Rafael mendekat. Dia mengitariku, pelan. Diri ini hanya memperhatikan langkah lebarnya yang tak kunjung berhenti. Sedari tadi aku menunggu kelanjutan ucapannya, tetapi sepertinya dia sedang ingin bermain-main denganku. Hati ini kian tak tenang saja. Sebenarnya siapakah Rafael ini? Kenapa dia harus menculikku segala? Keringat dingin membasahi wajah, leher, dan tangan. Sepertinya mulai mengucur juga di bagian belakang badan. Otak ini berpikir bagaimana caranya bisa lari dari tempat ini. Namun, ikatan di tangan ini benar-benar kuat. "Kamu mau mencari tahu tentang Tissa, 'kan? Kamu penasaran dengan dia?" Ingin sekali aku tertawa akan pikiran sok tahunya, tetapi malas sekali berdebat. Aku hanya ingin membuat Tissa dan Dito bersatu kembali seperti semula. Bukan seperti sekarang. Apalagi Tissa

