Hari Ketika Aku Yakin

996 Kata
Senja hari itu mengguratkan warna oranye keemasan di langit, seolah ikut menyambut hari yang tak biasa. Langit tampak seperti kanvas yang dilukis dengan hati-hati oleh tangan Tuhan, menghadirkan nuansa yang lembut dan hangat. Aku dan Revan duduk berdua di bangku taman, di tempat yang selama ini jadi titik temu setiap akhir pekan di bawah pohon tua, dekat danau kecil yang tenang, jauh dari hiruk pikuk dunia. Suara angin yang membelai dedaunan terdengar seperti nyanyian lirih yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang diam. Kami tak banyak bicara. Hanya duduk berdampingan, membiarkan waktu berlalu dengan tenang. Revan tampak gelisah. Kedua tangannya sibuk meremas sesuatu dalam saku jaketnya. Kupikir ia hanya lelah setelah seminggu kerja. Tapi ada yang berbeda di sorot matanya—seperti ia sedang menimbang langkah yang bisa mengubah segalanya. Bukan keraguan, tapi ketegangan yang mencoba ia sembunyikan. “Aleta,” ujarnya pelan, suaranya lebih seperti bisikan dari hati yang ragu. Aku menoleh, mencoba membaca wajahnya. Jantungku mulai berdetak tak beraturan tanpa alasan yang jelas. Ada sesuatu dalam nadanya yang membuatku waspada, tapi juga membuatku berharap. “Kalau aku ajak kamu jalan bareng terus…dalam hidup yang nggak selalu mudah, yang kadang harus bertahan dengan indomie akhir bulan dan impian yang belum jadi apa-apa, kamu mau nggak?” Aku sempat tertawa kecil, mengira dia hanya bercanda. Tapi ketika dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dan membukanya perlahan, tawaku berhenti. Di dalamnya, sebuah cincin sederhana bersinar lembut di bawah cahaya senja. Bukan berlian besar yang memukau, bukan kemewahan yang mencolok—hanya sebuah janji dalam bentuk paling tulusnya. “Aleta,” katanya lagi, “maukah kamu jadi tunanganku?” Aku menutup mulut, tercekat. Waktu seakan membeku. Tangisku jatuh, bukan karena sedih tapi karena aku belum pernah merasa sebahagia itu dalam hidupku. Rasa syukur dan cinta yang tumpah ruah membuat tubuhku gemetar. “Iya…” jawabku. “Aku mau.” 📎 Hari itu menjadi saksi bahwa aku pernah begitu yakin pada seseorang. Keluarga kami segera mengatur acara tunangan. Semua terasa begitu cepat dan penuh semangat. Rumah kami dipenuhi dengan suara tawa, doa-doa tulus, dan harapan yang melambung tinggi. Teman-teman dekat hadir membawa bunga, saudara jauh datang dengan cerita masa lalu, dan di tengah semua itu, aku berdiri di sisi Revan, merasa seperti dunia sedang berpihak padaku. Tapi di tengah keramaian itu, aku menangkap sesuatu yang aneh dari Revan. Tatapannya tak sehangat biasanya. Senyumnya terkesan dipaksakan. Seolah ada sesuatu yang disembunyikannya dariku. Bukan rahasia besar yang mencolok, tapi ketidakjujuran kecil yang menyelinap perlahan-lahan. “Revan?” bisikku saat kami sempat berdua. “Kamu baik-baik saja? Kenapa kelihatan… berbeda?” Dia hanya mengusap rambutku perlahan dan menjawab dengan senyum tipis, “Nggak apa-apa. Aku cuma lelah. Tapi aku bahagia.” “Kamu yakin nggak apa-apa Revan? Jika memang ada masalah, kamu bisa cerita ke aku. Sekarang kita sudah resmi tunangan, aku mau kita selalu saling terbuka satu sama lain, tanpa ada yang disembunyikan.” Dia hanya diam dengan senyum tipisnya. Sebenarnya aku mulai curiga kenapa Revan seperti itu, kelihatannya ada masalah yang enggak ingin diceritakan padaku. Tapi, seperti biasa aku lebih memilih mempercayainya. Karena di mataku, cinta selalu lebih besar dari keraguan. Aku ingin percaya bahwa semua yang kami bangun akan tetap utuh, meski dunia berubah. Karena, aku yakin Revan tidak akan meninggalkanku dan pasti akan menepati janjinya. 📎 Hari-hari berikutnya kami mulai menata masa depan. Kami menabung bersama, ikut kelas pranikah, bahkan mulai mencicil rumah mungil di pinggiran kota. Rumah kecil itu kami sebut “rumah mimpi” meski baru berupa gambar denah dan janji developer. Tapi di sanalah kami letakkan harapan dan rencana-rencana kecil: taman bunga yang kutanam sendiri, dapur kecil dengan aroma masakan favoritnya, dan ruang baca tempat kami bisa menghabiskan sore berdua. Orang tuaku sempat meragukan pilihanku. “Kamu yakin? Dia belum punya apa-apa,” kata Ayah pada suatu malam saat kami makan malam. “Cinta saja nggak cukup buat beli beras, Let.” Tapi aku hanya menjawab pelan, “Aku nggak butuh rumah megah. Aku cuma mau seseorang yang mau membangunnya bersamaku bahkan dari Nol.” Dan mereka akhirnya diam. Karena kenyataannya, Revan memperlakukanku dengan cara yang bahkan tak bisa mereka bantah dengan hormat, perhatian, ketulusan, dan kasih sayang dia terhadapku. Ia mungkin belum punya harta, tapi ia punya tekad, mau bekerja keras untuk masa depan. Dan di mataku, itu lebih berharga dari segalanya. 📎 Namun semuanya mulai berubah ketika Revan dipindah tugaskan ke kota lain. Awalnya kami berusaha mempertahankan komunikasi. Video call tiap malam, saling berkirim foto, dan pesan-pesan manis sebelum tidur. Tapi perlahan, semua itu mulai memudar. Pesan-pesan jadi lebih singkat, telepon mulai tak terjawab. Dan saat kami bertemu di akhir pekan, Revan seperti orang asing pandangan kosong, kalimat seperlunya, dan pelukan yang terasa jauh. Ada saat-saat aku memandang ponsel selama berjam-jam, berharap namanya muncul. Tapi yang ada hanya sunyi. Aku tidak pernah bertanya banyak. Karena jauh di dalam hati, aku tahu ada sesuatu yang tidak lagi bisa aku genggam. 📎 Hingga akhirnya, dia pergi. Tanpa pesan. Tanpa penjelasan. Hari itu aku pulang ke rumah dan menemukan kotak kecil itu di meja kerjaku. Cincin yang dulu membuatku yakin. Kini hanya diam, menyisakan sunyi yang menyakitkan. Aku menatapnya lama, menunggu alasan yang tak pernah datang. Tak ada surat, tak ada pesan terakhir. Hanya satu benda yang dulu melambangkan harapan kini menjelma menjadi simbol kehilangan. 📎 Tahun-tahun berlalu. Kadang aku masih bisa mengingat dengan jelas bentuk cincin itu sederhana, tapi penuh harap. Aku memang pernah menyimpannya lama, seolah belum siap melepaskan. Tapi akhirnya, aku buang juga. Bukan karena aku membencinya, tapi karena aku ingin benar-benar mengakhiri bab itu. Tapi hari ketika aku berkata “iya”, hari ketika aku yakin itu tetap akan menjadi hari paling jujur dalam hidupku. Hari di mana aku mencintai tanpa syarat, berharap tanpa takut, dan percaya tanpa ragu. Luka itu tak sepenuhnya hilang, tapi aku sudah belajar hidup bersamanya. Aku tidak menyesal pernah percaya. Yang aku sesali hanyalah… mengira bahwa cinta saja cukup membuat seseorang tetap bertahan. Dan itu, meski menyakitkan, adalah bagian dari kisahku yang tak akan pernah aku hapus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN