Luka yang Sama

1093 Kata

Akhirnya, hotel mulai terlihat juga dari jarak kurang lebih lima puluh meter dari tempatku berpijak. Setelah terlunta-lunta bagai orang hilang, akhirnya aku bisa membayangkan betapa nikmatnya tidur di atas kasur. Sejenak mata ini terpejam, lelah sekali. Badan dan hati seperti satu kombinasi yang pas, meremukkan jiwa raga. Saat hendak kembali melangkah, tiba-tiba ada yang menarik tanganku. Tentu saja aku kaget. "Kamu dari mana aja? Aku cariin kamu dari tadi, tapi nggak ketemu." Mata itu. Aku melihat ada kekhawatiran yang nyata. Sungguh, sesuatu yang telah lama kurindukan. Tidak, tidak! Ini tak boleh terjadi lagi, atau akan menjadi masalah yang semakin pelik. "Bukan urusan kamu." Aku menarik tangan dari genggaman Dito, kemudian meninggalkannya begitu saja. Mendadak gaya bicaraku beruba

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN