Rafael mendekat. Dia mengitariku, pelan. Diri ini hanya memperhatikan langkah lebarnya yang tak kunjung berhenti. Sedari tadi aku menunggu kelanjutan ucapannya, tetapi sepertinya dia sedang ingin bermain-main denganku.
Hati ini kian tak tenang saja. Sebenarnya siapakah Rafael ini? Kenapa dia harus menculikku segala? Keringat dingin membasahi wajah, leher, dan tangan. Sepertinya mulai mengucur juga di bagian belakang badan. Otak ini berpikir bagaimana caranya bisa lari dari tempat ini. Namun, ikatan di tangan ini benar-benar kuat.
"Kamu mau mencari tahu tentang Tissa, 'kan? Kamu penasaran dengan dia?"
Ingin sekali aku tertawa akan pikiran sok tahunya, tetapi malas sekali berdebat. Aku hanya ingin membuat Tissa dan Dito bersatu kembali seperti semula. Bukan seperti sekarang. Apalagi Tissa memutuskan untuk menjauh. Kejadian di kafe itu juga membuatku menyayangkan akan keputusan Tissa. Dia malah dekat dengan cowok lain.
"Siapa cowok yang mirip kamu di kafe waktu itu?"
Lebih baik aku langsung pada point-nya saja. Bicara bertele-tele dengan Rafael hanya akan membuang waktu.
"Menurut kamu?" tanya Rafael remeh.
"Kalo aku tau, aku nggak akan nanya ke kamu."
Aku mendengar Rafael mengembuskan napas. Sepertinya dia mulai terpancing dengan jawabanku. Namun, tunggu sebentar. Suara Rafael kali ini sangat berbeda dengan suara Rafael yang aku kenal waktu itu. Suara pria ini lebih ringan, sedangkan suara Rafael berat. Aku semakin bingung. Mungkinkah mereka kembar?
"Apa kamu percaya kalo aku bilang Tissa itu gila?"
Aku kaget mendengar penuturan Rafael. Selama mengenal Tissa, sama sekali tak ada tanda-tanda aneh dari cewek itu. Kalaupun Tissa mengalami hal seperti yang diucapkan Rafael, sangat tidak mungkin Dito mau bertunangan dengannya bukan?
"Kalo aku percaya, lalu kamu mau apa?"
Orang seperti Rafael harus dikelabuhi, diajak main cantik.
"Kamu tau, dia itu mau membunuhmu."
Nada bicara pria mirip Rafael ini terdengar begitu santai. Namun, aku sempat terkejut dan khawatir juga. Apa salahku sefatal itu, sampai Tissa mau membunuhku?
"Bukankah kamu yang akan melakukan hal itu?" kataku sesantai mungkin. Padahal, diri sudah gemetar, tetapi kutahan. "Buktinya, kamu menculikku. Kenapa jadi menuduh Tissa?"
Gila saja. Sudah tau diikat dan tak akan bisa berbuat apa pun, masih saja congkak. Mau bagaimana lagi? Aku sebal dengan pria ini.
Tawa pria di hadapan berderai. "Itu semua karena aku nggak mau Tissa melakukan hal jahat. Jadi, biar aku yang melakukan semuanya."
Astaga! Dia benar-benar sudah tidak waras. Pikirannya tak lagi jernih. Hanya demi orang yang dia cintai, dia sampai melakukan hal sebodoh ini. Oke, aku akui, memang cinta itu bisa membuat akal pikiran aneh. Namun, untuk menjadi seorang pembu'nuh, aku rasa bisa dipertimbangkan lebih jauh lagi. Ini urusannya dengan nyawa, Man! Ya kali dia mau mempertaruhkan hidupnya dengan cinta yang bahkan belum tentu bisa dia miliki.
"Kenapa? Karena kamu masih mencintai Tissa, makanya kamu rela melakukan hal bodoh? Jadi, cowok yang tempo hari bertemu dengan Tissa di Skytree itu ... kamu?"
Wait, wait! Kalau diperhatikan dengan saksama, wajah pria ini memang mirip dengan Rafael. Namun, ada yang berbeda. Wajah Rafael mulus dan bersih, sedangkan pria ini memiliki bekas luka di kening. Lehernya juga bertato, sedangkan Rafael enggak ada tato di lehernya. Ya, aku ingat sekali. Jadi, cowok yang menghajar Dito itu bukan Rafael, dan yang bertemu di taman itu siapa? Argh! Membingungkan!
"Kamu juga kan yang menghajar Dito waktu itu?
Aku seperti melihat benang merah di sini. Hubungan antara pria mirip Rafael ini, Tissa, dan Dito. Mereka pasti ada keterikatan sesuatu. Aku yakin, pria di hadapanku ini sakit hati karena Tissa lebih memilih menikah dengan Dito. Sekarang kuncinya ada di Tissa. Apakah dia mencintai pria ini juga? Aku harus mencari tahu soal ini.
"Great! Kamu cerdas juga. Selama ini, tak ada yang mengenali penyamaranku, kamulah yang pertama kali mengetahuinya. Keren!" Pria ini bertepuk tangan, seakan-akan bangga padaku.
Namun, aku sangat yakin dia benci sekali denganku, karena aku masih mengenali penyamarannya.
"Ya, aku memang hebat. Kamu harus hati-hati, sih."
Rafael menghentikan tepuk tangannya. Dia menoleh ke arahku dengan tatapan sinis. Bukan, bukan. Tatapan itu lebih menyiratkan kebencian mendalam. Astaga! Mulutku memang tak ada remnya. Dalam keadaan genting seperti ini masih sempat-sempatnya menyombongkan diri.
Rafael mendekat. Deru napasnya menerpa wajah ini, seperti ada amarah besar yang dia simpan.
Tanpa gentar, aku membalas tatapan matanya. Lebih tajam dari yang dia suguhkan. Aku memang bukan orang yang jago silat atau ilmu bela diri lainnya, tetapi aku akan sangat berani bila terdesak.
"Kamu berani melawanku?" tanya pria ini tanpa bergerak sedikit pun.
"Apa yang harus aku takutkan darimu? Apakah kamu bisa menjelaskan?"
"Kamu memang pemberani," kata pria ini.
Aku semakin yakin, dia bukanlah Rafael yang aku kenal malam itu.
"Kenapa harus takut? Bukankah kita sama-sama makan nasi?" jawabku sekenanya.
Ya ampun! Mulut ini lama-lama minta dilakban. Kalimat demi kalimat keluar dengan lancar seakan-akan tak ada penghalangnya.
Pria ini tersenyum miring. Apakah dia sedang bersiap melakukan sesuatu? Diri ini harus siaga dan waspada.
Tuhan, datangkanlah penyelamat, pahlawan, atau siapa saja untuk menyelamatkan diriku dari sekapan cowok pecundang ini. Jujur, rasa takut mulai menjalari diriku. Semua karena mulutku yang terlalu lancar bicara.
"Ini peringatan buat kamu. Berhenti memata-matai Tissa, atau kamu akan tinggal nama!"
Glek!
Ludah tertelan susah payah. Dia benar-benar berniat membunuhku? Tatapan pria ini tak main-main. Dia pasti akan melakukan apa saja untuk melindungi Tissa.
"Untuk apa aku memata-matai Tissa? Seharusnya kamu itu waspada. Kamu telah merebut calon istri orang. Kenapa kamu jadi ngancam aku? Tissa mau menikah dengan Dito, tapi kamu malah melamar Tissa. Jadi, sekarang siapa yang salah?"
Oh my god! Mulut ini harus benar-benar dijahit.
"Itu bukan urusan kamu. Tissa nggak cinta sama Dito. Kamu tau?" kata pria ini santai. Ya, terdengar lebih santai dari sebelumnya. Dia menjarakkan tubuhnya dariku, dan mulai mengitariku lagi.
Omong kosong macam apa itu? Mana mungkin Tissa cemburu kepadaku kalau dia tidak memiliki perasaan untuk Dito.
"Karena kamu masih berharap bisa sama Tissa, makanya kamu bersikeras merebutnya dari Dito. Kamu yang akan mati karena bermain-main di kandang singa."
Eh, apa yang kukatakan tadi? Astaga, perumpamaan macam apa itu?
Lagi-lagi, pria mirip Rafael ini tertawa.
"Sepertinya kamu memang tidak mau menyerah. Baiklah kalo itu mau kamu. Selemat bersenang-senang dengan binatang di sini."
Seketika aku menoleh kanan-kiri, memindai seluruh ruangan. Terasa begitu menyeramkan. Tiba-tiba lampu padam dan pria itu telah lenyap dari padangan. Pintu kembali tertutup, semuanya gelap dan pengap. Baunya sangat tidak enak.
"Rafael!! Lepasin gue!! Rafael!!" Aku berteriak sekuat mungkin. Kuulang beberapa kali agar manusia berotak kerdil itu melepaskan diri ini. Paling tidak, dia membiarkan lampu itu menyala. Aku takut gelap.
Bodo amat aku memanggilnya siapa, salah sendiri tidak memperkenalkan diri. Namun, bukan itu yang membuatku kesal, ruangan gelap inilah yang membuatku ketakutan.
Hari pun semakin beranjak petang. Cahaya dari celah ventilasi kecil
dan pantulan kaca perlahan-lahan mulai lenyap. Tangan ini terus berusaha lepas, tetapi sama sekali tak bisa. Pria itu memang berengsek! Aku akan membuat perhitungan dengannya nanti.
Suasana semakin gelap. Ponselku pun kehabisan baterai, sehingga tak dapat kugunakan sebagai penerang. Aku mengerang, rasa takut akan gelap mulai menjamah. Namun, ingatan tentang ucapan-ucapan pria itu tentang Tissa membuatku seolah-olah lupa akan gelap ini.
Tissa gila? Apa itu benar? Lalu, apakah Dito tidak mengetahui hal ini? Sialan! Seharusnya aku menjadi pendengar yang baik bagi Dito. Kalau aku benar-benar mati di tangan lelaki itu, aku akan menyesal seumur hidup. Sebab, aku belum bisa mengungkap semua yang terjadi. Tissa, Dito, dan pria mirip Rafael. Mereka bertiga memiliki keterikatan yang masih abu-abu, aku yakin itu!
"Kamu tidak bisa melakukan ini sama dia. Lepaskan dia!"
Suara samar-samar itu. Itu suara milik Rafael. Ya, aku yakin. Sebentar, mereka berdebat, ya?
"Rafael, tolong gue!" teriakku. Aku merasa ada celah yang bisa membuatku selamat.
"Rafael, tolong!" teriakku sekali lagi. Kali ini aku menggerak-gerakkan badan agar Rafael mendengar.
"Kasihan dia. Dia nggak salah."
"Diam kamu! Jangan pernah ikut campur urusanku!"
Aku mendengar suara orang mengaduh. Ada suara benda yang menabrak pintu juga. Dia melakukan apa pada Rafael?
"Rafael!" Aku berteriak lagi. Kali ini lebih sering dan berulang-ulang. Aku sengaja, sebab lelaki itu bisa saja menyakiti Rafael.
"Lepaskan dia aku bilang. Dia hanya kerja di sini. Dia nggak ada—"
Bug!
Kali ini suara pukulan entah di mana. Namun, aku yakin itu Rafael yang dijadikan samsak. Dasar kejam!
"Aku akan laporkan semua ini ke polisi!"
Aku sedikit tercengang. Rafael berani sekali. Pasti dia babak belum dihajar kembarannya.
Tak lama suara keributan itu terdengar, pintu terbuka, menimbulkan silau di mataku. Tentu saja aku menutup mata, walaupun pada akhirnya berusaha untuk tetap melihat.
Seseorang dilempar, hingga mengenai kakiku.
"Aduh!" keluh pria di hadapanku. Dia segera mendongak, dari matanya aku bisa menangkap sesuatu. Dia seakan-akan menenangkanku. Rafael.
"Membusuk saja kau di sana!" umpat lelaki yang melempar Rafael.
Tak sampai di situ. Lelaki mirip dengan Rafael itu mendekat, mengikat Rafael sama sepertiku. Yang paling mengherankan, Rafael sama sekali tidak berontak.
"Mati saja kau, anak sialan!" Lelaki itu meludahi Rafael di depanku, lalu pergi meninggalkan kami.
Aku menatap Rafael iba. Dia terlihat lebih mengenaskan dariku. Kasihan dia.
"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya dalam keharuanku.
Cepat-cepat aku menggeleng. "Apa kalian kembar?" tanyaku. Sesungguhnya, pertanyaan ini tak penting, justru aku merasa egois setelah bertanya demikian. Namun, rasa penasaranku mengalahkan ego.
"Dia kakakku. Dia ditinggal oleh Tissa, karena gadis itu lebih memilih pria kaya dibanding kakakku," ungkap Rafael. Tatapannya tampak kosong.
Jadi, selama ini aku salah duga? Aku pikir Rafael yang mantan Tissa. Oh, my God!
"Lalu?"
"Dia frustasi. Pikirannya kacau, sehingga membuatnya tempramental seperti sekarang," aku Rafael.
"Kalian ke sini berdua?"
Rafael mengangguk. Kali ini tatapannya tertuju padaku. "Aku diam-diam mengikutinya, karena nggak mungkin aku membiarkannya pergi sendiri dalam keadaan emosi yang tidak stabil."
Hening sepersekian detik. Aku masih mencoba meraba benang merahnya.
"Kenapa kamu berani sekali mencari masalah? Dia itu nekat. Bisa saja kamu dibunuhnya."
"Kamu nggak akan membiarkan hal itu terjadi, 'kan?" tanyaku memastikan. Entah, aku merasa Rafael pelindungku. Sejak pertama bertemu dengannya, aku merasa dia adalah orang baik.
Rafael menatapku. Ah, lebih tepatnya kami saling menatap satu sama lain.
"Aku tidak janji," kata Rafael kemudian.
Entah, aku sedikit kecewa mendengar jawabannya. Lalu, kami saling diam. Rafael bergeser ke sudut, bersandar di rak buku paling tinggi. Sementara itu, aku tetap di tempat, karena memang tak bisa berpindah sesuka hati.
*
Aku kaget bukan main ketika mendengar sebuah benda yang entah apa, suaranya seperti saling bentur. Mata ini mengerjap, cahaya terasa silau di mata. Ah, ternyata aku ketiduran.
"Makan!"
Seseorang melempar roti ke pangkuanku, pun ke Rafael. Tidak sopan! Siapa lagi itu? Suaranya bukan milik kakak dari Rafael. Pasti dia pesuruh lelaki itu.
Kepala ini terasa nyut-nyutan, mungkin pengaruh obat bius kemarin masih tersisa. Semalam pun aku tidur sangat pulas, meski dalam keadaan duduk dan terikat. Ya, ampun! Badan rasanya sudah tak keruan. Pasti aku sudah mirip orang-orangan sawah sekarang.
Astaga! Pesuruh kakaknya Rafael ini juga sepertinya hanya memiliki otak setengah. Buktinya, dia melempar roti yang terbungkus rapat. Apa dia lupa kalau tanganku masih sama dengan kemarin? Maksudnya, terikat dan tak bergerak sama sekali.