Sialan! Kenapa batuk akibat tersedak ini tak kunjung mereda juga? Aku bisa ketahuan oleh Tissa kalau begini caranya. Berkali-kali aku mencoba berdeham pelan dan menahan batuk, tetapi tak bisa. Semakin kutahan, tenggorokan semakin gatal dan perih. Ini lebih menyiksa dari melihat Dito dan Tissa beradegan romantis saat berfoto.
Diri ini mencoba mencuri pandang ke belakang, berharap mereka tak melihat. Jadi, aku bisa kabur tanpa sepengetahuan mereka. Teh ocha sialan! Tak akan aku minum lagi setelah ini. Aku menggerutu sambil mengusap-usap leher.
Ternyata Tissa tak peduli dengan keberadaanku. Oh, mungkin saja dia memang tak mengenaliku. Baiklah, saatnya aku pergi dari sini sebelum Tissa tahu.
Mendadak tubuhku seperti terpatri ketika sebuah benda menyentuh pundak. Aku melirik benda itu, ternyata tangan seseorang. Bila kuperhatikan lebih jelas, itu bukan tangan Tissa. Sebab, tangan cewek itu ada cat kukunya. Ya, aku ingat tadi sebelum dia pergi saat kami bertemu di taman. Lalu, tangan siapa ini? Aku menelan ludah dengan susah payah.
"Kamu di sini karena mau tau sesuatu, 'kan?"
Mati aku! Suaranya berat, khas laki-laki, tetapi siapa dia? Dari suaranya tak asing, sih. Namun, sama sekali aku belum yakin dengan sosoknya.
Diri ini merasakan tekanan dari tangan yang ada di pundak. Nah, benar saja. Dia berusaha membalik badanku. Menunduk, jangan? Astaga! Lebih baik tidak menunduk, pura-pura saja tidak menahu dan semua hanya kebetulan.
Aku langsung menatap sosok yang lebih tinggi dariku ini. Dia Rafael. Lho, kok berubah Rafael? Bukankah tadi yang bersama Tissa hanya orang yang mirip Rafael? Aku yakin sekali tadi tak salah lihat. Mataku beralih ke sosok yang tadi duduk di meja bekalang.
"Cari siapa?" tanyanya lagi.
Aku jadi seperti orang paling bodoh di sini. Serius, ini membingungkan sekali. Mata ini langsung memindai seluruh tempat, tak ada Tissa atau siapa pun di sini. Dia sudah pergi? Kepalaku setengah berputar, melihat ke luar, tak ada jejaknya.
"Kamu lihat cewek yang tadi duduk di sini?" Aku menunjuk ke meja yang tadi ada Tissa.
Mata Rafael mengikuti telunjukku. "Nggak ada siapa-siapa di sana."
Tidak! Diri ini tak mungkin salah orang. Tadi aku benar-benar melihat Tissa. Pendengaranku pun masih normal. Tadi cowok yang mirip Rafael itu menyebut nama Tissa. Tidak mungkin juga ada kebetulan yang sesempurna ini bukan? Aku yakin sekali bahwa tadi betul-betul Tissa. Namun, ke mana perginya? Kenapa bisa secepat kilat?
Aku masih tidak percaya dengan tatapan Rafael. Pasti ada sesuatu di sini yang tak ingin aku ketahui, tetapi apa? Aku semakin curiga saja. Pasti ini ada hubungannya dengan sikap Tissa yang menjauhi Dito. Kasihan sekali cowok itu. Sepertinya dia benar-benar butuh teman curhat.
"Kamu tadi bilang apa? Aku ke sini mau tau sesuatu? Kamu benar. Aku yakin, kamu menyembunyikan sesuatu di sini, dan pertemuan kita pasti ada hubungannya dengan semua ini."
Rafael melengos, aku melihat dia tersenyum di sana.
"Kamu ngaco, ya? Aku nanya gitu karena tempat ini memang suka dicari wisatawan untuk memuaskan rasa penasaran mereka tentang rasa tehnya. Kamu nggak tau?"
Aku rasa dahiku saat ini telah membentuk lipatan-lipatan. Rafael pasti mencari alasan dan mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku serius. Tadi calon istrinya mantanku itu ada di sini. Dia sama cowok. Mereka kayak sedang ngobrol serius."
"Tapi dari tadi di sini nggak ada siapa-siapa. Kamu berhalusinasi?"
Pertanyaan Rafael barusan sangat menyinggungku. Mata ini masih normal dan awas, tak mungkin semua yang aku lihat tadi hanya halusinasiku belaka.
Aku kesal. Kuraih kamera di meja cepat-cepat, lalu pergi begitu saja. Tak lupa kuberi Rafael tatapan tak suka. Kesan pertama bertemu dengan Rafael, ternyata tak semulus dalam pikiran.
Tiba-tiba sebuah ide keluar. Aku melengkungkan bibir, lalu menyusun siasat dengan rapi agar tak kecolongan lagi. Kali ini, aku harus menemukan sesuatu, tentang apa saja yang bisa menjadi bukti bahwa Rafael ada hubungannya dengan Tissa dan cowok yang semeja dengannya.
Aku melihat dari sisi lain dari kafe ini. Rafael tampak memainkan ponsel, wajahnya juga seperti orang bingung. Aku yakin, ada sesuatu yang disembunyikan cowok itu. Pasti dia ada hubungannya dengan Tissa.
Kalau dipikir-pikir, perkelahian antara Dito dan Rafael waktu itu memang janggal. Seseorang yang tak saling mengenal, bisa menghajar habis-habisan seperti itu. Seharusnya dia bisa bertanya baik-baik lebih dulu. Saat memukuli Dito, raut wajah Rafael juga tampak begitu kesal dan penuh kebencian. Ya, aku baru menyadarinya. Ya, Tuhan! Sebenarnya, siapa Rafael itu?
Sejak tadi, tak ada seseorang yang mendekati Rafael. Pria itu pergi begitu saja setelah menaruh ponsel di saku. Ini pasti rencananya agar aku tak melihat Tissa. Oke, kali ini kamu bisa lolos, Rafael! Kita lihat saja besok.
Aku memutuskan kembali ke hotel saja. Sudah cukup rasanya berada di luar tanpa seseorang. Hari ini terlalu melelahkan, menguras pikiran dan emosi.
Bagaimana keadaan Dito, ya? Ya, ampun! Kenapa harus memikirkan dia? Sekali saja aku ingin menyingkirkan Dito dari dalam benak ini. Namun, semuanya tak mudah.
Biar menyebalkan, tetapi dia sebenarnya baik. Aku kepikiran dia karena tadi kondisinya sedang nggak baik-baik saja. Aku takut dia kenapa-kenapa. Luka lebamnya juga masih begitu kentara. Rafael memang keterlaluan.
Aku memencet pangkal hidung, tiba-tiba pusing dan diserang kantuk luar biasa. Mungkin memang aku terlalu lelah. Tidur sebentar di dalam bus sepertinya tak ada masalah. Perjalanan juga masih lumayan jauh. Cukuplah untuk diri ini istirahat.
*
Saat mata ini terbuka. Aku mendapati diri ini di suatu tempat. Mataku memindai ke seluruh ruangan. Ini di mana? Terakhir kali bukankah aku ada di dalam bus? Hei, benar!
Saat akan bergerak, aku merasa kesusahan. Astaga! Tanganku diikat. Apakah aku diculik? Siapa yang berani melakukan semua ini?
"Tolong!" teriakku sekuat-kuatnya.
Mereka tidak punya otak kali, ya, sampai harus menculik orang tak berguna sepertiku. Aku makannya banyak, apa mereka sanggup memberiku makan? Aku berteriak lagi, sambil terus berusaha melepaskan tangan ini dari ikatan. Namun, semua itu sia-sia. Ikatan ini terlalu kuat, sehingga tak bisa melonggar atau bahkan lepas begitu saja. Aku butuh seseorang untuk melepasnya.
"Toloong!" teriakku, sekali lagi. Namun, sepertinya tak akan ada yang mendengar. Aku mulai ketakutan. Aku paling tak suka dengan kegelapan.
Ruangan ini begitu luas, dengan rak-rak seperti dalam perpustakaan–tetapi sudah tak terpakai. Ada kursi-kursi berserakan. Tempat ini pengap dan berdebu. Sebenarnya di mana ini? Ingin sekali aku menangis.
"Tolooong! Siapa pun di luar, tolong sayaa!!"
Lagi, aku berteriak sambil menggerak-gerakkan badan yang terduduk di kursi, sehingga menimbulkan suara bising tak terkendali. Entahlah, pokoknya harus ada yang mendengarku di sini.
Tiba-tiba sebuah tepukan tangan menggema di ruangan ini. Bayangan seseorang melintas di depan sana. Siapakah dia? Bayangannya semakin mendekat dengan tepukan bertempo yang tak henti. Wajahnya belum tampak, sebab cahaya di luar sana menyilaukan, membuat wajah orang ini tak bisa kukenali.
Aku mendengar jelas suara jari dipetik, dan lampu menyala seketika itu juga. Wajah itu terpampang jelas di depan mata. Rafael telah melakukan hal keji ini. Berengsek! Aku tak percaya, tetapi wajah itu jelas di depan mata.
"Lepasin aku! Aku mohon!" pintaku dengan nada memelas.
"Kamu terlalu lama aku biarkan bebas, Rea. Kali ini, tidak akan lagi aku biarkan hal itu terjadi. Kamu mau tau kenapa?"
Mata ini menatapnya nyalang. Maksudnya apa bicara seperti itu? Aku salah apa memangnya? Ingin sekali aku mencekik lehernya, agar dia tak bicara selancar sekarang. Berani sekali dia menculikku. Nekat!