SELAMAT MEMBACA *** “Kenapa rasanya Abang tidak ingin pergi kekantor,” Dei yang tengah memasang dasi untuk Al hanya bisa tersenyum. Pagi ini suaminya kembali merengek seperti bocah, tidak mau pergi kekantor. “Kok kumat …” Dei mengusap pelan pipi suaminya. Lalu menepuknya dengan sedikit keras. “Mau sama kamu terus Yang, bolos saja kekantornya.” Ucap Al lagi. Perasaannya benar-benar malas untuk pergi, dia ingin berdiam diri di rumah bermanja-manja dengan istrinya. “Jangan begitu dong Bang, makin hari kok makin malas bukannya semangat. Nanti kalau tidak kerja, aku mau belanja siapa yang bayar tagihannya.” Al menatap istrinya dengan kesal, apa istrinya itu fikir kalau dia tidak bekerja lantas tidak punya uang. Banhkan Al berani bertaruh, jika saat ini pun dia pensiun dini dia yak

