"Kamu lapar?" Rafael sudah di dekatku ketika diri ini berusaha meraih roti tersebut dengan kaki. Rafael sedikit bebas dariku. Dia tak diikat ke kursi, jadi bisa bergerak cukup leluasa. Kaki dan tangannya terikat, tetapi dia masih bisa bergerak ke sana kemari. Aku segera mengangguk ketika Rafael bertanya. Dia bergerak ke depan, mengambil roti. Dengan susah payah dia membuka roti tersebut. "Memang nggak punya otak tu orang. Apa dia pikir dengan tangan terikat gini kita bisa makan?" dumalku. Rafael tak menanggapi. Dia masih berusaha mengupas roti. Roti sudah terkupas. Rafael berusaha berdiri. Dia berjalan mundur dengan perlahan. "Hati-hati," kataku yang khawatir Rafael terjatuh karena ikatan di kakinya cukup rapat. "Buka mulut kamu, arahkan aku jika tidak pas," kata Rafael. Adiknya s

