Lamat-lamat kudengar langkah kaki Tissa semakin menjauh. Apakah itu betul Tissa? Diri ini membuka pintu perlahan, mengintai dan memastikan bahwa tak ada siapa pun di sana. Kosong. Aku buru-buru menyembul, berjalan biasa saja sambil membuntuti wanita bergaun merah menyala itu. Aku yakin sekali, bahwa itu Tissa. Eh, kok dia belok kanan? Bukankah meja Dito tadi di sebelah kiri? Aku menoleh ke Dito, memastikan bahwa dia benar-benar di sana. Tepat dan akurat. Jadi, Tissa mau menemui siapa? Mendadak jiwa ingin tahuku mencuat ke ubun-ubun. Oh my God! Dia cipika-cipiki dengan seseorang. Tunggu dulu, cowok itu siapa, ya? Rasanya aku tidak asing dengan wajahnya. Seperti pernah bertemu, tetapi entah di mana. * Kejadian di restoran malam itu membuatku tak dapat tidur dengan nyenyak. Semakin berusah

