Berlari bukan untuk menghindari kenyataan, hanya saja diri ini tak sanggup berhadapan dengan sebuah fakta. Bagaimana aku bisa menatap matanya yang menyiratkan amarah, sedangkan diri ini justru menyiratkan rindu? Terlalu sakit memaksa diri tetap ada di sana, menghadapi cecaran dari ceceran kisah yang telah usai. Ini sangat berat buatku. Dito terlalu terang-terangan menyudutkan diri ini. Memang aku sering menyindirnya, tetapi seharusnya dia bisa bersikap layaknya lelaki bukan? Maksudku, tak bisakah dia untuk tidak mengungkit-ungkit perasaan yang bahkan sampai detik ini belum bisa kulenyapkan? Apalagi mengaitkannya dengan foto yang hilang itu. Ini sungguh bagaikan bebatuan yang menghantam kerapuhan dinding-dinding hatiku, mengoyaknya hingga tak berbentuk lagi. Dedaunan yang gugur tertiup an

