Salah Paham

1392 Kata
"Kalian sebenarnya ada hubungan apa?" Deg! Suara itu berasal dari balik punggung Dito. Aku mengenal suara tersebut. Suara yang sangat tak asing di telingaku, mungkin juga Dito merasakan hal sama. Buktinya, dia juga menoleh kaget ke belakang. Seketika mata ini menatap pada seseorang yang kini berdiri di dekat Dito. Pemuda itu pun sepertinya kaget atas kehadiran Tissa yang tiba-tiba. Oh, mungkin memang aku saja yang tak menyadari langkah wanita cantik itu hingga berada di antara kami. Alamak, harus jawab apa aku? Mungkinkah Tissa mendengar obrolan kami? Bagian mana yang dia dengar hingga mengajukan pertanyaan sedemikian rupa? Astaga, aku tak sanggup menjelaskan bila Tissa mendengar semuanya. Dito tampak gugup, aku mengenali gesturnya kalau dia sedang gugup dan terkejut. Pasti dia bingung mau menjelaskan bagaimana. "Jujur aja, Dit. Aku menangkap hal ini udah sejak lama, tapi nunggu waktu yang tepat aja untuk tanya. Dan sepertinya kali ini waktu yang tepat, setelah beberapa kali aku memergoki kalian." Kontan alisku menukik. Maksudnya beberapa kali itu apa? Memangnya selama ini aku dan Dito terlihat aneh? Perasaan aku selalu menjaga jarak. Memang beberapa kali kami tampak intens, tetapi menurutku tak ada yang aneh. Bahkan, aku sering menyindir Dito. Lalu maksud Tissa apa? "Kamu berubah hanya gara-gara dia?" Tissa melirikku sekilas. Hei, apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka? Kenapa aku nggak mengerti apa pun di sini? "Maksud kamu apa, sih? Aku nggak ngerti." Pertanyaan dalam hati ini sudah diwakili Dito. Memang hal itu yang membuatku penasaran sejak tadi. "Dia mantan kamu, 'kan?" Kali ini jantungku ikut merasakan hawa dingin yang tercipta dari tatapan Tissa. Sungguh, wanita bermata teduh itu kini menatapku nyalang. Seakan-akan dia siap memangsaku hidup-hidup. "Kamu tau dari mana?" tanya Dito, terdengar begitu santai. Pertanyaan bodoh macam apa itu? Di sini aku hanya bisa diam menyaksikan perdebatan dua sejoli di hadapan. Sepertinya aku belum terlalu harus ikut campur dan menjelaskan. Aku rasa memang aku harus tutup mulut lebih dahulu, karena ini bukan arenaku untuk angkat bicara. Apa aku pergi saja? "Nggak usah bertele-tele. Gerak-gerik kamu udah kebaca, Dit. Kamu pun sering salah memanggil namaku dengan nama dia kalau kamu lupa." Aku tidak salah dengar bukan? Dito salah panggil nama Tissa dengan namaku? Maksudnya apa ini? Aku masih menyimak. "Aku bisa jelasin semuanya, Sa. Kamu salah paham. Soal yang salah nama itu, aku–" "Cukup, Dit. Aku kecewa sama kamu. Mati-matian aku berjuang demi cinta kita, tapi inikah balasan kamu?" Cairan bening sudah mulai menggenang di mata gadis cantik itu. Sungguh, aku merasa bersalah di sini. Eh, memangnya salahku apa? Aku sendiri tak mengerti. Soal salah nama itu urusan Dito, bukan aku. Lagi pula, aku sama sekali tak meminta Dito untuk menyebut namaku. "Enggak, enggak. Ini sama sekali nggak seperti yang kamu pikirkan, Sa. Aku bisa jelasin." Dito terlihat begitu bertahan dengan kekukuhan hatinya. Lalu, apa lagi yang aku harapkan? Semuanya sudah jelas, Dito tak mungkin berpaling dari Tissa. Soal percakapan Dito di restoran itu, aku yakin semuanya hanya prasangkaku yang keliru. Dito tak mungkin memiliki perasaan lagi untukku. Salah sebut nama itu mungkin hanya kebetulan. Tuhan, kenapa hati ini terasa begitu sakit melihat kenyataan di depan mata? "Kenapa kamu nggak jujur dari awal soal Rea? Kamu rahasiain ini dari aku? Kenapa? Kamu masih punya rasa sama dia?" "Enggak gitu, Sa. Kamu salah paham." Dasar, Dito memang kurang tegas jadi cowok! "Apa lagi, Dit? Jadi, dia alasan kamu selama ini menunda-nunda pernikahan kita? Kamu masih berharap bisa kembali dengan dia, 'kan?" Perdebatan macam apa ini? Aku sama sekali tidak mengerti harus senang ataukah sedih. Jujur saja, aku bingung. Ini sangat mengejutkan bagiku. "Dan kamu!" Kini mata Tissa terarah kembali padaku. "Kamu nggak tau diri. Nggak tau malu!" Setelah menghardikku, Tissa lari meninggalkan kami. Aku yakin dia masih menangis. Tanpa terasa, air mata pun membanjiri pipi ini. Sepatah kata pun belum kuucapkan, tetapi Tissa sudah menuduh yang bukan-bukan. "Tissa, tunggu!" Alih-alih menenangkan diri ini, Dito lebih memilih mengejar Tissa. Lagi-lagi aku tersadar. Siapalah diri ini, sehingga berharap Dito akan lebih memilih menenangkanku? Aku masih tak mengerti dengan semua ini. Tiba-tiba saja Tissa marah padaku, padahal dari awal kami sama sekali tak pernah berkonflik. Justru Tissa membelaku saat foto-foto itu hilang, dan Dito marah. Diri ini pun tak sedekat apa yang Tissa bayangkan. Bahkan, aku masih benci dengan cowok itu. Hatiku tak tenang. Kenapa semua ini bisa terjadi? Ini gara-gara Dimas. Dia harus tanggung jawab bila mereka menyalahkanku terus menerus. Aku harus membuat perhitungan dengan Dimas. Kuseka lelehan yang menganak sungai di pipi. Tanpa semangat aku membereskan alat potret dan menyusuri halaman museum ini sendirian. Ah, naik apa aku? Sudah kuputuskan untuk berjalan kaki saja menuju hotel. Jaraknya cukup jauh, mungkin aku bisa kelelahan untuk tiba di hotel. Namun, mau tak mau, aku harus tetap jalan kaki. Sebelum berangkat tadi aku lupa membawa uang. Astaga, begini amat nasibku, ya. Sial bertubi-tubi. Makian Tissa tadi masih jelas terdengar di telinga, bahkan suaranya seolah-olah enggan pergi. Aku benar-benar kalut detik ini. Tak ada yang bisa menjadi tempatku mencurahkan segala duka. Pipi terasa menghangat ketika mata ini terpejam. Kembali kuseret langkah agar tak terlalu malam untuk tiba di hotel. Cerahnya kota Jepang, sama sekali tak berpengaruh untuk hati ini. Bahkan, hatiku dipenuhi sesak mendalam. Mendung saling bergelayut menyelimuti diri ini. Jalanan tampak lengang, trotoar ini pun sepi sekali. Aku mempercepat langkah, takut juga sendirian seperti ini. Namun, tiba-tiba langkahku terhenti ketika tanpa sengaja menabrak sesuatu. Aih, aku menabrak orang. Haruskah sesial ini untuk yang kesekian kalinya? "Sorry," kataku sambil menunduk. Entah, tak mendapat jawaban dari seseorang di hadapan membuat hati ini ketar-ketir. Bahkan, dia pun tak bergerak, atau sekadar memberiku jalan pun tidak. Perlahan kuangkat wajah. Seseorang di hadapanku ternyata cowok sipit yang waktu itu. Rafael! Sebentar, tatapannya yang tajam seperti singa kelaparan itu membuat diri semakin gemetar. Ah, bodo amat! Aku tak peduli lagi. Diri ini malah menangis sejadi-jadinya, membuat beberapa orang yang baru saja lewat mengalihkan fokusnya padaku. "Hei, ada apa?" tanya Rafael dengan nada bingung. Biar bagaimanapun, dia tak boleh tahu masalahku. "Enggak. Gue baik-baik aja." Aku pergi tanpa permisi. Tiba-tiba Rafael sudah ada hadapanku, dia berjalan mundur karena diri ini pun terus maju. Aneh, Rafael sama sekali tak menyerah, dia tetap pada posisinya semula. Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti melangkah. "Kenapa lo ngikutin gue?" kataku dengan sisa-sisa tangis. Sumpah, aku malas berdebat. "Sudah dua kali aku bertemu dengan kamu dalam keadaan menangis, aku yakin kamu tidak baik-baik saja," katanya. Kuseka air mata, lalu duduk di kursi panjang dekat lampu jalan. Entah, aku hanya merasa Rafael menawarkan diri untuk menjadi tempat curhatku. "Kenapa cinta itu harus ada luka?" tanyaku tanpa basa-basi, dan masih fokus pada tanah yang tampak memburam. Lagi-lagi cairan itu keluar tanpa panduan. Menjengkelkan! Dari ekor mata, terlihat Rafael duduk di samping kananku. "Tanpa luka, kamu tidak akan tahu arti cinta yang sebenarnya." Jawaban Rafael membuatku tak mengerti. Maksudnya, aku tidak suka kalimat-kalimat membuatku berpikir. "Apa ini berhubungan dengan mantan kamu?" tanyanya kemudian. "Apa gue salah kalau belum bisa melupakan seseorang?" Kali ini aku menatap Rafael penuh pengharapan. Ya, aku ingin dia menjawab yang bisa membuat hati ini lega. Paling tidak, dia bisa menyadarkanku untuk menerima kenyataan bahwa Dito bukan untukku lagi. Pemuda ini tersenyum, sangat manis. "Move on itu bukan perkara waktu saja, tapi juga hati. Kalau kamu ikhlas, pasti bisa relain dia buat orang lain." Rafael benar. Bisa jadi aku belum rela dengan keputusan Dito yang terlalu cepat, dan fakta pertama yang kutahu dia akan menikah itu, sungguh bagai dentaman yang meluluhlantakkan dinding-dinding pertahanan. "Kisah kamu hampir sama denganku. Bedanya, kami berpisah karena nggak direstui." Aku melihat Rafael yang menengadahkan wajah ke langit yang tampak biru, awan-awan berarak seolah-olah saling mengejar. "Kalian masih saling mencintai?" tanyaku penasaran. Maksudnya mereka bisa berjuang meraih restu kalau memang masih cinta, bukan? "Ada sekat yang nggak mungkin kita langkahi begitu aja." Dahi ini mengerut, pertanyaan berputar dalam benak. Rafael mengalihkan pandangannya padaku. Setelah beberapa detik, dia menjawab, "Dia akan menikah." Aku mampu merasakan apa yang cowok sipit ini alami. Mungkin kisah kami berbeda, tetapi memiliki alur yang sama. Orang yang kami cintai sama-sama akan menikah. Mungkin, inilah yang membuatku merasa kalau Rafael tempat yang pas untuk mencurahkan hati selama jauh dari Dimas. Ya, aku menemukan orang yang tepat untuk mengeluarkan keluh kesah. Sepertinya, kami punya masalah yang sama. "Gimana kalo kita berteman?" Rafael menawarkan diri. Tentu saja kusambut dengan senang hati. Kapan lagi aku memiliki teman di Jepang ini? Kalau jenuh, aku bisa menghubungi Rafael untuk menemaniku bukan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN