Di Bawah Gugurnya Daun Maple (1)

1303 Kata
Dedaunan di dahan-dahan pohon berguguran, menghantam bumi dan bebatuan, kemudian terbang bersama angin. Daun-daun berwarna merah, jingga, dan kekuningan ini menambah kesan keromantisan tersendiri. Saat tiba di Tokyo kemarin, daun-daun ini belum tampak berubah warna. Padahal, saat aku membaca artikel tentang musim gugur di Jepang, mulai September daun-daun itu sudah berubah warna. Ternyata, aku salah. Setiap kota di Jepang ini memiliki fase momiji berbeda-beda. Di balik kaca besar di kamar ini, aku menyaksikan lalu-lalang kendaraan dan pejalan kaki. Distrik Shibuya mulai sibuk dengan aktivitas masing-masing warganya. Aku mengembuskan napas, meninggalkan embun di kaca. Cuaca pagi ini membuatku merapatkan jaket. Namun, sama sekali tak mengurangi hawa dingin yang menusuk tulang. Almanak di ponsel memberi info, hari ini tepat tanggal 15 November. Seharusnya sejak pertama kali datang ke Jepang aku juga bisa menikmati malam melihat bulan, atau disebut dengan Tsukimi oleh masyarakat Jepang. Namun, pekerjaan ini membuatku merasa terikat. Eh, tunggu dulu. Sepertinya waktu itu aku memotret di Skytree, dan di sana tepat sekali ada rembulan. Sayangnya, waktu itu tak benar-benar kumanfaatkan untuk menikmati kesempatan. Terlalu baper dengan Dito membuat diri ini sulit konsentrasi. Lagi-lagi aku heran. Kenapa Tissa dan Dito tidak memanfaatkan musim gugur ini untuk ber-swafoto? Padahal, seharusnya mereka bisa mendapat foto-foto keren dengan hamparan daun maple yang berjatuhan menutup tanah bak karpet itu. Atau paling tidak, mereka bisa menikmati Festival Musim Gugur Shimogamo di Kyoto, Perayaan Musim Gugur Sawara-no-Taisai Matsuri di Chiba, Ueno Teijin Matsuri, Festival Api Kurama, dan banyak lagi yang bisa mereka lakukan. Ini belum apa-apa sudah bertengkar saja. Ah, hampir lupa. Semua ini juga salahku. Ck! Daripada hanya bengong di kamar dan tidak jelas mau melakukan apa. Diri ini memutuskan keluar sendiri, menikmati hari yang tak akan bisa kudapatkan di Indonesia. Memasuki bulan November, daun-daun maple baru berubah warna di Tokyo. Taman Rikugien adalah tujuan utamaku. Menurut artikel yang k****a, di sana merupakan salah satu spot momiji yang populer di Tokyo, sekaligus merupakan taman Jepang bersejarah yang sudah berdiri sejak tahun 1702. Saat musim gugur tiba, taman ini dihiasi oleh 600 pohon yang daun-daunnya mulai memerah, seperti 450 pohon maple Jepang (iroha kaede), pohon ginkgo, dan pohon maple varietas lainnya. Sangat luar biasa, bukan? Kapan lagi aku bisa mengabadikan momentum indah ini? Ke Jepang juga tak mungkin terulang lagi, kecuali suamiku nanti orang kaya dan bisa mengajakku pelesiran ke Negara Matahari Terbit ini. Ngomong-ngomong soal suami, aku jadi baper. Teringat omongan Bu Rossa Chandraningsih, yang tak pernah lelah dan menyerah mengingatkanku soal pernikahan. Katanya, aku sudah cukup umur untuk menikah. Di usia beliau dulu, umur dua puluh tahun sudah memiliki anak dua. Namun, tidak bagi Bu Rossa Chandraningsih, karena beliau memegang teguh janji Kartini. Eh, maksudnya janji Nenek Kartini, bahwa Bu Rossa Chandraningsih akan menggapai cita-citanya lebih dahulu. Baru setelah itu menikah. Mamaku itu menikah saat usia dua puluh tahun, sih. Masih tergolong muda. "Jangan sampai kamu dikatai perawan tua, ya. Awas saja kalo sampe Mama denger ada tetangga yang ngomongin kamu perawan tua. Mama suruh Dimas lamar kamu." Omongan Mama waktu itu suka sembarangan. Mana mungkin aku menikah dengan Dimas, kami ini bersahabat. Lagi pula, aku sama sekali tak memiliki perasaan pada cowok setengah waras itu. Aku menaiki bus menuju Taman Rikugien. Taman ini indah juga ketika malam hari. Daunnya yang merah itu, ketika terkena sorotan lampu menjadi semakin cantik. Siang juga tak kalah cantik, ini hanyalah alibi jomlo sepertiku, yang bepergian sendiri tanpa gandengan. Aku hanya ingin menikmati momijigari di tempat ini. Akhirnya, aku sampai juga di taman ini. Seketika mataku takjub dan langsung mengabadikan beberapa gambar, lalu mengamati hasilnya. Cantik sekali. Benar-benar menakjubkan. Tuhan memang Maha Segalanya. Senyum mengembang seiring terciptanya gambar dalam kamera. Lagi, aku berpindah lebih ke dalam, mencoba mencari obyek yang unik dan keren tentunya. Biarpun jalan sendirian, aku harus tetap bahagia. Saat akan memotret, mendadak dalam bidikan kamera aku melihat seseorang yang sangat kukenal. Dalam hati merasa tidak mungkin, tetapi mata ini mencoba memastikan lebih jelas lagi. Ternyata benar, dan aku tak salah lihat. Itu Tissa, memakai jaket coklat dan topi. Hei, dia lebih mirip seperti detektif dalam film-film Korea yang aku tonton. Sedang apa dia di sini? Oh, iya! Aku teringat sesuatu. Tissa mungkin belum tahu bagaimana kondisi Dito. Diri ini memutuskan untuk menemui Tissa dan memberitahunya, supaya dia juga memberikan perhatian pada Dito. "Tissa," panggilku. Tissa menoleh, wajahnya seperti orang terkejut, lalu dia menoleh ke sana kemari, seperti sedang mencari sesuatu. Aku pun turut dengan apa yang dia lakukan. "Tissa, kemarin Dito–" "Kamu sama siapa?" Tissa memutus omonganku yang belum selesai. Dia justru seakan-akan malah mengalihkan topik. "Aku sendirian, kenapa?" tanyaku, heran. Tissa seperti orang salah tingkah, gesturnya terbaca sekali. "Dito sakit, Tis. Kemarin dia babak belur dihajar orang. Kamu udah liat keadaannya, 'kan?" "Kenapa dia bisa babak belur?" Dari pertanyaan Tissa, aku bisa memastikan bahwa dia belum bertemu Dito sampai detik ini. "Apa kalian masih marahan? Tis, sorry banget. Beneran, gue nggak ada hubungan apa-apa sama Dito." "Nggak perlu mengulang-ulang kalimat itu, Re. Udahlah, aku tau kok gimana perasaan kamu ke Dito. Kita sama-sama perempuan. Aku nggak nyangka aja kalau kalian–" "Perasaanku adalah milikku sendiri. Aku berhak atas perasaan apa pun, dan untuk siapa pun. Aku memiliki perasaan ini, bukan berarti aku harus memiliki orangnya juga. Enggak seperti itu." "Faktanya memang kalian masih saling mencintai. Jadi, aku harus gimana?" Entahlah, aku jadi larut dalam topik pembicaraan yang diangkat Tissa. Padahal, sebenarnya bukan ini yang ingin aku bahas. "Kamu jangan ngaco, deh, Tis. Aku bukan perebut cowok orang. Lagian, mana mungkin Dito punya perasaan itu? Dia sangat mencintai kamu, Tissa," kataku sepenuh hati. Pertengkaran mereka karena aku, jadi aku harus bisa membuat mereka baikan. "Kalo gitu, kenapa kamu terima tawaran ini kalau kamu nggak ada niat buat semua itu?" Astaga! Apa aku harus menjelaskan dari awal? Semua ini memang biang keroknya Dimas. Seharusnya dia ikut ke Jepang supaya bisa menjelaskan semuanya pada Tissa. "Tissa, semua ini salah paham. Aku sama sekali nggak tau kalau Dito yang—" "Dan perasaan kalian itu tidak salah paham, 'kan? Udahlah, Re. Cukup semua ini. Aku udah mutusin untuk mengalah." Mataku membelalak. Maksud Tissa mengalah untuk apa? Belum tentu juga Dito memiliki perasaan yang sama denganku. Aku yakin, Tissa hanya membenarkan apa yang dia pikir tanpa melihat kenyataan. Lagi pula, dia kenapa tiba-tiba seperti orang berubah haluan begini? Kenapa dia tidak mencoba memberi kesempatan pada Dito untuk memulainya dari awal? "Tissa, kamu nggak bisa kayak gini. Kamu cuma salah paham aja. Please, kalian harus ketemu dan saling bicara." Aku memaksa Tissa untuk bertemu Dito. Ini harus aku lakukan, supaya Tissa juga tahu kalau aku nggak merebut calon suaminya. Tissa memegang lenganku bagian atas. "Rea, aku udah mutusin untuk mengalah. Aku sadar, selama kami bersama, Dito nggak sepenuh hati menjalani hubungannya." Aku terdiam dan terus menyimak. "Perlu kamu tau, prewed ini pun aku yang maksa. Dito seakan-akan ogah-ogahan kalau aku ajak menikah. Sebagai perempuan, aku nggak bisa digantung. Kamu pasti mengerti." Aku masih diam. "Rea. Dito masih belum selesai dengan masa lalunya, dan aku yakin itu kamu." "Enggak mungkin, Tissa." Aku menggenggam tangan Tissa yang tadi ada di lenganku. "Dito sangat cinta sama kamu. Kami berpisah juga udah lama banget. Dito memang nggak perhatian kayak cowok pada umumnya. Kamu harus tau itu. Kalau dia mau diajak prewed, itu pasti karena dia sangat mencintai kamu." "Enggak. Kamu nggak tau kisah kami, Rea." Aku percayakan Dito sama kamu." Tissa tersenyum, terlihat tulus. Namun, aku yakin ada luka besar dalam hatinya. "Duluan, Re!" Tissa mengusap lenganku sebelum pergi. Tissa mempercepat langkah sebelum aku selesai tersadar dari lamunan. Daun-daun maple yang gugur mengiringi langkah Tissa yang kian menjauh. Ingin sekali aku mengejarnya, tetapi sudah merasa semuanya akan sia-sia belaka. Tissa tak akan mendengarkan omonganku. Untuk ucapannya yang terakhir, aku merasa Tissa sudah lelah. Entah lelah karena apa. Aku semakin penasaran dengan kisah mereka. Hal ini justru membuatku tak mungkin untuk membuka hati lagi bagi Dito.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN