Handuk diperas ringan oleh Nana. Demam yang menyambangi ayahnya membuatnya cukup khawatir. Terlebih ia baru saja mendapati darah keluar dari mulut pria itu. Setelah berulang kali batuk, tentu saja ia tidak bisa terus berpikiran jika ayahnya baik-baik saja. Dengan seragam sekolah yang belum diganti, gadis itu telaten mengompres dahi Takeru. Mencelupkan handuk di air hangat, kemudian memindahkannya ke tubuh sang ayah jika air sudah sedikit kering. Tak ada kalimat yang ingin Nana katakan. Diam adalah cara bagaimana ia peduli. "Sudah, Na. Kau kembalilah ke kamar," ucap Takeru sembari mengambil handuk yang ingin putrinya letakkan di kening. Namun Nana, gadis itu sama sekali tidak menggubris. Ia tetap kekeuh dengan upaya menurunkan demam pria di hadapannya. Untuknya ayahnya sudah terlalu tua

