Tanda Tanya

1520 Kata
"Ayo, kita ke rumah sakit!" Diri ini mencoba membantu Dito berdiri, tetapi dia malah memegang lenganku, seakan-akan menghentikan pergerakan ini. Tentu saja aku menatapnya penuh tanya. Namun, dia kembali mengaduh sambil memegangi sudut bibirnya. Ya ampun, wajahnya langsung terlihat lebam di beberapa tempat. "Kamu harus diobati, Dit. Ayo, ke rumah sakit!" kataku cemas. "Bawa aku ke kamar aja." Dito bersikeras. Dia memang agak keras kepala. Kalau tidak parah, dia tak akan pernah mau ke rumah sakit. "Tapi luka kamu–" "Udah, nggak apa-apa." Dito mendesis kesakitan. Luka tinjuan seperti ini bisa menyebabkan kematian tidak, sih? Jujur saja, aku takut melihat darah di wajah Dito, pun dia tampak begitu kesakitan. Namun, kenapa dia tak mau diajak ke rumah sakit? Diri ini menurut saja, mungkin dia lebih memilih istirahat. Eh, apa dia malu karena kalah telak dari Rafael di hadapanku? Lagi pula tadi kenapa dia bisa kalah? Padahal ilmu bela diri Rafael tidak ada apa-apanya dibanding Dito. Aneh! "Kenapa malah bengong? Nggak jadi bantu aku?" Aku tercekat. Bukan begitu maksudnya, aku melamun karena merasa aneh dengan kekalahan Dito. Sepertinya dia sengaja mengalah. Namun, apa motif di balik kesengajaannya itu? Aku memapah Dito sampai di kamarnya. Diri ini membantunya berbaring. Astaga! Mendadak pikiranku ke mana-mana. Buang, Rea! Buang! Dito milik Tissa. Berkali-kali kuberi peringatan untuk diri sendiri agar tak kebablasan. Dito melenguh. Dia juga bergeser untuk menyamankan posisi. "Aku panggilkan Tissa dulu, ya." Tak enak berada di kamar ini berdua saja dengan Dito. Aku takut Tissa semakin salah paham. Menurutku, Tissa juga harus tahu hal ini. Dia jugalah yang harus mengobati luka di wajah Dito. Bukan apa-apa, aku cuma nggak mau aja diperdaya perasaan. Sakit! Saat hendak melangkah, tanganku dicekal Dito. Spontan diri ini menoleh. "Nggak usah. Dia sibuk," kata Dito. Dia terlihat menahan sakit di wajahnya. "Dia harus ngobatin luka kamu, Dit," kataku datar. Memang seharusnya begitu, bukan? "Kenapa nggak kamu aja yang ngobatin?" Aku sedikit tergemap mendengar ucapan Dito. Kenapa harus aku? "Obatnya ada di kotak putih di atas kulkas. Es batunya juga ada." Sebentar, tadi dia bilang kulkas? Seketika mataku memindai ruangan. Memang jauh berbeda dari kamarku. Kamar ini luas luar biasa, pun ada kulkas dan dapur bersih di sudut sana. Istimewa. Ya, sudahlah. Ini hanya karena aku kasihan saja pada Dito, sehingga mau-maunya diperintah. Lukanya kalau tidak segera diberi pertolongan pertama nanti bisa infeksi. Aku menuju dapur, mengambil kotak obat dan es batu. Sebentar, seharusnya es batu dibungkus, kan? Tapi sama apa? "Ada handuk kecil nggak?" tanyaku sedikit berteriak. Tentu saja sambil mencari letak handuk. "Ada. Di sini." Kudengar suara Dito. Langsung saja aku melangkah menuju ke Dito dengan ember berisi es batu dan kotak obat. Barang yang kubawa itu, kuletakkan di nakas. Mata ini mengarah ke Dito, meminta pengulangan informasi peletakan handuk yang tadi dia maksud. Mata Dito hanya melirik, maksudnya dia menunjuk lemari dengan matanya. Aku paham. Kuambil handuk kecil yang tertumpuk rapi di dalam lemari, bersanding dengan handuk mandi dan lain-lain. Setelah itu, diri langsung menuju ke tempat semula. Perlahan-lahan aku mengusap luka Dito dengan air terlebih dulu, baru setelahnya kuberi obat merah. Perlahan, tanganku mulai bergerak ke wajah Dito, mengobati luka di sudut bibir lebih dahulu. Aku jadi ingat khayalanku waktu itu. Bisa-bisanya mengkhayal diciium Dito. Ish! Dito mengaduh, mungkin terasa perih. Namun, lucu juga kali ya mengerjainya. Kapan lagi aku bisa menjahili dia? Diri ini menekan kuat luka di bibir Dito, membuatnya menjerit kesakitan. Parahnya, aku malah tertawa melihatnya seperti itu. Ya, ampun! Lucu sekali. Ulangi sekali lagi, ah! Dito kembali menjerit. Kali ini aku tertawa lebih puas dari sebelumnya. "Kamu sengaja?" protes Dito. Alisnya menukik. Tentu saja dia protes, aku hanya tertawa dalam hati sejak tadi. Jangan berpikir aku tertawa ngakak di depan dia beneran, ya. Jadi, dia sama sekali tak mengetahui tawaku itu. Kalau dia sampai tahu, bisa-bisa digorok aku kalau ketahuan sengaja menekan lukanya. "Ck! Diobatin bukannya makasih malah marah-marah. Obatin sendiri aja kalo gitu," ketusku, tak terima dengan tuduhan Dito yang benar. "Ya, pelan-pelan. Bukan malah ditekan kuat-kuat kayak gitu. Sakit tauk. Kamu mau bunuh aku atau gimana?" Bunuh dia bilang? "Membunuh kamu hanya akan mengotori tangan dan hidupku, Dit. Kalo aku mau, aku bisa bunuh kamu sejak lama, nggak perlu nunggu sekarang." Aku masih ketus dan dingin. "Maksudnya?" Wajah Dito seperti orang penasaran. Oh my God! Dia pura-pura lupa, atau memang amnesia parsial? Aku mengembuskan napas berat. "Lupa ya sama kejadian lima tahun yang lalu? Aku ingetin kalo kamu lupa." Kuletakkan obat merah di tempatnya. Tangan Dito tergerak, mengusap sudut bibirnya yang sedikit robek. Aku beralih ke handuk yang sudah kuisi es batu di dalamnya. "Kita ke rumah kamu aja, biar semuanya jelas. Biar kamu nggak nyalahin aku terus." Apa? Dia mulai gila. Untuk apa sampai ke rumahku segala hanya untuk masalah sesepele ini? Biar semua orang rumah tahu kalau aku patah hati dan terbawa sampai sekarang? Enak saja. Dia mau mempermalukanku? No, tidak akan aku biarkan. "Nggak usah aneh-aneh. Lagian udah nggak penting juga. Anggap aja omonganku tadi angin lalu." Kukompres luka lebam Dito. Kurang perhatian apa, sih, aku ini? Sudah jadi mantan saja masih mau-maunya merawat dia. "Kamu seolah-olah nyalahin aku atas semua kejadian itu, Re. Padahal kamu juga salah." Apa? Dia menyalahkanku? Tidak bisa dibiarkan! Diri ini mulai tersulut emosi. Tanganku berhenti bergerak, dan kubiarkan mengudara. "Kamu itu pecundang, Dit. Kamu adalah orang yang paling aku benci selama hidupku! Ingat, Dit! Luka mungkin bisa sembuh, tetapi bekasnya tak akan hilang dengan mudah!" pungkasku. Es batu beserta handuknya tadi kegeletakkan begitu saja di pangkuan Dito, kemudian melenggang meninggalkan cowok itu di kamarnya. Sialnya, pintu kamar hotel ini tak akan terbuka bila bukan Dito yang menghendaki. Ingin sekali aku mengumpat. "Buka, Dit," kataku, dingin dan penuh penekanan, juga tanpa mengalihkan fokus dari daun pintu. Aku sudah tak ingin berhadapan dengan manusia tembok hotel ini lagi. Entahlah, mungkin ini kekanakan, tetapi aku sebal disalahkan seperti tadi. "Kita selesaikan sekarang juga, Re. Biar semuanya jelas," kata Dito. Daei suaranya, aku yakin dia masih di ranjang. "Nggak ada yang perlu diselesaikan lagi, Dit. Semua sudah selesai sejak kamu ninggalin aku." "Kamu selalu membenarkan apa yang kamu pikirkan sendiri tanpa mau mendengar penjelasan orang lain lebih dulu. Kamu tau? Itu kebiasaan buruk kamu." "Oh, jadi kamu nyalahin aku?" Aku naik pitam. Emosi yang sempat mereda sesaat tadi kembali membara. Kali ini aku menatap Dito seakan-akan menantang cowok berhidung bangir tersebut. Dito membuang pandangan dengan menunduk, tangannya dimasukkan ke saku celana. Ternyata dia sudah berdiri, bahkan bergerak ke arahku. "Kenapa kamu diam? Kamu yang ninggalin aku, Dit! Kamu yang pergi tanpa pesan dan malah mau menikah dengan orang lain!" tandasku. Seakan-akan gelora amarah dalam da'da ini meletup-letup dan siap membumihanguskan lawan. "Maka dari itu, dengerin dulu aku ngomong, Re." Dito menatapku lekat. Dia sudah berdiri di hadapanku hanya dengan hitungan senti. Diri ini tak peduli lagi dengan tatapan apa saja yang dia suguhkan. Emosi telah menguasai sebagaian kewarasanku. "Buka pintunya aku bilang!" bentakku dengan mata melebar. Aku mendengar dengkusan Dito yang sangat menjengkelkan bagiku. Maksudnya apa? Lelah dengan aku, begitu? Justru dia yang memulai semua ini. Coba tadi dia tidak menyinggung masa lalu. Mungkin aku tak akan semarah ini padanya. Tangan Dito yang memegang kartu menggesekkannya ke pintu, dalam sekejap pintu pun terbuka. "Siapkan tiketku besok. Aku mau pulang." Sebelum melangkah meninggalkan ruangan ini, aku mengutarakan keinginan diri. Rasanya sudah tak nyaman berada di sini. Negara yang seharusnya bisa membuatku bahagia, justru menorehkan luka. Sudah cukup menahan duka selama ini, saatnya aku kembali ke negara asal dan bertemu dengan Dimas. Lebih baik diledek dia selamanya, ketimbang harus menahan beban hati seperti ini. Aku sudah tak sanggup. Manusia tukang mengungkit-ungkit itu sangat menyebalkan. Beban perasaanku semakin terasa berat saja bila bertemu dengannya. Tidak cukupkah dia membiarkan aku menderita melihatnya bermesraan dengan Tissa? "Nggak bisa. Kontrak kamu di sini belum selesai." Oh my god! Apa lagi ini? Kenapa Dito mempersulit jalan bahagiaku? Kontrak apa maksudnya? Aku cuma fotografer, bukan pegawai bank dan lain-lain. Tawa mirisku berderai, lalu diri ini kembali menatapnya sinis. "Selain pecundang, kamu licik juga ternyata." "Aku akan melakukan apa pun agar bisa dekat dengan kamu." Apa aku nggak salah dengar? Wong edan! "Aku juga akan melakukan apa pun untuk menjauh dari kamu." "Itu nggak akan pernah terjadi!" Dito menekan kalimatnya. "Kenapa enggak? Jangan pernah berpikir aku nggak bisa dekat dengan cowok setelah kamu tinggalin gitu aja. Kamu salah." "Aku nggak pernah berpikir seperti itu." Eh, iya juga. Pasti dia nggak pernah mikirin aku setelah dia pergi begitu saja. Ish! No, no! Aku harus tetap terlihat tegar dan buas di depannya. "Bagus kalo gitu. Jadi, aku nggak perlu jelasin lagi kalau selama ini aku udah ganti-ganti pacar." Perkataan macam apa itu? Songong sekali kedengarannya. Jangankan dekat dengan cowok, kenalan saja enggak. Alis Dito menaut ketika aku mengucapkan kalimat tadi. Oke, sepertinya perdebatan cukup sampa di sini. Aku tidak mau terlihat lebih b**o lagi di mata Dito. Bisa saja dia mengetahui kebohonganku. "Jangan lupa tiketku!" pungkasku mengakhiri pertemuan kami. "Kamu nggak akan bisa pulang sebelum semuanya selesai. Kita selesaikan masalah ini dulu, baru kamu bisa pulang." "Terserah!" kataku kesal. Lalu, melenggang meninggalkan Dito di sana. Aku pergi dengan sumpah serapah dan u*****n-u*****n untuk Dito. Manusia kulkas itu memang sangat menyebalkan. Aku benci dia!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN