Suara milik Takeshi Yoshida bergema kencang pagi ini. Mengusik ketenangan yang baru saja kuciptakan bersama si kecil Ichirou. Dari kejauhan, terdengar suara derap kakinya, menyusuri lantai kayu yang terbuat dari pokok Mahoni. "Apa dia baik-baik saja?" Suami keduaku itu berseru panik, menatapku lurus setelah membuka pintu geser dengan posisi terengah dan lutut tertekuk. Hidung mancung berhias plester luka yang kutempel kemarin, ikut berdesakan sesak saat bibirnya mengulum kecil, berusaha mengatur nafas. Hakama itu sedikit membuka di bagian kaki, menjelaskan bagaimana sang pemilik berlari kencang untuk sampai kemari. Aku menggeleng kecil, mengangkat sedikit bahu Ichirou lalu memindahkannya ke atas ayunan kayu. Beruntung, dia tidak terbangun meski suara ayahnya melebihi petasan di malam

