Rahasia yang Pecah.

1239 Kata
Obrolan itu terpotong saat seorang kandidat masuk. Althaf memutar pandangan ke depan sebelum terjun ke fokusnya. Kalimat terakhir pria ini meninggalkan sisa pertanyaan di otak Lana. Ia menimbang apa maksud tersirat yang tak ia tangkap. Pikiran Lana berkeliaran selama beberapa saat. Ia cepat-cepat memusatkan diri dan mengenyahkan pikiran itu. Meski tak lama kemudian Brian kembali dan ia boleh pergi, ada sebersit rasa tak nyaman saat meninggalkan ruangan itu. Dirinya kembali ke markas untuk beristirahat. Buru-buru menenggak botol air yang disediakan konsumsi. "Seger nggak, Lan?" Cindy menyeletuk dari belakang. "Pak Althaf tadi yang ngasih dua boks air minum." Byurr! Lana spontan menyemburkan air dari mulut ke lantai, memicu teriakan Cindy yang merasa jijik. "Ih, babi! Hati-hati dong, kalau minum!" Tubuhnya beringsut menjauh. "Lana jorok!" Lana tak membalas protes itu. Matanya fokus melotot ke pesan yang masuk ponselnya. Di notification bar, Lana membaca sebutir pesan baru dari 'Cakrawala'. Pria itu mengirim seuntai kalimat yang membuat mulutnya baru saja menyembur: "Kamu setuju menikah dengan adik saya?" Kamu. Setuju. Menikah. Dengan. Adik. Saya. Lana merosot ke kursi kayu lapuk pojok ruangan. Kabar perjodohan itu telar terbongkar dan tinggal menunggu skenario terburuk. Ia menghela napasnya sambil melamun. Jadi, itu alasan di balik pertanyaan Althaf tadi? "Abis di-spam call sama rentenir lo? Lemes amat? Nggak enak, ya, airnya?" Cindy meluncurkan pertanyaan konyol. Namun, gadis itu tak pula menjawab. Bibirnya terkatup lemas dengan perasaan tertindih beban berat. Ia benci harus tercebur ke situasi ini—dan ia makin benci karena tak cukup tegar untuk melawan. Ting! Satu pesan Cakrawala kembali masuk. Lana hanya mampu menghela napas berat pada tahap ini. Lamat-lamat jemarinya menggulir bar notifikasi. Di sana, si Cakrawala menulis, "Walaupun kamu akan menikah, jangan lupakan hutang kamu pada saya." *** [Sehari sebelumnya] Althaf membuka kotak surat elektronik di ponselnya. Membaca-baca surel seputar pekerjaan dan kiriman tugas mahasiswa. Dari rentetan surel mahasiswa, nama Atlana Nugroho terselip di sana. Ia mengirim sebuah naskah artikel sebagai bagian dari tugas. Sempat tercetus di otak Althaf untuk membahas naskah itu melalui chat. Ia mengetik jawaban dan hampir memulai percakapan. Tetapi justru buru-buru mengerem diri karena takut bertindak gegabah. Pikiran melambung ke pertemuan lalu. Tak ia pungkiri, sikap mahasiswinya yang sesekali gugup itu membuatnya cukup terhibur. Dan ia menikmati bagaimana Lana begitu gemetar di dekatnya. Matanya yang bulat sering membuat senyumnya melebar. Ah, sungguh manis apabila diingat. "Ngetawain apa sih, bang?" suara Darrel menyambar dari belakang. "Udah tengah malem bukannya tidur malah cekikikan sendiri. Lu bikin gua takut, tau, nggak?" Ia menyamankan diri di sebelah Althaf, memandang televisi yang menyoroti ruang gelap itu. "Sorry, sorry. Gue cuma nonton video lucu." Althaf membalas. "NSFW?" Pria yang lebih tua itu menyepak kaki adiknya. "Gue nggak m***m kayak lo, ya!" Darrel balas terkekeh. Ditemani serial lawas, keduanya menonton sambil meneguk whiskey. Ini tradisi tak tertulis mereka tiap Rabu malam. Althaf akan berkunjung dan menghabiskan waktu bersama Darrel, lalu kembali ke apartemennya keesokan hari. "Oh, ya, bentar lagi gua mau nikah." Alkohol yang mengalir di tenggorokan Althaf spontan naik. Ia terbatuk beberapa kali sampai berleleran di bibir. "Jangan bercanda lo!" "Emang muka gue keliatan bercanda?" Dengan kerutan di kening, pria tigapuluh satu tahun ini kembali bertanya, "Are you being serious? Keputusan lo sendiri apa kehendak Papa?" matanya melebar. "Dijodohin." Jawabannya tertebak. Darrel bukan tipikal orang yang mudah berkomitmen. Terlebih dengan jiwa bebas yang suka berpesta itu, sukar baginya untuk terikat pada sumpah pekawinan. Kalau pun benar perjodohan ini berhasil, Althaf justru merasa kasihan pada mempelai wanitanya. "Udah ketemu orangnya?" "Udah." Darrel mengangguk. "Gimana? Cantik, nggak?" "Tepos." Althaf memukul belakang kepala Darrel sambil tertawa. Ia menggeleng-geleng. Darrel memungut ponsel. Menggeser-geser layar sosial media sebelum menunjukkan benda pipih itu ke abangnya. Disana terekspos gambar gadis yang akan jadi mempelainya. Dengan sebar ia menunggu respon sambil meminum alkohol. ... "Bang?" dilihatnya sang abang yang tak bersuara. Reaksi Althaf mungkin sudah terbentuk di imajinasi kalian. Pria itu melunturkan senyum. Genggaman gelas di tangannya mengendur. Ia menatap wajah Darrel dengan ekspresi kecut. Lalu kembali melihat foto calon istri adiknya yang tak lain adalah mahasiswinya sendiri—Atlana. "Kenapa, lo kenal?" Althaf mengusap rambutnya dengan kening berkerut masam. "Iya. Dia mahasiswa di kampus gua." "Yang bener lu?!" Darrel menaruh alkoholnya. "Pantes aja dia aneh waktu itu. Ternyata itu alasannya." Althaf mendadak ingat sikap Lana di kampus akhir-akhir ini. Tubuhnya mengerucut canggung dan selalu berbalik pergi saat hampir berpapasan. Mereka pasti akan sangat kikuk di kelas karena bagaimanapun, ia akan menjadi adik ipar dosennya. Terlebih dengan riwayat hubungan keduanya yang tak cukup lazim. "Rel, lo yakin mau merit?" seloroh Althaf. "Emang perlu yakin? Tinggal ngikutin titah papa aja gua mah." ia terkekeh kecil. Althaf mengulum bibir sebelum berdecak tanpa alasan. Perasaannya agak terganggu—ia merasa perjodohan ini sungguh konyol dan terlalu tiba-tiba. Fakta ini mengusik sesuatu di dalam benaknya. "Lo nggak mungkin nerima gitu aja. Pasti Papa janjiin sesuatu, kan?" Darrel kembali menelan whiskey seteguk. "Nggak salah sih, papa promised me a Revuelto, is that wrong?" Mukanya betul-betul meremehkan. Althaf yakin Lanapun terpaksa oleh kehendak orangtuanya. Ia merasa tak adil bagi gadis itu. "Menikah nggak sesimpel yang lo bayangin, Rel." Darrel memicing. "Coba ulangin?" "Menikah nggak sesimpel itu meskipun ini cuma perjodohan." "Gue bukan minor yang harus lo ceramahin soal ini." tukasnya sambil menahan tawa. "Kami cuma nurut sama perintah ortu masing-masing. Lo tahu sendiri gue nggak punya pilihan, kan?" "Lo bisa milih. Lo bisa ngomong ke Papa." "Kayak dia pernah dengerin kita aja. Papa mau ngomong ke gue aja syukur." "You missed the point, Darrel. Meskipun ini formalitas, tapi seumur hidup itu lama. Lu kenapa sih susah banget dengerin kata gua?" Darrel mendecih. "It's not a big deal, bang. Perjodohan bukan masalah besar asal nggak ngelibatin perasaan. Lagian gue yang dijodohin kok elu yang ribet." Memakai slipper-nya, lelaki yang lebih muda itu bangkit untuk menjauh. "Oh, ya. Better lu pulang ke apart lo sendiri ketimbang ribut sama gua." *** Tak lama setelah itu, muncul sebuah pesan Pak Armaji di grup dosen. Beliau bertanya siapa yang berkenan menggantikan Bu Faras untuk acara organisasi. Cuma duduk dan nguji kandidat yang akan masuk BEM, katanya. Namun tak satupun dosen membalas. Kecuali Althaf. Dia sendiri yang bersukarela untuk pergi. Ada gejolak yang menekannya sedari tadi. Pria itu berpikir ini kesempatan tepat untuk menyambangi si gadis. Kemudian tibalah pagi ini, Althaf melihat Lana di ruang rekrutmen yang telah disiapkan. Pria tigapuluh satu tahun ini menoyor dengan pertanyaan pribadinya di sela proses acara. Tak tanggung ia bertanya frontal, "Kamu akan tetap terima meski itu terpaksa?" Meski tak langsung dijawab. Althaf mengerem diri untuk tak menginjak ranah personal. Namun tepat setelah Lana menjauh dari ruang interview, ia tak lagi mampu menahan geram untuk bertanya. Ia menekan ikon dating app dan menulis pesan, "Walaupun kamu jadi menikah, jangan lupakan hutang kamu pada saya." Ucapan itu mutlak. Dan terbukti berhasil. Atlana menghubunginya melalui nomor resmi usai acara interview BEM berakhir. "Halo?" "Selamat sore, Pak Althaf. Ini saya Atlana." "...Iya, ada apa?" "Sebelumnya mohon maaf karena menginterupsi di luar jam kerja." ia menjeda. "Ini perihal kesepakatan kita tempo lalu." Althaf menggenggam setirnya erat. "Baik, bicaralah." "Saya ingin mengembalikan hutang itu dengan cash. Tapi saya minta waktu untuk itu. Dan terkait…Terkait perjodohan saya dengan Darrel, itu urusan orangtua kami. Kami tidak saling mengenal, saya juga tidak tahu kalau Anda bersaudara dengan Darr—" "Saya nggak peduli soal itu." Tak terdengar lagi respon gadis itu. Althaf tahu Lana tengah terkejut. "Menjawab ucapan kamu sebelumnya, saya menolak menerima cash. Dan berniat untuk melanjutkan perjanjian sesuai yang disepakati."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN