Pagi-pagi sebelum aku meluapkan kemarahanku pada Akechi, Takeshi sudah datang menjemputku. Ia bersikap layaknya suami yang bertanggung jawab. Padahal, seharusnya ia sadar aku tidak ada di sampingnya semalam. "Aku tidak pulang semalam dan belum tidur hanya karena langsung ke sini. Kau sangat mengagumkan bisa melewati beberapa penjagaan ketat di rumahku," kata Akechi melipat ujung Hakamanya saat duduk di tepian ranjang kamarku. Aku berpaling, menatap sinar pagi yang menyusup masuk bersama bayangan jimat yang tergantung. "Aku ingin di sini. Jadi, kau bisa pergi." Ia jelas tidak suka di tolak. Namun, kali ini sungguh di luar dugaan. Takeshi setuju memberiku ijinnya untuk beberapa waktu. Mungkin, ia sadar selama ini aku mati bosan di kediamannya. Bertemu ayah mertua saat minum teh di pag

