Sejak obrolan kecil bersama Dito di restoran pagi itu, entah mengapa diri ini jadi kepikiran omongannya yang mengatakan tentang sebutan aku-kamu. Aku jadi ingat saat pacaran dulu, kami tak pernah memanggil aku-kamu atau bahkan yang-yangan. Panggilan kami itu lo-gue. Ya, biasa saja, karena dari dulu Dito itu tak romantis. Namun, sekalinya romantis bisa mengalahkan kisah-kisah manisnya CEO di novel-novel itu. Dito memang susah ditebak, aku sudah pernah bilang bukan?
Aku berdecak. Tak seharusnya memikirkan hal-hal sensitif seperti ini. Diri sudah bertekad, bahwa akan berusaha semaksimal mungkin menghilangkan perasaanku kepada Dito yang tak lagi bisa kumiliki.
Tanpa terasa, waktu lebih cepat berlalu. Mungkin karena diri ini bahagia, seharian kemarin bisa keliling sesuka hati ke mana saja mengikuti langkah kaki. Seolah-olah ada damai dalam kalbu ketika melihat keramaian di Distrik Shibuya, bermain dengan burung dara, memotret apa saja, dan masih banyak lagi. Terlebih, aku bisa bersenang-senang dan makan apa saja yang kukehendaki. Bagaimana tidak? Dito memberiku uang secara cuma-cuma. Awalnya diri menolak, tentu saja karena gengsi. Nanti dia bisa besar kepala, dan parahnya lagi, aku takut dia mengungkit-ungkit. Aku baru tahu dia punya kebiasaan baru. Menjengkelkan lagi!
Namun, setelah kupastikan bahwa semua itu bonus, hati ini lega. Bahkan, aku minta bukti hitam di atas putih. Bukan apa-apa, takutnya Dito lupa dan menagih. Aku paling tidak suka sesuatu yang telah diberikan, lalu diungkit di kemudian hari. Itu rasanya seperti makan yang udah masuk tenggorokan, lalu disuruh muntahin lagi. Nggak enak!
"Hari ini pemotretan. Kita ketemu di bawah jam delapan pagi."
Sebuah pesan masuk dari Tissa. Hanya kubalas oke seperti biasanya, dan tak ada balasan berikutnya. Diri bersiap-siap sebelum berangkat. Sisa satu jam lagi untuk jadwal pemotretan dari Tissa. Lebih baik kumanfaatkan untuk sarapan sejenak. Diri juga merasa lebih giat bila perut sudah terisi.
"Doain aja semuanya bakalan cepat beres. Gue sendiri nggak yakin sama perasaan ini. Lo bener, gue memang bodoh. Seharusnya dari awal gue ngomong sama dia, biar dia juga nggak salah paham."
Dito? Dia ngobrol sama siapa di telepon itu? Salah paham apa? Pasti ini tentang Tissa. Lihat raut wajahnya langsung sendu seperti itu. Kasihan dia. Ah, bodo amatlah! Peduli apa sama masalah dia? Dia saja tak peduli dengan masalahku. Eh, tunggu dulu!
"Tapi semua udah telat. Gue udah punya calon istri, dan dia pun benci banget sama gue."
Asli, aku penasaran. Siapa yang dimaksud Dito? Calon istri itu berarti Tissa. Nah, yang benci sama dia itu siapa? Apakah aku?
Oh, no! Dito menoleh. Cepat-cepat aku kembali melangkah, menapaki lantai restoran dengan pura-pura tak melihatnya. Akan tetapi, dalam hati ini masih bertanya-tanya tentang siapakah gerangan yang dia bahas di telepon itu.
Oke, lupakan saja. Pasti itu nggak ada hubungannya denganku. Tidak perlu ikut campur lagi atau memaksa diri terlibat dalam urusan hati dengan mereka. No! Sudah selesai, semua harus berjalan biasa saja.
Selesai sarapan, aku langsung menemui Tissa. Tadi dia mengabari bahwa sedang menunggu di halaman hotel. Aku tak sempat mencari Dito, karena buru-buru. Sepertinya, dia juga tak ada di restoran. Saat makan tadi, mata ini mencuri pandang ke setiap meja, dan tak menemukan Dito di sana. Mungkin saja selepas menelepon tadi dia langsung pergi, atau bisa jadi bertemu Tissa dan berduaan. Selalu saja ada resah tersendiri membayangkan mereka. Aku menggeleng, mencoba membuang pikiran tak penting tersebut.
Setelah terjadi sedikit drama antara Tissa dan Dito yang bingung–bahkan sempat terjadi perdebatan kecil–menentukan tempat, akhirnya tibalah kami di museum yang dimaksud Tissa. Sebuah bangunan menjulang tinggi dengan pemandangan super cantik, rindang, sejuk, dan nyaman ini berdiri kukuh. Ada kolam ikan yang menghiasi sebagian area. Benar-benar cantik dan sejuk.
Aku meletakkan tas tak jauh dari tempatku berdiri. Tissa ingin foto out door, tetapi tetap dengan suasana mewah. Aneh, foto di depan museum apa mewahnya? Kenapa dia tak memilih Hokkaido saja? Pada saat musim semi, bunga di sana cantik sekali. Cocok dengan Tissa yang sama-sama cantik dan memesona.
"Udah siap?"
Suara itu membuat diri ini menoleh. Dito berdiri di dekatku dengan tangan terlipat di daada.
Sambil mengoperasikan kamera aku menjawab, "Sebentar lagi."
"Jangan sampai terhapus lagi!" ujar Dito dengan sedikit penekanan.
Aku hanya menjawab iya. Enggan berdebat, apalagi mengungkit yang sudah berlalu. Kemarin dia sudah minta maaf, tetapi lihat saja, hari ini masih diungkit. Dito memang minta di-hiih!
Setelah siap, aku mengambil gambar Dito saat ber-pose. Tissa pun tak mau kalah gaya dengan calon suaminya. Dia bergaya sangat luwes, cantik sekali dalam balutan gaun berbahan sutra itu. Dua sejoli ini memang serasi, di kamera mereka tampak romantis.
Kini, saatnya foto bersama. Dito dan Tissa tampak ber-pose begitu mesra dan elegan. Gaun pengantin abu-abu itu terlihat begitu cantik di kulit Tissa yang bening. Dito juga tampak begitu tampan dengan pakaian serba abu-abu, kecuali kemejanya yang berwarna putih.
Entah apa yang mereka rundingkan, sejak tadi belum juga memberi kode oke untukku yang ada di atas papan pembatas yang menjorok ke kolam. Tak lama kemudian, mereka ber-pose layaknya orang yang akan berciuman.
Alamak! Daada ini kembali berdegup hebat. Tangan pun gemetar. Aku mengambil gambar sampai tiga kali, karena blur.
Setelah gambar terambil, aku
mengacungkan tangan seperti tanda 'oke'.
"Istirahat dulu, Rea!" teriak Tissa yang masih sibuk di tempatnya bersama Dito.
Aku hanya mengangguk, kemudian merapikan alat potret. Tanpa sengaja dan entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba aku terpeleset di tangga. Untungnya, kamera yang menggantung di leherku tak jatuh. Sialan! Pasti aku kurang fokus tadi. Atau memang tangganya licin, ya? Ah, tau ah!Diri memekik, menahan perih di lutut.
Aku mengaduh kesakitan sambil duduk ala kadarnya. Terlihat lutut mengeluarkan darah, lumayan banyak. Astaga, sampai bolong celanaku. Perasaan saat jatuh tadi biasa saja, tetapi kenapa bisa separah ini lukanya? Perih sekali. Kena apa ya tadi? Apa ada paku di sana? Aih!
