Hujan turun perlahan, membasahi jendela apartemen kecil yang Revan dan Dinda tempati selama setahun terakhir. Lampu-lampu jalan yang redup memantulkan bayangan di lantai kayu yang mengkilap. Suasana malam itu terasa berat dan penuh keheningan. Revan duduk terdiam di sofa, memandangi cangkir kopi yang sudah mulai dingin di tangannya. Dinda masuk membawa cangkir kedua, langkahnya pelan, seolah takut memecah kesunyian yang sudah terlalu lama ada. “Kopi,” ucap Dinda sambil duduk di sebelah Revan, menyerahkan cangkir. Revan menerima kopi itu tanpa menatapnya. Suaranya terdengar berat saat berkata, “Makasih.” Dinda memandangnya dengan penuh perhatian. “Kamu sudah lama diam. Apa yang sedang kamu pikirkan?” Revan menghela napas, lalu menatap lurus ke arah jendela yang basah oleh hujan. “Tenta

