PERTIKAIAN

1178 Kata
Aku tidak pernah menyangka, bahwa semuanya akan semakin rumit. Dua hari ini tak ada kegiatan apa pun. Bahkan, selepas sarapan, makan siang, ataupun malam aku langsung kembali ke kamar. Semua hanya karena menghindari pertemuan dengan Dito. Aku nggak mau semuanya semakin runyam. Keinginan untuk jalan-jalan kupendam dalam-dalam. Dito juga sering chat, tetapi aku abaikan. Hanya sesekali kubalas supaya dia tidak khawatir dengan keadaanku. Tissa pun sama sekali tak menghubungiku. Kami seperti orang asing. Memang tak akrab, tetapi bila menelisik dari awal pertemuan kami, betapa ramahnya dia padaku. Sangat kontras dengan sikapnya yang sekarang. Jangan bicara, melihatku saja dia enggan. Aku yang terkadang ingin menyapa, pasti dia selalu menghindar. Sama sekali diri ini tak menyalahkan Tissa. Benar kata Dimas, aku harus mengoreksi diri sendiri sebelum memberi penilaian. Di sini, aku memang salah. Perasaan yang lama terpendam, lalu bertemu kembali itu bagaikan sebuah harapan yang menemukan celah cahaya. Betapa tidak? Lima tahun aku dan Dito pisah, tiba-tiba bertemu tanpa sengaja. Mungkinkah ini yang dinamakan jodoh? Ah, sempat-sempatnya aku memikirkan hal konyol itu. Aku bahkan bisa menertawai diriku sendiri bila menanyakan hal itu. Bodoh! Dito sudah mau menikah, dan aku mengharapkan pertemuan ini suatu jawaban. Dimas pasti akan mengajakku baku hantam kalau sampai mendengar pertanyaan itu. Namun, bagaimana bila seseorang itu datang kembali dengan sejuta perhatiannya? Seperti saat ini, Dito justru mengirimiku pesan-pesan seperti; sudah makan atau belum, disuruh tidur dan jangan sampai begadang, bahkan mengucapkan selamat malam sebelum diri merenda mimpi. Bayangkan saja! Siapa yang tidak besar rasa? Perhatian Dito melebihi waktu dulu saat kami masih bersama. Jangan pernah berpikir bahwa aku selalu membalas pesan yang dikirim Dito! No! Sekalipun tak ada yang kubalas. Hanya k****a, lalu kubiarkan begitu saja. Kecuali urgent. Biar jahat begini, aku masih punya hati ibu peri. Wejangan Dimas masih terngiang-ngiang di telinga. Jadi, mana mungkin aku merebut seseorang dari wanita yang tengah berbahagia? Lama-lama bosan juga di kamar hotel terus. Ingin keluar, tetapi pasti nanti bertemu Dito. Itu yang membuatku enggan. Padahal, aku hanya ingin menghirup dan menikmati hari selama masih ada di Jepang ini. Eh, ngomong-ngomong soal masih di Jepang, apakah biaya hidupku masih ditanggung Tissa dan Dito? Seketika pikiran itu meracuni, karena bila tidak ditanggung, aku bisa digantung pemilik hotel di pohon toge. No no no! Ini akan menjadi peristiwa memalukan sepanjang sejarah. Terus terang aku mulai panik. Bagaimana caranya aku menanyakan ini pada Dito atau Tissa? Rendahan sekali bila sampai aku bertanya. Buang gengsi, demi menyambung hidup ini. Oke, nanti akan kutanyakan pada Dito saja. Maksudnya hanya tanya soal hidupku di sini saja, bukan sampai mengobrol seperti tempo hari–meski aku jutek. Bel interkom menyalak, membuatku hampir terlonjak. Siapa, sih? Mengagetkan saja! Dengan malas aku membuka pintu. Seorang cowok yang sangat familiar berdiri di hadapan, dengan wajah datarnya. "Ada perlu apa?" tanyaku tanpa basa-basi. Aku enggan menatapnya. Ini bisa menimbulkan masalah baru lagi nanti. "Nggak pengen jalan?" Apa? Dito benar-benar gila, ya! Astaga! Ingin sekali aku menampar wajahnya yang datar dan dingin seperti dinding hotel itu. Bisa-bisanya dia sesantai ini ketika ada masalah dengan calon istrinya. Malah mengajakku jalan pula. Aku menggeleng. Tentu ada heran juga. "Kamu waras nggak, sih? Calon istri kamu itu lagi marah. Seenaknya aja ngajakin cewek lain jalan. Nggak punya perasaan banget kamu!" ketusku. Tanpa mendengar keputusanku, Dito menarik lenganku begitu saja. Dia memang sudah gila, kurasa. "Dito, lepas! Kamu apa-apaan, sih? Hargain, dong, perasaan Tissa!" pekikku sambil terus berontak supaya Dito melepaskan tangannya dari tanganku. Dito seolah-olah menuli. Padahal diri ini sudah memukul-mukul lengannya, protes agar dilepaskan. Malu juga dilihat orang-orang. Memang ini bukan Indonesia–yang segala masalah menjadi bahan omongan netizen–tetapi tetap saja mereka seakan-akan menyorot penuh kejijikan melihatku digeret seperti ini. "Dit, sakit!" pekikku lagi. Ini bohong. Sama sekali tak sakit digenggam seperti ini, hanya saja itu sebuah bentuk pemberontakan supaya dilepaskan. Namun, lagi-lagi Dito tak peduli. Dia terus membawaku entah ke mana. "Kalo lo ngajakin kencan, nggak gini caranya!" teriakku. Seketika Dito berhenti melangkah. Dia merenggangkan genggamannya dari lenganku. Langsung saja kutarik tanpa protes, pura-pura mengusap-usap seperti merasakan sakit betulan. Sebentar, apa aku sudah gila? Kenapa ucapan itu keluar begitu saja dari mulutku? Dito menyorot diri ini dengan tatapan yang tak bisa kuartikan. "Kamu maunya gimana?" tanyanya kemudian. Apa? Dia tanya apa? Maksudnya, kenapa dia bertanya seperti itu? Aku ini rada lemot, tidak bisa berpikir di bawah tekanan. Aku hanya menatap Dito tak mengerti. Tak berselang lama, Dito kembali menarikku. Kami sudah di luar hotel, tepatnya di jalanan. "Dit, seenggaknya kamu ngomong ini aku mau dibawa ke mana? Kamu mempermalukan aku tau nggak?" Dito tak peduli. Sementara itu, aku terus berontak, berusaha lepas dari cengkraman tangan kekar Dito. Dito terus menarikkku tanpa henti, padahal dia bisa saja bilang dan aku akan mengikutinya tanpa paksaan. "Dito! Lepasin aku!" kataku lagi. Entah dari mana arahnya, yang jelas saat ini aku sudah lepas dari cengkraman Dito, dan cowok itu sudah tersungkur ke tanah. Hei, siapa yang memukul Dito? Mata ini memindai ke sosok yang tadi membuat Dito terkapar. Rafael? Hampir saja aku tak percaya dengan apa yang dilakukan cowok sipit ini. "Kamu nggak apa-apa, 'kan?" tanya Rafael. Di matanya, aku melihat kekhawatiran. Namun, saat menatap Dito, matanya seakan-akan penuh kebencian. Tentu saja aku menggeleng, karena memang tidak diapa-apakan Dito sebelumnya. Tanpa aba-aba, Dito pun menyerang balik Rafael, seakan-akan dia tak terima telah dibuat lemah seperti tadi. Perkelahian tak terelakkan, Rafael pun sekuat tenaga membalas pukulan demi pukulan yang Dito layangkan. Aku tak memungkiri kehebatan Dito, dia lulusan taekwondo terbaik pada masanya. Pernah menjuarai taekwondo tingkat international juga waktu itu, kalau aku tidak lupa. Ilmu yang dia miliki sepertinya masih sama, sampai Rafael kewalahan menerima serangan-serangannya. Aku ngeri melihat mereka adu jotos di luar ring seperti ini. Sungguh, ini pemandangan yang teramat tak sedap bagi kesehatan mata dan pikiranku. Namun, tunggu dulu. Di awal perkelahian Dito menang telak, tetapi kenapa sekarang dia seakan-akan enggan menyerang? Apa maksudnya dia sengaja mengalah? Untuk apa coba? Bahkan, dia terkulai lemas di tanah. Iba rasa hati ini melihatnya seperti itu, wajahnya berdarah di sudut bibir dan hidung. "Dito, Rafael, stop!" teriakku mencoba melerai perkelahian mereka. Sebab, Dito masih saja berusaha bangkit. Rafael seolah-olah tak mendengar teriakanku, dia menarik baju Dito di bagian leher. "Rafael, stop!" Aku masih berusaha meneriaki Rafael agar tak menyerang Dito lagi. Calon suami Tissa itu sudah tampak tak berdaya di tangan Rafael. Alangkah pecundangnya seseorang bila masih menyerang lawan yang sudah tak berdaya lagi. Rafael menghentikan aksinya, dia menatapku. Sekonyong-konyong diri ini berlari mendekati Dito yang masih tengkurap. "Dito, kamu baik-baik aja, 'kan?" Aku mencoba membantunya bangkit. Hati ini terasa nyeri, air mata pun meleleh karena tak kuasa melihat Dito penuh luka lebam dan berdarah di beberapa titik. Sejenak diri melihat ke belakang, tempat Rafael berpijak. Dia sudah tak ada di tempat. Mata ini menyusuri jalanan, tak ada sosoknya sepanjang mata menjelajah. Dito? Kembali diri ini teringat dengan keadaan Dito ketika dia mendesis, merasai sakit di wajah dan tubuhnya mungkin. Timbul pertanyaan juga dalam benak ini. Aku sempat melihat tatapan mata Dito ke Rafael tadi. Seperti ada benci yang tersirat, sama seperti mata Rafael ketika menatapnya. Ada masalah apa mereka? Apa sebelumnya saling kenal?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN