* Malam semakin larut, Distrik Shibuya ini tampak keren di malam hari, tak kalah dengan Sumida. Ingin rasanya mata ini terpejam, tetapi entah kenapa begitu sulit. Aku tak dapat tidur meskipun sudah mencoba terpejam berkali-kali. Pikiran ini masih saja ingat tentang Dito. Entah, bayangannya selalu menganggu setiap malam-malamku. Apalagi atas kejadian Tissa bertemu seseorang itu. Rasanya ada yang mengganjal. Aku merasa tak tega kalau harus melihat Dito tersakiti. Seharusnya bahagia, rasa sakitku bisa terbalaskan. Namun, hati kecilku tak semudah itu diingkari. Dito orang pertama yang menyatakan cintanya padaku. Biar bagaimanapun, dia memiliki tempat berbeda di hati ini. Tiba-tiba ide gila muncul. Aku berbenah, memakai kupluk rajut coklat tua, jaket tebal, dan sarung tangan. Diri ini mulai

