Lelaki yang Tak Pandai Bertahan

1003 Kata
Aku pikir waktu bisa membuatku lupa. Kupikir dengan menikah, hidupku akan stabil. Bahwa masa lalu hanyalah potongan kenangan yang akan memudar seiring kebahagiaan baru. Tapi ternyata, ada nama yang terus hidup meski tak lagi disebut: Aleta. Hari itu, aku berdiri di pelaminan dengan jas yang pas di tubuh dan senyum yang dipaksakan. Musik pengiring lembut mengalun di antara riuh suara tamu. Semua orang tampak bahagia. Semua kecuali aku. Lalu aku melihatnya. Dia datang. Aleta. Rambutnya diikat rapi, pakaiannya sederhana, tapi sorot matanya—tidak bisa kusebut sebagai damai. Ada luka yang masih hidup di sana, dan aku tahu—akulah yang menanamnya. Kupikir dia tidak akan datang. Kupikir dia cukup membenciku untuk menghindari hari bahagiaku. Tapi Aleta selalu jadi perempuan yang tak bisa kuduga. Dia datang, berdiri di antara tamu-tamu yang tidak mengenalnya. Sendiri. Tegas. Teguh. Waktu seolah berhenti saat pandangan kami bersitatap. Suasana pesta tiba-tiba menjauh. Suara-suara menjadi gema. Tubuhku membeku. Jari-jariku gemetar, tapi bukan karena gugup akan pernikahanku. Melainkan karena aku sadar… Orang yang seharusnya berdiri di sampingku, kini berdiri di hadapanku, tapi bukan lagi milikku. 📎 Aku yang pergi. Aku yang memilih mundur, bahkan ketika segalanya nyaris sempurna. Tapi orang-orang tidak pernah tahu bahwa kadang cinta pun bisa kalah oleh rasa takut. Aku takut gagal. Takut tak cukup. Takut menjadi lelaki yang hanya bermodal cinta tanpa masa depan. Aku terlalu takut pada saat itu, pada saat aku belum jadi apa-apa. Aku melihat Aleta sebagai cahaya. Dan aku, saat itu, merasa terlalu gelap untuk berdampingan dengannya. Dia adalah rumah, sementara aku hanyalah pintu yang tidak pernah tahu ke mana harus membawa langkah. Aku pikir, dengan pergi diam-diam, aku menyelamatkannya dari hidup yang berat. Ternyata, aku hanya membuatnya terluka sendirian. Dia menungguku dalam sunyi. Bertanya dalam diam. Dan aku tak pernah memberi jawaban. Sampai waktu mengubur pertanyaannya bersama cinta yang tak sempat kami selesaikan. 📎 Beberapa malam setelah pesta itu, aku duduk di balkon rumah, menatap langit yang terlalu cerah untuk hatiku yang gelap. Istriku tertidur di kamar, lelah setelah merapikan sisa-sisa acara. Dan aku? Aku masih duduk dengan satu tangan memegang foto lama. Foto saat aku dan Aleta pertama kali ke pantai, waktu kami masih percaya bahwa dunia berpihak pada mereka yang saling mencinta. Di foto itu, senyumnya penuh cahaya. Senyum yang dulu bisa membuatku lupa pada beban hidup. Senyum yang kini hanya jadi kenangan pahit yang kusimpan di saku terdalam. “Kalau saja aku lebih berani.” “Kalau saja aku bicara sebelum pergi.” “Kalau saja aku tidak menyerah saat semua yang kami bangun hanya butuh sedikit lagi waktu…” Tapi hidup tidak pernah memberi ruang untuk “kalau saja.” Yang ada hanya “kenapa dulu tidak…” 📎 Reuni itu… adalah tamparan lain untukku. Kupikir luka yang kutinggalkan sudah sembuh. Kupikir aku bisa menyapa dengan ringan, tanpa rasa bersalah. Tapi saat melihat matanya—aku tahu, beberapa luka tidak memilih sembuh. Beberapa luka memilih menjadi batu nisan dari cinta yang mati terlalu dini. Dia masih Aleta yang kukenal. Tegas, tapi lembut. Tegar, tapi peka. Dan kali ini, dia tak menyimpan tangis di balik matanya. Tangis itu sudah dikubur. Digantikan oleh ketenangan yang tidak lagi menyisakan ruang untukku. Aku sempat ingin bicara. Minta maaf. Jelaskan segalanya. Katakan bahwa aku tidak pernah berhenti mencintainya, hanya terlalu pengecut untuk memperjuangkannya. Tapi dia hanya bilang, “Luka yang kamu tinggalkan, biar jadi urusanku sendiri.” Dan kalimat itu lebih tajam dari pisau mana pun. Bukan karena bencinya. Tapi karena ketulusannya. Dia tak ingin balas dendam. Dia tak ingin aku menyesal terlalu dalam. Dia hanya ingin… selesai. Dan di detik itu, aku tahu—tak ada ruang lagi untukku di hidupnya. Bukan karena dia membenciku, tapi karena dia sudah selesai mencintaiku. 📎 Aku pikir aku akan baik-baik saja. Aku pikir pernikahan ini akan menyembuhkan. Tapi kenyataannya, aku tidur setiap malam sambil membayangkan kemungkinan lain. Bagaimana jika aku bertahan? Bagaimana jika aku tidak melepaskannya? Bagaimana jika aku kembali lagi padanya ? Apa itu mungkin ? Apa itu akan terjadi ? Istriku baik. Dia perempuan yang bisa diajak bicara, bisa diajak menyusun masa depan. Tapi bukan dia yang ada di pikiranku saat pagi datang dan matahari menyusup dari balik tirai. Bukan dia yang membuatku menulis puisi di kepala. Yang ada hanya Aleta. Mereka bilang, cinta pertama memang sulit dilupakan. Tapi aku rasa, ini bukan soal urutan. Ini soal keterikatan yang tak selesai. Cinta yang tak sempat tumbuh sampai puncaknya, justru menciptakan ruang rindu paling dalam. 📎 Ada malam-malam di mana aku menyalakan laptop, membuka folder lama yang kusembunyikan dari siapa pun. Folder itu berisi surat-surat Aleta, voice note panjangnya saat aku sedang di perantauan, dan potongan video yang dulu dia kirim waktu dia KKN di desa pelosok—tanpa aku di sana. Waktu itu, aku hanya bisa melihatnya dari layar. Melihat dia mengajar anak-anak kecil dengan mata penuh semangat, merekam aktivitas harian yang ia kirim lewat flashdisk karena sinyal di desanya terlalu buruk untuk video call. Terkadang, aku membalas dengan rekaman suaraku. Tapi seringnya, aku diam. Aku terlalu sibuk mengejar target pekerjaan pertamaku, sampai lupa bahwa dia hanya ingin ditemani. Didengar. Dihargai. Dan kini, rekaman itu jadi pusara sunyi. Tempat aku mendengar tawa yang tidak lagi tertuju padaku. 📎 Sekarang aku mengerti, meninggalkan bukan selalu tanda cinta. Kadang itu hanya bentuk dari ketidakmampuan menghadapi kenyataan. Dan aku, Revan, adalah lelaki yang tidak pandai bertahan… Bukan karena cintaku kurang besar, tapi karena aku terlalu takut melihat cinta itu gagal. Aku lebih memilih pergi sebelum dihantam badai, padahal bisa saja badai itu cuma gerimis sebentar. Kalau saja aku bertahan, mungkin aku bisa jadi atap untuknya. Tempat ia pulang. Tempat ia percaya. Tapi aku lebih memilih jadi angin. Yang datang membawa harapan, lalu pergi tanpa peringatan. Dan sekarang… ketika semuanya sudah selesai, aku hanya bisa berdiri di ujung waktu, menyebut namanya dalam diam, mengirim maaf lewat langit malam, dan berharap…semoga dia bahagia—tanpa aku. Meninggalkan bukan selalu tanda cinta. Kadang itu hanya bentuk dari ketidakmampuan menghadapi kenyataan. Dan aku, Revan, adalah lelaki yang tidak pandai bertahan… bahkan ketika yang kumiliki adalah cinya yang nyaris sempurna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN