail ketika melihat orang lain sampai tahu bahwa Renat yang sudah berusaha sembunyi ketika menangis dapat ia ketahui juga. Renat memberikan gelengan, tidak mau Zuri tahu lebih dalam. "Nggak kok, nggak ada apa-apa." "Masa? Terus ngapain makan sambil nangis?" tanya Zuri terus sampai ia puas dan mendapatkan jawaban pasti. "Perutku sakit tadi pagi, makanya gitu." "Lagi dapet?" "Enggak," geleng Renat. "Nggak tau tiba-tiba sakit. " "Kenapa kerja?" "Ngapain juga di rumah sendirian?" "Katanya sakit." "Ya emang iya sakit." "Bohong!" kata Zuri tegas. "Jelas-jelas bekal yang kamu makan tadi pagi harusnya dibawa sama suami. Tapi sticky notesnya spesialnya malah kamu remuk terus di buang di tempat sampah." Renat terdiam. Dia terkunci sudah. Zuri terlalu pintar sampai-sampai kebohongan Renat tidak mempan untuknya. Lebih parah lagi, ketika Zuri mengembalikan sticky notes remuk warna pink tersebut pada Renat. Zuri pasti sudah mencoba memperbaiki walau remuknya tetap saja ada. Renat menghela napas, hatinya sesak lagi ketika membaca tulisan di dalam sticky notes. Semangat, Hubby! Ily! "Dia malu bawa bekal," kata Renat akhirnya. "Nggak salah kok, Ri, dia emang gitu dari kita SMA." "Tapi keterlaluan banget tau, Re. Masa malu bawa bekal dari istri. Makan masakan orang lain di rumah makan mau, dari istri nggak mau. Suamiku kalau kayak gitu, aku marahin. Ngambek deh aku pasti." "Ya dianya emang nggak suka bawa bekal aku bisa apa, Ri?" Renat bersuara lemah, tenaganya habis sudah hanya untuk memikirkan apa yang bisa ia lakukan agar Abi dapat tetap memakan makanannya. "Demi, deh, aku aja kaget liat makanannya masih utuh di jok belakang mobil sama sekali gak disentuh. Padahal itu aku masakin bela-belain bangun jauh sebelum dianya bangun. Sibuk sendiri masak di dapur. Video di youtube nggak tau udah berapa kali aku play back karna kelewat terus cara masaknya." Mata Renat merah lagi dan telapak tangannya buru-buru mengusap mata. Renat pikir, kerja kerasnya akan dihargai. Tapi tidak sama sekali. Mungkin memang benar, bahwa manusia tidak boleh meletakkan harapan terlalu tinggi perihal sesuatu. Sebab jika tidak sesuai, kecewa adalah konsekwensi paling konkrit yang harus diterima tanpa adanya tawar-menawar lagi. Begitulah Renat sekarang. Ia bahkan sudah tidak bisa marah atau berteriak pada Abi. Yang ia lakukan malah memaksakan senyum dan pada akhirnya menangis. "Re," panggil Zuri bergerak lebih dekat pada Renat. Diusapnya bahu Renat dengan sayang, berharap lewat usapan, kesedihan Renat dapat berkurang. "Aku tau kamu kecewa. Tapi bakalan lebih baik kalau kamu tanya dulu ke suami. Dia maunya gimana. Kalau aku jadi kamu, aku pasti udah marah-marah. Tapi kitakan beda. Kamu yang paling tau gimana tipikal suami kamu." Renat mengusap lagi mata, takut ketahuan sekitar. "Kalaupun dia malu bawa bekalnya, diakan bisa makan di mobil." "Re, kamu udah ngomong ke dia?" "Udah," sahut Renat sedikit tegas. "Dia bilang lupa." "Kalau emang lupa gimana?" "Ya masa lupa, sih? Kalau dia mau makan pasti keingetlah ada bekal yang aku siapin." Renat menjawab terus. Wajahnya terlihat semakin merah saja karena menahan emosi dan air mata. Zuri hendak menjawab, tetapi terinterupsi sebab suara ponsel Renat yang berbunyi. Kedua wanita itu sama-sama menoleh ke satu layar ponsel. Zuri yang sadar bahwa panggilan itu dari Abi dengan siaga menciptakan langkah untuk menjauh. Sedang Renat masih diam, tepatnya berpikir haruskah ia angkat atau tidak. Tapi kalau panggilan tersebut untuk mengabari Abi lembur atau tidak, Renat jadi khawatir juga. Renat mengambil benda pipih itu, mengusap layar untuk menerima panggilan. "Re?" "Apa?" jawab Renat, kali ini wanita itu yang menghilangkan nada ketika menjawab. "Aku pulang telat malam ini," kata Abi dari seberang telepon dan mata Renat jadi merah tanpa alasan. "Nggak usah nungguin aku pulang, ya. Kamu langsung tidur aja tapi di kamar. Nggak usah masak juga soalnya aku sekalian makan di luar." Air mata Renat sukses jatuh. Mendengar ucapan Abi barusan entah kenapa begitu menyentil Renat. Seharusnya Abi tidak membahas perihal masak-memasak dan makan di depan Renat di saat seperti ini. Sebab hal tersebut hanya menumbuhkan pikiran negatif di kepala Renat. Dimatikannya ponsel tanpa berbicara apa-apa lagi. Renat mengambil beberapa lembar tisu sebelum bergerak cepat ke kamar kecil. Dia benci menjadi sensitif atas alasan apapun. Rasanya memuakkan menjadi seorang pencengeng. Ketika tiba di kamar kecil, Renat masuk ke salah satu bilik dan melepaskan sesak di sana. Air matanya keluar tanpa mau berhenti. Untuk sepuluh menit, Renat bertahan di dalam bilik toilet. Ia mendorong ingusnya, mengusap mata dan mencoba menenangkan diri. Renat tidak mau menangis di depan Abi apalagi untuk alasan yang tidak masuk akal. Sudah seharusnya Renat menerima saja kalau Abi memang tidak suka membawa bekal dan mencoba untuk tidak protes. Tapi rasanya sulit. Ketika Abi dapat melakukan apa saja untuk membuat Renat bahagia, setidaknya Renat pun juga begitu. Dia ingin dapat pula menjadi romantis untuk Abi walau hanya melalui hal-hal kecil. Renat keluar dari bilik toilet. Menatap pantulan mengerikan lewat cermin. Mata bengkak, hidung merah, dan pipi sembab. Renat mengusap wajah lagi dengan tisu, merapikan penampilan yang sudah sulit untuk dirapikan. Dengan kepala tertunduk, Renat berjalan keluar dari sana. "Re," panggil salah satu rekan dan Renat mau tidak mau mendongak. "Kenapa, Ta?" "Ponsel lo daritadi bunyi terus nggak pakai berhenti," ucap Yata. "Nah tuh bunyi lagi!" Renat tersenyum, pertanda ucapan terimakasih. Dia buru-buru mendekati ponsel dan melihat panggilan dari Abi masuk lagi. Renat membiarkan, malas berkomunikasi usai menangis. Ketika dering terhenti, tertera ada tujuh panggilan tidak terjawab. Tidak lama, Abi mengirimkannya pesan singkat berharap dapat dibaca Renat. A Abi❤: Re. A Abi❤: Sayang. A Abi❤: Angkat dulu telfonnya aku mau ngomong. A Abi❤: Re :( Renat mencibir melihat emot sedih yang Abi buat. Dirinya tidak tahan untuk tidak gemas, namun akal sehat untung masih mengontrol Renat. Renat tidak mau tertipu. Renat membalikkan ponsel, tidak mau menatap benda pipih itu lagi. Namun baru akan meraih tas kecil berisikan make up, Renat kembali tersentak akibat getar ponsel. Renat menghela napas, luluh juga akibat Abi. "Kenapa?" "Aku nggak jadi pulang telat," kata Abi tiba-tiba dan Renat sukses mengernyit. "Kamu tungguin nanti aku jemput." "Kenapa nggak jadi?" "Nggak apa-apa," sahut Abi tenang. Alih-alih bereaksi, Renat malah diam. Sejujurnya apabila Abi pulang terlambat, maka Renat memiliki kesempatan untuk bertemu Moza hari ini. "A, gini---" "Kenapa?" "Abis pulang aku mau ketemu orang dulu." "Orang apa?" tanya Abi dengan nada bingung. "Utan? Sawah? Gila?" Renat mencebik, "Nggak usah ngelawak, lagi nggak pengen ketawa akunya." "Iya." Abi menjawab cepat, patuh sekali. "Maksud aku kamu mau ketemu siapa? Kan biar jelas." "Temen lama," dusta Renat. Bahkan ia saja tidak terima ketika harus menyebutkan status Moza sebagai teman. Mau itu teman baru ataupun teman lama sekalipun. "Temen SMA? Siapa?" "Temen di rumah, waktu aku jadi remaja mesjid," ujar Renat dengan nada jutek. Tawa Abi terdengar lama setelah ucapan Renat yang mana mungkin dapat ia percaya. "Serius aku. Kamu mau ketemu siapa? Aku kenal?" "Nggak tau ya kamu kenal atau enggak. Terus gimana? Aku dikasih izin, nggak? Cepet dong aku lagi pundung sama kamu, males telfonan lama-lama." "Pergi sendiri emangnya bisa?" tanya Abi memastikan. "Atau aku yang anter?" "Bisa," angguk Renat seorang diri di tempatnya. "Tapi pulangnya jemput." "Emang pulang jam berapa?" "Nggak bakalan lama-lama, paling setengah jam." Renat melirik jam, menghitung kira-kira jam berapa pertemuannya dan Moza selesai. "A." "Apa? Yaudah kalau pulang kasih tau aku." "A!" panggil Renat lagi. "Apa, Sayang?" "Kamu jangan makan di luar, ya, makan di rumah aja." Di seberang sana, senyum tipis dengan raut bersalah terlukis jelas di wajah Abi. "Iya." "Terus kamu jadi pulang telat?" "Aku liat nanti," ucap Abi. "Pokoknya kalau kamu minta jemput bakalan langsung aku jemput." "Yaudah iya." "Iya. Dah, Sayang." "Dah, A!" Benar-benar! Mood Renat sukses terbang naik turun hari ini. Setelah satu detik sebelumnya ia menangis, dan di detik berikutnya Abi sukses membuat Renat menahan senyum bahagia layaknya orang setengah gila. Renat menepuk pipi, berusaha untuk tidak terlalu kentara dan membuat Zuri yang bisa saja sedang memperhatikannya jadi berujung penasaran lagi. Renat kembali menjangkau tas make up miliknya. Kemudian mempoles sedikit wajah agar tidak lagi terlihat sembab. Tampaknya, pelan-pelan kesedihan Renat mulai menguap. ♦ r e t u r n ♦
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN