58. Malaikat Perempuan

2310 Kata

Deru kencang suara mobil membelah udara dingin puncak. Menghancurkan segala moment indah yang baru saja terjadi beberapa jam sebelumnya. Tidak ada hal yang terasa berarti ketika pada akhirnya yang dilihat hanyalah ketidakberdayaan sang istri. Jemari Abi mengusap mata yang berair. Benar! Dia menangis. Abi benar-benar tidak mampu bertahan pada situasi seperti ini. Bahkan ketika Renat menolaknya dua kali, ketika ia mendapati masalah hidup yang bersifat pribadi, dirinya masih bisa bertahan terhadap gejolak air mata. Kali ini tidak sama. Abi merasakan takut yang tidak biasa terhadap status ayah yang tengah ia sandang untuk calon anak mereka. Abi tidak sanggup membayangkan hal paling buruk terjadi pada istri dan anaknya. Walau Renat hanya terlihat tengah pingsan biasa, tapi Abi benar-benar mera

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN