** Mau tak mau, Dimas benar-benar membawa Rea menemui ibundanya. Entah bagaimana nantinya, Dimas benar-benar pasrah. "Lo kenapa, sih? Kok, kayak nggak tenang gitu?" "Nggak apa-apa. Kenapa memangnya?" "Kayak orang ketakutan. Aneh!" Dimas bahkan lebih dari takut saat ini. Dia merasa keringat dingin membanjiri wajahnya, berkali-kali dia mengelapnya diam-diam. Dia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Rea ketika tahu semua hal yang dia rahasiakan selama ini. Dimas berharap, ada keajaiban yang bisa menolongnya lepas dari semua itu. Paling tidak, Dimas bisa menundanya untuk sementara waktu. "Stop, Dim! Stop!" Tangan Rea memukul-mukul pelan lengan Dimas, membuat pemuda itu seketika mengerem laju mobilnya. Untung saja jalanan lengang, jadi Dimas tak mendapat makian karena berhenti mendad

