*
Malam semakin larut, Distrik Shibuya ini tampak keren di malam hari, tak kalah dengan Sumida. Ingin rasanya mata ini terpejam, tetapi entah kenapa begitu sulit. Aku tak dapat tidur meskipun sudah mencoba terpejam berkali-kali.
Pikiran ini masih saja ingat tentang Dito. Entah, bayangannya selalu menganggu setiap malam-malamku. Apalagi atas kejadian Tissa bertemu seseorang itu. Rasanya ada yang mengganjal. Aku merasa tak tega kalau harus melihat Dito tersakiti. Seharusnya bahagia, rasa sakitku bisa terbalaskan. Namun, hati kecilku tak semudah itu diingkari. Dito orang pertama yang menyatakan cintanya padaku. Biar bagaimanapun, dia memiliki tempat berbeda di hati ini.
Tiba-tiba ide gila muncul. Aku berbenah, memakai kupluk rajut coklat tua, jaket tebal, dan sarung tangan. Diri ini mulai beranjak dari kamar hotel. Aku sudah memutuskan akan keluar hotel dan jalan-jalan malam ini supaya tidak jenuh.
Udara malam terasa sampai ke sumsum. Aku memeluk diri sendiri sambil terus berjalan, tak lupa kamera selalu menggantung di leher. Aku juga ingin mengabadikan setiap moment di sini. Bekerja sekaligus berlibur tak ada salahnya, bukan? Apalagi gratisan. Biar aku manfaatkan sebaik mungkin. Seperti kata Dimas tempo hari, menikmati masa di Jepang.
Setelah cukup lama berjalan, akhirnya aku tiba di taman kota. Lampu-lampu berkelipan, indah sekali. Kursi kecil di taman ini menjadi tumpuan badanku. Menikmati malam sambil memotret ternyata asyik juga. Kenapa aku nggak melakukan ini sejak lama? Uh!
Sebuah kerumunan membuatku tertarik. Kaki ini melangkah, mendekati kerumunan tersebut. Tak banyak orang, tetapi tetap saja namanya berkerumun, 'kan? Mungkin sudah terlalu malam, bisa jadi orang-orang sudah pada tidur. Tidak seperti diri ini yang malah kelayapan. Manusia kurang kerjaan, padahal aku bisa mengedit foto. Namun, bosanlah. Masa berkutat sama laptop melulu?
Setelah sampai, ternyata ada seorang cowok memainkan biola. Merdu sekali. Aku pun mengambil gambar cowok itu. Menurutku unik dan sayang untuk dilewatkan. Beberapa gambar sudah berhasil aku ambil. Aku mengamati gambarnya, bagus. Setelah selesai, aku ingin berkeliling lagi. Namun, saat akan berbalik, tiba-tiba sebuah suara menghentikan langkahku.
Tentu saja aku menoleh ke sumber suara. Cowok yang tadi main biola itu menatapku aneh. Entah, aku tidak mengerti arti tatapannya.
"Nani ga hoshii no desu ka?" tanya cowok di hadapan, sedikit membentak. Bila aku tak salah mengartikan, dia bertanya tentang apa yang aku lakukan.
Memangnya aku melakukan apa? Memotret bukankah hal biasa? Namun, kenapa dia seperti tidak suka?
"I-iie," jawabku tergagap. Diri ini gugup karena merasakan ada aura marah dari tatapan cowok tersebut. Sangat aneh. Aku tidak mengerti.
"Kore wa nan desu ka?" tanya pemuda itu, dia merebut kamera dari tanganku, lalu memperhatikan gambar yang ada di layar. Sedang apa dia? Aku sama sekali tak berbuat apa pun. Juga tentang omongannya tadi, apa artinya?
"Kore wa ...." Cowok ini menatapku tajam. Entah apa salahku. "Namaikina! Nani ga watashi no pikuta o toru no de suka?" imbuhnya dengan menggebu-gebu.
