"Mu-chan?" Pria itu berbisik, menahan sebagian suaranya. Aku menggumamkan namanya, dalam sebuah pelukan yang panjang dan erat. Jemari pemuda itu menekan puncak kepalaku. Aroma Arzhou saat hidungku membenam lembut di antara hakamanya, sungguh manis. Persis ribuan bunga sakura yang bermekaran sebelum waktunya. Hatiku bahagia, sekaligus sakit. "Ada apa?" tanyaku. Sadar dan luar biasa canggung karena reaksi berlebihan yang aku tunjukkan saat melihatnya. Arzhou menarik ujung yukataku, menunjuk sebuah bangku di bawah akar pohon Maple. Aku menurut, membawa langkah terakhir sebelum akhirnya duduk sambil memandangi sandal ukiran kayu yang menjepit kakiku. "Mu-chan, apa kau pernah ke Sapporo?" Aku bergumam, tak menoleh ataupun memberikannya reaksi lanjutan. Hening, aku meraih kelopak plum yan

