Permintaan Maaf Dito

1411 Kata
Mata mengerjap, memastikan kembali bahwa hari telah berganti. Kuraih ponsel, melihat jam di sana. Pukul lima pagi, ini artinya di Indonesia masih jam tiga. Diri mencoba mengingat, ternyata semalam aku tertidur setelah mengirim file ke Dimas. Pantas saja, badan terasa enteng. Ternyata aku tidak begadang. Ini sesuatu yang seharusnya bisa dapat rekor Muri lagi. Pasti Dimas tak akan percaya bila mendengarnya. Seorang Puspita Aggreani bisa tidur di bawah jam sepuluh malam. Amazing! Ibu Rossa Chandraningsih dan Satya juga pasti nggak akan percaya. Aku sendiri saja ragu. Apa semalam aku minum obat tidur? Ah, tidak mungkin. Sudahlah, ini lebih baik. Badanku lebih terasa ringan dan tak pegal-pegal. Pagi yang cerah harus diawali dengan pikiran dan kegiatan positif juga. Sepertinya hari ini tak ada kegiatan memotret, karena setelah mengecek pesan tadi tak ada yang dari Tissa. Hanya ada chat-nya yang sudah kemarin. Apa ini artinya hari ini aku bebas? Oke, aku harus mengatur jadwal mau jalan-jalan ke mana untuk seharian ini. Pastinya tak akan jauh-jauh dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Hitung-hitung hemat pengeluaran, karena harus merogoh kocek pribadi. Namun, aku penasaran, kenapa Tissa dan Dito tak ada menghubungi? Apakah mereka benar-benar bertengkar hanya gara-gara aku? Ah, aku jadi ingat Dito waktu kemarin itu. Tidak, Rea! Buang jauh-jauh hal negatif tersebut. Hari ini harus indah, tak boleh ada duka di antara kita, eh, maksudnya tak boleh ada duka dalam hati. Setelah merapikan kamar, diri ini mengalungi kamera. Ya, hanya benda ini yang menemani setiap langkah. Aku keluar kamar, tempat pertama yang aku tuju ialah restoran di bawah, tempat mengganjal perut di pagi hari. Entahlah, langkah ini pun terasa lebih ringan saja pagi ini. Seolah-olah beban hati yang kemarin sirna, meskipun membekas. Ketika kaki telah menginjak lantai restoran, mata ini dibuat terkejut oleh Tissa yang duduk sendirian di sudut meja. Sebentar, Dito ke mana? Pandangan kembali mengedar, mencari sosok Dito di setiap penjuru ruangan, tak ada. Apakah Tissa sendirian? Jangan-jangan, mereka bertengkar betulan. Ya ampun! Kau harus minta maaf. Diri mulai mendekat, tetapi langkah ini berhenti kembali saat melihat pergerakan tangan Tissa ke wajahnya. Oh my god, dia menangis? Tunggu dulu, biar kupastikan. Ah, iya. Ternyata dia benar-benar menangis sambil menekuri ponsel. Sepertinya dugaanku benar. Tissa dan Dito bertengkar hebat. Dasar Dito! Bisanya cuma menyakiti dan membuat cewek menangis saja! Sekarang diri mulai ragu, mendekat ataukah tidak? Jika tidak, aku tak bisa minta maaf. Jika mendekat, aku takut Tissa jadi canggung dan malu. Lalu, aku harus bagaimana? Kugigit bibir bagian bawah, mencari ide atau apa pun itu. Sudahlah, lebih baik tak ikut campur urusan mereka. Aku berbalik arah, menuju meja penuh hidangan. Mendadak perut keroncongan akibat semalam tak makan. Biasanya Tissa menelepon, menanyaiku sudah makan atau belum, tetapi semalam tidak. Sepertinya dia benar-benar dalam masalah. Aku jadi ingin tahu lebih dalam lagi. Ah, sial! "Kamu di sini juga? Di mana?" Mataku langsung tertuju pada Tissa ketika mendengar obrolannya dengan seseorang dari telepon. Obrolan yang sama persis ketika di Skytree dulu. Aku sengaja memilih meja dekat dengannya, supaya bisa mendekat saat dia tak lagi menangis. Namun, sayangnya semua itu tak akan terjadi. Tissa tampak sibuk dengan dirinya sendiri. "Kenapa kamu muncul lagi setelah sekian lama ninggalin aku?" Astaga! Kenapa diri ini merasa bahwa itu adalah dialog milikku? Namun, aku masih tersadar, Tissa-lah yang berucap. Dia teleponan dengan siapa sebenarnya? Kekepoan dalam diriku mencuat dan naik delapan puluh persen. "Seharusnya ini nggak boleh terjadi, Fa. Kita udah lama berpisah. Nggak mungkin tiba-tiba kamu menggantikan posisi Dito begitu aja." Mendadak da'da ini seperti genderang ditabuh ketika mendengar nama Dito disebut. Apakah orang disebut Fa oleh Tissa adalah seseorang dari masa lalunya? Mungkinkah Tissa mengalami hal yang sama denganku? Maksudnya, kami sama-sama gagal move on. Oke, lanjut menguping. "Iya, aku mau. Kamu di mana?" Tissa bangkit. Dia mengambil clutch di meja, lalu meninggalkan restoran dengan ponsel masih di telinga. Mulutnya pun masih komat-kamit hingga ke luar hotel. Dari balik kaca tempatku menikmati santapan pagi ini, tampak jelas sekali cewek cantik itu masuk ke mobil. Mata ini menyipit, karena Tissa tak duduk di jok belakang, melainkan di dekat kemudi. Ini sesuatu yang aneh. Sangat aneh. Siapakah gerangan yang ditelepon dan semobil dengan Tissa? Tunggu dulu. Otak ini apa-apaan, sih? Kenapa berpikir negatif lagi? Siapa tahu saja itu Dito yang menjemputnya, lalu mereka akan jalan-jalan berdua saja tanpa ada aku. Ini Jepang, selain ada perlu, pasti mereka juga menginginkan liburan. Sama seperti diri ini yang jenuh dengan aktivitas yang itu-itu saja setiap hari. Kepala ini menggeleng, mencoba membuang hal-hal negatif yang sempat bersarang di dalamnya. Pasti Dito mau mengajak Tissa ke suatu tempat. Mereka juga butuh waktu untuk berdua saja bukan? Aku menciptakan lengkungan di bibir, meskipun rasa hati kembali seperti dicabik-cabik. Kunikmati salad buah sesantai mungkin. Pandangan kembali mengedar, orang-orang sudah mulai memadati ruangan. Mata ini terhenti pada sosok tinggi, berkulit kuning langsat, dengan pakaian hangat berwarna hitam, senada dengan sepatu dan celananya. Hampir saja aku tersedak, untungnya diri mampu mengendalikan keadaan. Aku pura-pura tak melihat Dito saat dia menoleh ke arahku tadi. Kepala ini menunduk dalam-dalam supaya tak terlihat. Sepertinya aman. Setelah beberapa saat menunduk dan tak ada orang yang menghampiri meja, kuputuskan untuk mendongak kembali, memastikan keadaan bahwa Dito tak akan menuju ke mejaku saat melihatku tadi. Selamat! Aku menebah da'da, pelan. "Kamu lihat Tissa?" Tiba-tiba makanan yang kukunyah tercecer di meja seiring dengan batuk yang mendadak hadir. Sialan! Kenapa harus tersedak?! Tangan ini tergagap ketika hendak menggapai minuman, sehingga Dito membantu mengambilkannya. Hei! "Kenapa, sih?" tanya Dito. Ada sebuah rasa heran dari nada yang kudengar. Dia sudah mirip sama jin, kadang nongol tiba-tiba, dan menghilang sesukanya. Jin BTS ganteng, lah jin Dito? Ih, amit-amit! Mukanya itu seakan-akan merindukan tanganku untuk mencakarnya. "Enggak, enggak lihat," jawabku dengan sisa-sisa batuk. Perih sekali tenggorokan ini. Eh, apakah barusan aku berbohong? Maksudku, aku tak tahu ke mana Tissa pergi tadi. Aku pikir dia pergi sama Dito. Lalu, Tissa sama siapa kalau Dito saja mencarinya? Ish! Anak itu sedang main rahasia sepertinya. Dito duduk tanpa menunggu persetujuan dariku. Mungkin diri ini terlalu lama merespons, sehingga dia memberi keputusan sendiri. "Aku mau minta maaf soal kemarin." Tentu saja mata ini melebar mendengar ucapannya. Ini aku tak salah dengar bukan? Seorang Dito meminta maaf, ada angin apa? Atau mungkinkah dia habis kejedot pintu? Atau dia salah makan? "Aku serius. Aku minta maaf soal waktu itu." Dito mengulangi kalimatnya. Sepertinya dia menangkap maksud tatapanku yang terheran ini. "Lupain aja. Gue bukan pendendam," jawabku sambil kembali memasukkan salad ke mulut. "Seharusnya aku nggak perlu sampai marah hanya gara-gara fotonya hilang." Nah, itu tahu! Sayangnya terlambat. Ucapannya waktu itu tak mungkin bisa dia tarik kembali. Sebentar, dia mengubah gaya bicaranya yang lo-gue menjadi aku-kamu? Dia masih waras, bukan? Sepertinya dia benar-benar salah makan. "Kenapa ngeliatin aku kayak gitu, sih?" tanyanya ketika aku tak juga menjawab. Aku tersadar, lalu pura-pura mengalihkan pandangan ke sembarang arah. Sialan! Selalu saja tepergok. Aku kembali menatap Dito. "Lo salah makan deh kayaknya," kataku sesantai mungkin. "Kamu udah dikabari Tissa, bahwa hari ini libur dulu?" Dito tak memedulikan pertanyaanku tadi. Aku menggeleng menjawab pertanyaan lelaki tampan di hadapan. "Besok kita pemotretan lagi. Tissa ngajak ke museum." Aku hanya menanggapi dengan oke dan ya, atau sekadar mengangguk. Sebab, membosankan sekali pembahasan seperti ini. Seperti tak ada hal lain saja yang enak dibahas. Dia pikir aku suka dan bakalan tanggap tentang diskusi seperti ini? Dia salah besar bila mengatakan iya. "Kamu ada acara ke mana hari ini?" Pertanyaan Dito kali ini membuatku menatapnya. Maksudnya, adakah saran hari ini aku akan ke mana? Atau mungkin dia mau mengajakku ke mana begitu? Oh, lebih tepatnya mungkin begini, dia mau memberiku uang saku. Iya, supaya aku bisa jalan-jalan sepuasnya hari ini. "Nggak tau. Gue belum ada rencana." Lho, kok malah jawaban itu yang keluar dari mulutku? Ah, sama sekali beda dengan yang di otak. "Bisa nggak sih, ngomongnya nggak pake lo-gue?" Apa tadi? Maksudnya dia protes dengan cara bicaraku? Mendadak diri ini bingung. "Memangnya kenapa? Salahnya di mana? Biasanya juga gitu, 'kan? So?" jawabku sambil mengunyah anggur. "Enggak salah. Tapi nggak enak aja didengernya, kayak ABG." Oh my god! Banyak di luar sana orang-orang dewasa berdialog lo-gue ke teman-temannya. Bola mata ini berputar jengah. "Suka-suka gue, dong!" ketusku. "Kayak orang pacaran aja ngomong aku-kamu. Biasa aja kali," imbuhku tanpa menatapnya. Mpus! Bodo amat dia mau berpikir apa. Aku lebih suka begini, bersikap dingin kepadanya. Sorry, ini bukan balas dendam. Hanya saja, Dito tak boleh berada di atas angin. "Kamu belum move on?" tanya Dito yang langsung kuhadiahi sorotan tajam. Bazeng! Cowok ini memang minta dihajar kali ya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN