Luka yang Tidak Ingin Pulang

1071 Kata
Pagi ini, aku berdiri di depan cermin dengan blouse putih dan rok midi abu-abu. Tampilan sederhana, tapi cukup rapi untuk menghadiri undangan reuni SMA. Entah kenapa aku datang. Mungkin karena aku ingin tahu… apakah aku benar-benar sudah sembuh? Gedung sekolah tampak berbeda. Lebih bersih, lebih terang, namun tetap menyimpan bayangan masa lalu. Aroma cat baru bercampur samar dengan bau lemari tua yang entah bagaimana membuatku merasa kembali menjadi gadis polos berseragam putih abu-abu. Aku melangkah pelan di antara kerumunan wajah-wajah lama yang menyapa ramah. Beberapa bahkan menyebut namaku dengan penuh kehangatan, seolah waktu tak pernah benar-benar memisahkan kami. “Eh, Aleta!” Aku menoleh. Dira—teman sebangkuku dulu—langsung menghampiri dan menarikku ke pelukannya. Wajahnya masih ceria seperti dulu, meski kini ada gurat-gurat halus di bawah matanya, tanda waktu tak luput darinya juga. “Kamu kelihatan makin dewasa. Maklum udah jadi guru sekarang, ya!” candanya ringan. Aku tersenyum kecil. “Kamu juga. Masih tetap rame kayak dulu.” “Kerja di mana sekarang kamu, Let?” tanya Dira. “Masih di sekolah swasta yang sama,” jawabku sambil tersenyum kecil. “Ngajar anak kelas tiga. Kadang bikin pusing, tapi sering juga jadi pelipur lara.” Dira terkekeh. “Kamu cocok jadi guru. Dari dulu juga sabarnya kebangetan. Bahkan waktu Revan—“ Aku menoleh cepat. Dira langsung menutup mulutnya, merasa bersalah. “Maaf… aku nggak bermaksud…” Aku menggeleng kecil. “Nggak apa-apa, Dir. Luka itu sudah lama. Tapi, kadang memang… ada yang nggak benar-benar sembuh. Hanya belajar berdamai.” Dira tertawa, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit sambil berbisik, seolah menyimpan rahasia. “Eh, tapi, Revan juga datang, loh.” Jantungku berhenti sepersekian detik. Tentu saja dia datang. Bagaimana bisa aku lupa bahwa dia juga lulusan sekolah ini? 📎 Aku bertemu Revan di lorong kelas yang dulu sering kami lewati bersama. Dia masih sama—tinggi, rapi, menyimpan senyum yang pernah membuat dunia seolah berhenti. Tapi kali ini, aku bukan lagi gadis dua puluhan yang mudah terpaut pada tatapan lama. Aku telah melewati badai. Dan badai itu membentukku. “Hai, Aleta,” sapanya pelan. Aku membalas dengan anggukan kecil. “Lama nggak ketemu.” Dia mengangguk. “Kamu kelihatan baik-baik aja.” Aku menarik napas, menahan segala hal yang ingin kukatakan tapi tidak perlu. “Dan kamu… masih suka muncul di saat yang nggak kuminta,” balasku pelan. Dia tertawa. Bukan tawa lepas seperti dulu, tapi canggung—seperti seseorang yang tahu dirinya tak lagi punya tempat. “Aleta, aku—” “Jangan,” potongku cepat. “Kamu nggak harus menjelaskan apa pun.” Tatapannya sedikit goyah. Seolah ingin berkata sesuatu yang terlambat bertahun-tahun. Tapi aku tidak ingin mendengar penyesalan. Aku telah melewati malam-malam panjang sendirian. Mengubur bukan hanya cincin, tapi juga kemungkinan untuk kembali. “Aku bahagia sekarang,” lanjutku. “Dan kamu juga berhak bahagia. Tapi luka yang pernah kamu tinggalkan… biar jadi urusanku sendiri.” Dia menunduk. Tak berkata apa-apa. Dan saat aku melangkah pergi, aku tak menoleh. Aku tak perlu lagi kepastian dari masa lalu. 📎 Reuni berakhir saat langit mulai menghitam. Aku pulang dengan langkah pelan, membiarkan mobilku menyusuri jalanan yang dulu sering kami lewati berdua. Kenangan muncul begitu saja: tawa di balik helm motor Revan, lagu-lagu yang kami nyanyikan sembarangan, atau hujan yang membuat kami menepi di warung pinggir jalan. Dan sekarang, semua itu tinggal serpihan dalam ingatan. Malamnya, aku duduk sendiri di balkon rumah. Suamiku belum pulang dari dinas luar kota. Angin bertiup pelan, membawa aroma pohon ketapang dari taman depan. Aroma yang kini selalu mengingatkanku pada tempat aku mengubur sesuatu yang dulu begitu berarti. Aku membuka laptop, mengetik pelan di jurnal digitalku. Kata-kata mengalir tanpa perlu dipaksa. “Ada orang yang datang membawa cahaya, lalu pergi tanpa pamit. Tapi justru karena kehilangan itu, aku belajar menyalakan terangku sendiri.” Tanganku berhenti di atas keyboard. Suasana hening, hanya ditemani suara jangkrik dan lampu jalan yang menyala temaram. Dan malam ini, air mataku kembali jatuh. “Kenapa kamu harus muncul lagi?” bisikku lirih pada bayangan di kaca. “Bukankah kita sudah lama sepakat… untuk pulih tanpa harus kembali?” Luka itu belum hilang, tapi hari ini aku tahu—aku telah bertumbuh darinya. Cinta tak selalu harus berakhir indah. Tapi dari cinta yang gagal, aku belajar mengenali diriku sendiri. 📎 Keesokan paginya, aku pergi mengajar seperti biasa. Anak-anak menyambutku dengan teriakan ceria dan cerita tentang kucing mereka yang baru melahirkan atau adik mereka yang suka mencoret tembok. “Bu Aleta, kenapa matanya sembab?” tanya seorang murid dengan polosnya. Aku tersenyum kecil. “Semalam Ibu kebanyakan nonton drama Korea.” Mereka tertawa, dan aku ikut tertawa, walau rasanya belum sampai ke hati. Hari itu berlalu seperti biasa. Tapi saat istirahat, aku menuliskan sebuah pesan di ponselku—bukan untuk dikirim, hanya untuk ditulis. “Revan, seandainya kamu tahu… butuh waktu bertahun-tahun untukku berdiri di tempat ini. Tempat yang tak lagi berharap kamu kembali. Tapi juga belum sepenuhnya tega menghapus jejak yang dulu pernah kuanggap rumah.” 📎 Beberapa hari setelah reuni, aku menerima pesan dari nomor tak dikenal. “Hai, Aleta. Maaf ganggu. Aku cuma pengen bilang terima kasih. Reuni kemarin… entah kenapa bikin aku sadar banyak hal. Jaga dirimu, ya. Semoga kita sama-sama bisa bahagia, meski bukan bersama.” — R. Aku membaca pesan itu berkali-kali. Jari-jariku sempat ragu membalas. Tapi akhirnya aku hanya mengetik satu kata. “Terima kasih.” Tidak lebih. Tidak kurang. Karena kadang, luka tidak butuh permintaan maaf. Hanya butuh diterima, dipeluk, lalu dibiarkan tumbuh akar. 📎 Beberapa bulan kemudian, hidupku kembali pada ritmenya. Aku dan Arga, suamiku, mulai membicarakan rencana memiliki anak. Hubungan kami memang tidak selalu sempurna, tapi ia adalah pria yang hadir ketika aku sudah hancur. Bukan untuk memperbaiki, tapi untuk menemaniku mengumpulkan kepingannya sendiri. Di satu sore yang tenang, Arga memelukku dari belakang saat aku sedang menyapu balkon. “Aku tahu kamu habis ketemu Revan waktu reuni itu,” katanya pelan. Aku terdiam. “Kamu marah?” tanyaku pelan. Dia menggeleng. “Nggak. Aku cuma pengen kamu tahu… kamu boleh menyimpan luka. Tapi jangan biarkan dia tinggal terlalu lama. Rumah ini, tubuh ini, hatimu—lebih butuh terang daripada bayangan.” Tangisku pecah begitu saja. Bukan karena sedih. Tapi karena akhirnya aku benar-benar mengerti arti pulang. 📎 Besok pagi, aku akan ke taman kota. Tempat di mana Revan dulu pernah berjanji. Aku akan duduk sebentar di bangku kayu yang sama. Bukan untuk mengingat, tapi untuk memastikan bahwa kenangan itu tidak lagi menyakitiku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN