Berlari bukan untuk menghindari kenyataan, hanya saja diri ini tak sanggup berhadapan dengan sebuah fakta. Bagaimana aku bisa menatap matanya yang menyiratkan amarah, sedangkan diri ini justru menyiratkan rindu? Terlalu sakit memaksa diri tetap ada di sana, menghadapi cecaran dari ceceran kisah yang telah usai. Ini sangat berat buatku.
Dito terlalu terang-terangan menyudutkan diri ini. Memang aku sering menyindirnya, tetapi seharusnya dia bisa bersikap layaknya lelaki bukan? Maksudku, tak bisakah dia untuk tidak mengungkit-ungkit perasaan yang bahkan sampai detik ini belum bisa kulenyapkan? Apalagi mengaitkannya dengan foto yang hilang itu. Ini sungguh bagaikan bebatuan yang menghantam kerapuhan dinding-dinding hatiku, mengoyaknya hingga tak berbentuk lagi.
Dedaunan yang gugur tertiup angin semakin menambah pilu dalam hati ini. Seakan-akan lagu berjudul Selalu Cinta dari Kotak Band mengiringi langkahku yang terseok. Aku lelah, rasanya tak mampu lagi untuk sekadar bergerak. Diri jatuh terduduk, tangis ini memecah. Dimas pasti akan mengejekku kalau dia sampai tahu semua ini. Sahabat macam dia itu? Hiks, terkadang aku rindu juga dengan kekonyolannya.
Ah, rasanya sudah cukup meratapi semua ini. Aku menangis bukan karena Dito memarahiku. Bukan. Hanya saja, aku kecewa pada diriku sendiri yang terlalu lama berada di zona nyaman. Aku terlalu menikmati dan membiarkan perasaan ini menggerogoti hati, sehingga terlalu sakit mendapati kenyataan bahwa Dito tak lagi memiliki perasaan itu.
Aku yang terlalu berharap pada pertemuan indah setelah berpisah sekian lama, lalu kenyataan mempertemukan kami dalam keadaan Dito sudah ada yang memiliki. Sementara itu, aku masih sendiri dengan sisa-sisa rasa yang mengendap di hati.
Setelah puas merenung, kusapu lelehan di pipi. Diri ini bangkit, mencoba kembali menyusuri jalanan yang tampak panjang ini. Tubuhku seperti menabrak sesuatu. Oh my god! Saking tidak fokusnya, aku bahkan bisa menambah masalah baru di sini.
"Gomennasai, gomennasai," kataku sambil setengah membungkuk, mencoba meminta maaf kepada orang di hadapan.
"Kamu?!"
Mendengar ucapan itu, mata ini membelalak. Suaranya tak asing di telinga. Kutegapkan badan, lalu melihat siapakah gerangan yang tadi kutabrak. Tampak jelas di hadapan, seorang cowok bermata sipit itu berdiri dan menatapku.
Seketika mata ini menatapnya tajam dan penuh api amarah. Seolah-olah ada yang menyulut, perkataan Dito kembali terngiang-ngiang di telinga. Semua ini gara-gara cowok yang saat ini berdiri di depanku! Ah, rasanya aku tak sanggup bila teringat ucapan tajam yang keluar dari mulut Dito. Diri merasakan ada yang menghangat di pipi. Ah, lagi-lagi aku secengeng ini.
"Doushite naiteru?"
Apa itu artinya? Aku tak mengerti.
"Mengapa kamu menangis?" Cowok di hadapan bertanya, mungkin dia mengulang pertanyaan sebelumnya. Aku mendengar ada keprihatinan dari suaranya. Ah, mana mungkin? Semua ini bukankah salah dia? Dia yang telah menyebabkan hal ini terjadi.
"Bukan urusan lo! Lagian siapa elo? Apa peduli lo sama gue?" amukku tanpa peduli lagi dengan penilaiannya. Biar saja dia mau menilai aku bagaimana, tak akan kuhiraukan.
Diri ini memutuskan untuk pergi saja. Lama-lama berhadapan dengan cowok sipit itu juga membuat aku naik pitam.
"Hei, lo kenapa?"
Astaga! Dia mengikutiku? Stupid!
"Bukan urusan lo. Lo mau apa lagi dari gue? Belum puas lo cari masalah sama gue? Gara-gara lo, gue dimarahi habis-habisan sama klien gue," semburku sekenanya. Semua yang terpendam harus bisa kukeluarkan, karena tak nyaman memendam emosi.
Aku berhenti, menatap tajam ke mata cowok di hadapan. "Kenapa lo hapus semua foto-foto di kamera gue? Di sini gue itu kerja, bukan main-main. Lo udah ngerugiin gue. Terus, sekarang lo mau apa lagi?" imbuhku, tak kalah tajam dari sebelumnya.
Pemuda ini malah mengangkat sebelah alisnya. Alih-alih prihatin, dia justru seperti orang linglung. Matanya seakan-akan bertanya-tanya.
"Kenapa lo liatin gue kayak gitu?" gertakku.
"Cewek aneh. Tinggal foto lagi apa
susahnya?"
Apa tadi dia bilang? Tinggal foto lagi? Benar-benar makhluk tak berhati dan sepertinya saat pembagian otak dia tidak datang. Atau dia kelebihan makan kerupuk, sehingga membuat setiap ucapannya terdengar enteng?
"Enteng banget lo ngomong! Itu foto prewed. Kalau harus diulang, bakal menyita waktu. Sementara di Jepang ini cuma sebentar. Lo gak punya perasaan banget, sih?" cecarku tiada putus.
Pemuda ini terdiam. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini, yang pasti aku sudah puas telah meluapkan apa yang terpendam.
"Lagian lo itu aneh banget. Cuma foto doang aja sampai segitunya!" Lagi-lagi dia berkata ringan, seolah-olah di mulutnya tak ada penyaring. "Kelainan ya lo?" imbuhnya sambil menatapku aneh.
"Sumpah, ya! Lo itu manusia atau manekin, sih? Punya otak dipakai, jangan cuma dijadikan isi kepala doang. Ah, udahlah. Susah ngomong sama orang yang nggak punya perasaan kek lo!" pungkasku.
Tangan ini menyeka lelehan di pipi. Sia-sia saja memakinya, dia tak akan memahami masalahku.
"Gomen ne," ujar pemuda di hadapan, nadanya terdengar melas. Diri yang tadi tak memandangnya pun, kini harus memastikan bahwa dia benar-benar tulus meminta maaf.
"Udahlah. Udah terlanjur juga. Toh, dia udah benci sama gue," kataku, pasrah.
Setelah kupikir-pikir, memang tak ada gunanya marah atau apa pun itu. Foto yang hilang tak akan bisa kembali, dan Dito juga sudah marah. Tak mungkin aku membujuknya untuk memaafkan diri ini bukan? Malas juga bila itu harus aku lakukan. Biar saja dia marah, itu bukan urusanku. Asal, dia tak mengungkit perasaanku saja itu sudah cukup.
"Memangnya siapa orangnya?" tanya pemuda bermata sipit ini.
"Penting banget, ya, sampai lo harus tau?" Mata ini memicing.
Cowok sipit ini mengangkat pundaknya. "Sama sekali tidak penting. Hanya saja, dia terlalu berlebihan. Hanya foto hilang saja sampai mengamuk. Lagi pula, tidak semua foto yang lo ambil akan dicetak sama dia."
Mendengar ucapan cowok ini, aku baru menyadari sesuatu bahwa ucapan cowok di hadapanku ini benar. Seharusnya, Dito tak perlu semarah ini hanya karena fotonya hilang. Toh, yang hilang hanya beberapa, itu pun di tempat yang sama, dan masih ada beberapa foto lagi sisanya.
"Siapa, sih?"
Mata ini kembali memicing. Sepertinya cowok ini benar-benar penasaran. Kepo sekali!
"Mantan gue," jawabku singkat.
"Jadi ...."
"Iya. Mantan gue mau menikah, dan gue jadi fotografernya," jawabku lagi, mencoba menerangkan.
Pemuda ini tertawa, sampai matanya mengeluarkan cairan. Sialan! Dia menertawaiku?
Pletak!!
"Mam'pus!" kataku puas.
Rasakan! Cowok sipit ini terjungkal ketika sebuah sepatu melayang ke kepalanya. Dia meringis. Aku rasa dia menahan sakit.
"Emang enak?" ledekku yang melihatnya masih tergeletak. Dia memegangi lengannya sedari tadi.
Setelah puas mengerjai dan menertawakan pemuda sipit itu, aku memutuskan untuk menolongnya. Diri ini mencoba membantunya bangkit, sepertinya lengannya benar-benar cedera. Tadi aku menyerangnya saat dia lengah, mungkin dia tak siap dan jatuh dengan posisi salah.
"Gomennasai. Sakitkah?" tanyaku ketika cowok ini sudah bangkit. Dia duduk di batu sedang, di bawah pohon sakura yang bunganya rontok.
Aku mencoba mengurutnya. Hanya bermodalkan sedikit ilmu urut-mengurut dari Kakek dahulu, dan bukan berarti aku juga pandai ilmu urat. Dimas saja yang sialan, selalu mengataiku tukang urut. Semua ini berawal dari saat dia terpeleset dan jatuh, kemudian aku mencoba mengurut kakinya. Kejadian seperti yang dialami Dimas juga dialami beberapa orang, yang tanpa sengaja aku pun ada di antara mereka. Naluri malaikatku, eh, maksudnya rasa empatiku hadir begitu saja dan menolongnya. Dari situlah Dimas sering memanggilku 'kang urut', selain Pus tentu saja.
"Besok udah sembuh, kok," kataku.
Cowok bermata sipit ini mencoba menggerakkan lengannya pelan. "Arigatou gozaimasu," ujarnya yang masih meringis. Mungkin lengannya masih sakit.
"Do itashimashita," jawabku sambil memakai sepatu.
"Kamu bisa bahasa Jepang?" tanyanya ketika diri sudah bangkit.
"Sedikit, modal google translate," jawabku dengan iringan tawa.
"Sekali lagi, terima kasih."
"Dengan senang hati. Gue duluan, ya."
Aku melenggang tanpa menunggu persetujuan dari cowok sipit tersebut.
Saat sudah agak jauh, pemuda itu
berteriak, "O namae wa nan desu ka?" Dia menanyakan siapa namaku.
"Panggil aja Rea." Aku menjawab dengan berteriak tanpa menoleh.
"Namaku Rafael," katanya lagi.
Aku hanya mengacungkan jempol ke udara. Bunga sakura yang berguguran mengiringi langkah ini hingga dekat halte. Aku menaiki bus untuk kembali ke hotel. Cowok bermata sipit itu, mungkin bisa jadi temanku selama di Jepang. Paling tidak, aku bisa tak selalu fokus pada perasaanku ke Dito kalau ada Rafael.