Cantika berjalan di lorong rumah sakit didampingi oleh Arisha. Selama berjalan tidak sekalipun gadis dua puluh tahunan itu melepas pelukannya dari tangan sang ibu. Tidak banyak barang yang dibawa oleh mereka mengingat hampir tujuh belas tahun Cantika tertidur di rumah sakit itu. Satu tas jinjing kecil yang ditenteng oleh Arisha “Nanti Mama bakalan ketemu sama Bibi Ros, Bibi Mel, Bibi Cempaka. Mereka tuh orangnya baik banget loh, Ma.” “Udah berapa kali kamu ngomongin mereka. Mama jadi beneran penasaran deh sama mereka. Lebih karena Mama merasa berterima kasih sih.” “Mereka semua udah nunggu Mama di villa. Nanti kalo Mama udah lebih sehat, kita mampir ke Bakery di Bogor ya.” Cantika tersenyum penuh arti menatap puteri satu—satunya. Ada sedikit perasaan bersalah menelusup

