Semalaman aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Pikiran ini terus saja tertuju pada foto-foto Tissa yang raib. Aku harus bilang apa? Alasan apa yang akan diri ini kemukakan tanpa sedikit pun terdengar mengada-ada? Sebab, semua itu memang bukan kesengajaan. Ini semua gara-gara cowok sipit itu! Namun, tak ada yang bisa aku lakukan selain menghadapi kenyataan, karena semua sudah terjadi dan tak akan bisa kembali seperti semula lagi. Foto-foto Tissa dan Dito juga tak akan kembali kalau sedih dan merutuki diri terus.
Mataku sampai muncul bulatan hitam di bawahnya. Ini pasti karena aku kurang tidur. Mana ada jadwal foto lagi nanti. Ish!
Sebuah pesan masuk ke ponsel, nama Tissa bertengger di sana. Seketika dadaku berdegup, aku takut.
[Aku mau lihat hasil foto kemarin, dong. Nanti temui aku di restoran bawah, ya.]
Alamak, mati aku! Diri harap-harap cemas. Tak dapat kubayangkan reaksi Tissa bila tahu semua fotonya hilang. Hanya kubalas oke dan memberitahunya bahwa diri ini belum mandi, semoga Tissa bisa mengerti. Sambil mandi, aku berusaha mencari kata-kata dan menyusunnya seapik mungkin. Namun, otak ini seakan-akan gelap dan tak menemuka apa pun. Aku memutuskan pasrah saja.
Selesai mandi air hangat, aku bergegas meraih kamera dan tas berisi laptop yang tergeletak dekat bantal. Selepas itu, aku langsung menuju tempat yang dimaksud Tissa. Kegiatan rutin saat pagi di hotel ini adalah sarapan yang tersaji prasmanan. Lumayan, aku bisa memilih menu dengan porsi sesuka hati, meskipun beberapa dibatasi.
"Terlalu biasa. Nanti kita tanya Rea aja deh. Kali aja dia ada usul."
Perbincangan mereka terhenti saat aku sudah ada di dekat mereka. Kuletakkan tas di atas meja, Tissa menyeret sepiring shusi agar tasku bisa bertengger cantik. Dito juga menggeser tehnya, sedikit. Sejak tadi dia memperhatikanku, seolah mengetahui bahwa diri ini sedang cemas. Aku yakin, dia pasti mampu membaca sorot mataku yang tak biasa.
"Lo kenapa?"
Nah, kan! Akhirnya dia bertanya juga. Benar dugaanku. Aku duduk dengan harapan semoga Tissa dan Dito nggak marah.
"E-nggak."
Dih! Mulut ini kenapa harus gagap segala, sih?
"Wajah lo pucet. Sakit?" tanya Tissa. Dia mendekatkan wajahnya ke arahku, seolah-olah mencari pembenaran atas pernyataannya.
"Enggak kok. Kurang tidur aja."
Aku mengalihkan fokus, membuka laptop.
"Mana foto yang kemarin itu?" tanya Tissa. Dia mendekat dengan menggeser kursi agar bisa melihat ke layar laptop dengan leluasa. Sementara itu, Dito tampa menyimak dengan teh di tangan yang baru saja dia sesap.
Tiba-tiba d**a ini bergemuruh. Kenapa dia harus menanyakan yang terakhir? Diam-diam aku mengambil napas, lalu mengembuskannya perlahan.
"Ma-maaf, Tis. Fo-fotonya ... ke ... ha ... pus ...."
Akhirnya bisa keluar juga kalimat itu setelah susah payah aku berjuang mengatakan.
"Apa?! Kok bisa, sih?!" pekik Tissa. Dia tampak terkejut. Aku menunduk dalam-dalam. Siap tak siap, inilah risikonya. Aku yakin, Dito juga sedang menatapku penuh amarah.
