"Pulang jam berapa nanti sore?" tanya Takeru sebelum putrinya berangkat. Nana yang masih sibuk mengikat tali sepatu segera menjawab, "Jam tujuh mungkin," ujarnya. Mendengar itu Takeru mengangguk. "Kalau begitu, mau ayah jemput?" Akan tetapi Nana segera menolak. "Ah, tidak usah," ucapnya cepat. Lalu gadis itu kembali melanjutkan, "aku mungkin akan pulang dengan teman. Ayah istirahat saja di rumah," bohongnya, padahal tidak ada satu teman pun yang ia pikirkan saat ini. Tak ingin lebih lama berada dalam perasaan tidak enak karena berbohong, Nana segera bangkit. Selain sepatunya yang sudah terpasang di kaki, Marina juga sepertinya sebentar lagi akan sampai. Gadis itu pamit berangkat pada sang ayah. Tentu saja, Takeru hanya mengangguk dan mengucap hati-hati setelahnya. "Ah, iya. Ayah akan

