Antara Dito dengan Tissa

1509 Kata
"Udah, sekarang ikut aku. Nggak boleh nolak." Dito menarik lenganku. Tadinya aku protes, karena dia memperlakukanku seperti anak kecil. Namun, genggaman tangan Dito yang erat itu seolah-olah memantik hati ini, menciptakan percikan-percikan cinta yang lama terpendam. Lama kelamaan, aku menikmati genggaman tangannya. Dito membawaku ke suatu tempat. Tangan Dito terasa begitu hangat, aku tersenyum sambil terus memperhatikan tangan yang erat di jemariku. Hei, ini nggak boleh terjadi! "Mau ke mana, sih, Dit?" tanyaku yang kembali mencoba melepaskan genggaman tangan Dito. "Diem aja sebentar," kata Dito. Dia nggak ada niat melepaskan tangannya sama sekali. Mendengar ucapannya yang dingin dengan wajah datar itu aku pun terdiam, menurut. Entah, seperti ada yang membuatku nggak bisa berkutik kalau Dito sudah seperti itu. Enggak cuma kali ini, tetapi sudah sejak lama bila Dito sudah dingin begini, ujung-ujungnya aku kicep. Dia kalau sudah serius, itu artinya ada sesuatu yang nggak enak di hatinya. Namun, bukan Puspita Anggreani namanya kalau nggak bisa bikin rusuh. Setelah Dito selesai ngomong, biasanya aku bikin ulah lagi. Suka saja membuatnya uring-uringan, lucu sekali. Kami sudah berada di kedai teh. Tempatnya cukup sepi, hanya ada empat orang di sini, termasuk dua pelayan kedai. Dito langsung memesan dua teh ala Jepang itu setelah menyuruhku duduk. Dia kembali ke arahku, duduk di depanku, berseberangan meja. Aku mengembuskan napas, siap-siap, barangkali Dito mau mengomel. Namun, aku salah, Dito hanya diam dan menatapku. Lama kelamaan, aku risi. Pun jadi salah tingkah. Hei, ngapain dia melihatku seperti itu? "Kenapa ngeliatin aku kayak gitu? Aku memang cantik, jadi nggak perlu kamu liatin. Ya ... meskipun kalah cantik dengan Tissa, sih." Perlu kuakui, bahwa kecantikan Tissa tidak ada yang bisa menandingi. Dito tak menjawab. Dia hanya bergerak sebentar untuk mengubah posisi. Ish! "Dit, tolong, deh. Sekarang gini, aku tanya sama kamu. Apa masalah kamu sama Tissa udah selesai? Kamu mikirin nggak sih gimana perasaan Tissa kalo dia tahu kamu ada di sini, sama aku lagi." Aku berkata tegas. Dito bungkam. Sepertinya dia sedang mencerna kalimat-kalimat yang terlontar dari bibirku. Eh, sejak tadi dia memang diam, sih. "Kamu nggak bisa jawab, 'kan? Aku tahu kamu bermaksud baik. Tapi kamu salah, Dit. Tissa itu lagi marah karena kita dekat. Kamu paham nggak, sih? Mikir dong dikit." Aku geram juga sama Dito. Dia ini menyepelekan perasaan perempuan banget. Apalagi Tissa adalah calon istrinya. Mau jadi suami macam apa dia kalau soal beginian saja suka tidak paham? Nggak peka! "Cewek itu kalau ngambek maunya dirayu, bukan malah kamu hindarin kayak gini. Apalagi kamu dekat dengan biang masalah yang dia nggak suka," kataku lagi. Dito masih diam. "Kamu itu nggak bisa kayak gini, Dit. Biar bagaimanapun, Tissa itu calon istri kamu. Seharusnua kamu bisa ngertiin dia, dong. Kamu egois banget jadi orang." Aku mengakhiri ceramahku. Rasanya, sia-sia banget menceramahi Dito, nggak beda sama tembok hotel. "Udah selesai ngomongnya?" Tuh, kan! Dia malah seolah-olah aku yang salah. Dia memang kelewatan sih jadi orang. Ngeselinnya sudah di level akut. Kini, giliran aku yang diam. Mata Dito seram juga kalau lagi serius gini. "Kenapa, sih, kamu nggak pernah tanya dulu pendapat orang lain, atau paling tidak dengerin dulu orang ngomong? Jangan sukanya berpendapat sendiri, lalu dibenarkan sendiri. Kamu itu nggak sedang hidup sendiri di dunia ini." Alisku menukik seketika. Dito memang pintar memutar balikkan keadaan. Dia yang salah, tetapi dia juga yang marah. Tolong, tunjukkan di mana letak keadilan itu! Ini sebenarnya aku yang telat berpikir, atau dia yang egois? Kepala ini menggeleng, sangat tak percaya dengan apa yang saat ini aku hadapi. "Kenapa? Kamu mau ngomong apa lagi? Silakan, aku dengerin. Setelah itu, kamu dengerin aku ngomong." Eh, kok jadi begini? Kenapa seakan-akan aku yang disudutkan? Dito dan Tissa yang bermasalah, bukan aku. Ya, memang, aku ada keterkaitannya sama masalah mereka, tetapi di sini Dito seolah-olah akulah yang harus menjadi pendengar dan paling mengerti kondisi mereka. He-ol! Aku siapa? Aku di mana? Mendadak aku ingin amnesia. Aku nggak sanggup diamuk Dito. "Kamu itu kebiasaan, Re." "Kebiasaan gimana maksud kamu? Oke, kalo kamu nyalahin aku, fine. Aku terima." Nada bicaraku sedikit meninggi dan penuh penekanan. Kesal juga menanggapi Dito yang tiba-tiba menyalahkanku. Apalagi tatapannya seperti itu, aku sebal! "Tapi kenapa kamu jadi nyalahin aku? Aku dituding sama Tissa sebagai orang yang nggak tau diri, kalo kamu lupa. Itu sakit banget, Dit!" kalapku. Ingin rasanya aku makan orang. Tak akan pernah terlupa ucapan Tissa saat itu. "Aku heran. Kenapa Tissa nggak peduli banget sama kamu? Apa karena memang dia sadar, kalo kamu itu egois?" Dito tampak menunduk. Entah karena mendengar ucapanku yang menggebu-gebu, atau sebab lain. Atau memang dia sadar dengan sikapnya? Entah, bodo amat! Dito masih menunduk, aku melihat da'danya naik turun. Aku bahkan sampai mendengar embusan napasnya yang terdengar berat. Sepertinya, Dito enggan menanggapi omonganku. Jadi, untuk apa aku masih ada di sini? Lebih baik pergi saja dari tempat ini. Saat hendak melangkah, tanganku ditarik seseorang. Tiba-tiba saja tubuhku sudah didekapnya, erat. Aku memperhatikan tangan yang melingkar di perutku. Dito? Segera aku menoleh, meski sangat sulit dan terlalu jelas. Namun, aku bisa memastikan bahwa itu Dito, dari aroma parfumnya. Hei, berani-beraninya dia memelukku! Diri ini berusaha melepaskan diri dari dekapan Dito, tetapi percuma. Semakin keras aku memberontak, dia semakin mengeratkan tangannya. Aku ini sedang marah dengannya, tetapi kenapa seakan-akan tak dianggap? "Dito, lepas!" decakku sambil memukul lengan Dito sebisaku. Sebab, tangan ini dikuncinya, sehingga tak dapat bergerak bebas. "Apa-apaan, sih, Dit? Lepasin!" kataku lagi. Bukan dilepaskan, Dito malah bertanya, "Apa kamu merasakan debaran dalam da'da ini, Re?" Oh my god! Sebuah pertanyaan yang hampir saja membunuhku. Bagaimana dia bisa menanyakan hal bodoh seperti itu? Padahal aku selalu menghindari debaran indah tanpa komando tersebut. Namun, seakan-akan Dito sengaja membuat semuanya terkuak. Mataku terpejam, tak sanggup menjawab. Aku lebih menikmati irama dan nyanyian indah yang diciptakan hati ini. Aku merasakan dekapannya melonggar, secepat kilat aku mendorong tubuh Dito. Dia mundur beberapa langkah, mungkin kaget dengan aksiku yang spontan. "Kamu nggak berhak nanya itu. Kita udah selesai! Permisi!" Aku menekan kata permisi, sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan Dito. Rasanya kehabisan napas berada di dekatnya. Letupan dalam da'da tak pernah bisa kuhindari ketika bersamanya, dan itu tak boleh berlanjut. Aku mulai merasa bisa menerima bahwa Dito bukan lagi orang bebas. Dia memang baru akan menikah, tetapi tetap saja membuat hubungan seseorang merenggang apalagi sampai pisah bukanlah hal beretika. Bu Rossa Chandraningsih bisa mengutukku nanti. Tak kupedulikan teriakan Dito yang jauh tertinggal. Diri ini menoleh sekali, hanya untuk memastikan bahwa dia tak mengejar. Tangannya mengepal dan dipukulkan ke udara. Dia emosi. Terlihat sekali dari gesturnya yang mengacak rambut dan seperti orang kebingungan. Mengapa dia harus seperti itu? Seperti ada sesuatu yang membuatnya terpukul dan terbebani. Apa aku jahat, meninggalkan dia begitu saja? Mungkinkah dia sedang butuh teman untuk curhat? Ah, tidak, tidak! Pasti dia hanya ingin membuatku terbawa perasaan saja. Lalu, nanti Tissa semakin salah paham dan membenciku. Diri ini benar-benar keluar dari area pertamanan setelah berjalan cukup jauh. Menuju ke tempat yang entah, aku mengikuti langkah kaki ini saja. Saat akan melangkah, tiba-tiba mata ini menangkap dua sosok yang sepertinya aku mengenal siapa mereka. Itu bukankah Tissa? Mata ini menyipit, mencoba memperjelas siapa sosok di seberang sana. Mereka sedang duduk di dalam kafe. Gambarnya terpampang jelas dari kaca bening tersebut. Sama siapa dia? Sepertinya aku pernah melihat cowok itu, tetapi di mana? Diri ini mencoba mengingat-ingat. Ternyata ada banyak rahasia di sini. Sepertinya, renggangnya hubungan Tissa dengan Dito tak semata-mata karena aku. Ya, aku yakin ada sebab lain yang membuat keduanya malas atau bahkan seperti yang Tissa katakan, dia akan mengalah. O, ow! Tangan ini menutup mulutku sendiri. Apa Tissa sudah dapat gantinya, sehingga dia melepaskan Dito begitu saja? Cewek nggak bener! Ingin sekali aku memakinya. Samperin, jangan? Aha, aku tahu! Lebih baik aku duduk di sana, mengutip sedikit pembicaraan mereka. Siapa tahu aku bisa ingat di mana pernah bertemu cowok yang kini bersama Tissa itu. Wajah cowok itu tidak asing, meskipun ditutup kaca mata dan topi. Sebentar, cukup tidak uangku untuk sekadar membeli teh ocha, atau air putih? Ah, cukup ini! Dengan percaya diri aku masuk, dan memilih tempat duduk tak jauh dari Tissa. Lebih tepatnya, saat ini aku duduk di belakang Tissa. Hening. Tak terdengar percakapan apa pun di antara mereka. Yang terdengar hanya suara perkakas makan yang mengenai piring. Ya ampun! Sampai tehku datang pun, mereka sama sekali tak saling bicara. Apa cowok itu bisu? Aku harus memastikannya. Namun, bagaimanakah caranya? Tidak mungkin, kan, aku berjalan ke dekat mereka, lalu menumpahkan teh ini? Nanti yang ada malah ketahuan oleh Tissa. Aku sedikit menoleh ke belakang, sedikit memastikan bahwa yang kulihat bukan Rafael. Hei, memang bukan! Siapa dia? Ya, ampun! Ini adalah cowok yang ditemui Tissa diam-diam waktu di Skytree bukan? Iya, dia! Cowok sipit itu. Berkali-kali aku tercengang dengan buah pikiranku sendiri. Ini adalah suatu kebetulan yang luar biasa. Aku yakin, pasti mereka ada hubungan spesial. Kepala ini kembali fokus ke depan, dengan tertunduk sambil menikmati teh agar tak terlalu mencurigakan. Belum ada yang kutemukan di sini. Sayang sekali bisa ketahuan. "Tinggalkan Dito, dan menikahlah denganku, Tissa." Seketika teh yang baru masuk mulut menyembur keluar dengan iringan batuk yang tiba-tiba menyerang ketika mendengar ucapan cowok itu. Sialan!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN