"Kamu lapar?" Rafael sudah di dekatku ketika diri ini berusaha meraih roti tersebut dengan kaki.
Rafael sedikit bebas dariku. Dia tak diikat ke kursi, jadi bisa bergerak cukup leluasa. Kaki dan tangannya terikat, tetapi dia masih bisa bergerak ke sana kemari.
Aku segera mengangguk ketika Rafael bertanya. Dia bergerak ke depan, mengambil roti. Dengan susah payah dia membuka roti tersebut.
"Memang nggak punya otak tu orang. Apa dia pikir dengan tangan terikat gini kita bisa makan?" dumalku.
Rafael tak menanggapi. Dia masih berusaha mengupas roti.
Roti sudah terkupas. Rafael berusaha berdiri. Dia berjalan mundur dengan perlahan.
"Hati-hati," kataku yang khawatir Rafael terjatuh karena ikatan di kakinya cukup rapat.
"Buka mulut kamu, arahkan aku jika tidak pas," kata Rafael.
Adiknya saja berhati malaikat seperti ini, kenapa kakaknya ngalahin demons? Jujur, aku terharu dengan sikap Rafael. Dia sangat berbeda dengan kakaknya.
Mulutku terbuka untuk menerima suapan Rafael dari belakang itu. Lahap sekali aku menyantapnya, karena jujur saja, perutku benar-benar kosong. Hei! Pesuruh itu memberi makan, tapi lupa memberi minum. Bagaimana bisa aku menelan lebih banyak roti?
"Udah, udah," kataku ke Rafael sambil susah payah menelan.
Aku memang begitu, susah menelan tanpa bantuan air. Makanya, aku lebih suka makan sayur atau buah kalau bepergian. Beda lagi dengan di rumah atau di restoran dan kafe yang dengan mudah bisa pesan minum. Kalau tidak penasaran rasanya, mungkin dulu aku nggak akan beli chandu's tail.
Rafael berbalik. "Kenapa, udah kenyang?" tanya Rafael.
Aku menggeleng. "Aku nggak bisa menelan makanan kalau nggak ada air."
Rafael menoleh ke belakang, mungkin dia sedang mencari air.
"Dia nggak ngasih kita minum," kataku.
Rafael berjalan susah payah menuju pintu, sesekali dia melompat untuk mempercepat jalannya.
"Raf, mau ngapain?" tanyaku.
"Minta minum, aku juga haus," katanya.
Aku membiarkan pemuda itu bertindak sesuai keinginannya.
"Please open the door! We're thirsty!" teriak Rafael. Dia mengulang-ulang kalimat itu tanpa menyerah.
Namun, pintu tak kunjung terbuka. Jangankan terbuka, jawaban dari luar saja tak terdengar.
Rafael membentur-benturkan kepalanya ke pintu tersebut.
"Rafael, stop! What are you doing? Please, don't hurt yourself!" teriakku.
Seakan-akan Rafael tak mendengar ucapanku.
"Rafael, stop! Stop aku bilang! Rafael!"
Lagi-lagi pemuda itu mengabaikanku. Terpaksa, aku bergerak ke arahnya untuk menghentikan aksi Rafael yang ekstrem tersebut. Baru saja maju sekali, kursi serta tubuhku jatuh begitu saja. Suara kursi itu menimbulkan bunyi cukup keras.
"Aduh!" pekikku yang tersungkur dan tertimpa kursi. Sungguh, ini adalah jatuh paling tak enak yang pernah kualami.
"Aw!" Aku berbalik, maksudnya miring. Kepalaku rasanya ngilu karena terbentur lantai.
"Rea!" Rafael melompat-lompat menuju arahku. Dia langsung duduk, mencoba membantuku berdiri.
"Sakit, Raf," keluhku sambil menahan beberapa bagian tubuh yang seperti remuk.
"Tahan, aku bantu berdiri, ya." Rafael masih bersusah payah membantuku.
Tetap tidak bisa. Rafael bergerak ke belakangku yang berbaring miring. Entah apa yang dia lakukan, aku hanya merasakan gesekan di tanganku. Apa dia berniat membuka tali itu?
Aku masih mengaduh kesakitan. Lututku ngilu sekali saat ini. Ah, semoga tulangku tak ada yang patah.
Rafael masih berusaha mengurai tali di tanganku. Lama kelamaan aku merasakan tali tersebut melonggar, hingga akhirnya tanganku benar-benar bisa bebas.
"Alhamdulillah," kataku penuh keharuan. Segera aku melepas tali di kaki ini. Namun, tanganku rasanya tak memiliki tenaga dan kram.
"Bisa nggak?" tanya Rafael. Dia sudah kembali di depanku.
"Sedikit lagi," kataku yang masih terus berusaha melepaskan tali.
Akhirnya, tali pun terbuka. Kini, aku bebas tanpa ikatan. Posisiku sudah duduk sekarang. Saatnya aku membantu Rafael melepaskan ikatan di tangannya.
"Raf, apa kita bisa kabur dari sini?" tanyaku melas.
"Nanti kita coba," jawab Rafael mantap.
Tali di tangan Rafael terlepas. Kini saatnya tali di kaki itu yang harus dieksekusi. Aku membantu Rafael melepaskan tali di sana. Sekian detik kemudian, tali tersebut lepas. Kami saling pandang, lalu tersenyum bersamaan.
"Kamu nggak apa-apa? Bagian mana yang sakit?" tanya Rafael. Sorot matanya memperlihatkan kekhawatiran cukup dalam.
"Aku baik-baik aja, kok. Cuma sedikit ngilu aja," jawabku sambil memegang kening.
"Jadi, apa kita bisa kabur sekarang?" tanyaku lagi, merasa sudah ada jalan untuk melakukan rencana kabur.
"Nggak bisa sekarang. Ruangan ini ngga ada jalan pintasnya. Lagian, di depan sana masih ada penjaga. Pintu itu juga terkunci rapat."
Sepertinya, harapanku untuk kabur menguap begitu saja. Mendadak aku lemas.
"Eh, habiskan rotinya," kata Rafael.
"Kamu sendiri nggak lapar?" tanyaku.
"Enggak, habiskan aja."
Saat aku menyuapkan sisa roti ke mulutku sendiri, telingaku menangkap bunyi perut. Pastinya bukan suara itu bukan dari perutku. Langsung saja kutatap cowok di hadapan yang tampak membuang muka.
Aku tersenyum keki, dasar pembual! Aku bangkit, mengambil roti lain yang dilempar oleh pesuruh saudaranya Rafael tadi. Secepat kilat mengupasnya, lalu menyuapkan ke Rafael.
"Eh, apa ini? Udah, buat kamu aja." Rafael menolak tanganku.
Namun, aku tetap memaksanya untuk tetap makan.
"Makan, Raf. Perut kamu nggak bisa bohongin aku."
"Enggak, itu cuma bunyi biasa. Ususku sedang bergerak di dalam sana."
Alah, bulshit! Memangnya dia bayi, yang setiap saat bisa terdengar bunyi ususnya yang bergerak?
"Makan, ayo, makan." Aku menyuapkan roti ke Rafael, penuh paksaan. Akhirnya, dia pasrah dengan usahaku.
"Dasar tukang maksa!" decaknya.
"Lagian sih, orang lagi lapar malah bilang enggak."
Aku susah payah menelan roti. Serius, tenggorokanku rasanya kering. Sepotong roti ini pun masih belum mampu mengganjal perutku. Aku mana bisa tanpa nasi?
"Kakak kamu namanya siapa, Raf?" tanyaku setelah berhasil menelan roti susah payah. Rafael mengunyah roti dengan nikmat.
"Rafandra," jawab Rafael singkat. Setelah itu tak ada percakapan lagi di antara kami.
Aku sibuk dengan tanganku yang kebas dan kram. Tak lama kemudian, terdengar suara seperti orang membuka kunci pintu. Seketika aku dan Rafael saling pandang, kami syok. Ya, aku yakin Rafael juga merasa sepertiku.
"Gimana ini, Raf?" tanyaku panik.
"Kamu tenang aja, biar—"
Brak! Pintu terbuka dengan keras, hingga menabrak tembok. Aku dan Rafael langsung menatap ke arah seseorang yang berdiri di ambang pintu dengan tangan di pinggang.
"Raf, aku takut," lirihku setelah kami sama-sama berdiri. Aku sedikit bersembunyi di balik tubuh menjulang Rafael.
Tangan Rafael seakan-akan melindungi. Dia memegangku, dan membiarkanku untuk tetap di belakangnya.
"Jangan apa-apakan dia. Dia tidak bersalah."
Dalam sekali pukul, Rafael tumbang. Tentu saja hal itu membuatku takut.
"Rafael!" pekikku.
Aku mencoba membantu Rafael berdiri.
Namun, lenganku ditarik paksa oleh Rafandra.
Aku mengaduh kesakitan karena cengkeraman Rafandra. Dia juga melemparku hingga menabrak rak buku.
"Aw!" teriakku saat punggung menabrak rak itu. Benar-benar kejam!
"Jangan sentuh dia kalau kamu masih menganggapku saudara." Tiba-tiba Rafael sudah berdiri di depanku. Dia melindungiku dari tangan Rafandra yang sudah mengudara.
"Bereng'sek!" Tak segan-segan Rafandra mengha'jar Rafael di depanku. Berkali-kali dia melayangkan tinjunya ke tubuh dan wajah Rafael. Aku sampai ngeri melihatnya.
Karena tak tahan melihat Rafael sama sekali tak melawan, aku berinisiatif melakukan sesuatu. Diam-diam aku mengambil balok kayu yang tergeletak di pojokan, dekat Rafael waktu duduk sebelumnya. Dengan sigap aku memukulkan balok itu ke kepala Rafandra.
Sialnya, bukan tumbang, tetapi dia malah menatapku penuh kebencian. Astaga! Apa yang aku lakukan tadi? Apa ini artinya keselamatanku terancam?
Rafandra berbalik, menatapku bengis. Aku mendengar kemeretak gigi-giginya yang saling bersentuhan.
Lelaki ini tak bersuara, dia hanya terus bergerak ke arahku. Sementara itu, aku terus mundur dengan perasaan takut tentu saja. Rafandra masih mengikuti langkahku.
Seandainya hari ini aku akan mati, aku hanya ingin bertemu Mama, mengucapkan selamat tinggal. Berkali-kali aku menelan ludah, gentar. Napasku memburu, jantung ini juga berdetak cepat dari biasanya. Gemetar menjalari tubuhku.
Tangan Rafandra yang membawa balok sudah mengudara. Dalam hitungan detik, balok kayu itu akan mengenaiku. Aku memejamkan mata, tak kuasa dengan apa yang akan dilakukan lelaki gila ini.
Suara benda dipukulkan membuatku menjerit histeris.
"Aaaaaa!!!" jeritku memanjang.
Namun, anehnya aku tak merasakan sakit di mana pun. Mungkinkah? Astaga, tubuh Rafandra tersungkur ke lantai dalam posisi tengkurap. Seorang laki-laki berdiri dengan balok kayu di tangannya.
"Rafael?" lirihku.
"Ayo, kita lari sekarang juga." Rafael membuang balok kayu sembarang arah. Dia meraih tanganku, membawaku lari dari tempat ini.
"Tangkap dia!" Suara itu milik Rafandra.
Dua orang pesuruhnya berbadan tegap langsung menghadang aku dan Rafael. Kami saling membelakangi dengan punggung saling menempel. Kami berputar pelan, waspada dengan tindakan yang akan dilakukan dua algojo ini.
Rafael berbisik, bahwa aku harus lari ketika dia mengalihkan perhatian dua lelaki ini.
Awalnya aku menolak, karena tak mungkin aku meninggalkan Rafael dalam sangkar maut ini. Dia telah menolongku, mau tak mau aku juga harus menyelamatkannya.
Rafael memaksa. Aku harus bisa kabur dan meminta bantuan untuk menolongnya, begitu katanya. Oke, aku menurut. Dalam hitungan ketiga, aku harus lari.
Sementara itu, Rafandra mulai bangkit, dia mendekat. Di wajahnya bagian kening ada luka lebam.
"Satu, dua, tiga!" Rafael menyenggolku ketika hitungan ketiga.
Aku pun langsung lari.
"Aaa!" teriakku ketika kaget. Tiba-tiba di depanku ada dua orang preman lagi. Sialan! Bagaimana caranya aku bisa kabur?
Rafael sudah tertangkap. Mati aku!
"Mau lari ke mana kamu? Kamu pikir bisa pergi dari tempat ini semudah itu?" kata Rafandra.
"Jangan sentuh dia, Fan!" Rafael memperingatkan.
Namun, Rafandra seakan-akan tak peduli. Dia terus mendekatiku. Aku yang berjalan mundur, akhirnya tertangkap juga oleh dua preman lainnya. Hatiku semakin ketar-ketir.
"Wajah mulusmu ini bisa saja aku buat cedera. Paham?"
Rafandra mengancamku?
"Bawa Rafael ke ruang sebelah. Kunci dia, jangan biarkan dia lepas," perintah Rafandra pada dua orang yang memegang Rafael.
Pemuda itu berontak, dia tampak berusaha melepaskan diri dari dua preman itu, tetapi percuma. Rafael pun tengah dalam kondisi tenaga tak stabil. Dia akan bisa melawan dua algojo kekar itu.
Rafandra tersenyum ke arahku. Senyum penuh kemenangan. Apa yang akan dia lakukan padaku kali ini? Sungguh, aku ketakutan.
"Jangan sentuh Rafael," kataku dingin.
Rafandra terbahak. "Dia adikku. Apa pun yang akan aku lakukan padanya bukanlah urusanmu!"
"Manusia terkutuk kamu!" umpatku yang tak kuasa menahan emosi.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat hebat di pelipisku, membuat diri ini memalingkan muka. Wajahku juga terasa panas seketika.
"Baji'ngan kamu! Cuih!" Aku meludahi lelaki di hadapan. Dia menghindar.
"Seret dia, lalu ikat sekuat mungkin di ruangannya." Rafandra memerintah kedua preman itu.
Tentu saja aku langsung diseret menuju tempat semula. "Kamu b******n! Pengecut! Terkutuk! Gila kamu!"
Entah apa saja yang keluar dari mulut ini. Aku hanya bebas dari sekapan orang gila ini. Dito, hanya dia yang bisa menyelamatkanku. Ke mana dia? Apa dia mencariku?
Tubuh ini kembali diikat di kursi. Rasanya, ikatan ini lebih kuat dari sebelumnya. Kaki pun tak luput dari lilitan tali. Tuhan, selamatkanlah aku! Air mata mulai menganak sungai, mengucur di pangkuan.