Antara Dito dengan Tissa

1509 Kata

"Udah, sekarang ikut aku. Nggak boleh nolak." Dito menarik lenganku. Tadinya aku protes, karena dia memperlakukanku seperti anak kecil. Namun, genggaman tangan Dito yang erat itu seolah-olah memantik hati ini, menciptakan percikan-percikan cinta yang lama terpendam. Lama kelamaan, aku menikmati genggaman tangannya. Dito membawaku ke suatu tempat. Tangan Dito terasa begitu hangat, aku tersenyum sambil terus memperhatikan tangan yang erat di jemariku. Hei, ini nggak boleh terjadi! "Mau ke mana, sih, Dit?" tanyaku yang kembali mencoba melepaskan genggaman tangan Dito. "Diem aja sebentar," kata Dito. Dia nggak ada niat melepaskan tangannya sama sekali. Mendengar ucapannya yang dingin dengan wajah datar itu aku pun terdiam, menurut. Entah, seperti ada yang membuatku nggak bisa berkutik

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN