Stela kehilangan opsi selain aborsi. Rahimnya sudah pernah dikuret. Dan ia tak mampu membayangkan dirinya harus kuretase lagi. Namun mengandung janin yang entah milik siapa itu juga bukan pilihan bagus. "Sialan!" Stela mencengkram rambutnya. Ia raih sekotak rokok dan korek—menyulut sebatang. "Cowok-cowok bebal b*****t!" "Ngomong sama siapa kamu?" "Anjing!" Stela mengumpati Ingrid yang tiba-tiba muncul. "Mama ngapain sih, di situ?" "Apa kamu bilang?!" "Mama ngapain di situ?!" Ingrid menggeleng jengah. "Matiin rokoknya dan cepet ke ruang meeting." "Eugh, kayak nggak ada orang lain aja!" "Masih mending mama tampung kamu di sini. Kalo cuma main, minum tiap malem, nggak usah pulang lagi." Ingrid menyergah. "Dan lain kali buang testpack ke tempat sampah. Jangan di lantai kamar mandi,

