Tubuh Lana dipenuhi letusan kemarahan yang memanas. Rahangnya mengerat. Setelah membaca pesan dari Cakrawala itu, ia memutuskan untuk mendinginkan kepala dan menunggu.
Fokusnya teralih ke proses interview kandidat yang masih berlangsung. Lebih cepat dari dugaan, interview itu selesai menjelang sore.
Pak Armaji dan Althaf telah pergi. Sementara Lana sibuk di markas untuk mengevaluasi hasil skor kandidat. Brian menutup rangkaian acara itu usai proses penilaian rampung. "Oh iya. Gue punya sedikit informasi soal konser yang minus kemarin." ucapnya sebelum beberes.
Hampir semua anggota menahan napas. Kabar buruk apalagi? Pikir mereka.
"Puji Tuhan kita kemarin dapat bantuan dari Fakultas, jadi kalian nggak perlu susah-susah buat iuran lagi. Anggota yang ngilang dan lepas tanggungjawab, akan gue copot dari BEM ini. Dan untuk sisa kekurangannya," Brian menoleh pada Lana. "Kita dapat bantuan lagi tapi kali ini bukan dari kampus, melainkan dari ibu sekretaris kita—yang tak lain adalah kak Lana." ucapnya sebelum menggelak.
Sorakan bahagia menyembur dari seisi ruangan. Para anggota spontan heboh karena status 'beban' hutang mereka terlepas. Bahkan Arumi dari PDD sampai datang ke Lana untuk cium tangan.
Memicu tawa sukacita dari anggota lain. Kabar itu menyapu duka dan seolah melepas beban di bahu.
"Lana, ini serius keputusan bokap lo?"
Lana mengangguk. "Ini pure karena papah mau bantu. Sekalian mau nyumbang uang kas buat proker-proker kita selanjutnya."
Tentunya ia tak bilang bahwa bantuan itu berasal dari 'upah perjodohan'.
"Tolong sampein makasih banyak buat papa lo, ya?" ucap Cindy sambil menghambur.
"Siapp, pasti gue sampein, kok!"
Kini, wajah-wajah pucat itu bisa bernapas lega. Akhirnya mereka tersenyum usai melalui sepak terjang yang hebat.
"Satu hal lagi, gue mau nyamperin kabar soal pergantian pembina kita yang baru." ucap Brian sebelum benar-benar menutup. Kabar itu membuat anggota terdiam sejenak. "Bu Pramesti bakal mundur dan akan ada pengganti baru dalam waktu dekat."
"Serius? Di tengah periode gini beliau mundur?"
"Alasannya karena jadwal sering bentur, tapi gue yakin aslinya gara-gara insiden kemarin, sih. Pihak fakultas juga banyak yang nyalahin beliau karena kurang crosscheck."
Para anggota larut dalam dugaan-dugaan mundurnya wanita itu. Sebagian tak peduli dan segera ingin pulang. Lain lagi dengan Lana—ia merengut saat mengingat urusannya dengan Althaf yang belum selesai.
Pesan di dating app belum ia balas. Ia tak paham mengapa sang pria ngotot sekali dengan kesepakatan itu dan menolak cash. Usai markas bersih dari anggota, Lana memutuskan menelpon usai tak betah dirundung gundah.
"Halo?"
"Selamat sore, Pak Althaf. Ini saya Atlana."
Pria itu menjeda. "Iya, ada apa, Lana?"
"Sebelumnya maaf karena mengganggu di luar jam kerja." ia menahan napas. "Ini perihal kesepakatan kita tempo lalu."
Ada space di antara percakapan itu.
"Baik, bicaralah."
"Saya ingin mengembalikan uang anda dengan cash. Tapi saya minta waktu untuk itu. Dan terkait…Terkait perjodohan saya dengan Darrel, itu urusan orangtua kami. Kami tidak saling mengenal, saya juga tidak tahu kalau Anda bersaudara dengan Darr—"
"Saya nggak peduli soal itu."
Lana terkesiap. Apa maksudnya, mengapa suaranya berubah mengeras?
"Urusan Darrel di luar kuasa saya. Menjawab ucapan kamu sebelumnya, saya menolak menerima cash." kalimat Althaf hampir membuat jantung Lana berhenti. "Saya ingin kamu membayar sesuai agreement kita kemarin."
***
Meski terlahir dengan sendok emas, Althaf tak spontan setuju menjadi penerus. Dirinya justru melamar posisi dosen tepat setelah merampungkan studi. Ia mengajar di kampus besar di mana pamannya menjabat sebagai rektor.
Alasannya sederhana, ia tak mau berbisnis. Apalagi berkecimpung di dunia yang penuh carut marut itu. Ia menikmati kehidupan sebagai dosen muda dan para mahasiswi yang memujanya.
Berhubung tahun ini jabatannya sebagai sekprodi selesai, dirinya dilimpahi tugas baru—yakni menjadi pembina organisasi. Dialah yang akan bertanggungjawab menggantikan Bu Pramesti.
Mendapat pembina baru bukan hal besar, namun bagi Lana terdengar seperti bencana. Althaf tak lebih dari lelaki kaya yang mengandalkan nepotisme; begitu yang otaknya katakan.
Namun seiring dengan itu, kegugupan Lana kembali meradang. Sebentar lagi ia akan banyak bicara dengan Althaf karena jabatannya sebagai pembina ormawa.
Terlebih, mereka tak berkomunikasi berminggu-minggu sejak percakapan terakhir itu.
"Lo nanti pulang jam berapa?" Sebaris pesan masuk usai ia menghabiskan sepotong roti lapis. Jemarinya mengetik balasan, "Mau jemput? Gausah. Gue bawa mobil sendiri."
Tak lama kemudian muncul balasan lagi, "Papa udah reservasi buat kita dinner. Terserah lo mau kesana apa ngga."
Pengirim pesan itu adalah Darrel. Akhir-akhir ini ia mematuhi papanya untuk sesekali mengantar jemput Lana. Beberapa sekon setelahnya, Darrel kembali berceloteh. "Papa bakal terus ngawasin progres kita. Kalo lo sampe nggak dateng ke dinner, siap2 buat batalin perjodohan."
Baiklah, lagi-lagi Lana harus pasrah ditekan. Ia menjawab cepat dengan mood memburuk, "Y."
"Lana?"
Ya Tuhan. Suara itu lagi.
Lana takut-takut menoleh tatkala pria tigapuluh satu tahun itu mendekat. Kakinya yang menjulang terbalut celana hitam dan pantofel mengilap. Oh, tidak. Jarak semakin menipis, bagaimana ini?!
"Lana masih makan siang?" Althaf berhenti juga di depan Lana.
Para mahasiswa di kafetaria sekilas menatap mereka.
"Iya..., Pak. Eumm, bapak sudah makan siang?"
"Oh, saya sudah makan siang, kok. Sama dosen-dosen tadi." ungkapnya sambil tersenyum lembut. "Oh iya, sudah dengar soal pergantian pembina ormawa?"
"Baru saja saya terima kabarnya, Pak Althaf. Selamat atas posisi barunya."
"Terimakasih. Berhubung saya belum berhasil menelpon Brian, jadi saya sampaikan ke kamu saja. Karena kedepannya, Dekan ingin kalian konsul ke saya dulu sebelum buat proker atau event."
Lana menyimak.
"Ini kebijakan baru, jadi tiap proposal harus di-ACC oleh saya sebelum ke beliau."
"Baik, dimengerti, Pak."
Althaf tersenyum puas. "Oke. Enjoy, ya, dinner-nya sama Darrel nanti."
Tunggu, bagaimana dia tahu?!
Lana mengerjap-ngerjap.
"Oh, ya." Althaf teringat sesuatu. "Tentang tempo lalu, saya minta maaf kalau terkesan memaksa kamu. Saya maklumi jika kamu merasa tak nyaman, tapi jangan skip kelas saya seperti minggu-minggu terakhir ini, oke?"
Tengkuk sang gadis menegang, ia tersenyum kikuk sambil menatap jemarinya yang bertaut. Bibirnya tampak ragu sebelum berkata, "Mohon maaf, Pak Althaf. Saya akan kembali ikut kelas kuliah anda. Tapi untuk sekarang, saya izin untuk geser terlebih dahulu, saya harus pulang."
"Oh, benar. Kamu pasti harus bersiap-siap. Baik, saya juga pamit." tubuh Althaf bangkit. "Dan, Lana,"
Lana kembali waswas ketika pria itu tak jadi pergi. Mata almond-nya seolah menembus ke jiwa.
Althaf menarik bibir sebelum mengucap ke si gadis, "Happy 21st birthday."