(Sudut Pandang Revan) Kota ini tak banyak berubah. Jalanan masih macet, suara klakson bersahutan, dan taman kecil di sudut kompleks itu… masih sama. Tapi satu yang tidak lagi seperti dulu: aku kehilangan alasanku untuk pulang ke tempat ini. Aleta sudah tidak ada di sini. Bukan hanya secara fisik, tapi juga dalam kehidupanku. Dan tetap saja, aku kembali—seperti seseorang yang berharap pada pintu yang sudah lama terkunci. 📎 Vania memperhatikanku sejak beberapa hari terakhir. Cara dia menatapku di meja makan, cara dia mendekat lalu mundur lagi, menunjukkan bahwa dia tahu ada yang sedang kusimpan. Dan sayangnya, dia tahu itu bukan karena cinta yang tumbuh… melainkan luka lama yang belum sembuh. “Revan, kamu kayak bukan kamu yang dulu,” katanya malam itu. Kami duduk berseberangan di meja

