Hujan turun saat aku menarik tirai jendela kamar. Rintiknya menari di atas kaca, membentuk pola-pola tak beraturan seolah meniru isi kepalaku yang kusut. Aroma tanah basah menyelinap masuk dari celah jendela yang sedikit terbuka, membawa serta gelombang kenangan yang selama ini kutekan dalam diam. Langit di luar mendung pekat, menggantung rendah dan seolah hendak runtuh, persis seperti hatiku yang tak pernah benar-benar utuh sejak hari itu.
Di atas meja kecil di sudut ruangan, cangkir teh yang sejak tadi tak kusentuh mulai kehilangan hangatnya. Uapnya menghilang pelan, seperti hal-hal yang dulu kupikir akan abadi—perlahan memudar, lalu hilang sama sekali. Aku duduk di tepi ranjang, membiarkan hujan menjadi satu-satunya suara yang menemaniku. Dan dalam kesunyian yang retak, pikiranku kembali padanya. Revan.
Dulu, saat hujan seperti ini, Revan selalu muncul tiba-tiba. Dengan jaket motor basah dan wajah cemas, dia akan memaksaku untuk ikut dengannya. Jas hujan yang cuma satu selalu jadi alasan untuk lebih dekat. Aku dibonceng sambil memeluk erat tubuhnya dari belakang, mencoba menghangatkan diri dari dingin yang menggigit. Kami menyusuri jalanan yang becek, tertawa saat roda motor meluncur di genangan air, seolah dunia ini hanya milik kami berdua. Aku selalu percaya, bahwa selama tangannya tetap menggenggamku, tak ada hujan yang terlalu deras untuk kami lewati bersama.
Tapi dunia rupanya tak pernah memberi jaminan. Dan Revan, seperti hujan, datang tanpa janji dan pergi tanpa pamit.
📎
Beberapa hari setelah aku menghadiri pernikahannya, rasa sesak itu datang tiba-tiba. Bukan karena iri, aku sudah terlalu lama melewati tahap itu. Tapi karena aku sadar, bahwa sekuat apa pun aku mencoba mencari penjelasan, aku tak akan pernah benar-benar tahu alasan pasti kenapa Revan memilih menghilang, justru ketika masa depan kami tinggal selangkah lagi.
Kami sudah bertunangan. Sudah mulai menabung bersama. Sudah bicara tentang nama anak dan rumah impian. Tapi semua itu runtuh begitu saja. Dan aku tak pernah mendapat hak untuk marah atau bertanya, karena Revan menghilang begitu saja. Tanpa penjelasan. Tanpa kata putus. Tanpa perpisahan.
“Masih kepikiran dia?” tanya suamiku suatu malam saat kami duduk berdua di balkon, menatap gerimis.
Pertanyaannya bukan seperti belati yang menyayat. Justru terdengar seperti pintu yang pelan-pelan dibuka ke ruangan yang selama ini kukunci rapat. Aku menoleh padanya. Wajahnya tenang, penuh pengertian, seperti selalu.
“Aku nggak nyari dia lagi, kok,” kataku pelan. “Tapi kadang… bayangannya suka muncul sendiri. Nggak tahu kenapa. Tiba-tiba aja.”
Dia tidak menjawab. Hanya menarik tanganku, menggenggamnya erat, lalu mendekatkannya ke dadanya. Di sana, jantungnya berdetak tenang, ritme yang perlahan-lahan membuatku merasa aman.
“Aku di sini,dan akan selalu di sini” bisiknya.
Kadang, aku ingin bercerita semuanya padanya. Tentang janji-janji yang Revan ucapkan, tentang surat-surat yang pernah dia tulis dan kini masih kusimpan di laci terbawah, tentang cincin tunangan yang kini tergeletak di dasar kotak kecil penuh debu. Tapi aku selalu mengurungkan niat itu. Karena ada luka-luka yang tak sepatutnya dibuka lagi. Apalagi di hadapan orang yang dengan sabar membantuku menyembuhkannya.
📎
Suatu sore yang mendung, aku membuka email lamaku. Iseng saja, tak ada maksud khusus. Kotak masuknya penuh dengan spam dan notifikasi media sosial yang sudah tidak kugunakan. Tapi mataku terpaku pada satu nama: Revan. Subjeknya singkat. “Maaf.”
Email itu dikirim dua tahun lalu. Beberapa minggu setelah dia menghilang dari hidupku.
Let…
Aku tahu aku salah. Aku tahu aku pengecut. Tapi aku nggak bisa bilang ini langsung ke kamu waktu itu. Karena aku takut. Takut lihat kamu kecewa. Takut kamu benci aku. Tapi lebih dari itu… aku takut kamu terus bersamaku dan hidupmu jadi biasa-biasa aja.
Aku tahu kamu pantas dapat yang lebih dari sekadar laki-laki dengan mimpi yang nggak pasti dan masa depan yang abu-abu. Aku pikir, kalau aku pergi… kamu akan menemukan seseorang yang bisa ngasih kamu dunia. Seseorang yang bisa jaga kamu lebih baik dari aku.
Aku sayang kamu, Let. Tapi aku terlalu kecil untuk berdiri di sampingmu.
Aku membaca surat itu berulang-ulang. Tanganku gemetar. Bukan karena amarah, tapi karena sesuatu dalam diriku terasa runtuh lagi. Kalimat-kalimatnya sederhana, tapi cukup untuk membuka pintu luka yang sudah lama kukunci. Waktu itu aku butuh alasan, walau hanya satu kalimat, untuk bisa merelakan. Tapi Revan memilih diam. Dan saat akhirnya dia bicara… waktunya sudah terlalu telat.
Aku tak tahu harus tertawa atau menangis membaca pengakuan itu. Tapi satu hal yang kutahu: Revan pun terluka oleh keputusannya sendiri. Dan untuk pertama kalinya sejak kami berpisah, aku tidak lagi membencinya.
📎
Hujan masih turun deras malam itu. Di ruang tengah, aku duduk bersandar di sofa, memeluk bantal seperti anak kecil yang sedang menunggu cerita pengantar tidur. Suamiku duduk di sampingku, membaca berita dari ponselnya dengan nada ringan. Sesekali dia melirikku dan tersenyum, senyum yang pelan-pelan menjahit sobekan di hatiku yang belum sepenuhnya tertutup.
“Apa kamu pernah mikirin buat ketemu dia lagi?” tanyanya tiba-tiba, tanpa menatapku.
Aku menoleh. Ada jeda sebelum aku menjawab.
“Nggak. Aku udah selesai sama bagian itu,” jawabku jujur. “Yang aku sesalin cuma satu… kenapa aku nggak pamit juga waktu dia pergi.”
Dia tertawa kecil. “Pamit ke siapa? Ke luka yang ninggalin kamu?”
Aku ikut tertawa, getir. “Iya. Pamit ke janji-janji yang nggak pernah kembali.”
Hening sesaat. Lalu dia menggenggam tanganku lagi, kali ini lebih erat. “Aku nggak janji apa-apa ke kamu, Let. Tapi aku akan selalu pulang.”
Dan di tengah guyuran hujan, aku percaya. Mungkin bukan janji yang membuat hubungan itu bertahan. Tapi kehadiran yang tak pernah kabur saat luka kembali datang.
📎
Beberapa minggu kemudian, aku memutuskan untuk membuang cincin itu. Bukan karena aku ingin melupakan Revan. Tapi karena aku ingin benar-benar melepaskannya. Aku pergi ke jembatan kecil di pinggiran kota, tempat kami dulu biasa duduk berdua sambil berbicara tentang masa depan. Di sana, aku berdiri sendiri. Udara sore dingin dan angin berembus lembut.
Kutarik napas panjang, lalu kubuka kotak kecil itu. Cincin perak dengan ukiran inisial kami masih terlihat bersih, meski lama tak tersentuh.
“Terima kasih, Revan,” bisikku pelan. “Karena pernah jadi bagian dari hidupku. Tapi sekarang… aku sudah punya rumah yang baru. Hati yang baru. Dan hidup yang tak lagi menunggumu.”
Kulempar cincin itu ke sungai. Ia tenggelam tanpa suara, tanpa jejak. Tapi dalam hatiku, gemanya bergema cukup nyaring untuk mengakhiri satu bab yang terlalu lama kubiarkan terbuka.
📎
Malam itu, saat aku kembali ke rumah, suamiku sudah menunggu di depan pintu. Dia menatapku lama, lalu membuka pintu lebar-lebar.
“Kamu terlihat lebih ringan,” katanya.
Aku mengangguk. “Aku baru saja mengucapkan selamat tinggal.”
Dia tidak bertanya lebih lanjut. Dia tahu, kadang, keheningan adalah cara terbaik untuk merayakan sebuah akhir yang akhirnya menemukan jalan pulang.