Tanda Tanya

1520 Kata

"Ayo, kita ke rumah sakit!" Diri ini mencoba membantu Dito berdiri, tetapi dia malah memegang lenganku, seakan-akan menghentikan pergerakan ini. Tentu saja aku menatapnya penuh tanya. Namun, dia kembali mengaduh sambil memegangi sudut bibirnya. Ya ampun, wajahnya langsung terlihat lebam di beberapa tempat. "Kamu harus diobati, Dit. Ayo, ke rumah sakit!" kataku cemas. "Bawa aku ke kamar aja." Dito bersikeras. Dia memang agak keras kepala. Kalau tidak parah, dia tak akan pernah mau ke rumah sakit. "Tapi luka kamu–" "Udah, nggak apa-apa." Dito mendesis kesakitan. Luka tinjuan seperti ini bisa menyebabkan kematian tidak, sih? Jujur saja, aku takut melihat darah di wajah Dito, pun dia tampak begitu kesakitan. Namun, kenapa dia tak mau diajak ke rumah sakit? Diri ini menurut saja, mungk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN