“Malam, semuanya. Malam, Althaf…” Louisa mengerling genit. Tiap mata di meja itu terpaku sesaat. Hawa dingin dan kaku merayap ke tengkuk. “Ma, bukannya ini dinner keluarga?” Althaf memprotes rendah. “Lalu apa masalahnya? Louisa cuma gabung makan bareng kita.” Martha berkilah. “Lou, sayang, kamu duduk di samping Althaf, ya?” “Terimakasih, Tante, Om.” Bahkan Kamandanu ingin menyanggah, namun urung sebab Louisa terlanjur beringsut ke samping Althaf. Lana menatap dengan percikan di matanya. Mencoba tak acuh. “Saya selalu bertanya-tanya kapan akan bertemu Althaf lagi,” ucap Louisa seraya melirik malu-malu. “Dan saya sangat terhormat bisa duduk di sampingnya saat ini.” “Sama-sama, sayang.” ucap Martha lembut. “Kalian udah kenal di pesta tempo lalu, kan?” “Saya selalu mengingat Altha