"Lo teledor banget sih, Re! Lo tuh gak pernah berubah, ya. Selalu aja kayak gini! Kapan, sih, kebiasaan buruk lo ini ilang, ha?! Gue udah percaya, ya, sama lo buat jadi fotografer kita. Tapi nyatanya apa? Lo ngecewain!"
Apakah itu barusan suara Dito? Dia marah hebat padaku? Oh my god! Rasanya aku lebih memilih ditelan anaconda saja daripada harus kena semprot mas mantan. Bahkan, aku tak berani menatap matanya.
"Kekanak-kanakan!" bentak Dito penuh penekanan. Terdengar jelas sekali dari telinga ini bagaimana dia bicara. Apa pun itu, aku terima.
Aku sangat merasa bersalah, dan memang bersalah. Wajar bila mereka marah.
"Maafin gue, Tissa. Gue beneran nggak sengaja. Itu semua gara-gara cowok itu. Dia ngerebut kamera gue dan malah–"
"Udah-udah. Nggak apa-apa lagi, Re. Cuma foto ini, 'kan? Toh, ntar bisa foto lagi." Tissa mengusap-usap punggung tanganku.
Apa aku tidak salah dengar? Tissa tidak marah? Biar begitu, diri ini belum berani mengangkat wajah.
"Tapi ... Dito? Dia marah banget sama gue."
Entahlah. Rasanya aku ingin menangis. Mendadak pandangan ini buram, dalam sekali kedipan, air mata jatuh ke pangkuan. Sakit sekali dimarahi orang yang masih aku cinta di depan orang lain.
"Udah, nggak apa-apa. Maafin Dito, ya. Dia emang gitu. Kalau marah nggak bisa dikontrol. Ntar juga mereda, kok. Lo sabar, ya."
Kini, Tissa memegang pundakku, seakan-akan memberi rasa tenang. Ah, tidak. Tetap saja sakit. Setelah Tissa pergi, aku mulai sesenggukan. Ternyata, tak enak mencintai orang yang mungkin tak peduli lagi. Rasanya lebih sakit saat ini daripada keputusan Dito meninggalkanku pertama kali. Aku menyembunyikan wajah pada lipatan tangan di meja.
"Nanti biar aku yang ngomong ke Dito." Tissa meninggalkanku sendirian. Perut yang semula kelaparan, mendadak penuh dan tak berselera lagi untuk sekedar menyeruput teh ala Jepang ini.
Diri ini memutuskan untuk pergi saja, sepertinya hari ini pun mereka malas bertemu denganku. Lebih baik, aku jalan-jalan sambil menenangkan diri.
"Nggak perlu kayak gini kali, Dit. Dia juga udah minta maaf, 'kan?"
Tanpa sengaja aku mendengar percakapan mereka. Ini pasti tentangku. Diri berhenti sejenak untuk mencuri dengar perbincangan mereka. Tentu saja aku sembunyi supaya tidak diketahui.
"Ya, tapi dia itu teledor banget, Tissa."
Aku yakin, Dito pasti marah besar. Dia sudah bayar aku mahal-mahal, mengajak ke Jepang, tetapi aku malah merusak acaranya. Dia pantas memakiku. Bahkan, bila perlu aku sendiri akan memaki diri ini. Aku merutuk berkali-kali.
"Iya, tapi dia bilang nggak sengaja, 'kan?"
"Dia itu kebiasaan. Sifat teledor dan kekanakannya nggak pernah hilang dari dulu!"
Wait! Apa maksudnya dia sedang menghinaku di depan calon istrinya? Ya Allah, sesak sekali rasanya da'da ini. Bisa-bisanya Dito sejahat ini.
"Memangnya kamu udah lama kenal dia?"
Pertanyaan Tissa ini membuatku ingin tahu lebih dalam. Namun, tak ada suara sama sekali setelah itu, cukup lama.
Sial! Untuk apa aku menunggu jawaban yang sudah jelas Dito akan mengatakan tidak? Kuputuskan pergi saja dari tempat ini. Lari sekuatnya agar lebih cepat menjauh dari mereka. Batinku sakit, amat sakit. Dito kejam!
*
Saat ini, aku tengah berada di sebuah tempat untuk menenangkan diri dengan mencari obyek-obyek yang bisa kubidik dengan lensa ini. Tak ada yang bisa membuatku tenang selain mencari suasana baru untuk gambar terbaik. Pohon sakura yang gundul di tepi anak sungai mampu membuat diri ini
sedikit tenang. Gemercik air yang mengalir menabrak bebatuan terasa begitu sejuk. Suasana yang sangat nyaman. Aku duduk sambil merenungi nasib. Semua ini seakan-akan terjadi begitu cepat. Andai aku bisa menolak, mungkin saat ini tak akan merasakan perih terlalu dalam.
Dalam lamunan ini, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara seperti langkah kaki. Tentu saja mata ini langsung mengedar, mencari asal suara tersebut. Saat menoleh ke kanan, tiba-tiba sudah berdiri dengan gagah cowok yang amat kubenci hingga detik ini.
"Di-Dito?"
Ah, kenapa harus gagap, sih?!
"Iya, gue," katanya, terdengar dingin dan tak berekspresi.
"Gu-gue minta maaf soal ...."
"Lo sengaja, 'kan? Lo sengaja hapusin foto-foto gue karena lo masih cinta sama gue. Iya, 'kan? Kok lo tega, sih?"
Astaga! Apa aku tidak salah dengar? Dia ini benar-benar, ya! Sudah menuduh, sekarang menghakimi perasaanku pula. Boleh tidak aku memaki dia?
"Enggak gitu, Dit. Sumpah!" Aku ingin meyakinkan saja, bahwa memang bukan seperti itu ceritanya.
"Denger, ya, Re! Gue itu udah anggap lo temen. Tapi kenapa lo kayak gini, sih? Kalau masih cinta sama gue, lo nggak perlu kayak gini. Gue kecewa sama lo!!"
Bangke! Akhirnya tercetus juga makian itu. Dito benar-benar keterlaluan. Begitu teganya dia berucap sekasar itu. Apa dia tidak tahu bagaimana remuknya hati ini? Bertahan melihat keromantisannya dengan Tissa itu seharusnya aku mendapat rekor muri. Iya, penghargaan terhebat untuk diri ini karena bisa kuat menghadapinya.
"Cukup, ya, Dit! Lo boleh nyalahin gue, lo boleh maki-maki gue. Tapi jangan pernah lo singgung perasaan gue dalam masalah
ini. Lo itu ...."
Ah, tidak! Diri ini tak mungkin
mengungkapkan semuanya di depan cowok berengsek ini. Lagi pula, Dito tengah emosi, pasti dia akan mengira yang macam-macam nanti.
Aku memilih untuk pergi. Semakin lama di sana, semakin hancur pula hati ini. Susah payah aku menata hati semalaman, tak mungkin hancur dalam sekejap mata. Ah, bahkan semuanya telah menjadi abu.
"Rea! Rea!"
Aku tak acuh pada panggilan Dito. Justru aku malah berlari agar lekas lenyap dari hadapan cowok itu.
Kamu tidak akan pernah tahu rasanya jadi aku, Dito. Tak akan pernah! Lagi-lagi buliran itu menganak sungai. Kenapa aku jadi secengeng ini sekarang? Rasanya diri ini terlalu rapuh.
"Rea, Tunggu!"
Masa bodoh dengan panggilan itu. Aku harus segera lenyap dari hadapan Dito. Dia menemuiku hanya untuk menghakimi perasaan ini. Lalu, mengapa aku tak bisa melupakannya? Benci. Bahkan aku sendiri belum bisa meyakinkan kebencian seperti apa yang aku sematkan padanya.