"Lo nggak apa-apa, 'kan?" tanya Dito yang tiba-tiba datang. Dia berjongkok di hadapan.
Mata ini menatapanya sejenak, lalu kembali fokus pada lutut.
"Perih," kataku yang memang sakitnya tak main-main. Tak hanya di lutut, tetapi juga hatiku yang masih terbayang bagaimana adegan Dito dengan Tissa tadi.
Seharusnya aku membekali diri dengan tameng-tameng baja, pun mempersiapkan hati agar tak terluka. Seharusnya, diri ini sudah paham bahwa hal-hal seperti adegan tadi akan terjadi. Namun, aku alpa.
"Bentar, ya."
Dito berlari entah ke mana. Aku tak terlalu memperhatikan. Mata ini mengalihkan fokus ke tempat lain, karena jujur saja, aku takut darah. Aku paling nggak kuat kalau sama darah, bisa pingsan kalau jumlahnya banyak. Ih, ngeri!
"Sini, ikut aku!"
Tentu saja aku kaget dengan aksi Dito yang tiba-tiba itu. Dia membantuku berdiri, lalu memanduku duduk di anak tangga paling dasar. Sementara itu, Dito berada di bawah, jongkok.
"Au! Perih!" pekikku ketika alkohol itu tumpah di lututku yang terluka.
"Dikit lagi," ujar Dito sambil terus membersihkan luka di lututku.
Demi apa, ini perih sekali. Aku paling ngeri dengan luka dan darah. Bahkan, bisa menangis bila tak malu. Aku memang seberlebihan itu. Makanya, sebisa mungkin aku berusaha untuk tak jatuh atau apa pun itu. Namun, namanya manusia tak akan luput dari marabahaya. Kugigit bibir, agar perihnya tak terlalu terasa. Sialnya, sama sekali tak berbeda.
"Lain kali hati-hati, tangganya licin." Mata Dito menatapku. Diri ini merasa ada sesuatu di sana. Namun, segera kutepis, karena pasti aku hanya terbawa perasaan saja.
"Thanks udah nolongin gu ... e."
Tadinya mau aku ralat menggunakan 'aku', tetapi malas sekali. Pendirian itu harus kuat, supaya tak diremehkan.
Namun, saat melihat mata elang Dito itu, aku kembali merasakan getaran hebat dalam jantung ini. Seolah-olah mata itu menusuk hati, lalu menembus jantung, sehingga timbullah debar-debar aneh yang dulu ada.
Ini kah cinta ...
Atau sementara ...
Ku tak berdaya ...
Ah, sial! Tatapannya semakin membuatku salah tingkah dan gugup.
"Sorry, gue harus beresin barang-barang."
Sebisa mungkin, aku akan menghindari rasa yang teramat kutakutkan hanya akan bertepuk sebelah tangan itu. Lagi pula, aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk melupakan rasa yang tak akan berbalas. Diri tak boleh berharap pada hati yang tak lagi memiliki celah untuk bernaung. Dito akan segera menikah. Jadi, perasaan itu harus segera lenyap.
"Rea."
Pergerakanku terhenti ketika mendengar Dito menyebut namaku. Tentu aku menoleh, dia sudah bangkit dari posisinya semula.
Tak ada ucapan di detik berikutnya. Hanya desau angin yang meriuhkan keadaan di antara kami. Mata Dito sama sekali tak berpaling dariku, begitu juga sebaliknya. Entah, tatapannya seakan-akan membuatku candu untuk terus tenggelam di dalamnya.
Dito, aku rindu. Ingin sekali kalimat itu aku ucapkan ketika menatap sorotnya.
"Pelan-pelan, jangan jatuh lagi."
Degupan dalam rongga daada ini semakin bergemuruh saja rasanya. Barusan dia menaruh perhatian kepadaku? Ini nggak salah bukan?
"Nggak usah ngeliatin aku kayak gitu. Aku cuma ngingetin."
