Tragedi di Museum

1842 Kata

Sejak obrolan kecil bersama Dito di restoran pagi itu, entah mengapa diri ini jadi kepikiran omongannya yang mengatakan tentang sebutan aku-kamu. Aku jadi ingat saat pacaran dulu, kami tak pernah memanggil aku-kamu atau bahkan yang-yangan. Panggilan kami itu lo-gue. Ya, biasa saja, karena dari dulu Dito itu tak romantis. Namun, sekalinya romantis bisa mengalahkan kisah-kisah manisnya CEO di novel-novel itu. Dito memang susah ditebak, aku sudah pernah bilang bukan? Aku berdecak. Tak seharusnya memikirkan hal-hal sensitif seperti ini. Diri sudah bertekad, bahwa akan berusaha semaksimal mungkin menghilangkan perasaanku kepada Dito yang tak lagi bisa kumiliki. Tanpa terasa, waktu lebih cepat berlalu. Mungkin karena diri ini bahagia, seharian kemarin bisa keliling sesuka hati ke mana saja men

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN