Sedang apa Tissa sendirian di tempat ini? Maksudnya, aku belum pernah melihat dia berpakaian seperti itu ketika keluar. Pasti dia selalu memakai sweater dan jaket feminin. Ini dia seperti sedang melakukan penyamaran. Aneh sekali.
Tadi, Tissa juga tampak sedang menunggu seseorang. Terlihat sekali kecemasan dan gesturnya yang mampu k****a. Belum lagi saat dia syok ketika melihatku tadi. Itu sangat jelas membuktikan kalau Tissa menyembunyikan sesuatu. Mungkin tidak dariku, tetapi pasti dari Dito. Ya, aku yakin itu. Namun, apakah yang disembunyikan Tissa?
Lagi-lagi kutepis pikiran buruk tentang Tissa. Bisa jadi dia hanya ingin menikmati kesendirian. Mungkin juga dia sedang menenangkan pikiran dari masalahnya dengan Dito. Semua kemungkinan itu bisa saja terjadi. Aku saja yang terlalu jauh berprasangka.
Kepalaku kejatuhan selembar daun maple, kemudian daun tersebut turun ke pundak. Sejenak tatapan ini melangit, indah sekali dedaunan ini. Langit cerah di musim gugur menambah indahnya alam ini. Tanganku mengarah ke daun yang tadi ada di pundak, memperhatikannya sejenak. Lalu, kuabadikan daun cantik berwarna merah ini. Katanya, daun maple melambangkan keharmonisan dan kesetiaan. Terlepas dari benar atau salah, yang pasti daun ini sangat cantik.
Aku tersenyum melihat daun cantik keorenan ini. Benar-benar memukau, apalagi terhampar luas bak karpet digelar ini. Mataku sangat termanjakan. Sejenak pikiran tentang Tissa tadi seakan-akan hilang.
Pada musim gugur seperti ini, biasanya ada yang menyulap daun maple menjadi camilan. Sebenarnya aku penasaran bagaimana rasa daun ini, tetapi aku tak tahu harus ke mana membelinya. Aku memutuskan mengambil dua daun ini, kuning dan merah. Nanti akan kumasukkan pigura, lalu kupajang di kamar. Ya, supaya jadi pengingat saja bahwa aku pernah ke Jepang. Memang terlihat norak, tetapi biarkan saja.
Langkah ini bergerak meninggalkan tempat semula, sebuah tempat mengundang rasa penasaranku. Tak jauh dari tempatku berdiri, ada sebuah kolam kecil. Sungguh, pemandangan di taman ini memang begitu luar biasa. Lampu-lampu kecil tampak terpasang di beberapa pohon.
Aku jadi membayangkan cantiknya tempat ini ketika malam dan dihiasi lampu. Pasti cantik sekali. Tak jauh dari sini, ada kedai teh. Pengunjung sedang tak padat, jadi kedai itu tak begitu ramai. Ada juga yang menikmati jalan setapak bersama keluarga mereka. Tempat ini lebih banyak dikunjungi keluarga, terlihat anak-anak begitu senang berada di sini.
Aku mengambil gambar, memastikannya sudah cantik. Kuambil beberapa gambar, mumpung ada kesempatan. Besok-besok belum tentu aku bisa ke sini lagi. Aku menapaki jembatan kecil menuju tengah kolam. Maksudnya ada gundukan tanah di sana yang dikelilingi air. Ikan air tawar terlihat jelas dari atas sini. Indah! Berkali-kali aku berdecak kagum.
Setelah puas, diri ini menuju jalan setapak, melewati beberapa orang yang ber-swafoto. Aku tersenyum, hati ini seakan-akan merasakan kebahagiaan mereka. Sejenak aku memang lupa pada masalahku.
Saat mata ini memindai, spontan langkahku terhenti ketika sebuah pemandangan terekam indra. Itu bukankah Rafael? Ya, ampun! Kebetulan yang sangat luar biasa. Aku bergegas menemui cowok sipit tersebut.
"Rafael, sendirian?" sapaku ketika berada di dekat pemuda itu. Aku juga menepuk pundaknya tadi.
Rafael tampak kaget ketika melihatku yang sudah berdiri di dekatnya. Perasaan, tadi aku santai dan pelan saja ketika memanggilnya. Namun, kenapa dia terlihat kaget seperti itu?
"Raf!" kataku lagi, karena dia malah bengong.
"Eh, Rea?"
Mulut Rafael memang menyebut namaku, tetapi mata itu tampak mengedar dan tak fokus. Tentu saja aku mengikuti arah pandangnya. Tak ada siapa pun.
"Nyariin siapa, sih?" tanyaku lagi. Kali ini aku dibuat penasaran.
Rafael menggeleng sambil berkata, "Tidak. Tidak ada. Kamu sendirian ke sininya?" tanyanya kemudian.
Aku tersenyum, lalu mengangguk.
"Kemarin aku cari kamu. Tapi kamunya udah hilang gitu aja. Gimana luka kamu?" tanyaku sambil memperhatikan beberapa lebam di wajah Rafael. Dia masih terlihat tampan meskipun wajahnya biru-biru di sudut bibir dan pelipis.
Rafael mengelus wajahnya. "Nggak apa-apa, udah aku obati," jawabnya santai.
Hening sesaat.
"Kamu kenal sama cowok yang kemarin itu?"
Pertanyaan Rafael memecah keheningan antara kami.
Aku mengangguk. Nggak mungkin juga kalau aku berbohong, kan?
"Sorry. Kemarin aku khilaf. Aku cuma nggak tega aja lihat cewek dikasarin."
Dikasarin? Apa kemarin Dito terlihat tengah berbuat jahat? Aku berpikir keras.
"Dia yang pernah aku ceritain waktu itu." Aku menunduk, teringat kembali perasaan menjengkelkan itu.
"Jadi, dia mantan kamu yang mau menikah itu?" tanya Rafael, terdengar sedikit kaget, atau mungkin lebih ke tak percaya.
Aku mengangguk lagi. Entah, bersama Rafael rasanya aku nyaman saja bercerita. Dia terlihat lebih dewasa. Hampir mirip dengan Dimas. Hanya saja, cowok berkulit sawo matang dengan alis tebal itu selalu mengolok-olokku. Dia juga menertawaiku, meskipun selalu menjadi pendengar setia. Beda sekali dengan Rafael.
"Aku lagi ada masalah, Raf. Calon istri dia marah sama aku."
Hati ini mendadak perih. Kebodohanku pasti terbaca oleh Rafael. Wajah ini terangkat, menatap Rafael yang ternyata juga menatapku.
"Kenapa? Aku terlihat bodoh banget, ya? Mencintai seseorang yang telah menjadi mantan, dan mau menikah pula."
Tawa Rafael berderai. Wajahnya melengos, lalu berhenti tertawa.
"Udah aku bilang, kita ini sama. Sama-sama susah melupakan seseorang."
Kini, tatapan Rafael jatuh ke tanah, lalu menyorotku lagi.
"Aku minta maaf, karena sudah melukainya kemarin."
"Kamu beneran nggak kenal sama Dito, Raf?"
Entah kenapa aku merasa Rafael tak asing dengan Dito. Tatapannya ketika mengucap itu seolah-olah menyiratkan kebencian mendalam. Lagi pula, mana ada seseorang tak saling kenal, lalu menghajarnya habis-habisan? Apalagi alasannya yang menurutku sangat tidak jelas.
Mata Rafael kembali teralihkan dariku. Entah apa yang dia lihat saat ini. Namun, aku hanya ingin dia menjawab pertanyaanku tadi saja.
"Apa kamu berpikir, aku dan mantan kamu itu saling mengenal?"
Tahu dari mana dia kalau aku mengira seperti itu? Apakah dia bisa membaca isi hati seseorang?
"Ya, bisa jadi, 'kan?" jawabku sekenanya.
"Apa alasan kamu menuduhku sedemikian rupa?" Rafael kembali menatapku. Seakan-akan dia mencari sebuah kebenaran dari sorot mata ini.
"Aku nggak tau apa yang terjadi di antara kalian. Aku hanya menangkap sebuah kejanggalan aja. Makanya, aku mengira kalian ada hubungan yang entah apa."
"Rea, kamu ngapain di sini? Siapa dia?"
Suara itu. Suara yang teramat aku kenal. Kontan aku menoleh. Dito sudah berdiri di belakangku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan. No no! Mereka tidak boleh adu jotos lagi seperti kemarin.
"Enggak. Dia Rafael, kami saling kenal, kok." Aku memberi ruang pada Dito yang tengah mendekat.
"Kamu yang kemarin ...." Dito menunjuk Rafael, tetapi kalimatnya menggantung, seperti orang yang masih menerka-nerka.
Namun, Rafael segera menjawab, "Gomennasai." Dia sedikit membungkuk, khas orang Jepang ketika melakukannya.
Di sini, aku merasa jadi semakin bertanya-tanya. Sebenarnya, mereka saling mengenal atau tidak?
"Sejak kapan kamu mengenalnya?" tanya Dito.
Aku menatap Dito, ternyata pertanyaan itu dia tujukan padaku. Anak ini memang menyebalkan. Untuk apa dia bertanya seperti itu? Bukankah hakku, mengenal siapa saja dan di mana saja?
"Kamu ke sini sama aku. Jadi, kamu adalah tanggung jawabku."
Astaga! Sejak kapan dia jadi hobi mengulang-ulang sebuah kalimat? Aku sudah dewasa, bisa menjaga diri.
"Permisi, sepertinya saya harus pergi. See you, Re!"
Rafael sedikit tersenyum padaku, lalu mengangguk kecil ke arah Dito. Cowok sipit itu sopan sekali. Untung tidak ada Bu Rossa Chandraningsih, bisa-bisa aku disuruh bawa dia pulang nanti. Sudah dewasa, sopan lagi. Idaman banget.
"Malah bengong lagi!"
Seketika aku tersadar, lalu menatap Dito kembali.
"Apaan, sih, Dit? Biasa aja kali. Dengan siapa pun aku berteman, itu bukan urusan kamu. Urus aja Tissa. Dia lebih butuh kamu sekarang." Aku berkata sedikit ketus. Nggak suka saja diatur-atur.
"Yang perlu aku urusin sekarang itu kamu, bukan siapa-siapa. Karena di depan mataku sekarang ini adalah kamu."
Aku tidak suka kalimat Dito barusan. Kalimat yang seakan-akan memberiku harapan, tetapi pada kenyataannya menjerumuskan.
Agar tidak terbawa perasaan, aku menghindar. Bergerak menuju ke ujung, tempat ikan-ikan berkerumun lebih banyak dari sebelumnya. Aku memotretnya.
"Aku bukan bayi yang perlu kamu urusin," kataku kemudian setelah mengambil gambar.
"Aku juga nggak bilang kamu bayi."
Aku melirik ke Dito, ternyata dia mengikuti langkahku, dan sudah dekat denganku. Entah, aku semakin merasa dia seperti menyempitkan langkahku di Jepang ini. Egois sekali!
"Iya, memang nggak pernah, tapi kenyataannya sikap kamu bikin aku ilfeel."
"Ilfeel kamu bilang?"
"Iya. Kamu itu calon suami orang, ya. Aku nggak mau dibilang pelakor dan tittle lain yang buruk. Bisa-bisa aku nanti digantung sama Bu Rossa Chandraningsih kalo dia tau itu."
"Mama Rossa." Dito terdengar membetulkan panggilanku kepada ibu kandungku sendiri.
"Ih, suka-suka akulah."
"Dia itu Mama kamu, Rea. Yang sopan manggilnya."
"Mama aja nggak keberatan aku panggil kayak gitu. Kenapa kamu yang protes?" Aku bergerak lagi, mencari gambar yang indah di hadapan. Namun, bidikanku malah mengenai Dito.
Ih, ngapain sih dia? Hapus, hapus! Aku berdecak kesal ketika Dito dengan sengaja berdiri di depanku ketika jariku memencet tombol bidik tadi. Kampreet sekali.
"Karena udah terlalu terbiasa, dan kamu yang susah sekali diaturnya."
Heeei! Dito menghakimiku barusan?