Luka yang Sama

1093 Kata
Akhirnya, hotel mulai terlihat juga dari jarak kurang lebih lima puluh meter dari tempatku berpijak. Setelah terlunta-lunta bagai orang hilang, akhirnya aku bisa membayangkan betapa nikmatnya tidur di atas kasur. Sejenak mata ini terpejam, lelah sekali. Badan dan hati seperti satu kombinasi yang pas, meremukkan jiwa raga. Saat hendak kembali melangkah, tiba-tiba ada yang menarik tanganku. Tentu saja aku kaget. "Kamu dari mana aja? Aku cariin kamu dari tadi, tapi nggak ketemu." Mata itu. Aku melihat ada kekhawatiran yang nyata. Sungguh, sesuatu yang telah lama kurindukan. Tidak, tidak! Ini tak boleh terjadi lagi, atau akan menjadi masalah yang semakin pelik. "Bukan urusan kamu." Aku menarik tangan dari genggaman Dito, kemudian meninggalkannya begitu saja. Mendadak gaya bicaraku berubah "aku kamu" sesuai permintaan Dito. Sial! "Bagaimana kamu bisa bilang kayak gitu, sedangkan kamu ke sini sama aku? Kamu adalah tanggung jawabku!" Lelaki di belakang sana berteriak. Kalimat terakhirnya membuatku berhenti melangkah. Aku bisa saja senang dia sebegitu khawatirnya padaku, tetapi lagi-lagi semua itu terbentur kenyataan bahwa Dito adalah milik Tissa. "Aku udah dewasa, bisa pergi ke mana aja tanpa ada yang menemani. Aku juga bisa baca, dan nggak gagap teknologi. Jadi, nggak perlu khawatir," kataku, mengakhiri perjumpaan kami di sore yang kian menggelap. Wajah langit sudah penuh dengan rona kemerahan. "Rea!" Entah bagaimana caranya, yang pasti Dito sudah kembali di dekatku dan meraih tangan ini, lagi. "Kamu baik-baik aja, 'kan? Aku cari kamu di museum, kamu nggak ada. Aku tanya sama orang-orang di sekitar sana. Ada yang bilang kamu jalan kaki keluar museum. Aku kejar, tapi kamu nggak ketemu. Aku lega, karena sekarang bisa nemuin kamu." Dito ini apa-apaan, sih? Apa dia sengaja menarik ulur hati ini? Kekhawatirannya membuat rasa percaya diriku meninggi. Tidak seharusnya dia seperti ini, bukan? Apalagi ada masalah di antara kita yang membuat hati seseorang terluka. Aku menarik tanganku dari jemari Dito. "Kamu nggak pantes bersikap kayak gini, Dit. Tissa marah sama aku gara-gara kita terlaku dekat. Lagipula, kamu nggak perlu khawatir. Kita bukan siapa-siapa lagi." "Aku udah jelasin sama Tissa tentang semuanya." "Bagus dong. Aku ikut seneng." Apa ini yang disebut munafik? Berkata, tetapi ingkar. "Permisi, Dit. Aku mau istirahat." "Rea." Panggilan Dito membuat langkah ini terhenti. Ada apa lagi, sih? Kutatap Dito yang masih berdiri di belakang, berjarak kurang lebih satu meter dariku. "Selamat istirahat." Tega! Dito memang raja tega! Dia seenaknya mempermainkan perasaan orang. Tissa saja aku masih belum tahu sudah tidak marah atau bagaimana, ini kenapa Dito sok perhatian padaku? Tak ambil pusing apa yang dibicarakan Dito, diri ini melenggang begitu saja. Saat tiba di depan kamar hotel, langkahku diberhentikan oleh panggilan suara yang amat kukenal. Tissa. "Aku mau bicara sama kamu." Maksud hati ingin istirahat, sekarang malah harus menuruti kemauan Tissa. "Sebentar, aku mau naruh tas dulu." Pintu kamar terbuka, tas kuletakkan di atas kasur. Sebelum kembali menemui Tissa, kuteguk dulu air putih di nakas. Tenggorokam yang terasa kering, kini kembali basah dan terasa segar. "Ayo!" Tissa melangkah lebih dulu. Aku mengekori langkahnya yang kian menjauh dari kamar hotel. Dia menuju lift. Mau ke mana? Tak ada obrolan antara kami. Tissa yang biasanya ramah dan selalu mengajakku bicara, kini diam seribu bahasa. Aku tahu dia masih marah, dan aku sendiri belum mengucapkan maaf. Lift berhenti di lantai dasar. Langkah Tissa melebar, menuju sebuah taman kecil di depan hotel. Lenggangnya bak model yang tengah melenggak-lenggok di atas catwalk. Sungguh, dialah ciptaan Tuhan yang sempurna di mataku. Tissa mempersilakanku duduk, kemudian hening. Sama sekali tak ada pembicaraan di antara kita. "Gue minta maaf atas kesalahpahaman ini, Tis. Gue sama sekali nggak ada hubungan sama Dito. Dia hanya–" "Kamu nggak perlu jelasin semuanya. Karena bagiku, apa yang aku lihat itu udah jelas." "Enggak kayak gitu, Tissa. Gue–" "Kamu masih cinta sama Dito?" Pertanyaan Tissa seperti tombak yang mengenai ulu hati. Seketika bibir ini terasa berat untuk sekadar digerakkan. "Udah aku duga. Kalian masih saling mencintai." Tatapan Tissa. Tatapan itu sama seperti saat aku ditinggalkan Dito. No! Ini tidak boleh terjadi. Tissa dan Dito tak boleh berpisah. Aku bukan penghancur hubungan orang. Bukan! "Tissa. Tunggu, Tissa!" Diri ini mencoba meraih tangan Tissa, tetapi sulit sekali. Cewek cantik ini terus berjalan tanpa memedulikan aku yang juga tak henti mengejarnya. "Tissa, lo salah besar. Gue sama sekali nggak ada perasaan apa pun ke Dito!" teriakku sekenanya. Namun, Tissa sama sekali tak tertarik dengan bualanku. Ya, seakan-akan dia tahu isi hati ini. Memang benar aku masih mencintai Dito, tetapi tidak sepenuhnya. Hanya butuh waktu saja untuk melupakan dia dan merelakannya bersama Tissa. Hanya itu, dan rasanya sulit sekali. "Tissa!" Percuma. Dia sama sekali tak menoleh. Aku semakin dirudung rasa bersalah saja sekarang. Tadi Dito bilang sudah dijelaskan, kenapa masih seperti ini? Tidak, tidak! Ini harus segera diselesaikan. Dimas! Ya, aku harus menelepon Dimas dan menceritakan semuanya. Dia harus tahu apa yang kualami di sini. Tiba-tiba ponselku berdering, nama Dimas tertera di sana. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Seakan-akan Dimas mempunyai ikatan batin denganku. Tanpa pikir panjang, langsung kuterima saja panggilan dari sahabatku itu. Wajah manis–ini kata adikku satu-satunya kalau minta uang jajan–dengan kesedihan terdalam mulai terpampang di layar ponsel. Seseorang di seberang sana malah terbahak melihat wajahku. Sialan! "Ngapa lu, woy! Abis liat Dito sama Tissa pacaran ya?" tanya Dimas dengan iringan tawa. Kampret memang! Punya sahabat sedih malah bahagia tak tertolong seperti itu. Andai dia di hadapanku, sudah kuremas wajahnya yang mengesalkan itu. "Ini lebih dari itu, Dimas." Aku malas berdebat dengannya kali ini. "Tissa marah. Dia salah paham sama gue dan Dito." Wajah di layar ponsel tampak terkejut. Dia juga menautkan alisnya yang tebal itu. "Salah paham gimana?" "Tissa nuduh gue sama Dito ada apa-apa. Padahal gue udah coba jelasin, tapi Tissa nggak peduli. Gue cuma nggak mau aja dianggap perusak hubungan orang. Gue harus gimana?" Ingin menangis, tetapi malu. Nanti Dimas meledekku habis-habisan. Aku menceritakan semua pada Dimas, mulai dari kejadian sindir-sindiran, sampai perhatian-perhatian kecil yang diberikan Dito. Lalu, kejadian tadi saat pemotretan di museum. Aku rasa tak terlalu menanggapi Dito, tetapi kenapa Tissa seolah-olah tahu segalanya? "Ya, coba lo ada di posisi Tissa. Calon suami lo deket lagi sama mantannya. Gimana perasaan lo?" Berengsek! Dimas malah membalikkan keadaan. Namun, dia benar. Diri ini tak akan terima bila calon suamiku dekat dengan cewek, apalagi mantan. Sebab, bagiku mantan adalah seseorang yang harus dihindari. "Lo jauh-jauh deh. Tegasin ke diri lo sendiri, bahwa kalian itu udah putus dan bukan siapa-siapa lagi. Yang penting itu diri lo sendiri. Kalo lo bisa bawa diri lo, gue yakin kesalahpahaman ini nggak akan terjadi, Pus." Dimas benar. Lagi-lagi dia benar! Namun, kenapa hati ini begitu sakit mendengarnya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN