Gia benar-benar hanya meminta es krim saja kali ini. Entah apa yang membuatnya kembali malas, Gia tidak seperti biasanya. Wajahnya memang pucat dari pagi, meski mengenakan riasan untuk menutupinya. Mata lelahnya tidak bisa membuatnya terlihat baik-baik saja. Air mata Abim menetes tanpa di rasa, pikirannya sungguh berkeliaran ke sana kemari. Dia terus berpikir kemungkinan apa saja yang akan terjadi di depan. Gia tidak boleh meninggalkan dirinya, sampai kapan pun dia hanya menginginkan menjadi suami Gia. “Kita berobat ke luar negeri ya? Abang akan bersama dengan kamu selama pengobatan. Abang tidak mau mengambil resiko yang membuat kita tidak bersama lagi.” Abim mencium kedua tangan Gia yang di genggamnya. Lelaki itu lemah sekarang, dia seakan tidak memiliki kekuatan lagi untuk menginjak