Apa? Aku salah apa? Aku sama sekali tidak mengerti bahasanya.
"I don't understand what are you saying. What's wrong?" Biar saja aku pakai bahasa Inggris, sama sekali bahasa Jepangnya tak kutahu kecuali ... astaga!
"Gomennasai." Aku buru-buru minta maaf, dia tadi sepertinya menanyaiku tentang foto.
Tak ada jawaban dari cowok di hadapan. Dia masih fokus ke kameraku dan entah apa yang dia lakukan di sana.
Setelah selesai dengan kegiatannya yang entah apa itu, dia mengembalikan kamera padaku. Mendadak rasa curiga menelusup, segera diri ini mengecek apa yang dilakukan cowok itu pada kameraku.
"My God!" Serius. Aku benar-benar terkejut dan tak mengerti apa maksudnya, sehingga dia menghapus foto-foto di kamera milikku. Sialan!
"Nani ga hoshii no desu ka?!" bentakku tak kalah dari ocehannya tadi. Ada kekhawatiran menyelimuti hati ini. Bisa dimaki-maki Tissa kalau sampai fotonya raib betulan.
Sial! Cowok itu malah pergi tanpa menjawab pertanyaanku. Dosa apa aku sehingga dia tega menghapus foto-foto Tissa dan Dito? Ya Allah. Aku lesu, lemas, dan ah tak tahu lagi apalah itu namanya. Bagaimana ini? Aku memikirkan cara untuk menjelaskan semuanya ke Tissa dan Dito nanti.
"Brengseek! Dasar idioot! Gilla!" umpatku sekenanya. Aku kesal. Benar-benar kesal. Apa yang nanti harus kukatakan pada Tissa dan Dito? Mereka pasti marah.
Aku dibayar mahal untuk hari bahagia mereka, tetapi dalam hitungan detik malah merusak segalanya. Kalau mereka minta ganti rugi, bagaimana? Ingin rasanya aku menangis. Cowok itu benar-benar tak berperasaan! Awas saja dia!
Kecewa, tetapi pada siapa? Diri melenggang, meninggalkan lokasi tadi.
"Kesel gue!! Kurang ajar banget tuh orang! Dia pikir, dia siapa? Sok kecakepan banget! Muka pas-pasan aja belagu!" omelku sambil terus melenggang. Diri ini mungkin sudah seperti orang gila. Mengamuk tak jelas, sendirian pula.
"Siapa yang sok kecakepan?"
Suara itu? Sekejap aku menoleh. Cowok sipit yang menghapus foto-fotoku tadi berdiri gagah di sampingku. What, dia bisa bahasa Indonesia? Mulut ini menganga dengan mata tak berkedip. Apa dia mendengar omelanku tadi?
"Kamu sudah mencuri gambar saya. Dan saya tidak mengizinkannya. Doushite? Mau protes?"
Sebentar. Apa kata dia tadi? Aku mencuri? Oh, ayolah! Itu hanya gambar, dan tak akan membuatnya rugi.
"Eh, denger, ya! Gara-gara Anda, saya bisa dimarahin abis-abisan sama klien saya. Anda sudah menghapus semua foto saya. Dan Anda harus tanggung jawab!!" gertakku. Tak peduli siapa pun dia, pokoknya wajib bertanggung jawab.
Bukan takut atau minta maaf, cowok ini malah menatapku jumawa.
"Kenapa jadi saya? Anda yang salah, 'kan? Satu lagi. Jangan sembarangan ngambil gambar orang. Anda bisa dituntut!" pungkas pemuda sipit itu, kemudian pergi.
Hanya mengambil gambar bisa dituntut? Oh my God! Ini zaman canggih, Bro! Masih saja primitif.
"Dasar China nyasar! Semena-mena banget sama gue! Awas lo!" teriakku yang sama sekali tak dihiraukannya. Diri ini mengatainya China karena dia sipit, lebih mirip orang Chinese daripada orang Jepang.
Maksud hati ingin membuang penat, malah jatuh dan tertimpa tronton pula. Ya Allah! Kalau begini caranya, bisa-bisa aku dilempar ke laut sama Dito dan jadi santapan hiu. Kenapa nasibku siial sekali? Kenapa di mana-mana aku selalu teraaniaya? Sepertinya Bu Rossa perlu memandikan aku dengan bunga tujuh rupa, agar kesialan demi kesialan ini lenyap.
Semua ini gara-gara Dimas. Coba saja dia tidak mengirimku ke Jepang, pasti aku tak akan mengalami kesialan. Diri ini menyeret langkah yang terasa begitu berat, entahlah. Aku takut dan tak siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan Dito dan Tissa atas kejadian ini. Mereka pasti mengamuk dan memakiku tanpa henti. Ya Tuhan! Lagi-lagi aku mendumal, kesal sekali.
Seharusnya cowok itu tak perlu seberlebihan ini–menghapus semua foto. Toh, aku hanya mengambil satu gambarnya saja, itu pun beramai-ramai. Awas saja kalau sampai bertemu lagi. Aku akan membuat perhitungan dengannya. Tak terbayang bagaimana marahnya Tissa dan Dito nanti. Bisa mati aku.
Tuhan, tenggelamkan aku di rawa-rawa sekarang juga! Eh, di Jepang apakah ada rawa? Tau, ah! Aku sudah tak dapat berpikir lagi. Pasrah saja bila besok Tissa marah. Cewek itu pasti kecewa, karena fotonya hilang. Ah, kenapa tak kupindah saja semuanya ke flashdisk? Aku menggerutu dan merutuki diri sendiri. Bila tak takut sakit, mungkin aku sudah memukul diriku sendiri. Sayangnya, aku masih menyayangi badan ini.
Aku kembali ke hotel. Ponsel di kasur menyala. Seketika mata melirik jam di pergelangan tangan. Sudah hampir jam dua belas malam, tetapi siapa yang menelepon? Segera tangan ini meraih ponsel, nama Mama tertera di sana. Tumben amat dia menelepon? Aku pikir tak peduli lagi pada anaknya yang butuh doa-doa agar tak sial ini.
"Malam, Mama Rossa yang cantik jelita dengan keriput di wajah tapi tetap maunya dibilang muda."
"Kebiasaan! Panggil Mama dengan sopan kenapa, sih? Itu, adikmu jadi niru-niru gara-gara kamu. Mbok ya jangan ngajarin yang aneh-aneh. Adikmu itu masih mencari jati diri. Dia masih mudah terpengaruh sama hal-hal negatif. Kamu ini jadi kakak bukannya ngajarin yang baik, malah selalu ngajarin yang jelek-jelek.
Gimana kamu mau dapat pacar kalo gini caranya? Yang ada, cowok-cowok malah pada kabur liat tingkah laku kamu, apalagi denger omongan kamu. Mama yakin mereka langsung kabur tanpa berpikir panjang."
Astaga, Bu Rossa Chandraningsih tak pernah berubah. Menelepon bukannya tanya kabar, malah diceramahi panjang kali lebar. Pakai acara menyinggung pacar segala lagi. Tadi dia bilang apa? Aku mengajari Satya hal-hal buruk? Ya Allah, Bu Rossa Chandraningsih. Bisa tidak bila tak menuduh? Satya itu tanpa diajari juga sudah seperti itu. Kami memang sama. Sama-sama suka membuat Bu Rossa Chandraningsih kesal.
Sejenak, aku bisa lupa dengan foto Tissa yang raib. Ngobrol sama Mama memang bisa menjadi moodbooster, walaupun lebih banyak ke ingin menelan batu bata, sih. Mendadak rindu Mama. Ingin memeluknya, meskipun pasti aku dijewer karena dibilang manja. Mama selalu seperti itu, menolak dipeluk karena takut menangis. I see, Mama mudah terharu, apalagi ketika dipeluk anak-anaknya.