Asem! Ingin sekali aku memaki-makinya detik ini juga. Manusia terkampret yang pernah aku kenal selain Dimas ialah Dito. Maksudnya apa menarik ulur hatiku seperti itu? Sok ganteng sekali dia!
"Nggak usah GR. Gue ngeliatin elo, karena mata lo ada beleknya," tukasku, kemudian pergi.
Dalam hati aku menyumpah serapah atas apa yang baru saja Dito katakan. Benar-benar minta dipites dia.
Menoleh ke Dito sekilas, memastikan saja kalau dia percaya dengan ucapanku. Satu sudut bibir ini bergerak, merasa puas dengan aksi yang ditunjukkan Dito saat ini. Dia sibuk mencari kotoran di matanya yang jelas-jelas nggak ada. Ha-ha-ha, aku menang! Akhirnya, aku bisa juga membalikkan keadaan. Dimas pasti tertawa mendengar ceritaku ini.
"Rea, awas!"
Dalam sekejap mata, tubuhku sudah berada dalam dekapan lengan kekar Dito. Pandangan kami saling bertabrakan, lebih dekat dan intens dari sebelumnya. Jantungku kembali berdegup tak beraturan di dalam sana. Aku tak dapat mengendalikan diri.
Aih, betapa indahnya paras lelaki ini. Dia begitu tampan, memiliki rahang kuat, bibirnya mirip Kim Taehyung. Serius, aku menyadarinya saat ini.
Deru napas Dito menerpa wajahku, aroma maskulinnya seakan-akan membuatku terbius. Aku candu, benar-benar candu. Entah bagaimana ini bisa terjadi, aku memejamkan mata menikmati setiap sentuhan bibirnya. Namun, tiupan angin membuatku gelagapan. Sialan! Siapa yang mengganggu keromantisanku bersama Dito?
"Ngapain kamu merem-merem kayak gitu?"
Bazeng! Jadi, aku tadi hanya mengkhayal? Tunggu, ngapain aku berkhayal berci'uman dengan Dito segala? Duh, malunya aku. Jangan-jangan, Dito sudah berpikir yang bukan-bukan lagi tadi.
Aku segera melepaskan diri dari dekapan Dito, lalu menjarakkan tubuhku dengannya. Ini lebih memalukan dari jatuh terpeleset di depan orang banyak. Serius.
"Enggak, aku cuma kelilipan," dustaku. Semoga saja dia percaya.
"Mana, lihat?" Dito kembali mendekat, mencoba meraih kepalaku. Entahlah.
"Apaan, sih? Aku bisa sendiri, kok. Nggak usah sok perhatian. Kenal juga enggak."
Sepersekian detik tak kudengar jawaban dari Dito. Aku ingin menatapnya, tapi urung. Enggak mungkin kan aku terang-terangan?
"Kamu beneran nggak mau kenal lagi sama aku? Apa kamu lupa kalau kita pernah sejalan, meskipun sekarang beda tikungan?"
"Kamu yang membuat jalan itu bercabang. Bahkan jalannya kini udah buntu. Jalan dulu udah jadi jurang dan banyak durinya. Nggak perlu lo lewatin lagi."
"Kalo aku bisa membersihkan duri itu, gimana?"
"Nggak mungkin. Jurang itu terlalu dalam. Lo nggak akan bisa turun dan naik lagi." Aku bicara tanpa mengerti apa yang terucap. Kalimat itu keluar begitu saja tanpa terpikirkan sebelumnya.
"Aku bisa membangun jembatan di sana untuk bisa dilalui lagi."
Dito, kenapa dia seakan-akan memberiku celah untuk berharap lebih jauh? Ini sangat menyakitkan.
"Sebenarnya kalian ada hubungan apa?"
Deg! Suara itu berasal dari balik punggung Dito. Aku mengenal suara tersebut. Suara yang sangat tak asing di telingaku, mungkin juga Dito merasakan hal sama. Buktinya, dia juga menoleh kaget ke belakang.